NovelToon NovelToon
Rahasia Mantan Istri: Kembali Ke Pelukan CEO

Rahasia Mantan Istri: Kembali Ke Pelukan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Lari Saat Hamil / Penyesalan Suami
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Novaa

"Selama ini Mama sendirian, Papa. Kai sering melihat Mama menangis... Kalau Kai di sini terus bersama Papa, siapa yang memeluk Mama?"

....

Demi melindungi keluarganya dari ancaman mertua yang kejam, Bening Azalea (29) memilih bungkam. Ia merelakan dirinya difitnah berselingkuh dan pergi membawa rahasia besar, janin berusia satu bulan di rahimnya.
Tujuh tahun berlalu, Bening berjuang mati-matian membesarkan putranya, Kaivandra Saputra, dalam kesederhanaan. Namun takdir kembali mempertemukannya dengan Gibran Aditama (33), sang mantan suami yang kini menjadi CEO sukses.
Tahu keberadaan cucunya, sang mantan mertua dengan culas menggunakan kekuasaan untuk merebut hak asuh Kai. Gibran yang awalnya dipenuhi kebencian, mulai terenyuh oleh keteguhan Bening dan kepolosan putra kecilnya.
Perlahan, kejujuran Kai meruntuhkan ego Gibran, membuka mata sang CEO bahwa ada kebenaran dan kebohongan besar yang tersimpan rapi di masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 #Dinding kebohongan

​Sore menjelang, semburat jingga di langit mulai menemani langkah ceria seorang wanita berambut pendek yang tengah menjinjing sebuah kantong plastik berlogo kedai es krim ternama. Erika, sahabat dekat Bening yang hanya tahu dirinya dititipi untuk membelikan es krim tanpa tahu badai apa yang baru saja melanda, melangkah masuk ke halaman rumah sederhana Bening dengan senyum lebar.

​"Assalamualaikum! Jagoan ganteng Tante, lihat nih Tante bawa apa?" seru Erika riang begitu memasuki pelataran rumah Bening.

​"Waalaikumsalam! Wah, es krim...!" Kaivandra yang sedang bermain mobil-mobilan di teras langsung melonjak kegirangan. Matanya yang coklat berbinar terang saat menerima kantong plastik dari tangan Erika. Tanpa membuang waktu, bocah itu langsung sibuk dengan cup es krim coklatnya, duduk di bangku teras dengan lahap.

​Erika tersenyum melihat tingkah Kai, namun senyumnya perlahan memudar saat tatapannya beralih pada sosok Bening yang berjalan keluar dari dalam rumah. Wajah sahabatnya itu terlihat kuyu, gurat kelelahan batin tercetak jelas di sana.

​Erika mendekat, menepuk bahu Bening pelan. "Kamu kenapa, Ning? Lagi banyak pesanan kue ya? Oh ya, sekalian nih, orang kantorku ada yang mau pesan kue tart mini 100 kotak untuk acara minggu depan. Bisa, kan?"

​Jika saja peristiwa traumatis tadi siang tidak terjadi, Bening pasti akan melompat kegirangan dan sepenuhnya senang karena mendapatkan pesanan dalam jumlah besar demi menambah tabungannya. Namun sekarang, semua itu terasa hambar. Bening hanya mampu mengangguk dengan lesu. "Bisa, Er. Nanti tolong kirim detail desainnya ya."

​Erika mengernyitkan dahi. Reaksi Bening sama sekali tidak wajar. "Kamu kenapa sih, Ning? Cerita sama aku. Jangan dipendam sendiri."

​Bening melirik Kai yang masih asyik dengan es krimnya di teras, memastikan jarak mereka cukup aman. Dia kemudian menarik lengan Erika sedikit menjauh ke sudut dalam ruang tamu. Dengan suara yang tertahan dan bergetar, Bening akhirnya membuka suara.

​"Er... aku ketemu lagi dengan Mas Gibran siang tadi."

​Mata Erika membelalak tak percaya. "Apa?! Gibran Aditama?"

​Bening mengangguk lemah, air matanya kembali menggenang. "Dia melihat Kaivan, Er. Dia sempat menatap Kai lama sekali. Aku takut... aku sangat takut kalau dia sampai tahu Kai adalah putra kandungnya."

​Bukannya ikut panik, Erika justru menghela napas panjang dan menatap Bening dengan pandangan bersimpati. "Bagus dong kalau dia tahu, Ning. Kamu sudah cukup berjuang sendirian selama ini. Kamu membesarkan Kai dengan darah dan air mata, sementara ayahnya hidup mewah disana. Sudah saatnya dia ikut tanggung jawab."

​"Tidak, Erika! Tidak boleh!" potong Bening cepat dengan nada panik yang tertahan. "Aku tidak mau anakku berada dalam lingkungan yang sangat berbahaya. Kamu tahu sendiri bagaimana kekejaman ayahnya Mas Gibran. Kalau mereka tahu Kai ada, mereka pasti akan merebut Kai dariku dengan kekuasaan mereka!"

​Melihat Bening yang mulai histeris dan gemetar, Erika segera memeluk sahabatnya itu, mencoba menenangkannya. "Oke, oke, tenang dulu, Ning. Kalau begitu, dengarkan aku. Kalau besok, atau kapan pun mantan suamimu itu menemuimu lagi untuk menuntut penjelasan... katakan saja Kaivan bukan anaknya. Katakan kalau kamu sudah menikah lagi setelah bercerai darinya."

​Bening terdiam, mencerna saran Erika. Jantungnya berdegup kencang. "Ya... aku akan mengatakan itu. Aku tidak peduli dianggap wanita buruk lagi olehnya, Er. Aku tidak mau berpisah dari Kaivandra. Dia satu-satunya kekuatanku sekarang."

​Keesokan harinya, Bening bertekad melupakan seluruh kesedihan dan ketakutannya. Dia harus terlihat bahagia dan kuat di depan putranya. Pagi-pagi sekali, dengan senyum yang dipaksakan se-alami mungkin, Bening menggandeng tangan Kai masuk ke taksi online yang selalu dia pesan untuk menuju ke taman kanak-kanak tempat Kaivandra bersekolah.

Sepuluh menit perjalanan akhirnya mereka sampai, Bening membantu Kai turun dari mobil lalu menggandeng tangannya untuk mendekat kearah gerbang sekolah.

​"Belajar yang pintar ya, sayang," ujar Bening lembut, berlutut untuk merapikan seragam Kai di depan gerbang sekolah.

​"Iya, Mama. Kai masuk dulu ya!" Kaivandra mencium punggung tangan ibunya dengan khidmat, lalu berbalik dan berlari riang masuk ke dalam halaman sekolah bergabung dengan teman-temannya.

​Bening memandangi punggung kecil itu sampai menghilang di balik pintu kelas. Setelah itu, dia bergegas memutar arah untuk pulang. Seperti biasa, Bening berjalan sedikit cepat demi menghindari pandangan dan pertanyaan-pertanyaan sensitif dari ibu-ibu wali murid lain yang mungkin akan bergosip atau bertanya di mana keberadaan ayah Kaivandra. Ketenangan adalah hal mahal yang selalu dia jaga.

​Namun, ketenangan rumah yang Bening harapkan sirna seketika begitu dia sampai di depan rumahnya.

​Di halaman rumahnya, sudah terparkir sebuah mobil sedan mewah hitam metalik mobil yang sama persis dengan yang dia lihat kemarin. Dan yang membuat darah Bening berdesir hebat adalah sosok pria yang kini sudah berdiri tegak di teras rumahnya. Gibran Aditama berdiri di sana dengan setelan jas abu-abu gelap yang elegan, didampingi oleh Toni yang berdiri satu langkah di belakangnya.

​Bening menghentikan langkah sesaat, mencengkeram tali tasnya erat-erat, sebelum akhirnya memaksakan diri melangkah maju dengan wajah sedingin es.

​"Untuk apa kamu datang kemari, Pak Gibran?" tanya Bening langsung, tanpa basa-basi, menekankan kata Pak seolah menegaskan garis pembatas di antara mereka.

​Gibran menoleh. Tatapan matanya yang tajam langsung mengunci pergerakan Bening. "Kamu berhutang penjelasan panjang padaku, Bening."

​Bening tersenyum sinis, menahan sesak di dadanya. "Penjelasan apa lagi? Semuanya sudah sangat jelas dan urusan kita sudah selesai secara hukum tujuh tahun yang lalu. Silakan pergi dari sini."

​"Belum, Bening. Belum selesai," potong Gibran dengan suara rendah yang menuntut, melangkah maju satu kali hingga jarak mereka mengikis. "Siapa anak kecil yang bersamamu kemarin? Dia anakmu, kan?"

​"Ya, dia putraku! Jadi tolong jangan ganggu kehidupan kami!" jawab Bening tegas.

​Gibran menyipitkan matanya, menatap lurus ke dalam manik mata Bening, mencoba mencari kebohongan. "Siapa ayahnya?"

​Jantung Bening bertalu-talu dengan liar, namun dia memaksakan diri untuk menatap balik Gibran tanpa berkedip. "Jangan pernah berpikir bahwa kamu adalah ayahnya karena... bukan kamu ayahnya! Aku sudah menikah lagi tak lama setelah bercerai darimu."

​Suara Bening sedikit bergetar di ujung kalimat. Itu adalah kebohongan terbesar yang pernah dia ucapkan seumur hidupnya. Hatinya menjerit menolak kalimat itu, karena kenyataannya dia tidak pernah disentuh pria mana pun selain Gibran.

​Rahang Gibran mengeras mendengar jawaban itu. Sesuatu yang panas membakar dadanya, rasa cemburu dan kemarahan yang meluap. "Kalau begitu, katakan padaku berapa tanggal lahir anak itu?!"

​"Untuk apa?! Itu sama sekali tidak penting bagimu, Pak Gibran!" sentak Bening, air matanya mulai menggenang di sudut mata akibat tekanan emosi. "Silakan pergi dari rumahku sekarang! Bukankah seperti yang kamu katakan sendiri tujuh tahun lalu, aku ini hanya wanita tidak tahu diri yang menjijikkan di matamu? Jadi untuk apa kamu sudi menginjakkan kaki disini Jangan pernah menemuiku lagi, urusan kita sudah selesai!"

​Tanpa memberikan kesempatan bagi Gibran untuk membalas, Bening dengan gerakan buru-buru merogoh kunci dari tasnya, membuka pintu rumah dengan tangan yang gemetar hebat, lalu segera masuk dan membanting pintu di depan wajah mantan suaminya.

​Brak!

​Pintu terkunci rapat. Di dalam rumahnya, tubuh Bening seketika lemas. Dia merosot di balik pintu, terduduk di lantai dingin sambil memeluk lututnya. Air matanya tumpah tak terbendung lagi. Hatinya terasa begitu sakit dan hancur.

​“Maafkan Mama, Kai... Maafkan aku, Mas Gibran... Aku harus berbohong demi kebaikan kita semua,” bisik Bening di sela tangisnya yang sunyi, meratapi takdir yang kembali mempermainkan hidupnya.

Di luar, Gibran menatap pintu kayu yang tertutup rapat itu dengan rahang yang mengeras rapat. Napasnya memburu, menahan badai emosi yang berkecamuk di dalam dadanya.

Kebohongan Bening terlalu kentara. Gibran mengenal wanita itu luar dalam. Dia menangkap getaran halus pada suara Bening saat menyebut kata 'sudah menikah lagi', serta binar kepanikan yang luar biasa di sepasang mata indahnya. Jika anak itu memang bukan darah dagingnya, untuk apa Bening ketakutan setengah mati sampai mengusirnya seolah-olah dia adalah seorang monster?

Terlebih lagi, wajah anak itu tidak bisa menipu instingnya. Kemiripan mutlak itu bukanlah sebuah kebetulan.

"Pak..." Toni berbisik hati-hati, memecah keheningan yang mencekam di teras kumuh tersebut. "Kita sebaiknya pergi sebelum keberadaan Anda menarik perhatian warga sekitar."

Gibran tidak menjawab. Pria itu membalikkan tubuhnya dengan tegap, melangkah lebar meninggalkan teras menuju mobil mewah hitamnya. Gerakannya memancarkan aura kemarahan yang dingin.

Begitu pintu mobil tertutup rapat, menghalau hawa panas luar ruangan dengan kesejukan AC, Gibran langsung menyandarkan punggungnya. Namun, matanya tetap menatap tajam ke arah rumah petak sederhana milik Bening melalui kaca jendela yang gelap.

"Toni," panggil Gibran, suaranya terdengar berat dan berbahaya.

"Iya, Pak?" Toni langsung memosisikan cermin tengah agar bisa melihat ekspresi atasannya.

"Cari tahu semua hal tentang Bening selama Tujuh tahun terakhir ini," perintah Gibran dingin, setiap katanya ditekan dengan penuh penegasan. "Aku ingin data yang seakurat mungkin. Cari tahu di rumah sakit mana anak itu dilahirkan, berapa tanggal lahirnya yang tepat, dan yang paling penting..."

Gibran menjeda kalimatnya sesaat, kilatan kepemilikan dan amarah melintas di matanya.

"Cari tahu apakah benar dia sudah menikah lagi. Selidiki siapa pria yang berani mendampinginya, atau apakah status pernikahan itu hanya bualan untuk menjauhkan anak itu dariku."

Toni meneguk ludahnya pelan, merasakan ketegangan yang luar biasa dari sang CEO. "Baik, Pak, Saya akan segera menghubungi tim investigator terbaik kita untuk memeriksa data sipil dan riwayat medis Nona Bening. Saya pastikan hasilnya selesai dalam waktu singkat."

Gibran memejamkan matanya, mengepalkan tangan di atas lututnya. “Kamu bisa membohongi seluruh dunia dengan bibirmu, Bening. Tapi mata coklat anak itu tidak bisa berbohong. Jika dia benar-benar putraku, tidak akan ada satu orang pun yang bisa menghalangiku untuk membawanya pulang... termasuk dirimu,” batin Gibran penuh tekad.

Mobil mewah itu pun perlahan melaju, membelah jalanan dan meninggalkan kawasan pemukiman sederhana tersebut, membawa Gibran yang kini siap membongkar dinding kebohongan yang telah dibangun mantan istrinya selama tujuh tahun ini.

1
Lisa
Dokter Arfan mengganggu aj nih 😊
Akun Maisarah
jahat banget Wira nih.orang tua apa yg Setega itu.kasihan bening😪
Lisa
👍👍 bagus Gibran tangkap pria itu lalu urus papamu yg membayar pria itu..ntar lg kebenaran terungkap.
Lisa
Kalian harus rujuk kembali..
Lisa
Syukurlah Gibran segera menyuruh asistennya utk menyelidiki pria itu setlh semuanya terungkap mereka ber3 dpt bersatu lg..
Lisa
Gibran selidiki masa lalu itu kamu harus tegas terhadap ayahmu
Lisa
Ayo Gibran sadarlah bahwa Papamu itu yg menghasutmu
Lisa
Udh Gibran jgn keraskan hatimu..Bening msh mencintaimu & ga pernah selingkuh..
Lisa
Makanya kamu harus menyelidiki kasus itu Gibran..
Lisa
Makanya kamu harus bersikap tegas Gibran terhadap ayahmu..dia itu yg udh menyusun skenario jahat ttg Bening
Lisa
Makanya kamu harus tegas Gibran selidiki masalah 7 thn yg lalu itu..
Lisa
Kapan Gibran & Bening dapat rukun lagi ☺️
Lisa
Wira ini jahat banget moga aj kelakuannya diketahui oleh Gibran
Lisa
Sadarlah Gibran..anakmu aj sangat taat beribadah..kamu harus berubah dan mencontoh sikap anakmu.
Lisa
ya nih Gibran koq g sadar slm 6 thn di atur oleh ayahnya
Lisa
Ceritanya menarik 👍
Lisa
Aku mampir Kak
Lisa: Sama² Kak Nova..aku suka ceritanya..
total 2 replies
Yani Tan
bagus...sangat bagus
partini
ck ck ck ternyata ortu lacknat
ga bakal ketauan ortu sendiri
partini
pak CEO bego masa iya di bantai terus sama lawan 🤦🤦
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!