Dibuang ibu kandungku, disiksa keluarga tiriku. Tapi itu belum cukup...
Saat Lania beranjak dewasa, ia justru harus menggantikan kakak tirinya untuk menjadi tunangan pria yang tidak dikenalnya.
Penyiksaan itu terus berlanjut sampai Lania benar-benar menikahi pria itu. Karena sebuah kesalahpahaman, suaminya terus menyiksanya karena kebencian yang tidak seharusnya ia terima.
Sabar... sabar... sabar... hanya satu kata itu yang bisa menguatkan Lania dalam menjalani kehidupannya yang sangat keras.
Akankah kehidupan Lania menjadi lebih baik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 💞💋😘M!$$ Y0U😘💋💞, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Air Mata Juanda
Lisa terus berteriak kesakitan, kakinya membengkak dan terpaksa harus dirawat di rumah sakit. Namun wanita itu justru terus menerus menyalahkan Lania.
"Berhentilah bicara soal Lania, jika orang lain mendengarnya, itu akan bahaya Lisa. Anne bahkan masih di luar," kata Amel.
"Anak haram itu benar-benar pembawa sial mah. Lihatlah akibat dari perbuatannya, aku bahkan tidak bisa syuting lagi. Jika syuting malam ini gagal, aku bukan hanya kehilangan iklannya, aku pasti harus bayar kompensasi," kata Lisa.
"Berhentilah menyalahkan Lania, kau sendiri yang kurang hati-hati saat menuruni tangga."
"Mama... kenapa kau justru membela anak sialan itu?"
"Bukan begitu sayang, kenyataannya kali ini Lania hanya diam saja, ia tidak melakukan apapun padamu."
"Tapi wanita brengsek itu yang membuatku kesal, jadi aku seperti ini mah. Aduh... sakit sekali..."
"Berhentilah marah-marah, tenangkan dirimu agar otot-otot kakinya tidak menegang. Sekarang diamlah nak, jangan membahas Lania lagi. Anne akan segera masuk," pinta Amel.
Lisa mengerucutkan bibirnya, ia pun akhirnya hanya terus merengek karena kakinya sakit. Dan benar saja, Anne masuk ke dalam ruangan.
"Bagaimana Anne?" tanya Amel.
"Sutradara tidak mempermasalahkannya karena Lisa memang terluka, tapi pihak perusahaan iklan sangat marah besar sekarang. Mereka..."
"Mengapa kau tidak bekerja dengan baik Anne? kenapa begini saja kau tidak bisa mengatasinya," bentak Lisa.
Anne menghela nafas panjang, "nona Lisa, kau yang terluka karena kurang hati-hati, ini tidak ada hubungannya dengan pekerjaanku."
"Kau sedang menyalahkan aku?"
"Lisa diamlah," pinta Amel, "maaf Anne, Lisa sangat kesakitan hingga tidak bisa berpikir dengan jernih saat ini. Ia memang ceroboh, tapi bisakah kau membantunya untuk mengatasi masalah ini?" imbuhnya.
Anne menatap Lisa yang terus menunjukkan wajah yang sombong dan angkuh saat ini.
"Ia benar-benar memiliki kepribadian ganda. Kadang aku menyukainya karena ia baik dan lembut, tapi kadang aku juga sangat membencinya saat bersikap arogan dan sombong seperti ini. Aku sudah lelah menghadapi Lisa yang sekarang. Seharusnya ia tetap bersikap baik dan lembut. Aku yakin ia memang memiliki dua kepribadian," pikir Anne.
"Anne... bisakah kau membantunya?" tanya Amel lagi.
"Maafkan aku tante, pihak perusahaan iklan akan membatalkan kontraknya dan nona Lisa harus membayar kompensasi sebesar 500 juta jika ia tidak syuting dua hari lagi."
"Ya Tuhan... bukankah kau juga mendengar apa kata dokter, ia harus beristirahat selama satu sampai dua minggu. Jika ia memaksa menggunakan kakinya, maka ia bisa..."
"Aku bisa," sergah Lisa, "katakan pada mereka dua hari lagi Lisa akan kembali," imbuhnya.
Amel membelalakkan matanya, "tidak bisa, kakimu..."
"Mama... aku bisa," sergah Lisa sambil mengedipkan sebelah matanya.
Anne menatap mereka secara bergantian, "nona Lisa, lebih baik..."
"Anne tidak apa-apa, Lisa bisa melakukannya lusa," sergah Amel, "tante lupa jika keluarga Furhet punya kenalan dokter ortopedi yang bagus," imbuhnya.
Anne menghela nafas lega, "baiklah kalau begitu, aku akan memberitahu mereka untuk melakukan syutingnya lusa. Nona Lisa, lebih baik kau istirahat lebih banyak. Aku sekarang harus kembali ke perusahaan."
Lisa menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun lagi pada managernya. Setelah Anne pergi meninggalkan mereka, Amel menatap Lisa.
"Lania," ucap Lisa pelan, "ia harus melakukannya lusa mah. Ancam anak haram itu agar mau melakukannya," imbuhnya.
"Tapi kakinya?"
"Mama kenapa mulai lembek sih? tentu saja kita harus memaksanya untuk berjalan normal walaupun ia kesakitan."
"Benar juga, kenapa aku semakin merasa iba pada Lania? harusnya aku tidak berhenti menyiksa anak itu. Tapi jika kakinya semakin parah, ia bisa batal menikah. Ini juga sangat membahayakan rencanaku," pikir Amel.
"Lisa... bukannya mama mulai lembek, tapi pernikahan Lania dengan Daley hanya tinggal 5 hari lagi. Jika lusa ia dipaksa syuting dalam keadaan kakinya yang masih sakit, mama takut saat ia menikah, kakinya semakin parah. Lalu ia batal menikah dengan Daley, bukankah itu juga akan membahayakan rencana kita?"
Lisa memutar bola matanya, "kenapa mama takut soal itu? tentu saja ia harus tetap menikah, dalam keadaan apapun."
"Kau cerdas... baiklah, kali ini mama ikuti idemu."
Keduanya pun tertawa bersama di dalam ruang perawatan tersebut.
...****************...
Lania menarik selimutnya, tiba-tiba saja tubuhnya menggigil kedinginan. Bukan karena udara, tapi ia demam karena kakinya yang terus berdenyut dan membengkak.
"Tuhan... apa aku akan meninggal malam ini? jika benar, maka aku sudah siap. Mungkin dengan kematianku, semua penderitaan ini akan berakhir. Rasa sakit di seluruh tubuhku akan usai. Penghinaan dan penyiksaan yang aku terima akan menghilang," gumam Lania.
"Tapi bolehkah aku bertemu dengan papa sekali saja, aku ingin berpamitan dengannya," ucap Lania sambil terisak sendirian.
Air mata itu terus mengalir deras hingga membasahi bantalnya.
"Sakit... sakit sekali..." rintih Lania.
Lania meremat seprainya menahan rasa sakit di kakinya yang terus berdenyut. Pecahan piring di rumah Daley memang menancap terlalu dalam pada telapak kakinya. Seharusnya ia dibawa ke rumah sakit dan menerima beberapa jahitan, tapi yang ia lakukan hanya bisa menahannya sendirian.
"Papa... Lania tidak kuat lagi. Papa... Lania tidak bisa menemani papa lagi. Sepertinya Tuhan ingin menjemput Lania sekarang. Papa, maafkan Lania," ucapnya sambil terus menangis.
Pintu kamarnya terbuka lebar, cahaya masuk ke dalam kamarnya begitu menyilaukan matanya.
"Malaikat sudah datang menjemputku, selamat tinggal pah," ucap Lania lalu ia pun tak sadarkan diri.
"Lania... kau tidak apa-apa nak? Lania, sayang... Ya Tuhan, kau demam nak," ucap Juanda.
Juanda segera menghubungi dokter karena ia tidak mungkin membawa Lania ke rumah sakit saat Lisa ada di sana. Juanda sudah dihubungi oleh istrinya jika Lisa masuk rumah sakit karena terkilir, namun saat Juanda ingin pergi kesana, ia justru melihat darah begitu banyak berceceran di dalam mobilnya.
Juanda mengurungkan niatnya ke rumah sakit, ia justru mengkhawatirkan Lania yang tidak pernah mengeluh sejak kecil. Pria itu langsung pulang ke rumahnya, dan benar saja Lania sedang kesakitan di kamarnya tanpa ada siapapun yang menjaganya.
Setelah berhasil menghubungi dokter, pria itu kembali mendekati putrinya. Ia membuka selimutnya dan melihat kaki Lania yang sudah terbalut perban namun terlihat sangat bengkak.
"Kau pasti sangat kesakitan. Maafkan papa... seharusnya papa tidak membawamu ke rumah ini nak. Tapi papa tidak tahu harus membawamu kemana lagi. Papa tahu kau sangat menderita selama ini, tidak seharusnya kau menerima semua ini karena dosa yang telah papa perbuat. Lania, bersabarlah nak. Papa sengaja menyetujui ide Amel demi kau juga, sebenarnya papa ingin membuatmu segera keluar dari rumah ini walaupun kau harus kehilangan identitasmu sendiri. Lania... papa bersalah..." ucap Juanda sambil menangis di samping Lania.
Juanda mengambil tisu dan mulai mengusap wajah Lania yang dipenuhi dengan keringat. Tubuh Lania sangat panas saat ini.
"Sayang, bertahanlah... dokter akan segera datang," ucap Juanda.
Ponsel Juanda berdering, pria itu segera menghapus air matanya dan melihat layar ponselnya. Amel menghubunginya, Juanda justru mematikan ponselnya. Ia harus merawat Lania dengan baik saat ini, ia sudah lelah menanggapi istrinya yang selalu saja mengancamnya akan melakukan bunvh diri.
Dengan lembut Juanda merawat putrinya sambil menunggu dokter datang. Pria itu mengompres kening Lania dengan handuk kecil lalu perlahan-lahan membuka perban di kaki Lania. Darah langsung keluar lagi dari telapak kakinya, lukanya menganga begitu besar. Sontak Juanda mencari kain perban untuk menahan darahnya keluar lagi.
"Bagaimana bisa kau bilang tidak apa-apa nak, ini... ya Tuhan..." ucap Juanda sambil kembali menangis, "sekali saja papa ingin mendengarmu mengeluh, kenapa kau seperti ini sayang. Kenapa... kenapa kau selalu bilang baik-baik saja? kenapa tidak aku saja yang dihukum oleh Tuhan, kenapa harus putriku?"
Juanda menangis cukup lama, pria itu menangis sambil terus mengusap-usap kaki putrinya.
"Apa yang harus aku lakukan agar kau bisa berhenti menderita Lania? jika aku mengungkapkan semuanya, bagaimana dengan nasib Lisa?"
Juanda terus kebingungan, pria itu tidak bisa berhenti menangis sambil memukul-mukul kepalanya sendiri. Ia berhenti melakukan itu saat mendengar suara bunyi bel pintu. Juanda segera menghapus air matanya, ia cepat-cepat keluar dari kamar Lania untuk membukakan pintu utama rumahnya.
Pria itu bahkan berlari saat menuruni anak tangga agar bisa cepat membuka pintunya karena ia yakin itu pasti dokter yang ia hubungi tadi. Dan benar saja, seorang dokter berdiri di depan pintu, Juanda segera membawa dokter tersebut menuju kamar Lania.
...****************...
Happy Reading All...
Halo para Reader/Pembaca Novelku... Salam kenal, semoga kalian selalu sehat dan dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa, aamiin🤲🏻
Buat pembaca baru, boleh mampir ke karyaku yang lain ya, caranya klik saja profilku dan lihat judul-judul novelku lainnya.
Rekomendasi buat kalian :
💞Aku Mencintai Supir Tampanku
💞Musuhku... Dia Pacarku
💞Aku Bukan Wanita Murahan
💞Presdir Cantik Jatuh Cinta
💞Chef Cantik Pilihanku Season 1-3
Dan masih banyak lainnya, terima kasih sudah mampir 🙏🏻
ngenes banget kamu Lisss nggak ada yang muasin 😄
harusnya minuminnya sekalian sama botol²nya tuh 😂
kasihan Lisa nungguin sampe karatan , eh yang di unboxing malah lania 🤣🤣🤣