mohon dikoreksi ya teman2 mungkin ada kata atau alur yang masih kurang bagus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jestimjaber, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyusul
Setelah kejadian kemarin Sena akhir nya jatuh sakit begitupun dengan Reza dan Vara namun kedua orang itu masih bisa dibilang sakit ringan yang tidak sampai harus dilarikan kerumah sakit.
namun berbeda dengan Sena ia sampai beberapa kali pingsan setelah mendengar cerita dari manager hotel nya kemarin, dan akhir nya Sena terpaksa harus dirawat.
"Jadi bagaimana pak?" tanya Vara.
"Saya sudah menghubungi orang kantor, dan mereka akan membantu kita untuk berbicara dengan klien" Vara mengangguk, ia merasa sedikit lega.
"Tadi dokter sudah cek kondisi pak Sena lagi belum?" tanya Reza, ia sembari melirik ke arah jendela yang menampilkan Sena tengah berbaring lemas disana.
"Sudah, kata dokter kondisi nya masih belum memungkinkan masih butuh penanganan khusus" Reza hanya bisa menarik nafas, ia juga heran kenapa Sena bisa sampai separah ini padahal yang kena gangguan selama ini dia dan Vara.
"Vara, Reza, Sena mana?" tanya seorang perempuan yang baru saja datang, bahkan nafas nya saja masih terdengar ngos-ngosan.
"Mba Jihan, pak Sena ada di dalam kata dokter lagi tidur" Jihan langsung duduk di kursi samping Vara berdiri.
"Terus dokter mengatakan apa tentang kondisi Sena?" Vara langsung ikut duduk disamping Jihan.
"dokter bilang kondisi nya masih belum stabil, tapi sudah jauh lebih membaik dari sebelum nya" Jihan langsung menatap Reza dan juga Vara.
"Sebenarnya ini ada apa si, kenapa bisa sampe Sena masuk rumah sakit? Apa kalian dijahili oleh klien" Reza yang melihat tunangan bos nya itu meninggikan suara ia langsung saja menjelaskan kejadian kemarin yang membuat Sena seperti ini.
"Itu sama sekali tidak logis, hotel mana itu?" tanya Jihan tegas.
"Moonrise inn hotel, yang ada dijalan Starlight nomor 07" jawab Reza lengkap, Jihan hanya bisa menarik nafas panjang lalu menghembuskan nya.
"Tadi Kenzo dan Tommy bilang kesaya mereka mau menyusul kalian kesini, mereka akan membantu pekerjaan mereka disini selama Sena masih sakit" Reza dan Vara mengangguk mengerti.
"Saya masuk dulu" Jihan langsung berdiri dan segera berjalan masuk ke ruang rawat Sena.
"Mba, semalam pak Sena suruh saya untuk cari hotel untuk kita dan sekarang saya sudah mendapatkan hotel itu, kita ke hotel lama ya beres-beres barang" Vara hanya mengangguk dan mereka segera pergi menggunakan mobil yang disewa oleh Reza kemarin.
Karena memang selama di Jakarta mereka selalu menggunakan fasilitas kantor yang diberikan khusus untuk membantu pekerjaan mereka selama disini, namun karena mendapat musibah seperti ini jadi Reza pun terpaksa menyewa mobil untuk kepentingan diri nya dan tim ia tidak ingin menggunakan fasilitas dari kantor saat tidak ada kepentingan pekerjaan.
Setelah sampai dihotel Vara maupun Reza ditemani pegawai hotel untuk beberes barang-barang nya dan segera berpamitan pergi, dan mereka pun langsung menuju ke hotel baru yang sudah dipesan Reza semalam.
Saat Vara tengah sibuk menata barang-barangnya ke dalam lemari tak sengaja ia menyenggol sebuah vas yang terletak di meja rias membuat vas itu jatuh dan pecah yang menimbulkan bunyi keras.
prang!
saat Vara hendak memunguti pecahan kaca bekas vas tadi tiba-tiba tangan nya terkena pecahan tersebut.
"Aw aduh-aduh perih" namun tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar.
Tok tok tok
"Mba Vara, mba engak papa?" tanya seseorang dari luar pintu kamar nya.
Vara langsung berdiri dan segera membuka pintu nya, disana berdiri seorang pria dengan menggunakan celana cargo pendek berwarna hitam dan kaos putih berwarna putih, serta tak lupa potongan rambut khas nya.
"Pak Kenzo, aduh aduh" baru saja ia menyapa pria tersebut tiba-tiba tangan nya terasa perih lagi.
Kenzo yang melihat itu langsung memasukan jadi Vara yang berdarah itu ke dalam mulut nya.
"Eh pak, pak" ujar Vara kaget dengan kelakuan Kenzo yang tiba-tiba.
"Engak papa biar darah nya engak keluar terus, memang nya mba lagi ngapain kok sampai berdarah gitu tangan nya" tanya Kenzo ia sembari mengintip ke dalam kamar Vara.
"itu tadi saya lagi beres-beres engak sengaja nyenggol vas terus pecah pas saya mau beresin malah pecahan nya melukai tangan saya" Kenzo menarik nafas sembari geleng-geleng.
"Saya bantu beres-beres ya, kamu duduk saja" Kenzo langsung memaksa masuk ke dalam kamar Vara.
Ia pun membantu melipat pakaian dan menggantung nya di lemari, Vara sesekali hendak membantu namun selalu dicegah oleh kenzo.
"Bapak kok bisa ada disini, dikabarin pak Reza ya" ujar Vara, Kenzo menoleh ke arah Vara sembari mengangguk.
"Iya, mumpung saya lagi cuti juga" Vara mengangguk paham.
"Ini sudah semua?" Vara menatap semua barang yang sudah tersusun rapi.
"Sudah semua pak, terimakasih banyak ya maaf jadi ngerepotin pak" Kenzo kembali menggeleng.
tok tok tok
Vara dan Kenzo langsung menoleh ke arah pintu Vara hendak berdiri membuka nya namun sudah lebih dulu dibuka dari luar.
"Lu ngapain anjir berduaan di dalam" ujar Tommy, ternyata yang mengetuk pintu itu Tommy.
"Aku bantuin dia beberes, tadi tangan nya sempat luka kasihan" Tommy berdecak ia tau se playboy apa sahabat nya itu.
"Halah modus aja, jangan mau mba berduaan sama dia bahaya dia wkwk" Kenzo langsung menendang pelan kaki Tommy.
"Gimana Sena udah ada perubahan?" tanya Kenzo kepada Tommy.
"Udah, besok juga kayak nya udah boleh pulang" Tommy duduk di sofa rias yang ia hadapkan ke Kenzo dan Vara.
"Sena minta kita bantuin Reza besok, kata nya klien nya minta lanjut jadi terpaksa Reza yang akan datang sidang, mba besok ikut kan?" ujar Tommy, Vara mengangguk.
Setelah percakapan mereka berdua dikamar Vara Kenzo mengajak Vara untuk makan malam terlebih dahulu, setelah selesai makan malam Vara pun berpamitan untuk istirahat.
"Kalo ada apa-apa bisa telfon saya mba" ujar Kenzo, Vara mengangguk dan segera pergi.
...****************...