*THE HEIR'S MISTAKE*
*Kesalahan Sang Pewaris*
Mereka tidak pernah ditakdirkan untuk saling mencintai.
Dia adalah pewaris keluarga terpandang. Dingin, arogan, dan punya reputasi buruk.
Pertunangan yang diatur kedua orang tuanya adalah mimpi buruknya.
Dia adalah gadis baik-baik, putri dari sahabat orang tuanya.
Sama-sama benci perjodohan ini. Sama-sama ingin bebas.
Sampai satu malam menghancurkan segalanya.
Alkohol. Amarah. Dan satu kesalahan besar.
Dia hamil. Tanpa pernikahan. Tanpa cinta.
Penuh benci dan malu, dia memilih pergi.
Menghilang selama 5 tahun. Membesarkan anak itu sendirian.
Bersumpah tidak akan pernah kembali.
Kini dia kembali. Lebih kuat. Lebih dingin.
Menggandeng tangan putra yang wajahnya mirip sekali dengan sang pewaris.
Dia tidak butuh istri.
Tapi dia akan melakukan apa saja demi anaknya...
Bahkan jika itu berarti berlutut di hadapan wanita yang bersumpah akan membencinya selamanya.
_Beberapa kesalahan tidak bisa dihapus.
Kau harus menikahinya._
---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lima
# Lima
Jantungnya seolah berhenti berdetak, tak kala melihat seorang wanita ada di dalam bathtub kamar mandinya.
Leon tidak pernah mengira, bahwa hal gila seperti semalam terjadi pada dirinya dan Hanum. Karena kini kesadarannya telah pulih sepenuhnya, Leon lantas membopong tubuh Hanum ke atas ranjangnya.
Di bungkusnya tubuh gadis itu agar kembali hangat, Leon dapat merasakan suhu rendah Hanum hanya dengan menyentuh kulitnya.
Tubuhnya sangat dingin, seperti mayat hidup. Leon pun hendak melakukan CPR.
Ia memindah tubuh Hanum ke atas lantai, diperiksanya. Nadi Hanum masih berdenyut meski lemah. Sedetik kemudian ia menekan dada Hanum. Setelan beberapa kali penekanan. Sejumlah air keluar dari mulutnya.
Yakin pertolongan pertamanya berhasil, ganti Leon melanjutkan langkah lainnya. Kali ini ia akan memberikan napas buatan. Ia menempelkan bibirnya, pure tanpa ada perasaan aneh-aneh seperti semalam.
Leon hanya tak ingin Hanum mati saat ini, dilakukan lah napas buatan berkali-kali. Setelah ke sekian kalinya, barulah Hanum terbatuk-batuk.
Bukannya senang karena selamat, begitu membuka mata Hanum histeris.
"Jangan sentuh aku!" dengan suara yang tercekat di kerongkongan. Mata merah penuh amarah. Hanum melihat Leon seperti melihat musuh.
Ia menatap penuh rasa marah pada pria yang merengut kesucian dirinya semalam.
"Jangan sentuh!" Meskipun tubuhnya lemah, ia masih punya seribu kekuatan untuk marah pada pria tak bermoral itu.
Hanum menepis tangan Leon yang semula membantunya.
Leon sendiri tak bisa berkata-kata, ia benar-benar terjebak pada perilaku bejadnya.
Menyesal dan kata maaf tak mampu ia ucapkan, karena rasanya ia tak pantas dengan kata itu. Tak ada maaf untuk pria macam dia.
Tok tok tok
"Leon! Leon!" Mama berteriak memanggil putranya.
"Leon, buka pintunya. Apa Hanum di sana? Mengapa di kamarnya tidak ada?" Mama berteriak karena tak ada sahutan dari dalam.
Lidah Leon keluh, tak mampu berucap. Matanya nanar menatap wanita yang ada di depannya.
Mungkin sebentar lagi, sang Mama akan memberikan hukuman gantung. Hitungan menit sang Mama pasti akan mengadili dirinya seperti penjahat yang tak patut mendapat pengampunan.
"Leon buka pintunya!" Mama terus berteriak. Kesal Leon tak kunjung membuka pintu kamarnya. Mama pun masuk kamarnya sendiri. Mengambil kunci cadangan. Ia cemas karena Hanum juga tak ada di dalam kamarnya.
Firasatnya mengatakan hal buruk telah terjadi, sebagai ibu ia sedikit merasakan sesuatu yang tak enak. Apalagi Mama tahu, semalam Leon pulang dari minum-minun.
Cekrek
Saat masuk ke dalam kamar putranya, Mama yang memang memiliki penyakit jantung. Langsung merasa sesak dan sakit tiba-tiba. Jantungnya terasa penuh, dan nyaris seperti ditusuk.
"Ma!"
Leon panik, ia menghampiri sang Mama.
PLAKKKKK
Sebuah tamparan mendarat di pipi Leon. Mamanya sangat marah atas apa yang dilakukan putranya.
Sambil menahan sakit, dengan langkah berat ia menghampiri Hanum. Gadis malang korban anaknya itu, hanya memakai selimut untuk menutupi tubuhnya.
Karena merasa menjadi Ibu paling buruk, Mama berlutut. Memegangi tangan Hanum.
"Maafkan wanita tua ini, Hanum... ya Tuhan apa yang terjadi," tangis Mama pecah. Ia tak menyangka putranya tega berbuat keji pada anak kawannya sendiri. Lantas apa yang akan ia katakan pada Ratih nanti? Mama Yesy merasa sudah gagal menjadi seorang ibu.
Hanum sendiri sudah kehabisan energi untuk marah, tubuhnya terasa lemas. Mendengar tangis Tante Yesy malah membuat dirinya pusing, detik berikutnya Hanum sudah pingsan tak sadarkan diri.
"Hanum!"
Mama berteriak memanggil dan menggoyang-goyangkan tubuh Hanum yang kini tengah pingsan.
Leon pun langsung membopong Hanum ke atas ranjang, di sana ia sempat melihat bercak darah di atas seprai yang berantakan tersebut.
Nyalinya makin ciut, mungkin sebentar lagi ia akan dikirim ke penjara. Batin Leon bergejolak, memikirkan hukuman apa yang pantas untuk pria seburuk dirinya.
Beberapa saat kemudian seorang dokter datang, raut muka dokter wanita tersebut penuh curiga.
Ia merasa sesuatu yang buruk terjadi pada si pasien. Mungkin pernah menangani kasus serupa, dokter mengira Hanum mengalami pelecehan. Tapi itu hanya dugaannya. Sebab tidak ia utarakan, wanita dengan jas putih tersebut hanya memberikan resep dan undur diri.
Sepertinya dokter, Mama langsung menyeret putranya. Menjauh dari ranjang, agar Hanum tak mendengar.
"Apa yang kamu lakukan pada Hanum!" Mama melotot, pupil matanya menajam. Bola matanya sampai mau keluar.
"Aku khilaf, Ma!"
Mama yang emosional, memukul tubuh Leon dengan bertubi-tubi. Ia kecewa betul pada anak laki-laki satu-satunya itu. Ingin rasanya mengubur Leon hidup-hidup.
Tak habis pikir, bagaimana bisa ia melakukan hal sekeji itu pada anak kawannya.
"Lalu Mama harus bilang apa sama Tante Ratih? Gusti... tega banget kamu sama Mama, sama Hanum sama Tante Ratih?" Mama yang semula emosi, kini merintih. Ia menangis sambil terus memukul Leon.
Leon yang memang kali ini merasa sangat bersalah, tak mampu menatap sang Mama. Ia tertunduk malu karena ulahnya.
Ketika Mama masih diliputi rasa bersalah, datang lagi kabar yang seperti petir menyambar hati Mama.
Telpon Mama berdering, ada panggilan dari rumah sakit.
Sebuah kabar duka datang dari ibunda Hanum, kawan lamanya.
Kabar yang mungkin menambah deretan nestapa bagi Hanum dan Mama Yesy. Beberapa menit yang lalu, Tante Ratih dinyatakan menghembuskan napas terakhir. Ibu dari Hanum tersebut dinyatakan meninggal dunia.
"Ya Tuhan, mengapa jadi seperti ini?" Mama semakin meraung, tangisnya semakin menjadi.
"Ma, ada apa Ma?" Leon terus menatap Mamanya yang masih bicara di telpon.
"Hanum... Hanum!" kalimat Mama terbata, bibirnya terasa terkunci. Sulit rasanya untuk bicara.
"Ada apa, Ma?"
Leon mencoba menyandarkan sang Mama yang terlihat kacau.
"Tante Ratih meninggal!" Selesai mengucapkan kata itu, Mama mendekati ranjang. Menyentuh tangan Hanum. Bagaimana ini, apa yang akan ia katakan pada Hanum gadis yang malang itu.
Hati Leon makin tak menentu, ia merasa menjadi manusia lebih buruk lagi.
Mama mengumpulkan kekuatan, ia harus ke rumah sakit. Sebab sudah tidak ada kerabat hanum di kota itu. Mama lah yang akan mengurusi semua pemakaman.
Siang hari, Hanum sudah sadarkan diri. Di sampingnya ada Leon yang sejak tadi menunggu. Sedangkan Mama masih di rumah sakit.
"Pergi!"
Hanum yang baru membuka mata langsung mengusir Leon, ia tak suka pria tersebut.
Leon yang menyadari kalau ia memang bersalah, tak berkutik. Ia pun meninggalkan Hanum sendiri.
Sesaat kemudian Mama sudah datang, dengan pakaian serba hitam. Tega atau tidak Mama harus memberi tahu Hanum. Mungkin ini akan lebih mengguncang dari pada peristiwa sebelumnya.
Hanum menatap aneh pada Tante Yesy yang mengenakan pakaian serba hitam. Gadis itu sudah merasa tak enak, sepertinya ada hal yang lebih buruk bakal terjadi.
"Bagaimana kondisi ibu, Tante?"
Belum bicara, Hanum sudah menodong pertanyaan pada Mama Leon tersebut.
"Kamu yang sabar ya, Hanum." Mama memeluk tubuh gadis tersebut dengan mata yang sudah basah.
"Ada apa dengan Ibu Hanum, Tante?" meskipun belum mendengar langsung, hanya saja Hanum merasa hal yang tak diinginkan telah terjadi.
"Ratih..." Mama sudah tak bisa berkata-kata.
Ketika Mama sudah tak bisa bicara lagi, hanya tangisnya yang bercerita.
Hanum tahu, pasti Ibunya sudah tiada. Lihat baju serba hitam yang dipakai oleh Tante Yesy.
"Hanum mau ketemu ibu," Hanum berusaha tegar, meski pipinya sudah basah.
Sesaat kemudian, semua orang dengan pakaian serba hitam masuk dalam mobil Leon.
Hanum, Mama Yesy dan Leon menuju pemakaman. Tempat peristirahatan terakhir Tante Ratih.
Begitu menyaksikan Ibunya di masukkan ke liang lahat, tangis Hanum pecah.
Langitnya runtuh seketika.
dan Leon sudah tidak di marahin lagidi usir di dorong dan tidak pakai baju ya hanya koloran saja wong kadung nesu ga ngertio ulah calon Leon Junior 👍👍🌹🌹😂😂
Su TREMOSI. hampir meledak kaya gunung Krakatau ,,, memuntahkan lahar koyo wedus gembel 😆 gregeten sama dua orang itu,,,,sudah di panghil sayang ga terima,,,di galak i mewek,,,di belani hanya pakai kolor ijo. ngopo ga pakai kaca mata riben nya Hanum Leon,,,,,biar kocak. ,
coba acak cerita bagaimana awal ketemu nya ,,,tapi lagi senang ketemu pak Su nya beruntung Lo ga di bikin amnesia. sapa sang jawara penulis 😂 baik Lo Jeng Sept
wong di buat jebur berenang lama,,
mempermain kan wanita Ahir sekarang
sedang di uji,, kasian Hanum dan Shian
sabar ya shean ,,,jadi kantor nya siapa yang pegang,,,apa di jarah
anak dan istrinya berpisah dalam keadaan tidak tau mati opa urip,,,😭😭 penuh air mata
namanya juga pELaKoR dan dia juga mau balas dendam menggunakan anak pria lain dodol kuprettt Leon,,,
Leonardo ko ga cerds si sewa dong mata mata,,,masa percaya begitu saja. dan jujur pah agar ada tempat untuk curhat jangan
malah jadi takut,,, justru malah ketauan
bobrok nya cerdas dong Leon. jangan terlbat,,,,ehhh protes sama penulis nya keles 😄😄 ngapa sama Leonardo di ke
pruk i,,😈😈
berat Leon. menjaga hati sang istri dan buah hati,,,
dengan sendirinya lebih baik jujur dan seperti tadi bilang seandainya terjadi sesuatu di masa lalu jangan tinggalkan Ak ya Hanum gitu dan jangan bawa Sean,,,
ya katakan juga mengapa baru bilang ya
karena baru tau dan yang tau justru mama Yesi ,,,
seandainya tau ternyata kebaikan Leon
saat ini ada Nido besar di masa lalu kini,,
tinggal menunggu Bom nya meledak ,,,,
beruntung Hanum tidak keluar dari kerjanya. jadi apabila kelak terjadi percekcokan karena masa lalu sang Suami sebagai pemain wanita ternyata membuahkan anak laki-laki tak berdosa,,,
berarti lebih cerdas Hanum. memang si di tolong Hendra. tetapi tidak pacaran apa
lagi menikah,,,lebih baik hanya hidup berduaan dengan putrinya,,
yang sudah sudah kalau abis bahagia biasanya di bikin sedih sengsara. mudah mudahan kali ini ga ya kasian sudah sama sama menderita 4 th dah cukuplah tinggal meraih kebahagiaan saja,,,,tapi masih ada Anak nya Zura bikin dah dig dug derrrr,,,,
menyesal karena merusak Anak gadis
wanita yang sangat di kenal,,,duh kayanya akan ada perang dunia ke empat 😂👍
semoga Leon benar' benar insyaf ,,,menjadi suami dan Ayah terbaik dan Mama Yesy. menjadi orang tua yang sangat bangga 👍🤲🤲♥️♥️