NovelToon NovelToon
Antara Benci Dan Cinta

Antara Benci Dan Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

Pernikahan ini bukan tentang cinta, melainkan sebuah hukuman.

Bagi Alvan, Andira adalah wanita berdarah dingin yang harus membayar kematian adiknya. Demi membalas dendam, ia mengikat Andira dalam pernikahan sedingin es yang penuh aturan ketat dan kebencian.

Bagi Andira, pernikahan ini adalah satu-satunya cara membuktikan bahwa ia tidak bersalah dan mengungkap kebenaran di balik jebakan kelam keluarga sendiri.

Namun, saat rahasia mulai terkuak dan dalang sebenarnya bersembunyi di balik senyuman terdekat, akankah benih cinta sanggup tumbuh di atas tanah dendam?

"Aku menikahimu bukan untuk membahagiakanmu, Andira, tapi untuk memastikan kamu membayar setiap tetes air mata keluargaku."

Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Antara Benci Dan Cinta.
By - Miss Ra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Suasana Grand Ballroom Hotel Grand Hyatt membeku seketika. Detak jam dinding dekoratif di sudut ruangan terasa bagaikan dentuman meriam di tengah hening yang mencekam.

Ratusan pasang mata, para investor, pejabat industri, jurnalis, hingga jajaran direksi Samudra Group, terpaku kaku menatap pemandangan di tengah karpet merah.

Gelas red wine di tangan Tuan Hartawan diturunkan perlahan dengan jemari yang gemetar hebat. Cengkeraman Alvan pada pergelangan tangan pria tua itu terlepas, meninggalkan bekas kemerahan yang kentara.

Namun, bukan rasa sakit di pergelangan tangan yang membuat Tuan Hartawan melangkah mundur dengan wajah pucat pasi, melainkan kilat kemurkaan di dalam manik mata Alvan Samudra, sebuah tatapan kejam yang siap membumiharuskan siapa saja yang berani melewati batas.

"Pak... Pak Alvan..." Tuan Hartawan terbata-bata, suaranya yang tadinya menggelegar kini menciut drastis. "Saya... saya hanya ingin membela kehormatan mendiang Roy! Wanita ini..."

"Cukup, Tuan Hartawan!"

Suara Alvan memotong kata-kata itu dengan kenyaringan yang dingin dan tajam bagaikan silet. Pria itu menyampingkan tubuhnya sedikit, memosisikan dirinya tepat di depan Andira, menjadi tameng tegap yang menutup penuh wujud Andira dari jangkauan pandangan kejam publik.

Alvan merapikan kerah tuxedo-nya dengan satu gerakan tenang namun sarat intimidasi. Ia mengedarkan pandangan mata elangnya ke sekeliling ruangan, menatap satu per satu para tamu dan jurnalis yang memegang kamera.

"Siapa pun yang ada di ruangan ini," Alvan memulai, suaranya berat, bergema mantap melintasi chandelier kristal. "Kalian boleh mempertanyakan keputusanku. Kalian boleh tidak menyukai kehadirannya. Namun, perlu kutingatkan pada kalian semua yang hadir malam ini..."

Alvan berhenti sejenak, mengaitkan jemarinya yang kekar secara tegas di depan dada.

"...Andira adalah istri sah Alvan Samudra di mata hukum dan Tuhan. Hinaan apa pun yang kalian lemparkan pada wajahnya malam ini, sama saja dengan menantang kepemimpinanku dan mencoreng nama besar Samudra Group! Siapa pun yang berani mempermalukannya lagi di hadapanku, dipersilakan keluar dari ruangan ini dan memutus seluruh kontrak bisnis dengan perusahaan kami detik ini juga!"

DEGG!

Pernyataan itu mendarat bagaikan petir di siang bolong.

Ancaman pemutusan hubungan bisnis dari seorang Alvan Samudra bukanlah gertakan kosong. Samudra Group memegang kendali atas lebih dari empat puluh persen jaringan investasi di ruangan tersebut. Hanya demi membela seorang wanita yang dituduh pembunuh, Alvan bersedia mempertaruhkan kemitraan bernilai triliunan rupiah!

Tuan Hartawan menelan ludahnya yang terasa sepahit empedu. Pria tua itu menundukkan kepalanya dalam-dalam, mengangguk kecil tanpa berani mengucap sepatah kata pun, lalu terburu-buru menghilang di balik kerumunan tamu yang ketakutan. Para jurnalis seketika menurunkan kamera mereka, tak ada satu pun yang berani memetik lampu kilat lagi.

~

Di sudut panggung utama, Elena berdiri mematung. Wajahnya yang dipoles riasan sempurna kini pucat pasi, matanya membelalak lebar dengan pupil yang bergetar hebat. Gaun merah menyala yang dikenakannya tak mampu lagi menyembunyikan getaran gila di tubuhnya.

"Tidak mungkin... ini tidak mungkin terjadi !" batin Elena menjerit pudar, seolah jiwanya baru saja dihantam palu godam.

Rencana yang dirancangnya dengan teramat rapi, menjadikan gala dinner ini panggung eksekusi mental untuk menghancurkan Andira hingga tak bersisa, runtuh total di depan matanya sendiri. Alvan yang seharusnya menjadi sang algojo bagi Andira, justru secara terbuka memasang dadanya menjadi benteng perlindungan paling kokoh untuk wanita itu.

Elena menatap Andira yang berada di balik punggung Alvan. Untuk pecahan detik, pandangan mereka bertemu.

Tidak ada raut kesombongan di wajah Andira. Yang ada hanyalah ketenangan bening dan keteguhan yang tak tersentuh. Tatapan bening Andira seolah menelanjangi seluruh busuknya konspirasi Elena.

Elena mengepalkan kedua tangannya hingga kuku-kuku terawatnya menancap ke dalam telapak tangan, mengalirkan rasa sakit yang tak sebanding dengan rasa terbakar di dadanya. Dengki, murka, dan ketakutan bercampur aduk menjadi racun yang pekat.

"Alvan mulai melindungi wanita itu..." desis Elena dalam hati seraya melangkah mundur perlahan ke kegelapan lorong ballroom. "Kalau Alvan sampai jatuh ke dalam pelukan Andira, seluruh rahasiaku dan kematian Roy akan terbongkar! Aku harus bertindak lebih cepat !"

~~

Setelah keributan di karpet merah mereda dan Alvan menyelesaikan protokol formalitas secara singkat, pria itu tidak membiarkan pesta berlanjut lebih lama untuk mereka. Tanpa memedulikan bisikan-bisikan tertahan dari para tamu, Alvan meraih jemari Andira dan menuntun wanita itu keluar menuju pelataran parkir VIP.

Mobil sedan hitam mewah bernomor polisi tunggal itu membelah jalanan ibu kota yang mulai lengang.

Di dalam kabin mobil, suasana terasa teramat hening. Hanya ada suara derum mesin yang halus dan gesekan roda pada aspal basah. Lampu-lampu jalanan kota memantulkan pendar garis-garis cahaya secara bergantian di atas kaca mobil yang gelap.

Andira duduk bersandar di jok belakang bagian kiri, sementara Alvan duduk di sebelah kanannya. Ada jarak semeter di antara mereka, namun atmosfer di dalam mobil itu terasa teramat padat dan mengikat.

Andira memandangi jemari tangannya yang saling bertaut di atas pangkuan. Pergelangan tangan kanannya yang dibebat perban di balik selendang panjang masih terasa sedikit berdenyut perih. Namun, kehangatan dari cengkeraman tangan Alvan di ballroom tadi seolah masih tertinggal pekat di kulitnya.

Rasa takjub dan kebingungan berkecamuk di dalam dada Andira. Kenapa pria yang selama ini mengurungnya, memanggilnya pembunuh, dan berikrar akan membalas dendam... justru menjadi satu-satunya orang yang memegang tangannya saat dunia merajamnya?

Andira menoleh pelan ke arah Alvan.

Alvan menatap lurus ke luar jendela mobil, rahangnya terkatung rapat, dan profil wajahnya yang tegas tampak kaku di bawah bayang-bayang temaram. Pria itu menyandarkan siku di pintu mobil, menopang dagunya dengan gaya acuh tak acuh yang dibuat-buat.

Andira menarik napas panjang, mengumpulkan keberaniannya.

"Pak Alvan..." panggil Andira dengan suara yang sangat halus.

Alvan tidak memalingkan kepalanya, namun sudut matanya bergerak kecil. "Apa?" jawabnya datar dan dingin.

"Terima kasih..." bisik Andira jujur. "Untuk... apa yang Kau lakukan di pesta tadi. Kau tidak perlu melakukan itu untuk aku, tapi... Kau membelaku."

Alvan diam sejenak. Dengus napas berat terdengar dari hidungnya. Ia memperbaiki posisi duduknya, bersikap kaku dan enggan menunjukkan celah kelembutan sedikit pun.

"Jangan salah paham, Andira," cetus Alvan dengan nada keras yang disengaja untuk menutup rahasia perasaannya. "Aku tidak membelamu karena aku memercayaimu atau peduli padamu."

Andira menatap Alvan tanpa memotong.

"Aku melakukan itu karena namaku yang dipertaruhkan," lanjut Alvan seraya menatap lurus ke depan. "Tuan Hartawan dan orang-orang bodoh di pesta itu tidak berhak menghakimimu di acaraku. Jika ada yang berhak menghukummu dan membalas kematian Roy... itu hanya aku. Bukan mereka. Mengerti?"

Mendengar ucapan kaku itu, bukannya sakit hati, Andira justru tersenyum tipis, sebuah senyuman sangat tipis yang hampir tak terlihat. Ia tahu betul karakter pria di sampingnya ini. Di balik kata-kata bernada keras dan topeng dendam yang selalu dikenakannya, ada naluri pelindung yang tak sanggup dibohongi oleh Alvan sendiri.

"Aku mengerti, Pak Alvan," jawab Andira lembut, lalu kembali memandangi luar jendela.

Jawaban lembut Andira justru membuat Alvan semakin tidak tenang. Pria itu mengetuk-ngetukkan jemarinya di atas lututnya, berusaha meredakan kebingungan batin yang makin liar menggerogoti logika berpikirnya.

~

Mobil akhirnya berhenti dengan halus di pelataran utama mansion Samudra. Sopir turun dengan cepat dan membukakan pintu untuk mereka.

Alvan melangkah keluar lebih dulu, disusul oleh Andira. Udara malam perbukitan yang dingin seketika menyapa kulit mereka. Udara itu bersih, namun terasa membekukan.

Alvan berjalan mendahului menuju tangga teras depan, sementara Andira melangkah pelan di belakangnya karena gaun panjangnya yang membatasi pergerakan.

Saat mencapai anak tangga ketiga, Alvan menghentikan langkah kakinya secara mendadak.

"Pak Alvan?" Andira menghentikan langkahnya di anak tangga bawah, mendongak menatap punggung tegap Alvan yang tiba-tiba membeku.

Alvan tidak menjawab. Pria itu perlahan mengangkat tangan kanannya, meletakkannya tepat di atas dada kirinya sendiri, di balik lapisan kemeja putih dan tuxedo mewahnya.

Tuk... Tuk... Tuk...

Di bawah telapak tangannya, Alvan merasakan sesuatu yang sangat asing dan liar. Jantungnya bertalu-talu dengan kecepatan yang tidak wajar. Detaknya begitu keras, begitu bergemuruh, seolah-olah ingin menembus tulang rusuknya.

Alvan memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba menetralkan napasnya.

"Ada apa denganku ?" batin Alvan dengan kepanikan yang tersembunyi rapat. "Kenapa jantungku berdetak sebegini liarnya ?"

Ia mengingat kembali detik-detik saat ia memotong tangan Tuan Hartawan di ballroom... saat ia melihat Andira memejamkan mata dalam kepasrahan... dan saat mata bening wanita itu menatapnya di dalam mobil tadi dengan rasa terima kasih yang tulus.

Setiap kali bayangan mata Andira melintas di benaknya, detak di dadanya bertambah kencang, meruntuhkan dinding pertahanan logika yang selama bertahun-tahun ia bangun di atas batu dendam.

Alvan berpaling perlahan, menatap turun ke arah Andira yang berdiri di bawah pendar lampu teras. Wanita itu menatapnya dengan raut cemas.

"Ada apa, Pak Alvan? Apa kau merasa tidak sehat?" tanya Andira penuh kepedulian.

Alvan menatap mata jernih itu. Rasa takut yang belum pernah ia rasakan sebelumnya menyelinap masuk ke relung jiwanya.

Ia tidak takut pada musuh bisnis, tidak takut pada ancaman pembunuh... tapi ia mulai takut pada kenyataan bahwa wanita yang seharusnya ia benci setengah mati ini, perlahan-lahan mulai menguasai seluruh detak jantungnya.

"Masuklah," ujar Alvan, suaranya serak dan agak gemetar.

Tanpa menunggu balasan Andira, Alvan membalikkan badan dan melangkah cepat menerobos masuk ke dalam mansion, meninggalkan Andira yang menatap langkah terburu-buru itu dengan keheranan yang makin mendalam.

...----------------...

To Be Continue ....

1
Ibuk Oppo
dobel up kakak
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
Andira kamu wanita kuat tetap semangat ya Allah bersamamu 🥺...elena kamu boleh tertawa sepuasnya sebelum semua kebusukan mu terbongkar 😏
Reniochim
seru nih kayaknya..sekelebat ceritanya kayak sinetron ikatan cinta.
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Rina Kurnia
waduuhh....miss ra...tragis kali ya....🥺🥺
Miss Ra: 🤗/Chuckle/
total 1 replies
Eva Karmita
mampir otor 🙏
Eva Karmita: 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
total 2 replies
Ma Em
Miss jgn terlalu kejam nanti Alvan pada Andira kasihan karena Andira mungkin dijebak oleh adik tirinya si Alena .
Miss Ra: 🤗/Chuckle/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!