Tit... Tit... Tit...
"Nih uang buat beli listrik. Dasar wanita benalu, bisanya cuma minta uang aja tapi dandan tidak bisa." teriak seorang laki-laki sambil melempar beberapa lembar uang ke arah wajah istrinya.
Mempunyai mertua yang baik, tapi anaknya selalu menguji kesabarannya. Pelit, suka membandingkan dengan perempuan lain, dan selingkuh. Namun selalu menyalahkan istrinya yang selama ini sabar mendampinginya. Dia adalah Aruna Fatihah yang harus diuji kesabarannya selama 3 tahun belakang dengan perubahan suaminya.
Akankah Aruna masih akan bersabar jika suaminya menjalin kasih dengan perempuan lain? Apakah Aruna akan memilih diam atau membalas perlakuan dari suaminya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Copet
"Nasya di rumah Nenek saja ya. Ibu mau jual sayuran ini ke pasar. Biar nanti bisa beli listrik dan makan siang Aruna," ucap Aruna setelah memastikan bahwa anaknya sudah tenang.
"Ikut Ibu saja. Nasya ta..."
"Jangan takut, ada Nenek yang akan membelamu jika Ayahmu itu marah atau main tangan. Biar Ibu bekerja agar tak diremehkan orang," sela Ibu Salma mencoba memberi pengertian pada cucunya.
Nasya akhirnya menganggukkan kepalanya, menuruti perintah dari Aruna dan Ibu Salma. Nasya tidak jadi berangkat sekolah karena sudah terlambat. Aruna mengambilkan pakaian ganti untuk Nasya agar anaknya bisa berganti di rumah Ibu Salma. Bahkan Aruna sama sekali tidak melirik ke arah suaminya yang melihat gerak-geriknya di kamar. Baginya, Kafka adalah orang yang harus dimusnahkan.
Mengenai ponsel, Aruna memilih diam saat Ibu Salma membahasnya. Walaupun dia sendiri sudah tahu bahwa suaminya bermain belakang dan membiayai perempuan itu. Namun dia harus mencari bukti tambahan agar Kafka tak lagi bisa mengelak semua ucapannya. Aruna pun pergi ke pasar sambil membawa keranjang berisi sayuran. Dia tak malu melakukan pekerjaan seperti itu, walaupun beberapa kali mendapatkan ejekan. Apalagi saat beberapa orang menyindirnya "lulusan sarjana tapi cuma jualan sayuran". Untuk sementara, pekerjaan ini sudah cukup baginya.
"Mbak Aruna baru datang? Tumben kok agak siangan," tanya Ibu Rahma, seorang pedagang yang kebetulan lapaknya ada di sebelahnya.
"Iya, Bu. Ada pekerjaan sedikit tadi di rumah," ucap Aruna sambil tersenyum tipis.
"Oh... Suaminya baru pulang jadi agak sibuk ya, Mbak Aruna." ucap Ibu Rahma sambil terkekeh pelan.
"Mari, Bu. Silahkan dipilih sayurnya," Aruna tak menanggapi ucapan Ibu Rahma mengenai kepulangan suaminya. Ternyata kepulangan Kafka di rumah itu sudah menyebar dari tetangga hingga ke pasar. Beruntung juga ada pembeli yang datang membeli sayurannya sehingga dia tak perlu menanggapi ucapan Ibu Rahma.
"Lima ribu saja, Bu." ucap Aruna sambil tersenyum ramah.
Hanya butuh waktu satu jam saja, sayuran yang dijajakan oleh Aruna habis terjual. Aruna tersenyum melihat hasilnya. Walaupun sedikit, ini adalah hasil kerja kerasnya sendiri. Nanti dia akan mencari kerja sampingan agar bisa memenuhi kebutuhannya dan sang anak, tanpa mengemis pada Kafka. Aruna segera berpamitan pada Ibu Rahma yang ada di sampingnya.
"Mbak, beli token listrik 20 ribu ya. Sama kuota," Sebelum pulang, Aruna membeli token listrik, kuota internet, dan makanan untuk Nasya.
"Baik, Mbak."
Copet... Copet...
Hiyaatttt...
Bugh...
Brugh...
Bugh...
"Bawa itu pencopetnya ke satpam pasar," seru seorang wanita paruh baya saat melihat Aruna tengah menghajar pencopet hingga terjatuh. Apalagi pengunjung pasar tampaknya juga malah hanya jadi penonton saja.
"Baik, Bu. Tapi kami minta bayaran ya," ucap seorang Bapak-Bapak membuat wanita paruh baya itu menggelengkan kepalanya.
Astaga...
"Kerja saja belum, udah minta duit." seru Aruna menatap tak percaya pada orang itu. Padahal wanita itu sedang terkena musibah, malah dimintai bayaran. Sungguh tidak punya hati.
"Biar saya saja yang bawa pencopetnya, Bu."
Aruna yang tengah menginjak punggung pencopet itu memilih membawanya sendiri ke satpam pasar. Baru kali ini dia menemukan seseorang yang tengah kesusahan malah diminta bayaran. Padahal tas wanita paruh baya yang bernama Ibu Lala itu saja tadi habis kecopetan. Penjaga counter segera menyerahkan nomor token listrik yang tadi dibeli oleh Aruna.
Penjaga counter tersebut salut pada Aruna yang berani membantu seseorang untuk menjegal pencopet. Padahal orang-orang di pasar itu hanya diam saja. Seakan pemandangan itu adalah hal yang biasa. Ibu Lala segera mengambil tasnya kemudian mengikuti Aruna yang membawa pencopet itu.
"Terimakasih sudah membantu saya, Nak." ucap Ibu Lala setelah pencopet itu diserahkan pada satpam dan polisi.
"Sama-sama, Bu. Lain kali, hati-hati kalau sedang di pasar. Rawan," ucap Aruna sambil tersenyum.
"Kalau begitu, saya pamit pulang. Permisi," lanjutnya segera berpamitan.
"Sebentar..." Ibu Lala langsung menarik lengan Aruna agar tidak pergi terlebih dahulu.
"Buat beli betadine," Ibu Lala menyelipkan beberapa lembar uang pada telapak tangan Aruna.
"Jangan, Bu. Saya i..."
"Tidak ada tapi-tapian. Orang ini buat beli betadine kok," sela Ibu Lala kemudian pergi dari hadapan Aruna.
"Cuma luka kecil begini, Bu. Terimakasih banyak," seru Aruna sambil melambaikan tangannya. Bahkan Aruna tidak sadar bahwa kakinya ada yang luka.
Astaga... Dua juta? Terimakasih atas rejeki hari ini, Tuhan.
***
Saat Aruna sampai di rumah, Kafka sedang mengelap mobilnya dengan kain. Aruna melewati Kafka begitu saja tanpa menyapanya. Aruna sudah terlanjur kecewa dan takkan peduli lagi dengan suaminya. Dirinya bertahan di sini hanya untuk mencari bukti kemudian membalas perlakuan Kafka dengan kesuksesannya. Setelah itu, dia akan tendang Kafka dari hidupnya.
Aruna memasukkan nomor token listrik yang tadi dibelinya. Tak butuh waktu lama, listrik rumah sederhana itu langsung menyala tepat di depan Kafka. Seharusnya harga diri laki-laki itu jatuh karena istrinya bisa membeli token listrik tanpa bantuannya. Namun tampaknya Kafka memang tidak tahu diri sehingga masih bersikap santai.
"Syukur lah kalau ada duit. Seenggaknya tidak menyusahkan suaminya," ucap Kafka dengan nada sindirannya.
"Iya lah. Perempuan pekerja keras begini, tahan banting tanpa bantuan dari seorang suami. Jadi buat apa kan punya suami? Oh lupa... Buat jadi patung selamat datang kalau ada tamu," ceplos Aruna membuat Kafka langsung menatap istrinya.
"Kamu mau cerai dariku? Nggak butuh suami manager dan tampan sepertiku?" seru Kafka dengan mata memelotot tajam.
"Nggak lah. Buat apa punya suami manager tapi kasih duit cuma 20 ribu. Mana hampir setiap minggu disuruh gelap-gelapan lagi? Untung bukan punya kekasih gelap. Bahaya,"
Deg...
Jantung Kafka berdetak sangat kencang saat mendengar ucapan dari Aruna. Entah itu ucapan asal atau memang Aruna sudah mengetahui rahasianya? Kafka merasa tersindir. Namun Aruna segera masuk ke dalam rumah Ibu Salma sambil membawakan makanan. Dia tidak peduli Kafka sudah makan siang atau belum. Sedangkan Kafka, masih terpaku di tempatnya.
"Apa tadi pagi Aruna lihat ponselku ya? Tadi ada panggilan masuk yang terangkat kata Sania. Namun aku tak merasa mengangkatnya. Apa jangan-jangan..."
"Gawat kalau sampai Aruna tahu."
"Eh... Tapi buat apa juga? Biar Aruna harusnya sadar diri kalau dia itu sudah tidak menarik lagi. Jadi wajar kalau aku berpaling sama mantanku yang lebih cantik," gumam Kafka mencoba meyakinkan diri bahwa yang dilakukannya itu sudah tepat.
Hahaha...
"Norak. Ketawanya keras banget kaya nggak pernah tertawa," sindirnya pada Aruna dan Ibu Salma setelah mendengar tawa dari keduanya.
"Iri? Bilang, Bos." seru Aruna tak mau kalah.
😁😁😁😁
Kafka mungkin ank kandung mu,,
tp jiwa ny bukan ,, dy cuma laki2 pengecut jelmaan Dari kodok sawah ,, 😒😒😒😒
smangat sehat sll up byk2🤭😄💪
makin seruu cerita ny
tq thor🙏😍
smangatttt up byk2🤭💪
smangattt hempasssss cpttttt😄💪