NovelToon NovelToon
Mr.Possessive

Mr.Possessive

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Biqy fitri S

Jingga Arletha Alinka punya segalanya—kecerdasan, karier gemilang, dan kehidupan glamor sebagai pewaris perusahaan besar. Sayangnya, satu hal yang tidak pernah masuk dalam daftar pencapaiannya adalah: pacar. Bukan karena tak ada yang mendekat, tapi karena ia terlalu sibuk dengan tumpukan pekerjaan dan target perusahaan.
Sampai akhirnya, orang tuanya melemparkan sebuah “kejutan”: perjodohan dengan Levin Artama Putra. Levin adalah pengusaha muda sukses, anak tunggal yang super manja dan Possessive. Tampan? Tentu saja. Menyebalkan? Jelas.
Pertanyaannya, bagaimana mungkin seorang wanita tegas seperti Jingga bisa cocok dengan pria yang bahkan tidak percaya pada cinta? Atau jangan-jangan, justru pertemuan konyol inilah yang akan mengubah hidup mereka berdua selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biqy fitri S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mozza Pingsan

Pagi itu, suasana bandara kecil di pinggir kota terasa tenang. Sebuah jet pribadi mewah milik Levin sudah menunggu dengan anggun di landasan. Kilauan cat putih dengan garis emas di badannya membuat siapa pun yang melihat langsung tahu, itu bukan pesawat biasa.

“Waaah… kita beneran pulang pakai jet pribadi?” Arin berdecak kagum sambil menoleh ke Jingga.

Jingga hanya tersenyum kecil, “Iya, biasalah… tuan Levin kan selalu penuh kejutan.”

Roy dengan sigap membawa barang-barang mereka masuk, sementara Levin menuntun Jingga menaiki tangga jet, seakan dunia hanya milik mereka berdua. Sesampainya di kabin, suasana first class terasa jauh lebih hangat—kursi kulit empuk, lampu temaram, dan wangi khas kopi premium.

Arin akhirnya duduk bersebelahan dengan Roy. Awalnya ia hanya memainkan ponselnya untuk mengalihkan rasa kikuk. Namun, beberapa menit setelah lepas landas, mata Arin mulai terasa berat hingga tanpa sadar kepalanya bersandar ke bahu Roy.

Roy melirik sebentar, tersenyum tipis, lalu membiarkan Arin tertidur pulas.

“Tidurlah tenang, aku jagain,” bisiknya pelan.

Sementara itu, Levin seperti sengaja menempel terus pada Jingga, bahkan merangkul pundaknya sepanjang perjalanan. Ia takut, begitu saja, Jingga bisa hilang dari sisinya. Jingga tersenyum geli melihat sikap calon suaminya yang kelewat protektif, lalu bersandar di dada Levin.

Perjalanan pulang itu pun menjadi saksi betapa dua hati semakin dekat, meski dengan cara mereka masing-masing.

Beberapa jam berlalu, jet pribadi Levin mulai menurunkan ketinggiannya. Lampu kabin perlahan menyala, memberi tanda bahwa mereka akan segera mendarat.

Arin yang tertidur nyenyak tiba-tiba merasakan gerakan lembut di bahunya. Ia membuka mata perlahan, dan wajahnya langsung memerah saat sadar kepalanya sejak tadi bersandar di bahu Roy.

“Eh—maaf… aku ketiduran ya,” ucapnya gugup sambil buru-buru merapikan rambut.

Roy hanya terkekeh kecil, “Tidak apa-apa, malah aku senang bisa jadi sandaranmu.”

Arin makin salah tingkah, sementara Roy pura-pura sibuk mengangkat barang dari kompartemen atas untuk menutupi senyumnya.

Di sisi lain, Levin tetap menggenggam tangan Jingga erat, bahkan sampai roda pesawat menyentuh landasan. “Aku nggak akan melepaskanmu, sayang,” bisiknya di telinga Jingga.

Jingga hanya tersenyum hangat, hatinya berdebar karena setiap kata Levin selalu terdengar tulus dan penuh cinta.

Begitu pintu jet terbuka, udara sore kota asal mereka menyambut dengan lembut. Perjalanan liburan itu resmi berakhir, tapi kenangan manis yang mereka bawa akan selalu hidup di hati masing-masing.

Hari ini itu pun menjadi penutup indah—dua pasangan dengan cerita berbeda, sama-sama tenggelam dalam mabuk cinta.

----

2 Bulan kemudian

Hari itu Mozza sudah terlihat pucat sejak pagi, tapi ia tetap memaksakan diri menyelesaikan pekerjaannya. Senyumnya menipis, langkahnya pun makin berat. Hingga akhirnya, di tengah obrolannya dengan Egha, tubuh Mozza tiba-tiba Tumbang.

“Mozza!” seru Egha panik, tangannya cepat-cepat menahan tubuh gadis itu yang hampir jatuh ke lantai.

Nafas Egha tercekat. Wajah Mozza dingin dan matanya terpejam. Tanpa pikir panjang, ia langsung menggendong Mozza dengan gaya bridal carry.

“Bertahan ya, Za… jangan bikin aku takut begini,” gumamnya sambil berlari ke mobil.

Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, Egha terus menggenggam tangan Mozza, seakan takut kehilangan. Raut wajahnya tegang, urat di tangannya menegang saat menyetir.

Begitu sampai di rumah sakit, ia langsung berteriak memanggil suster. Kebetulan rumah sakit itu adalah tempat Grey bekerja.

“Tolong! Pacar saya pingsan!” suara Egha pecah, penuh kecemasan.

Tak lama Grey muncul, masih mengenakan jas dokternya. Ia kaget melihat siapa pasien yang dibawa.

“Kak Mozza?” tanyanya terkejut.

Egha mengangguk cepat, matanya gelisah.

“Tolong dia, Grey… aku mohon.”

Grey langsung mengambil alih, memeriksa Mozza dengan tenang. Sementara itu, Egha hanya bisa berdiri di sudut ruangan, jantungnya berdetak tak karuan. Untuk pertama kalinya, wajah cool Egha benar-benar hancur oleh rasa takut kehilangan seseorang.

Mozza perlahan membuka matanya. Cahaya lampu rumah sakit menyilaukan pandangannya. Ia mengerjap beberapa kali sebelum menyadari ada seseorang yang menggenggam tangannya begitu erat.

“Mass E…Egha?” suaranya lirih.

Egha yang sejak tadi menunduk langsung menegakkan kepala. Matanya sedikit merah, jelas sekali ia menahan cemas dan panik.

“Ya Tuhan… akhirnya kamu sadar juga, Sayang.” ucapnya lega, masih menggenggam tangan Mozza seolah tidak mau dilepaskan.

Mozza tersenyum lemah. “Aku cuma capek sedikit…”

“Capek sedikit apaan? Kamu bikin aku hampir mati berdiri, tau nggak!” Egha meninggikan suaranya, tapi suaranya bergetar, jelas sekali ia benar-benar takut.

Grey yang berdiri di dekat ranjang menutup catatannya, lalu menatap Mozza lembut.

“Dia hanya kelelahan. Tekanan darahmu turun, Kak . Kamu butuh istirahat cukup, jangan terlalu memaksakan diri.”

Mozza menunduk, merasa bersalah. “Aku baik-baik aja kok, Grey. Hanya… belakangan ini aku setres banget ngurus persiapan pernikahan.

Seminggu lagi hari penting itu datang, dan aku nggak mau ada yang berantakan.”

Egha langsung menyambar, suaranya penuh emosi, “Baik-baik aja dari mana?! Kamu pingsan di depan aku, Za! Kamu stres, kamu kecapekan, tapi masih bilang nggak apa-apa?”

ia terdiam sejenak, menahan kata-kata, lalu menunduk, suaranya melembut, “aku takut banget kehilangan kamu.”

Mozza terdiam, hatinya terasa hangat bercampur pilu. Dengan tangan yang lemah, ia menyentuh pipi Egha.

“Maaf ya… aku cuma nggak mau kamu terbebani sama semua persiapan ini. Aku pengen semuanya sempurna buat kita.”

Egha menggenggam tangannya lebih erat, menatap dalam.

“Dengar aku, Za. Pernikahan kita nggak harus sempurna. Aku nggak peduli dekorasi, gaun, atau detail kecil lainnya. Yang penting… kamu ada di pelaminan, sehat, dan tersenyum di sampingku. Itu aja cukup buatku.”

Air mata Mozza menggenang, senyumnya bergetar.

“Kalau kamu ngomong gini… aku jadi pengen nangis.”

Grey tersenyum tipis melihat keduanya, lalu sengaja memberi ruang.

“Oke, aku tinggal dulu ya banyak pasien yang menunggu. Tapi ingat, Kak Mozza, kamu harus jaga kesehatan. Kalau nggak, aku bakal marah beneran.” katanya sebelum keluar ruangan.

Begitu Grey menutup pintu, suasana jadi hening. Egha masih menatap Mozza dengan mata yang belum sepenuhnya tenang.

Mozza tersenyum tipis. “Kamu khawatir banget ya sama aku?”

Egha menghela napas panjang, lalu duduk lebih dekat di sisi ranjang. Sorot matanya serius, seolah ada banyak hal yang ingin ia katakan sejak tadi.

“Itu Lebih dari yang kamu kira.”

“Tau nggak, Za… aku bener-bener takut tadi. Rasanya kayak dunia berhenti pas lihat kamu jatuh pingsan.”

Mozza terdiam, jantungnya berdegup kencang mendengar suara Egha yang begitu tulus.

“Maaf ya, bikin kamu khawatir.”

Egha menggeleng cepat. “Aku nggak butuh maaf. Aku cuma butuh kamu jaga diri. Jangan siksa tubuhmu sendiri, Za. Kamu penting menjaganya.”

Mozza menunduk, pipinya memanas. Ia berusaha menyembunyikan senyum yang muncul begitu saja.

“Kamu ini, ngomongnya serius banget.”

“Tentu aja serius.” Egha sedikit

mencondongkan tubuhnya, menatapnya lebih dalam. “Aku nggak mau kehilangan kamu.”

Mozza tercekat, tidak bisa membalas kata-kata itu. Hanya matanya yang sedikit berkaca-kaca. Perlahan, Egha mengulurkan tangannya, menggenggam jemari Mozza dengan hangat.

“Mulai sekarang… kalau kamu capek, kalau kamu sakit, jangan pura-pura kuat. Aku ada di sini. Biar aku yang jaga kamu.”

Mozza menggenggam balik tangannya, senyumnya muncul meski matanya berkaca-kaca. “Makasih, Mas… aku beruntung banget ada kamu.”

Dalam keheningan malam, Egha mengecup kening Mozza dengan lembut, seolah ingin menegaskan semua ucapannya. Mozza mematung, wajahnya langsung merah padam, tapi di sudut bibirnya tersungging senyum malu-malu.

1
csgym
bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!