NovelToon NovelToon
Kapten Hatiku

Kapten Hatiku

Status: tamat
Genre:Asmara / Cinta setelah menikah / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: Olivia Renata

Keira Liem cuma mau hidup tenang.
Setelah dikhianati mantan pacar dan dijebak rekan kerja, pilot muda ini nyaris kehilangan segalanya—karier, reputasi, bahkan harga diri. Satu-satunya jalan keluar? Nikah siri dengan pria asing yang ditemuinya di parkiran bawah tanah SCBD di malam terburuk hidupnya.
Pria itu bilang namanya Kai. Katanya pengangguran. Senyumnya menyebalkan, mulutnya pedas, tapi entah kenapa... Keira merasa aman di dekatnya.
Yang tidak Keira tahu: "Kai" adalah Kaizan Tanujaya—CEO Nusantara Airlines, pewaris konglomerat Tanujaya, dan legenda penerbangan yang fotonya sudah ditempel Keira di dinding kamar sejak SMA.
Setiap hari, Keira memuja Kapten Kaizan Tanujaya di kantor.
Setiap malam, Keira memarahi "suami kontrak pengangguran"-nya di rumah.
Mereka adalah orang yang sama.
Dan Kaizan? Dia menikmati setiap detiknya.
Tapi rahasia tidak bisa bertahan selamanya. Ketika topeng terbuka, ketika masa lalu yang kelam menyerang, ketika satu-satunya orang yang pernah membuatnya jatuh cinta berbalik pergi—Kaizan harus membuktikan bahwa cinta yang dimulai dari kebohongan bisa menjadi hal paling nyata di hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Bab 28

Darurat

Penerbangan perdana FK980 membawa 128 penumpang dan enam awak dari Jakarta menuju Surabaya.

Keira tiba dua jam sebelum keberangkatan. Dia memeriksa dokumen beban, cuaca, NOTAM, bahan bakar, dan rute alternatif bersama kapten operasional senior. Penerbangan dijadwalkan singkat, tetapi mereka tetap meninjau prosedur abnormal mesin baru sebelum meninggalkan ruang briefing.

"Hari pertama bukan alasan untuk terburu-buru," kata sang kapten.

"Siap, Kapten."

Di apron, badan pesawat FK980 memantulkan matahari pagi. Pita peresmian hanya dipasang di tangga penumpang, jauh dari sistem pesawat. Tim media merekam dari batas aman. Tidak ada kamera tambahan di kokpit selain perangkat operasional yang sudah disetujui.

Keira menyentuh sisi pintu sebelum masuk. Bukan untuk mencari keberuntungan. Dia hanya ingin mengingat rasa dingin logam pada hari yang selama ini dikejarnya.

Jam biru di pergelangan Kai menerima pesan suara terakhir sebelum ponsel Keira dimatikan.

"Aku berangkat. Jangan lupa nonton siaran kedatangan."

Kaizan sedang berada di ruang tunggu privat Juanda untuk agenda penyambutan. Dia membalas dengan suara pelan agar staf tidak mendengar.

"Aku akan menunggumu mendarat."

Keira mengira kalimat itu hanya kiasan seorang pacar di Jakarta. Dia tidak tahu Kai sudah berada di kota tujuan, satu lantai di bawah ruang pejabat dan media.

Pemeriksaan kokpit berjalan tanpa kekurangan. Kapten menjadi pilot flying. Keira bertugas sebagai pilot monitoring, menangani radio, sistem, dan daftar periksa.

Pesawat lepas landas dari Soekarno-Hatta sesuai jadwal.

Empat puluh menit pertama terasa hampir terlalu sempurna. Langit cerah, angin di Surabaya ringan, dan mesin baru merespons sesuai data uji. Keira menyampaikan pembaruan kepada kabin, lalu memeriksa kembali perhitungan pendaratan ketika mereka mulai turun.

Pada menit kelima puluh delapan, di ketinggian lebih rendah menuju wilayah pendekatan Juanda, titik-titik hitam muncul di depan kaca.

"Burung," kata kapten.

Tidak ada waktu untuk menghindar tajam.

Benturan terdengar seperti beberapa benda berat dilemparkan ke badan pesawat. Satu hantaman menghantam sisi kanan, disusul ledakan tumpul dari mesin.

Pesawat bergetar keras.

Indikator daya mesin kanan turun. Getaran melonjak, suhu berubah tidak stabil, dan pesawat menarik ke satu sisi.

Kapten menahan kendali. "Saya pegang pesawat."

"Anda pegang pesawat," jawab Keira.

Dia tidak menebak mesin mana yang rusak hanya dari suara. Matanya memeriksa peringatan, data mesin, dan arah yaw.

"Mesin kanan kehilangan daya. Getaran tinggi."

"Konfirmasi kanan. Jalankan tindakan awal."

Setiap tindakan penting dilakukan dengan tunjuk dan konfirmasi. Keira membaca parameter. Kapten memverifikasi. Mereka mengurangi daya mesin kanan sesuai prosedur kerusakan berat, lalu menstabilkan pesawat sebelum membuka checklist elektronik.

Tidak ada api terdeteksi. Mesin kiri bekerja normal. Pesawat tetap dapat dikendalikan.

"Hubungi Approach. Pan-Pan."

Keira menekan tombol radio.

"Pan-Pan, Pan-Pan, Pan-Pan. NusAir sembilan delapan nol, bird strike, kerusakan mesin kanan, mempertahankan kendali, meminta prioritas mendarat Juanda. Seratus tiga puluh empat orang di pesawat."

Pengatur lalu lintas menjawab cepat. Jalur pendekatan dibersihkan. Mereka mendapat vektor langsung, informasi angin, serta konfirmasi bahwa kendaraan pemadam dan medis disiagakan.

"NusAir sembilan delapan nol, landasan tersedia. Laporkan kemampuan."

Kapten melihat Keira.

Dia memeriksa checklist, perkiraan bobot, jarak pendaratan, cuaca, dan batas konfigurasi satu mesin. "Pendaratan memungkinkan. Minta pendekatan panjang untuk menyelesaikan checklist."

Keira meminta landasan terpanjang yang tersedia dan pendekatan yang tidak memerlukan belokan tajam. Dia menyampaikan sisa bahan bakar dalam waktu, jumlah seluruh orang di pesawat, serta jenis kerusakan yang diketahui. Menara menahan keberangkatan lain dan memberi mereka kebebasan memilih jarak final lebih panjang.

"Kalau pendekatan tidak stabil, kita go-around satu mesin lalu mengikuti vektor darurat," kata kapten.

"Dipahami. Batas stabilisasi tetap berlaku."

Keadaan darurat tidak menghapus kriteria pendaratan aman. Mereka tidak akan memaksa pesawat turun hanya karena kendaraan penyelamat sudah menunggu.

Radio kembali ke tangannya. Suaranya tetap rata.

Di kabin, penumpang merasakan getaran dan perubahan suara mesin. Kepala awak kabin menerima panggilan dari kokpit.

"Bird strike, satu mesin tidak digunakan, pesawat terkendali," kata Keira. "Siapkan kabin untuk pendaratan prioritas. Tidak ada perintah evakuasi saat ini. Beri tahu kalau ada asap, api, atau cedera."

"Dipahami. Kabin disiapkan."

Tiga menit kemudian, kepala awak kabin melapor kembali. Seluruh 128 penumpang duduk dan terikat. Satu penumpang mengalami napas cepat, tetapi sadar dan didampingi. Tidak ada asap atau api yang terlihat dari kabin kanan.

Informasi itu dikonfirmasi ulang kepada kapten. Keira kemudian meminta kabin steril sampai mendarat. Sejak saat itu, tidak ada panggilan yang tidak berkaitan dengan keselamatan masuk ke kokpit.

Awak kabin menghentikan layanan, mengamankan troli, memeriksa sabuk, dan menjelaskan posisi aman tanpa membuat janji palsu. Seorang penumpang menangis. Penumpang lain mulai berdoa. Tidak ada yang dibiarkan berdiri atau mengambil bagasi.

Di kokpit, suara getaran berkurang setelah mesin kanan diamankan, tetapi setiap detik masih menuntut keputusan.

"Checklist kerusakan mesin selesai," kata Keira.

"Status?"

"Mesin kiri stabil. Hidraulik utama tersedia. Tidak ada indikasi api. Tekanan kabin normal. Jarak pendaratan mencukupi dengan margin sesuai perhitungan."

Kapten mengangguk. "Brief pendekatan."

Mereka membahas landasan, titik go-around, konfigurasi, pengereman, kemungkinan berhenti di landasan, dan siapa yang menangani komunikasi setelah roda menyentuh. Keira membacakan setiap perubahan. Tidak ada gerakan terburu-buru hanya untuk terlihat berani.

Ketika pesawat berbelok ke final, Juanda tampak di depan. Lampu kendaraan penyelamat berjajar jauh dari landasan aktif.

"Seribu kaki, stabil," kata Keira.

Pesawat sedikit miring ketika daya mesin kiri berubah. Kapten mengoreksi dengan halus.

"Lima ratus, stabil."

Keira memegang daftar periksa dengan tangan yang tidak gemetar. Tubuhnya menunda rasa takut sampai tugas selesai.

"Seratus."

Landasan memenuhi kaca depan.

"Lima puluh. Empat puluh. Tiga puluh. Dua puluh."

Roda utama menyentuh aspal.

Benturan pertama keras, tetapi lurus. Kapten menahan arah. Sistem pengereman bekerja. Keira memantau kecepatan, peringatan, dan kondisi mesin yang tersisa.

"Delapan puluh. Enam puluh."

Pesawat melambat dan berhenti di landasan sesuai arahan. Tidak ada api. Tidak ada asap masuk kabin.

Keira menghubungi menara. "NusAir sembilan delapan nol berhenti di landasan. Meminta pemeriksaan luar."

Kendaraan pemadam mendekat setelah mendapat izin. Tim memeriksa mesin kanan, roda, dan badan pesawat dari jarak aman. Kerusakan terlihat pada saluran masuk mesin, tetapi tidak ada kebakaran.

Kapten memutuskan penumpang turun melalui tangga setelah komandan penyelamatan menyatakan sisi kiri aman. Evakuasi darurat dengan seluncur tidak dilakukan karena tidak ada ancaman langsung; risiko cedera justru lebih tinggi jika prosedur itu dipakai tanpa kebutuhan.

"Kabin, penurunan normal terkontrol melalui pintu kiri. Pastikan tidak ada bagasi besar dibawa."

Satu per satu, 128 penumpang turun. Tim medis memeriksa mereka di area aman. Tidak ada cedera. Seorang penumpang yang mengalami serangan panik mendapat oksigen dan pendampingan, tetapi dapat berjalan sendiri setelah napasnya stabil.

Di kokpit, Keira belum bergerak dari kursi.

Kapten menyelesaikan catatan akhir lalu menoleh. "Kerja bagus."

Barulah Keira menyadari ujung jarinya mati rasa.

"Semua turun?"

"Semua. Nol cedera."

Napas yang dia tahan sejak benturan keluar sekaligus. Bahunya turun. Tangan yang tadi stabil di radio mulai gemetar.

"Kita belum selesai," kata kapten dengan tenang. "Matikan sesuai checklist. Setelah itu baru kamu boleh takut."

Keira mengangguk dan kembali membaca.

Di luar garis pengamanan, Kaizan sudah menunggu sejak menerima peringatan dari pusat operasi. Dia seharusnya berada di ruang kedatangan bersama tamu perusahaan. Begitu FK980 berhenti, dia turun dari mobil sebelum petugas sempat membuka pintu.

"Pak, tunggu sampai komandan lapangan memberi izin," kata petugas keselamatan.

Kaizan berdiri di belakang garis pertama dengan kedua tangan mengepal. Suara mesin kendaraan pemadam mengembalikan bayangan lain yang selama bertahun-tahun dia kubur: logam hancur, kabar kecelakaan, dan nama kakaknya yang tidak boleh dia ucapkan hari ini.

"Status kru kokpit?"

"Sadar dan tidak cedera. Masih menyelesaikan shutdown."

Dia baru bernapas setelah mendengar jawaban itu.

Ketika komandan lapangan menyatakan koridor kiri aman, petugas membuka jalur terbatas. Kaizan melewati pita kedua sebelum tim protokol siap, bergerak cepat menuju titik kendaraan operasi. Dia tidak masuk ke landasan aktif atau menghalangi pemadam, tetapi semua orang melihat direktur utama yang biasanya dingin hampir berlari.

Pintu pesawat terbuka. Penumpang terakhir turun lebih dulu. Keira baru muncul setelah kapten dan awak kabin memastikan kabin kosong.

Kaizan melangkah maju.

"Bos," Moreno menahan lengannya. "Media ada di sisi kiri. Dia akan melihat wajah Anda."

Kaizan berhenti hanya karena Keira sedang menatap petugas medis, bukan ke arahnya. Petugas protokol cepat membawa topi dan masker yang tadi ditinggalkannya di mobil.

Keira menuruni tangga dengan kaki kaku. Seseorang menyelimuti bahunya dengan selimut tipis dan mengarahkannya menuju pemeriksaan medis kru.

Dia sempat melihat seorang pria berkemeja hitam di dekat mobil CEO, tetapi cahaya kendaraan berada di belakang wajahnya. Sebelum dia dapat memusatkan pandangan, petugas medis memanggil namanya.

Pemeriksaan singkat menunjukkan tidak ada luka, hanya respons stres akut. Keira diminta duduk, minum, dan tidak memberi wawancara sebelum debrief keselamatan awal selesai.

Ketika dia keluar dari pos medis, sebuah mobil hitam sudah menunggu di jalur operasi yang telah dibuka. Pengemudi profesional duduk di depan. Moreno berdiri di samping pintu belakang.

"Pak Kaizan mau ketemu kamu," katanya.

"Sekarang?"

"Di dalam. Kamu tidak perlu bicara kalau belum siap."

Tubuh Keira masih gemetar. Dia masuk ke kursi belakang tanpa memperhatikan sosok lain yang duduk di sudut gelap, terpisah bayangan pilar pintu dan kaca berwarna.

Pintu menutup.

Kaizan berada kurang dari satu lengan darinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!