Devi Putri Maharani memilih bekerja sebagai buruh pabrik di desanya setelah lulus. Hari-harinya diisi dengan kerja keras, hingga suatu malam, nasib sial mulai menghampirinya.
Devi harus lembur dan terpaksa pulang sendirian berjalan kaki di kegelapan malam karena sang kakak tak kunjung menjemput. Malapetaka kian terasa nyata saat hujan deras tiba-tiba mengguyur, memaksa Devi berteduh di sebuah gubuk tua dan kosong di pinggir jalan.
Namun, gubuk senyap itu ternyata menyimpan kejutan. Seorang pemuda berpenampilan acak-acakan khas preman ikut berteduh di sana.
Sialnya beberapa warga desa yang melintas salah paham.
Tudingan miring tak bisa dihindari. Di tengah guyuran hujan dan kesalahpahaman yang makin memanas, warga menuntut satu hal: Devi dan sang "preman tengil" harus segera dinikahkan!
Mampukah Devi menerima takdir mewarnai hidupnya bersama pria asing yang tak pernah ia duga sebelumnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berita Duka Untuk Rani
Matahari pagi merangkak kian tinggi, memancarkan sinar keemasan yang menembus celah-celah rimbunnya pohon nangka dan kelapa di sepanjang jalan perkampungan Dukuh Parang.
Embun pagi yang tadinya membasahi dedaunan perlahan menguap, meninggalkan hawa hangat yang memancing warga untuk keluar rumah. Namun, hangatnya pagi itu sama sekali tak mampu mendinginkan suasana warung sayur Mbak Sum yang terletak di perempatan jalan desa.
Di sana, di bawah naungan atap seng warung yang agak berkarat, beberapa ibu-ibu desa sedang berkumpul. Di tangan mereka menggantung kantong plastik berisi kangkung, tempe, dan bumbu dapur. Namun, perhatian utama mereka sama sekali bukan pada harga cabai yang sedang naik, melainkan pada kabar burung yang paling hangat dan gurih yang menyebar secepat kilat sejak subuh tadi.
"Iya, Jeng! Beneran! Wong semalam itu rame banget di balai desa!" seru seorang ibu berdaster batik merah dengan nada berbisik tapi sengaja dikencangkan.
"Anaknya Pak Suryo yang si Devi itu, loh! Kelihatan alim, rajin kerja di gudang pabrik, eh ternyata digerebek warga di gubuk tengah sawah!"
"Gusti Allah ... Beneran, Yu?" timpal ibu lainnya seraya menutupi mulutnya yang menganga lebar. "Sama siapa? Sama bocah desa sini juga?"
"Bukan! Sama preman luar kota! Badannya tatoan semua, mukanya seram kayak mantan napi!" sahut Mbak Sum, sang pemilik warung, tak mau kalah bersemangat sambil memotong tempe.
"Langsung dinikahkan siri semalam di balai desa! Daripada ditelanjangi terus diarak keliling kampung, ya Pak Suryo pasrah aja dapat menantu preman begitu!"
Tak jauh dari perempatan warung sayur tersebut, berdiri sebuah rumah bergaya limasan dengan halaman luas yang ditanami bermacam bunga mawar dan melati. Itu adalah rumah keluarga Rani.
Rani, gadis berusia sembilan belas tahun yang merupakan sahabat karib Devi sejak kecil, sedang asyik menyiram tanaman dengan gembor plastik warna hijau. Rani mengenakan kaus santai dan celana kain panjang, menyiulkan nada lagu pop yang sedang populer di radio.
Rani dan Devi bagaikan dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Mereka sekolah di SMA yang sama, saling berbagi rahasia, dan baru dua hari lalu Rani ikut gembira bukan main saat ia dan Devi diterima bekerja di gudang pabrik sepatu kecamatan. Bagi Rani, Devi adalah sosok gadis yang paling lurus, jujur, dan tidak pernah macam-macam.
Saat Rani sedang mengarahkan kucuran air dari gembor ke arah pot mawar merah, langkah kaki tergesa-gesa dari Mbak Sum yang baru selesai melayani pembeli terdengar mendekati pagar rumahnya.
Mbak Sum yang membawa kantong plastik kosong tampak tak sabar ingin membagikan kabar hangat itu pada keluarga Rani.
"Rani! Rani!" panggil Mbak Sum dari balik pagar, suaranya melengking menembus keheningan halaman.
Rani menghentikan kucuran airnya, memutar badan dan menyapu peluh di dahinya dengan punggung tangan. "Eh, Mbak Sum. Ada apa, Mbak? Pagi-pagi kok sudah napasnya ngos-ngosan begitu?"
"Kamu ini ya, masih santai-santai siram bunga!" cerocos Mbak Sum sambil berkacak pinggang di depan pagar. "Kamu sudah dengar belum berita heboh soal sahabatmu si Devi?"
Kerutan halus muncul di dahi Rani. "Devi? Kenapa sama Devi, Mbak? Dia belum jalan kerja ya jam segini? Tadi malam dia bilang motor kakaknya agak rewel, makanya ..."
"Aduh, Rani! Buka telingamu lebar-lebar!" potong Mbak Sum gemas. "Devi itu tidak bakal kerja hari ini! Dia itu semalam digerebek warga di gubuk tengah sawah gara-gara berduaan sama laki-laki asing bertato! Semalam langsung dipaksa nikah siri di balai desa sama Pak Kades dan Pak Modin! Devi sekarang sudah jadi istri orang!"
BLARRR!
Kata-kata yang meluncur dari mulut Mbak Sum rasanya bagaikan dentuman meriam yang meledak tepat di samping telinga Rani. Tangan Rani yang memegang gagang gembor berisi penuh air seketika kehilangan tenaganya.
Bruk! Kletek!
Gembor plastik berwarna hijau itu terlepas dari genggamannya, jatuh menghantam tanah keras dan mengenai tepat di atas jempol kaki kanan Rani sebelum akhirnya terguling memuntahkan sisa airnya ke ubin teras.
"Aduh! Aduh! Sakit!" jerit Rani refleks, melompat-lompat kecil dengan satu kaki sambil memegang jempol kakinya yang mendadak berdenyut nyeri. Namun, rasa sakit di jempol kakinya sama sekali tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa syok yang menghantam pikirannya saat ini.
Rani menatap Mbak Sum dengan mata membelalak lebar, wajahnya mendadak pucat seperti kertas. "M-Mbak Sum ... jangan bercanda ya! Nggak lucu tahu! Devi itu anak baik-baik! Dia nggak mungkin berbuat aneh-aneh di gubuk sawah!"
"Siapa yang bercanda?!" gertak Mbak Sum tak terima diragukan. "Wong Pak RT sendiri yang memimpin penggerebekannya! Kalau kamu nggak percaya, tanya saja sama warga yang nonton di balai desa semalam! Suaminya itu preman bertato naga dari kota! Hiiy ... seram banget penampilannya!"
Tepat pada saat itu, pintu depan rumah Rani terbuka. Dodi, kakak kandung Rani yang berusia dua puluh lima tahun, melangkah keluar ke teras. Dodi mengenakan kemeja kotak-kotak yang rapi dan celana kain tebal. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah cangkir seng berisi teh manis panas yang baru saja diseduh oleh ibunya. Dodi bermaksud menikmati teh pagi di teras sebelum berangkat bekerja di kantor dinas kecamatan.
"Ada apa sih, Ran? Pagi-pagi kok sudah teriak-teriak sampai gembor dijatuhkan begitu?" tanya Dodi dengan nada santai. Ia mendekatkan cangkir tehnya ke bibir, berniat menyeruput uap hangat yang membumbung pelan.
Rani memutar badannya menatap sang kakak, matanya berkaca-kaca antara tidak percaya dan kepanikan yang membuncah. "Mas Dodi ... Mas Dodi dengar tidak apa yang dibilang Mbak Sum tadi?!"
"Dengar apa?" jawab Dodi santai, meniup uap tehnya. "Paling-pagi gosip harga sembako naik lagi."
"Bukan, Mas! Ini soal Devi!" jerit Rani histeris, suaranya melengking memecah kesunyian pagi. "Devi, Mas! Devi dinikahkan semalam di balai desa! Devi dipaksa nikah sama laki-laki asing gara-gara digerebek warga berteduh di gubuk sawah!"
PRANGGG!
Suara pecahan kaca dan seng yang menghantam ubin teras terdengar begitu nyaring dan memekakkan telinga.
Cangkir seng berisi teh manis panas yang dipegang Dodi terlepas begitu saja dari tangannya. Cangkir itu menghantam lantai teras, memuntahkan cairan cokelat manis yang masih berasap ke mana-mana, sementara pecahan penutupnya terlempar hingga ke pinggir tangga. Teh panas menyiprat ke celana rapi Dodi, namun pria itu sama sekali tidak bergerak atau mengaduh kesakitan.
Dodi berdiri mematung bagaikan patung batu di ambang pintu teras. Wajahnya yang semula segar dan kemerahan seketika memucat hebat, seolah seluruh darah di tubuhnya tersedot habis dalam satu detik. Matanya membelalak kaku, menatap Rani dengan pandangan yang kosong, liar, dan dipenuhi penolakan yang amat sangat.
"K-kamu ... kamu bicara apa, Ran?" suara Dodi keluar dalam bisikan yang bergetar hebat, begitu parau dan nyaris tak terdengar. "Jangan ... jangan bikin lelucon gila seperti itu ..."
"Aku nggak bercanda, Mas Dodi!" tangis Rani akhirnya pecah karena panik melihat reaksi kakaknya dan kebenaran berita itu. "Mbak Sum sendiri yang bilang! Seluruh warga desa sudah heboh membicarakan Devi semalam dinikahkan siri di balai desa!"
Mbak Sum yang melihat reaksi ekstrem dari Dodi hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. "Iya, Mas Dodi. Beneran itu. Wong saya sendiri lihat Raka kakaknya Devi tadi subuh mukanya kusam banget pas beli rokok di warung. Kasihan si Devi ..."
Mbak Sum kemudian ngeloyor pergi meninggalkan halaman rumah itu, merasa tugasnya menyebarkan berita heboh sudah selesai. Namun, ia tidak tahu bahwa berita yang dibawanya baru saja menghancurkan seluruh dinding dunia milik seorang Dodi.
Dodi melangkah mundur satu tapak dengan gerakan kaku. Lututnya terasa lemas luar biasa, seolah persendian di kakinya telah dicabut paksa. Ia menyandarkan punggungnya di kusen pintu kayu teras, tangannya yang gemetar mencengkeram erat pinggiran kayu hingga kuku-kukunya memutih.
("Devi ... menikah?")
Kata itu terus berputar-putar di dalam kepala Dodi bagaikan pusaran angin puting beliung yang memporak-porandakan seluruh saraf kesadarannya.
("Devi... sudah jadi istri orang lain? Bagaimana bisa?! Bagaimana mungkin gadis yang selama bertahun-tahun ini selalu ada di dalam setiap doaku ... tiba-tiba dimiliki laki-laki lain dalam semalam?!")
Dodi mengepalkan tangan kanannya rapat-rapat, menekan dadanya yang mendadak terasa dihantam oleh bongkahan batu berukuran raksasa. Rasa sesak yang teramat sangat menyergap tenggorokannya, membuatnya kesulitan hanya untuk menarik napas. Air mata yang hangat dan panas mendadak menggenang di pelupuk matanya, mengaburkan pandangannya yang menatap lantai teras yang tergenang tumpahan teh manis.
Sejak masa sekolah menengah atas, sejak Devi masih menjadi gadis remaja yang selalu berjalan kaki melewati depan rumahnya dengan seragam putih abu-abu, Dodi sudah mengagumi dan mencintai gadis itu secara diam-diam. Dodi adalah tipe pria pemalu, terlalu berhati-hati, dan selalu merasa belum cukup pantas. Ia selalu menunda untuk mengungkapkan perasaannya.
("Nanti ... kalau aku sudah lulus kuliah,")batin Dodi dulu.
("Nanti ... kalau aku sudah dapat pekerjaan tetap di kantor dinas, batin Dodi tahun lalu.
("Nanti ... kalau tabunganku sudah cukup untuk membeli cincin lamaran yang indah,"(batin Dodi baru bulan kemarin.
Selalu ada kata nanti yang dirangkainya dengan rapi dalam imajinasi masa depannya. Dodi merasa yakin bahwa Devi akan selalu ada di sana, menunggu di desa yang sama, menjadi milik yang ditakdirkan untuknya suatu hari nanti. Ia begitu percaya diri bahwa tidak ada laki-laki lain di desa ini yang mendekati Devi, karena Devi adalah gadis pemalu yang jarang bergaul dengan pemuda desa.
Namun pagi ini, semua impian indah yang disusunnya bertahun-tahun dengan penuh kesabaran itu hancur berkeping-keping menjadi debu yang tak berharga. Hanya dalam kurun waktu satu malam, kata nanti yang selalu diagungkannya telah berubah menjadi vonis hukuman mati bagi hatinya.
"Goblok kamu, Dodi! Kamu bodoh!" maki Dodi pada dirinya sendiri di dalam hati. Penyesalan yang luar biasa dahsyat datang menerjang relung jiwanya, membakar hatinya hingga terasa hangus.
Kenapa ia harus menunda? Kenapa ia harus menunggu pekerjaan yang mapan hanya untuk sekadar bilang 'aku menyukaimu'? Kenapa ia tidak melamar Devi sejak bulan lalu saat ia baru diangkat menjadi pegawai tetap? Jika saja ia berani menyatakan perasaannya lebih awal, jika saja ia bertindak lebih cepat, Devi tidak akan berada di gubuk itu sendirian, dan Devi tidak akan terpaksa menikah dengan seorang preman asing yang tak jelas asal-usulnya!
"Mas ... Mas Dodi nggak apa-apa?" suara Rani yang cemas membuyarkan lamunan kelam Dodi. Rani melangkah mendekat, memegang lengan kakaknya yang gemetaran. Rani tahu betul bagaimana perasaan Dodi pada sahabatnya itu.
Selama bertahun-tahun, Rani adalah saksi bisu bagaimana Dodi selalu membelikan oleh-oleh terbaik untuk Devi lewat dirinya, bagaimana Dodi selalu menanyakan kabar Devi setiap malam.
Dodi menegakkan kepalanya pelan. Pandangan matanya yang semula redup kini memancarkan rasa tidak terima dan kemarahan yang membara pada keadaan.
"Ran ..." suara Dodi bergetar parau, matanya yang memerah menatap Rani dengan penuh keputusasaan. "...kita harus ke rumah Devi sekarang."
"Mas ... tapi ..."
"Ayo kita ke rumah Devi sekarang, Rani!" gertak Dodi dengan nada tinggi yang jarang sekali dilontarkannya. Pria yang biasanya kalem dan sopan itu kini tampak begitu tertekan dan emosional. "Mas harus lihat sendiri! Mas harus tahu siapa laki-laki yang sudah merebut Devi dari Mas!"
Dodi tidak memedulikan celana kainnya yang basah oleh tumpahan teh panas. Tanpa mematikan lampu teras atau merapikan cangkir yang pecah, Dodi melangkah lebar-lebar membelah halaman rumahnya menuju jalan utama desa. Langkah kakinya begitu cepat, dipacu oleh rasa tidak terima, penyesalan yang membakar, dan selapis harapan rapuh bahwa berita buruk pagi ini hanyalah sebuah kesalahpahaman yang besar.
Rani mengusap air matanya yang menetes, lalu berlari kecil menyusul langkah lebar sang kakak yang sudah melesat jauh di depan. Pagi di Dukuh Parang yang semula tenang kini benar-benar telah berubah menjadi panggung drama yang penuh persimpangan rasa.
waktu apalgi jika sudah ada tato,,
dari kecil otakku sudah di doktrin jika ada tato maka anak nakal😁😁
berarti masuk sekolah umur 9thn ya
di arak tanpa busana
dasar gila,, padahal hanya melihat berduaan
milih nikah aja