Hati Lilian hancur seketika setelah sang suami, "Alen" kembali dari dinas di luar kota membawa seorang perempuan hamil bersama nya.
"Siapa wanita itu mas? Kenapa kau membawanya pulang ke rumah kita?"
Tiga tahun pernikahan Lilian tidak memiliki anak, karena itu ia memiliki untuk mengabdi sebagai menantu, ipar serta istri yang baik di keluarga "Bayron" ia tidak pernah membocorkan tentang siapa dirinya dan siapa keluarganya, sehingga mereka semua menganggap Lilian sebagai yatim piatu yang tunduk dan patuh.
"Dia istri asisten ku, sesuatu terjadi di luar kota, asisten ku meninggal karena menyelamatkan ku dan sekarang istrinya hanya punya aku dan keluarga ini untuk melanjutkan hidup, atas wasiat asisiteku dia meminta ku untuk menjaga anak dan istrinya,"
Dilanda keputusan suami yang begitu menyakitkan, akan kah Lilian tetap bertahan? Apalagi setelah kedatangan wanita itu, Alen selalu mengabaikan nya.
Penasaran? Ayo baca kisah mereka di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Sementara itu di sisi lain,
Setelah selesai makan malam, Lilian dan sang kakak segera kembali ke mansion.
"Kak," panggil Lilian dengan suara lirih.
"Hm," jawab Karen yang saat itu duduk disampingnya. Sementara Dimas mengemudi mobil.
"Hubungan mudan kak Erlan, sejak kapan kalian jadi sedingin sekarang ini? Seingatku kalian berdua di masa SMA sangat akur," ucap Lilian kepada sang kakak, ia memperhatikan gerak gerik dua orang itu tadi saat sedang makan, keduanya tampak tak seakrab dulu.
"Sekarang sudah dewasa, sudah ada di jalan masing-masing," jawab Karen tak ingin Lilian tau apa yang sebenarnya di sembunyikan oleh Karen dan Erlan.
Karen tidak mau Lilian tau kalau dia bersikap dingin kepada Erlan karena masih belum bisa menyetujui permintaan Erlan yang ingin datang melamar Lilian secepatnya.
"Hmm, aku tau kalian sudah lama berpisah, kalian kelihatannya sangat canggung," ucap Lilian lagi.
"Kau sendiri, kenapa tidak secangung aku? Bukan kah saat SMA kau dan Erlan tidak pernah bertegur sapa, tidak, maksudnya kalian tidak ada komunikasi yang akrab," ucap Karen lagi.
"Sejujurnya aku lebih canggung darimu, tapi aku melakukan semua ini karena Karin, aku ingin tau dimana dia sekarang dan aku pikir, dengan berhubungan sama kak Erlan aku bisa berbaikan lagi sama Karin," jelas Lilian yang sebenarnya sangat merindukan sahabat nya itu.
"Oh, jadi karena itu Lilian berusaha dekat dengan Erlan? Semua ini dia lakukan demi Karin? Aku pikir dia sengaja mendekati Erlan," batin Karen.
"Kak, apa kau tau sesuatu tentang Karin? Kapan dia kembali, dan bagaimana aku bisa bertemu dengan nya? Aku berutang banyak permintaan maaf kepada nya," ucap Lilian lagi, memecah keheningan yang ada karena sang kakak tampak diam.
Bukan nya menjawab, Karen malah diam dan larut dalam benaknya sendiri.
"Kak," panggil Lilian lagi.
"Ah, iya, aku tidak tau apa-apa tentang nya," ucap Karen berbohong.
"Hm, baiklah, kalau begitu sepertinya aku memang harus meminta bantuan kak Erlan," lirih Lilian lagi.
"Besok ikut ke perusahaan bersama ku, lupakan soal Erlan atau Karin, bukan kah kau punya urusan yang lebih penting dari itu?" ucap Karen mengalihkan topik pembicaraan mereka.
"Ah iya, maaf kak, aku lupa," ucap Lilian singkat, namun dia tidak menaruh kecurigaan sedikitpun kepada sang kakak.
Pembicaraan mereka berakhir sampai di situ saja, selanjutnya mereka tiba di mansion dan beristirahat di kamar masing-masing.
Keesokan harinya ...
Jam menunjukkan pukul setengah delapan pagi, setelah selesai sarapan, Lilian dan Karen pergi ke perusahaan Pratama grup bersama dengan Dimas dan Karen.
Dimas tingal di apartemen nya, tapi itu tidak terlalu jauh, sepuluh menit mengemudi dia akan tiba di mansion Pratama.
Tak butuh waktu lama, Karen, Lilian dan Dimas akhirnya tiba di perusahaan Pratama grup.
"Sudah tiga tahun lamanya aku tidak menginjakkan kaki di perusahaan papa, tapi bukan kah sebelumnya kakak punya perusahaan sendiri?" Batin Lilian.
"Kau bengong apa? Ayo masuk," ucap Karen yang menyadari sang adik masih berdiri stay di depan mobil sambil menatap perusahaan yang berdiri megah itu.
Lilian mengangguk dan kemudian berjalan masuk sambil mendorong kursi roda sang kakak, sementara Dimas masih berada di parkiran.
"Kita ke ruang kerja papa, karena di sana kau akan memakai ruangan itu," ucap Karen.
"Hah? Kak, apa aku tidak salah dengar? Kenapa aku harus berada di ruangan CEO? Aku tidak siap, otaku belum sampai ke sana," ucap Lilian seketika terkejut.
"Gadis bodoh, kau hanya akan memakai ruangan itu, bukan untuk mengurus semua tanggung jawab papa, sekarang papa bekerja di mansion karena kesehatan nya yang sudah kurang baik untuk pulang pergi, jadi ruangan itu untuk mu, lagipula kelak kau akan menjadi CEO di perusahaan ini, bisakan dirimu dengan ruangan itu," jelas Karen panjang lebar.
Yah, ini lah hal yang sangat amat tidak di sukai oleh Lilian, kembali kekeluarga Pratama yang penuh dengan kekayaan serta tanggung jawab, semua ini benar-benar hal yang sangat tidak nyaman untuk nya, namun mau bagaimana lagi? Semua resiko ini harus dia terima ketika dia memilih untuk kembali kekeluarga nya.
"Ya, baiklah, aku mengerti kakaku sayang," jawab Lilian sambil sedikit menarik nafas panjang.
"oh ya Lilian, di perusahaan ini kau hanya di temani oleh Dimas, aku tidak bisa selalu memantau karena aku juga harus mengurus perusahaan ku," ucap Karen.
"Karentanial grup?" tanya Lilian.
"Ya," jawab Karen sambil mengangguk pelan.
Sementara itu, mereka melupakan orang-orang yang melirik mereka dengan tatapan bingung dan penuh tanda tanya.
"Baru kali ini aku melihat seorang perempuan cantik mendorong kursi roda pak Karen,"
"Siapa wanita cantik itu?"
"Wah-wah, sepertinya posisi Ayu akan segera tergantikan ya, dia jauh lebih cantik,"
"Ya, pak Karen jarang sekali datang ke perusahaan ini, selama ini hanya asisten pribadi nya, pak Dimas dan tuan besar Ardan, yang datang seminggu tiga kali,"
Ucap beberapa karyawan yang saat ini sama sekali tidak mengetahui identitas Lilian. Wajar, Lilian sudah tiga tahun menghilang dari keluarga Pratama, kembalinya kali ini pun masih belum ada pesta atau pengumuman dari papa Ardan.
"Kalian bicara apa? Sudah tidak mau bekerja ya? Lanjutkan pekerjaan kalian," ucap seorang wanita dengan tatapan mata yang tampak sangat tajam.
Semua orang terdiam dan kemudian kembali fokus dengan pekerjaan mereka masing-masing.
Mengenal sosok "Ayu"
Ayu adalah salah satu karyawan yang bekerja sangat lama di perusahaan papa Ardan (Pratama grup)
Ia adalah sosok yang lumayan penting di perusahaan tersebut, jabatan nya perusahaan Pratama grup adalah Supervisor / Team Leader / Koordinator: Mengawasi kelancaran kerja harian staf, memastikan target tercapai, dan menjadi mentor langsung. Dan dia adalah orang yang dipilih papa Ardan.
Oke paham ya para reader ku.
Dan satu hal yang harus kalian tau, Ayu sangat menyukai Karen, sudah lama, jauh sebelum Karen jadi sosok cacat seperti sekarang, setelah cacat pun dia tetap menyukainya.
****
bikin kwatir orang yang menyanyinya tapi
jiwa nya memang sudah seperti itu bukan jahat atau menjadi wanita ga benar cuma
orang nya kepingin tau saja gitu kadang
mengabaikan nasehat ,,
punya nama. jadi bagus ,,,ehhh malah berhianat sekarang belum tau siapa Lilian
enakan,,,coba loe kelurahan anaknya abis lah nasib loe,,,,