Cikampek adalah kota yang selama berabad-abad hidup dalam keterasingan dan dikenal sebagai wilayah yang sangat berbahaya. Banyak para petarung kuat berambisi menaklukkannya, tetapi hanya sedikit yang berani menginjakkan kaki di sana karena adanya perjanjian lama dengan berbagai pihak. Dahulu, satu-satunya cara membebaskan dan menguasai Cikampek adalah menaklukkan seluruh petarung terkuat hingga mencapai puncak dan memperoleh gelar Kaisar, sebuah gelar warisan sejak era awal yang pertama kali dikenal di Jakarta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kazeo24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7 TRIPLE THREAT
Matahari pagi menyengat lapangan tengah SMK PGRI Cikampek dengan terik yang luar biasa panas. Sinar terik itu menciptakan bayangan tajam di setiap sudut bangunan sekolah yang kusam dan dipenuhi coretan grafiti, tempat yang terkenal sebagai sarang para berandalan paling ditakuti di seluruh penjuru kota. Ratusan murid baru kelas 1 dikumpulkan berdesak-desakan di tengah lapangan luas tersebut. Kerumunan padat itu seketika dipenuhi keringat, napas yang memburu, dan ketegangan yang kian memuncak. Mereka berdiri dalam kebingungan, menunggu instruksi yang akan menentukan nasib mereka di hari pertama sekolah.
Di atas balkon lantai tiga, sesosok pria berdiri tegap menatap kerumunan di bawah sana dengan pandangan meremehkan. Argantara—Sang Penguasa Bayoer yang paling disegani dan ditakuti oleh seisi sekolah. Posturnya tegap, auranya memancarkan dominasi mutlak, dan tatapannya menyiratkan kekuasaan yang tak tergoyahkan. Di samping kiri dan kanannya, Hyto Immanuel dan Kairi Shinki berdiri bersedekap dada dengan pandangan dingin, mengawasi mangsa-mangsa baru di bawah sana bagaikan sekelompok singa yang sedang mengitari kawanan rusa.
Argantara memajukan badannya ke tepi pembatas balkon, menyapu pandangan ke seluruh penjuru lapangan dengan seringai licik di wajahnya. Suaranya mendadak membahana, menggelegar hebat menembus riuhnya bisik-bisik ketakutan para murid baru.
"Dengar, kalian para sampah kelas 1! Hari ini adalah tradisi tahunan Bayoer!" Suara Argantara memantul keras di setiap dinding koridor gedung sekolah.
Argantara mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi ke udara, mengepalkannya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih, lalu mengayunkannya ke bawah dengan penuh tenaga.
"Siapa yang bertahan berdiri di akhir pertarungan... dialah yang berhak memimpin angkatannya!"
"PERTARUNGAN DIMULAI!!"
BOOM!
Bagaikan bendera start dikibarkan, lapangan bawah seketika pecah menjadi lautan kerusuhan yang sangat brutal. Suara hantaman pukulan, tendangan keras, dan jeritan kesakitan saling bersahutan tanpa henti. Ratusan anak kelas 1 saling hantam tanpa aturan, melupakan akal sehat demi bertahan hidup di arena gladiator tersebut. Benturan fisik meletus di setiap sudut lapangan, menciptakan ketakutan dan kekacauan masal yang tak terkendali.
Dari atas balkon, Trio Raja Langit menyaksikan kekacauan massa itu dengan ekspresi datar, seolah-olah pertumpahan darah di bawah sana hanyalah tontonan membosankan. Hanya dalam hitungan menit, sebagian besar murid tumbang bergelimpangan di atas tanah berdebu, memegangi kepala dan perut mereka yang mengerang kesakitan.
Namun, di tengah kepulan debu lapangan yang membumbung tinggi, ada enam orang yang berdiri sangat mencolok. Mereka bertarung dengan dominasi mutlak, menumbangkan siapa saja yang mencoba mendekat ke radius mereka, lalu saling melayangkan pukulan keras demi menentukan siapa penguasa sejati angkatan baru.
Dua di antara enam orang mencolok itu adalah Firman dan Azka—dua orang mantan adik-adikan kepercayaan Zela pas zaman SMP dulu yang kini bertarung membantai lawan-lawannya dengan teknik tarung jalanan yang sangat matang. Pukulan kombinasi Firman meretakkan rahang lawan di depannya, sementara tendangan sapuan Azka merobohkan dua orang sekaligus hingga tersungkur ke tanah.
Sementara itu di Lantai 2, pertarungan angkatan kelas 2 tak kalah brutal. Atmosfer di lantai ini bahkan jauh melampaui apa yang terjadi di lapangan bawah. Lorong gedung seolah bergetar hebat oleh benturan langkah kaki dan tubuh-tubuh yang menghantam dinding keramik hingga retak. Dua fraksi besar dari anggota 10 Besar—fraksi Erik dan fraksi Nadeo—sedang terlibat perang terbuka yang sangat sengit di sepanjang lorong.
Erik, dengan muka penuh luka perban akibat kekalahannya kemarin, bertarung membabi buta seperti orang kesetanan. Dia melampiaskan seluruh amarahnya kepada siapa pun murid yang melintas. Namun, tiba-tiba matanya menangkap sosok Ryuka di kejauhan yang sedang berjalan santai di tengah kekacauan.
"WOY BANGSAT!" teriak Erik histeris dengan urat leher menegang, hendak melesat maju membalas dendam atas kekalahan memalukannya.
TAK!
Sebuah tendangan keras mendarat tepat di dada Erik, menahannya mundur beberapa langkah dengan napas tersengal. Nadeo berdiri tegak di hadapan Erik dengan senyum tipis mengejek, mengibaskan debu di celananya.
"Lawan lu itu gua, Erik!" potong Nadeo tegas dengan nada dingin. "Lu gak usah sok-sokan mau nyerang anak itu lagi. Lu gak lihat siapa lawan dia sekarang? Lu gak bakal pernah bisa bertarung di level mereka, Bego!"
Erik membelalak kaget. Dia refleks melirik dan menoleh ke arah tengah lorong lantai 2.
Di sana, di antara puluhan siswa kelas 2 yang sibuk bertarung dan saling hantam, area sekitar Ryuka dan Zela mendadak bersih seolah ada garis zona berbahaya yang tak terlihat. Siapa pun murid kelas 2 yang nekat mencoba mendekat atau mencampuri urusan mereka langsung dibantai habis dalam hitungan detik oleh Ryuka maupun Zela tanpa rasa ampun.
"ZELAAA!!" teriak Ryuka bergelora penuh semangat seraya melayangkan satu pukulan uppercut telak yang meratakan seorang siswa di depannya hingga pingsan seketika.
"RYUKAA!!" balas Zela berteriak keras sambil melayangkan tendangan memutar dahsyat yang merobohkan dua musuh sekaligus di belakangnya.
Kedua monster kelas 2 itu akhirnya berdiri saling berhadapan di tengah lorong yang mendadak lengang. Tatapan mata mereka saling mengunci dengan gairah bertarung yang membuncah. Tanpa ba-bi-bu atau basa-basi lagi, Ryuka dan Zela melompat maju bersamaan!
BAM! DUAAGH!
Adu tinju liar meletus hebat! Ryuka melayangkan pukulan kanan berkecepatan tinggi yang mengenai pipi Zela dengan keras, dan di saat yang sama, pukulan kiri Zela mendarat telak di rahang Ryuka hingga kepala Ryuka terlempar ke samping.
Pukulan demi pukulan saling bertukar dengan ritme yang sangat cepat! Tak ada satu pun dari mereka yang berniat mundur, menghindar, atau sekadar mengambil posisi bertahan. Setiap kali satu pukulan mendarat, pukulan balasan yang jauh lebih keras langsung menyusul tanpa jeda.
Naik ke Lantai 3, atmosfer berubah drastis menjadi zona tempur paling elite di seluruh sekolah. Tempat ini dikuasai penuh oleh para pilar utama anggota 8 Besar Bayoer. Di lorong utama lantai 3, perang antar-puncak pecah secara bersamaan dalam tiga duel terpisah yang sangat mencekam:
Argantara bertarung sengit melawan musuh bubuyutannya, Alex Lenord. Alex, yang dulu selalu kalah dari Argantara dan posisinya kian tersingkir sejak kedatangan Ken, bertarung penuh dendam dan kemarahan membara. Namun Argantara bertarung dengan tenang, hanya menganggap pertarungan itu sebagai pengisi waktu luang karena baginya, hanya Maruyama Ken satu-satunya rival sejati yang pantas ia akui.
Di sudut lorong lain, Hyto Immanuel terlibat adu jotos panas melawan musuh lamanya, Azasil (Asil), ketua fraksi elit yang selalu mengincar posisinya sebagai tangan kanan penguasa. Pukulan demi pukulan keras menghantam dinding dan pembatas koridor. Sementara Kairi Shinki berhadapan langsung dengan rival abadinya, Kaito, dalam pertarungan teknikal bertempo tinggi yang penuh benturan keras dan ketepatan refleks.
Namun... di tengah kekacauan dan benturan keras lantai 3 itu, ada sebuah anomali besar yang mendadak melangkah tenang menaiki anak tangga.
Seorang cowok bertubuh tinggi dengan jaket gelap berjalan santai. Langkah kakinya begitu tenang dan berirama, namun auranya begitu pekat dan menekan hingga membuat beberapa siswa yang sedang bertarung sengit di lantai 3 mendadak terhenti, mematung, dan gemetar ketakutan.
Dialah Alfriza farizy—alias Friza.
Pemimpin geng Cikampek Boys Celebrity atau di kenal CBC, salah satu pendiri aliansi Slonong Boys salah satu aliansi besar di dunia malam! Dan seorang lone wolf sejati di sekolah yang sama sekali tak peduli dengan hierarki kekuasaan dunia siang.
Semua mata yang ada di lantai 3 melongo tak percaya. Benturan pukulan seketika terhenti. Bahkan Argantara, Hyto, dan Kairi sempat menghentikan serangan mereka sejenak, melirik dengan tatapan terkejut melihat kehadiran sosok yang seharusnya tidak boleh berada di tempat ini.
Friza melewati keriuhan pertarungan di lantai 3 tanpa melirik atau menganggap keberadaan mereka sedikit pun. Dia terus melangkah tenang mendaki tangga menuju puncak tertinggi gedung... Atap Sekolah.
Di Atap Sekolah, angin pagi bertiup lumayan kencang menerbangkan debu-debu halus di atas semen kusam.
Maruyama Ken sedang duduk santai bersila di atas ubin semen. Dia sama sekali tidak peduli dengan tradisi pertarungan yang sedang bergejolak membara di seluruh lantai di bawahnya. Di depannya tergelar papan catur bekas permainan kemarin, dengan beberapa bidak yang masih berdiri tegak.
KREK.
Pintu besi atap terbuka lebar menggelegar. Ken menoleh perlahan, dan matanya seketika membelalak kaget setengah mati saat menangkap sosok yang berdiri di ambang pintu.
"Friza...?" gumam Ken tak percaya, merapikan letak duduknya. "Setahu gua... lu diskor dari sekolah selama 3 bulan oleh kepala sekolah?"
Friza menyunggingkan senyum miring yang penuh ancaman. Dia melangkah perlahan mendekati Ken, merenggangkan otot-otot lehernya hingga berbunyi benturan tulang yang keras.
"Pasti lu lagi heran kan kenapa gua bisa nongol di sini? Hahaha!" Friza tertawa lepas, matanya mendadak menyala liar bagaikan pemangsa yang menemukan buruannya.
"Ken, Ken... masa-masa adem ayem gua udah resmi berakhir sekarang! Dan hari ini... bakal gua buktikan di hadapan muka lu sendiri kalau gua jauh lebih kuat dari lu, Anjing!"
SRET!
Friza melompat ke depan dengan kecepatan kilat yang tak terduga, melayangkan satu pukulan keras berkekuatan penuh tepat ke arah wajah Ken!
BAM!!
Ken yang memiliki refleks luar biasa berhasil mengangkat kedua tangannya secara menyilang untuk menahan tinju itu. Namun hantaman kuat tersebut menciptakan gelombang angin benturan yang sangat keras, membuat seluruh bidak dan papan catur di ubin seketika terlempar dan berhamburan ke udara!
BAM!!
Suara benturan keras kembali bergema nyaring di Lantai 2, memantul di sepanjang koridor.
Ryuka dan Zela masih terus bertukar pukulan tanpa henti. Wajah Ryuka sudah memar kebiruan di sudut alis dan bibirnya pecah menetaskan darah segar, sementara Zela kehilangan beberapa kancing seragamnya dengan lebam keunguan yang jelas di pipinya. Pukulan mereka bener-bener imbang, bertenaga, dan penuh presisi!
Seluruh murid kelas 2 yang menyaksikan duel dua monster itu dari kejauhan dibuat bungkam total dan merinding ketakutan. Tidak ada yang pernah menyangka seorang siswa pindahan baru bisa mengimbangi kekuatan legenda hidup seperti Zela dalam duel adu fisik murni tanpa pertahanan.
Hah... hah... hah...
Napas keduanya mulai tersengal-sengal parah, memburu berebut oksigen di tengah udara panas lorong sekolah. Keduanya secara bersamaan melangkah mundur dua langkah, berdiri terhuyung-huyung dengan tubuh yang penuh peluh dan cucuran darah tipis dari luka pertarungan.
Tenaga fisik mereka berdua benar-benar sudah berada di batas puncak kelelahan.
Ryuka menyapu darah segar di bibirnya dengan punggung tangan, lalu menatap tajam ke arah Zela yang berdiri beberapa meter di hadapannya. Zela memegangi perutnya yang lebam dan ngilu akibat pukulan Ryuka, lalu balik menatap tajam ke dalam mata Ryuka.
Satu detik... dua detik... Ketegangan mencekam sempat menyelimuti mereka berdua.
Perlahan, sudut bibir Ryuka tertarik ke atas membentuk senyuman lebar. Dan di saat yang bersamaan, Zela ikut menyunggingkan senyuman tulus dari wajahnya yang babak belur.
Di tengah hiruk-pikuk pertarungan Bayoer yang masih terus membara membakar seluruh lantai gedung, Ryuka dan Zela saling memandang lekat lalu tertawa kecil bersama—menikmati rasa sakit, kelelahan, dan gairah pertarungan murni yang sudah lama tidak pernah mereka rasakan sebelumnya.