Arumi cuma wanita biasa yang hidupnya sangat sederhana. Sampai akhirnya, sebuah kecelakaan membuat hidupnya berakhir. Bukannya tenang, Arumi malah bangun dengan kondisi yang bikin pusing. Jiwanya terjebak di dalam tubuh pria bernama Bagas.
Belum selesai kagetnya, di kepalanya muncul suara sistem yang menyebalkan dan hobi banget mengejeknya. Sistem itu menuntut Arumi harus jadi koki hebat, padahal Arumi sendiri nggak bisa masak apa-apa.
Lebih parah lagi, Bagas ternyata adalah siswa di sekolah tentara dengan jadwal latihan yang super padat. Arumi harus berusaha keras biar nggak ketahuan sifat aslinya, sambil diam-diam menjalankan misi memasak dari si sistem yang sangat menyebalkan.
Dapatkah Arumi melewati hari-harinya di sekolah tentara tanpa ketahuan, dan bertahan dari ocehan sistem yang bikin emosi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sebelas ~
Lampu-lampu minyak di barak sudah padam sejak satu jam yang lalu. Hanya tersisa cahaya bulan pucat yang menyusup melalui celah-celah jendela kayu yang reot, menyinari partikel debu yang menari-nari di udara malam. Bagas duduk di tepi ranjangnya yang beralaskan kasur keras, menatap layar transparan yang melayang di depan matanya dengan napas yang masih tersengal-sengal. Meski lelah, pikirannya justru sedang berpacu lebih kencang dari biasanya.
Ting!
Sebuah panel data yang elegan, terstruktur, dan dingin muncul di udara, memberikan laporan komprehensif tentang perkembangan Bagas sejauh ini.
[LAPORAN PERKEMBANGAN TUAN RUMAH - HARI KE-2]
Total Poin Terkumpul: 1.010 Poin.
Level Keterampilan Memasak: 5% (Mulai terasah, namun belum menyentuh standar legenda).
Tingkat Akumulasi Kekayaan: 5% (Awal yang baik untuk masa depan yang sejahtera).
Level Kekuatan Fisik: 0% (Sangat memprihatinkan, Tuan Rumah berada dalam kondisi fisik yang rapuh).
Akurasi Presisi Resep: 10% (Perlu ditingkatkan untuk menghindari hukuman di masa depan).
Bagas membaca deretan statistik itu dengan perasaan campur aduk. Ia menghela napas panjang hingga dadanya terasa sesak. "Kekuatan fisik nol persen?" desisnya pelan, memastikan suaranya tidak membangunkan rekan prajurit lain yang sedang mendengkur di sekelilingnya. "Sistem, kau benar-benar tidak kenal ampun. Apa gunanya aku menjadi koki hebat dengan masakan yang mampu menggoyahkan lidah dewa jika tubuhku sendiri masih terasa seperti tumpukan bulu rontok yang bisa tumbang ditiup angin?"
[Statistik tidak pernah berbohong Tuan Rumah. Tubuh ini adalah fondasi Anda. Jika pondasinya retak, sehebat apapun masakan yang Anda ciptakan, Anda tidak akan pernah bisa menikmati hasilnya dalam jangka panjang. Anda hanyalah koki yang akan mati kelelahan di medan perang jika tidak segera membenahi fisik ini.]
Bagas mengangguk setuju, meski hatinya terasa nyeri akan kebenaran yang pahit itu. Ia teringat akan dosis obat kuat yang sempat ia gunakan sebelumnya, sesuatu yang membuatnya merasa seperti terlahir kembali. Tanpa peringatan, notifikasi kesehatan muncul dengan warna biru yang menenangkan namun menekan.
[Perhatian: Efek obat kuat level 1 telah memudar sepenuhnya. Disarankan untuk segera melakukan pembelian Obat Kuat Level 2 guna mengoptimalkan pemulihan jaringan otot dan stamina untuk sesi latihan fisik yang lebih brutal besok pagi.]
Bagas tidak membuang waktu. Ia sudah merasakan tanda-tanda kelelahan ekstrem yang mulai menjalar ke ujung jari-jarinya. "Baiklah Sistem. Beli obat kuat level dua sekarang. Aku tidak ingin besok pagi aku pingsan di tengah lapangan saat sedang lari pagi."
Namun, alih-alih konfirmasi transaksi yang cepat, sebuah notifikasi baru muncul dengan angka yang membuat jantung Bagas seolah berhenti berdetak sesaat.
[Transaksi Obat Kuat Level 2: 200 Poin.]
"DUA RATUS POIN?!" Bagas nyaris berteriak, menahan amarahnya agar tidak meledak. "Kemarin hanya 100 poin! Kenapa kenaikannya seratus persen? Apa kau menerapkan sistem inflasi yang sangat kejam di dunia ini? Ini benar-benar perampokan di siang bolong... tidak, ini perampokan di malam buta! Kau ini sistem atau rentenir yang memakai topeng teknologi?"
[Tuan Rumah, harap dipahami bahwa kualitas memiliki harga. Level 2 memberikan pemulihan dua kali lebih cepat dan penguatan jaringan otot yang jauh lebih permanen daripada level 1. Lagipula, bukankah Anda baru saja menerima bonus 905 poin? Jangan menjadi kikir demi masa depan fisik Anda sendiri. Apakah 200 poin sebanding dengan nyawa Anda?]
Bagas terdiam. Ia memejamkan mata, memikirkan saldo 1.010 poinnya yang baru saja ia perjuangkan dengan penuh keringat dan air mata. Memang benar, meski harganya melonjak, ia merasa tidak ingin berdebat lagi. Malam ini, Sistem telah membuktikan bahwa resep-resepnya memang luar biasa. Bagas memilih untuk mengalah.
"Baiklah." gumam Bagas pasrah. "Ambil 200 poin itu. Lakukan transaksinya sekarang."
[Transaksi berhasil. Obat Kuat Level 2 telah diserap langsung ke dalam aliran darah Anda. Harap segera tidur untuk mempercepat proses asimilasi.]
Setelah rasa hangat menyebar ke sekujur tubuhnya akibat obat tersebut, Bagas tiba-tiba teringat satu hal yang mengusik pikirannya. Selama ini, ia hanya memanggil entitas ini dengan sebutan Sistem. Padahal, entitas ini memiliki kepribadian, narsis, sombong, namun juga sangat efisien.
"Sistem." panggil Bagas lirih.
[Ya Tuan Rumah?]
"Apakah kau punya nama? Maksudku, kau diciptakan tanpa identitas, dan itu terasa sangat aneh bagiku. Kau adalah partnerku, penasihatku, bahkan musuhku di saat-saat tertentu. Aku ingin memberimu nama agar percakapan kita tidak terasa seperti aku sedang berbicara dengan mesin pengukur yang kaku."
Keheningan melanda sejenak. Sesuatu yang sangat jarang terjadi pada entitas yang selalu aktif memberikan notifikasi setiap detiknya.
[Sistem tidak memiliki nama bawaan karena tidak diprogram untuk itu. Identitas saya hanyalah fungsi dan statistik. Namun, jika Tuan Rumah berkeinginan untuk memberikan identitas, Sistem tidak keberatan. Apapun nama yang Anda berikan akan diterima sebagai bentuk pengakuan atas hubungan kerja sama kita yang semakin kompleks.]
Bagas tersenyum tipis di balik kegelapan. "Sebuah nama, ya... Aku terlalu lelah untuk memikirkannya sekarang. Otakku sudah kosong setelah membuat sourdough itu. Biarkan aku tidur, dan besok, saat aku bangun, aku akan memberimu nama yang pantas untuk sistem yang narsis ini."
[Sangat bijak Tuan Rumah. Sekarang, tidurlah. Tidur adalah bagian dari strategi untuk memenangkan latihan militer besok.]
Bagas merebahkan tubuhnya ke ranjang yang keras itu. Tubuhnya perlahan terasa lebih ringan. Efek obat itu bekerja secara ajaib, memulihkan otot-ototnya yang tadi terasa seperti akan lepas dari tulang. Ia menatap langit-langit barak yang gelap. Besok pagi, teriakan komandan, debu lapangan, dan jeritan fisiknya akan kembali datang. Tapi kali ini, ia tidak lagi merasa ketakutan.
Ia memejamkan mata, membiarkan kegelapan membawanya ke dalam mimpi. Di dalam pikirannya, ia sudah mulai membayangkan berbagai jenis nama Aurora, Max, ChefMaster, atau mungkin sesuatu yang lebih sarkastik dan menggambarkan betapa menjengkelkannya entitas ini. Ia akan memutuskannya besok, saat ia bangun dengan stamina baru, siap untuk menghadapi dunia yang tidak masuk akal ini dengan poin-poin yang terus bertambah di saldonya.
kebalikan kita Thor,, aku cow yg masuk tubuh cew🤣
Ditunggu up berikutnya othor seksoy 😘