"Mas bilang jatah uang belanja Nisa dipotong dua juta untuk Sisil. Nisa pikir, kalau Sisil sudah dapat uang tunai dua juta dari Mas Rian, buat apa lagi dia pakai kartu kredit atas nama Nisa? Lagi pula, Nisa kan cuma wanita bodoh yang nggak punya penghasilan. Nisa takut nggak sanggup bayar tagihan kartu kredit itu bulan depan."
Demi cinta yang ia kira tulus, Annisa yang baru berusia 24 tahun itu rela menyembunyikan identitas aslinya. Ia berpura-pura cuma gadis yatim piatu biasa saat dipersunting Rian, pria yang kini berumur 28 tahun. Annisa cuma ingin menguji—apakah Rian benar-benar mencintainya atau cuma mengincar hartanya.
Dan suatu hari, jawaban dari ujian itu makin jelas kelihatan.
Tiga tahun pengorbanannya. Tiga tahun penyamarannya. Tiga tahun kesabarannya menahan hinaan mertua dan ipar demi menjaga harga diri Rian ... semuanya dibalas dengan pengkhianatan murahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35. Pertemuan di Supermarket
Keesokan harinya, suasana di lantai lima puluh Vantara Tower terasa makin mencekik bagi Fandi Prasetyo.
Pria itu berdiri di depan jendela kaca raksasa di ruang transit eksekutif. Tatapannya hampa menatap lanskap Jakarta yang tertutup awan mendung. Di tangannya, sebuah cangkir kopi hitam yang mulai mendingin tak tersentuh sama sekali.
Pikiran Fandi benar-benar terganggu dan kacau. Keputusannya untuk memproses perceraian dengan Rissa sudah mantap, namun dampak dari kebodohan Rissa yang membuat Annisa mendadak membangun tembok pembatas begitu kokoh telah melukai ego dan rasa hormat Fandi secara mendalam.
Setiap kali Fandi mengingat sikap Annisa kemarin—cara wanita itu memanggilnya "Pak Fandi" dengan tatapan mata yang dingin, tegas, dan penuh etika profesionalis—hati Fandi terasa bagaikan diiris-iris.
Annisa adalah wanita yang amat langka di matanya. Fandi sangat mengagumi kecerdasan Annisa, menghormati ketegarannya melewati pengkhianatan Rian, dan mengagumi kepemimpinannya yang tanpa rasa takut. Namun kini, gara-gara fitnah murahan Rissa, Annisa telah mengunci rapat pintu interaksi dengannya, mengalihkan seluruh urusan investasi dua ratus miliar kepada Wakil Komisaris dan tim sekretariat.
Fandi merasa sangat tidak terima. Ia tidak bisa membiarkan kesalahpahaman ini terus menggantung dan merusak hubungan kerja sama yang telah mereka bangun dengan susah payah. Ia harus bicara berdua dengan Annisa—bukan untuk menyatakan perasaan asmara, melainkan untuk meminta maaf secara jantan atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan oleh Rissa, serta mengembalikan kepercayaan Annisa padanya sebagai mitra bisnis yang bermartabat.
"Pak Fandi," tegur sekretaris pribadi Fandi yang baru saja melangkah mendekat.
Fandi membalikkan badannya. "Bagaimana? Apakah Annisa ada jadwal rapat keluar sore ini?"
Sekretarisnya menggelengkan kepala dengan raut wajah serba salah. "Mohon maaf, Pak Fandi. Saya sudah mencoba berkoordinasi dengan sekretariat Mbak Annisa. Namun jawabannya tetap sama. Mbak Annisa tidak menerima jadwal pertemuan tatap muka di luar agenda rapat resmi dewan komisaris."
Fandi mengepalkan tangannya rapat-rapt hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa frustrasi yang teramat sangat bergejolak di dalam dadanya.
"Apakah beliau ada di ruang kerjanya sekarang?" tanya Fandi tegas.
"Ada, Pak. Tapi pintu koridor utama menuju kantor Komisaris Utama dijaga ketat oleh tim sekretariat dan pengawal pribadi Pak Yusuf," terang sekretarisnya ragu-garu. "Jika Bapak memaksa menerobos tanpa janji resmi, hal itu bisa memicu ketegangan antara tim pengamanan Prasetyo dan Vantara."
Fandi menarik napas panjang yang sangat berat, memejamkan matanya rapat-rapat.
Ia paham betul. Jika ia nekat menerobos masuk ke ruang kerja Annisa, tindakan itu justru akan makin memperkuat fitnah yang dilemparkan Rissa dan merendahkan kehormatan Annisa sebagai pimpinan tertinggi perusahaan. Annisa telah menarik garis batas yang sangat jelas: hanya urusan bisnis di atas kertas.
"Bapak Fandi," panggil sekretarisnya lagi pelan. "Ada informasi tambahan dari staf operasional lantai bawah."
Fandi membuka matanya, menatap sekretarisnya. "Informasi apa?"
"Mbak Annisa baru saja meminta pengawalnya untuk menunggunya di area parkir bawah," terang sang sekretaris. "Kabarnya, Mbak Annisa menginstruksikan sekretarisnya bahwa sore ini beliau ingin pergi sebentar seorang diri tanpa pengawalan ketat untuk membeli beberapa kebutuhan pribadi di area luar."
Mendengar hal itu, sepasang mata cokelat gelap Fandi seketika berbinar oleh pendar harapan tipis.
Pergi seorang diri tanpa pengawalan? Tanpa benteng sekretaris dan tim hukum yang memagari langkahnya?
Ini adalah satu-satunya kesempatan bagi Fandi untuk menemui Annisa secara personal di luar lingkungan kantor—sebuah kesempatan untuk meluruskan kesalahpahaman, meminta maaf atas kekacauan yang dibuat Rissa, dan memulihkan rasa percaya wanita yang sangat dihormatinya itu.
Fandi meletakkan cangkir kopinya di atas meja dengan gerakan yang mantap, lalu menyambar jasnya dari sandaran kursi.
"Siapkan mobil pribadi saya di lobi bawah sekarang," perintah Fandi dengan suara berat yang penuh kendali. "Tidak perlu mengikutiku. Saya akan pergi sendiri."
"Baik, Pak Fandi!" sahut sekretarisnya patuh.
Fandi merapikan ikatan dasinya, melangkah cepat menuju lift eksekutif dengan tekad yang sudah bulat. Apapun risikonya, ia tidak akan membiarkan dinding kesalahpahaman ini terus membentang di antara dirinya dan Annisa Septiani. Ia harus menemui Annisa sore ini juga, tanpa menyadari bahwa takdir lain yang jauh lebih besar dan mengejutkan sedang menunggu mereka di luar sana.
***
Di dalam area supermarket premium berkonsep impor yang tenang dan berpendingin udara sejuk, alunan musik instrumen klasik mengalun lembut dari pengeras suara langit-langit. Lorong-lorong rapi yang menampung jajaran produk makanan organik dan kebutuhan harian berkualitas tinggi itu tak terlalu padat oleh pengunjung.
Annisa Septiani melangkah pelan di antara rak-rak bahan makanan organik.
Sore ini, Annisa secara khusus memilih untuk pergi seorang diri tanpa didampingi oleh pengawal pribadi maupun sekretarisnya. Setelah berhari-hari terkurung di dalam benteng protokol kantor, dihimpit oleh pengawasan ketat tim hukum dan tekanan pekerjaan yang tiada henti, Annisa merindukan momen ruang gerak yang bebas—sebuah jeda singkat di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri tanpa perlu menegakkan mantel wibawa sebagai pimpinan tertinggi Vantara Land.
Namun, tubuh Annisa tak bisa membohongi keadaannya yang kian merosot.
Wajah cantiknya tampak amat pucat pasi, kontras dengan kemeja katun bergaris longgar yang dikenakannya. Bibirnya yang biasa dipoles perona lembut kini memudar tanpa warna. Setiap langkah kakinya terasa berat, seolah-olah tumpuan tubuhnya melayang di atas lantai marmer yang mengilap.
Annisa memegang troly belanjaan kecil dengan jemari yang dingin dan gemetaran. Rasa mual yang aneh kembali merayapi dadanya, accompanied oleh rasa pening yang berdenyut hebat di belakang tempurung kepalanya.
"Ugh," desis Annisa pelan, menghentikan langkahnya di depan rak minuman nutrisi organik.
Ia memejamkan matanya rapat-rapt, menekan pelipisnya dengan jemari tangan kiri. Napasnya terengah-engah pelan. Selama beberapa hari terakhir, Annisa terus-menerus memaksa fisiknya bekerja di luar batas kemampuan demi menghindari ruang kosong dalam pikirannya. Namun sore ini, daya tahan tubuhnya benar-benar telah berada di ambang batas terakhir.
Pandangan Annisa bergetar halus. Bayangan rak-rak tinggi di sekelilingnya mendadak tampak bergoyang dan mengabur.
***
Pada saat yang bersamaan, di lorong bagian produk susu dan keju yang berjarak hanya sepuluh meter dari posisi Annisa, Fandi melangkah santai.
Fandi menghentikan langkahnya saat matanya secara tidak sengaja menangkap sosok wanita yang berdiri menyandarkan tubuh di tepi rak minuman.
Sepasang mata cokelat gelap Fandi membeku seketika.
"Annisa..." batin Fandi.
Jantung Fandi berdesir hebat. Langkah kakinya mendadak tertahan di atas lantai marmer. Pria itu menajamkan pandangannya, memastikan bahwa penglihatannya tidak salah. Di sana, berdiri Annisa Septiani—wanita yang selama beberapa hari terakhir telah membangun tembok pembatas begitu dingin darinya di kantor.
Fandi menarik napas panjang, merapikan posisi berdirinya. Rasa terkejut dan pendar harapan tipis menyatu di dalam dadanya. Ini adalah momen tak terduga di luar lingkungan kantor yang selama ini dicarinya. Sebuah kesempatan tanpa benteng sekretaris atau protokol resmi untuk sekadar menyapa dan memastikan bahwa hubungan profesionalis mereka tidak rusak akibat kesalahpahaman.
Bersambung...
ga terima di cerai,,, sekarang abis lah riwayat mu ,,,karir ham ur leburur uang di tarik harga diri ha punya lagi tinggal.