NovelToon NovelToon
SUAMIMU BUKAN SUAMIMU

SUAMIMU BUKAN SUAMIMU

Status: tamat
Genre:Pernikahan Kilat / Cinta Seiring Waktu / Menyembunyikan Identitas / Tamat
Popularitas:87.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Aynara terpaksa menikah dengan Aksa karena perjanjian kedua kakek mereka. Pernikahan itu diikat satu syarat: jika mereka bercerai sebelum satu tahun, Aynara harus membayar denda 10 miliar, sementara Aksa akan kehilangan haknya sebagai pewaris keluarga Wicaksono.

Namun, usai janji suci diucapkan, Wicaksono mengalami kecelakaan dan terbaring koma.
Merasa tak ada lagi yang bisa mengaturnya, Aksa berkata kepada Aynara, "Pernikahan ini terjadi karena Kakek. Aku sama sekali gak suka, apalagi mencintaimu. Dunia kita beda. Mulai sekarang, kita jalani hidup masing-masing sampai tiba waktunya bercerai."

Aynara terpaksa menelan kenyataan pahit itu. Namun, takdir mengubah segalanya ketika kecelakaan merenggut nyawa Aksa.
Regan, pembelot yang sedang diburu organisasi kriminal, memanfaatkan kematian Aksa untuk menyelamatkan dirinya.

Aynara tidak pernah tahu bahwa suami yang ia benci telah mati. Dan pria yang kini hidup sebagai Aksa adalah orang asing yang akan mengubah seluruh hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21. Amanah Sang Kakek

Gunadi menghentikan langkah perawat yang baru beberapa meter meninggalkan kamar rawat Wicaksono.

"Permisi. Anda tahu apa yang dilakukan Nyonya Muda di dalam?"

Perawat itu menatap Gunadi dengan ekspresi bingung. "Nyonya muda?"

"Ah, maksud saya... wanita yang ada di dalam kamar Tuan Wicaksono tadi," jelas Gunadi. "Wanita cantik itu."

Perawat tersebut akhirnya mengerti. "Oh, Nona itu membantu saya membersihkan tubuh Tuan Wicaksono."

"Nyonya Muda membantu membersihkan tubuh Tuan Besar?" Gunadi menatapnya dengan sorot mata tak percaya.

"Benar." Perawat itu mengangguk. "Beliau cepat mengerti, cekatan, tapi tetap lembut. Saya bahkan tidak perlu banyak menjelaskan."

"Nyonya Muda yang melakukannya?" Gunadi seolah masih tak percaya.

"Ya." Perawat itu menjawab dengan mantap.

Belum sempat Gunadi bertanya lagi, suara seorang pria dari kamar sebelah terdengar.

"Perawat, bisa bantu saya?"

"Baik." Perawat itu kemudian menoleh kepada Gunadi. "Saya permisi."

Ia menundukkan kepala dengan sopan sebelum bergegas menuju kamar sebelah.

Gunadi hanya bisa mengembuskan napas pelan. Sudut bibirnya terangkat tipis.

"Tuan Besar..." gumamnya. "Nyonya Muda bahkan belum pernah berinteraksi dengan Anda selain saat pernikahan. Saya pun belum sempat menyampaikan amanah Anda."

Pandangan Gunadi beralih ke pintu kamar Wicaksono. "Tapi lihatlah. Beliau datang menjenguk dan bahkan merawat Anda tanpa diminta."

Gunadi menggeleng kecil. "Sepertinya Anda memang tidak salah memilih."

Suara langkah kaki dari arah ujung lorong membuat Gunadi menoleh. Ia melihat Aynara berjalan mendekat. Gunadi kemudian menghampirinya.

Setelah jarak mereka tinggal beberapa langkah, pria itu berhenti tepat di hadapan Aynara.

Aynara mengangkat wajah. Pandangan mereka bertemu.

"Nyonya Muda," sapa Gunadi sambil menundukkan kepala dengan sopan.

"Bapak..." Aynara terdiam sejenak. Ia mengenali pria paruh baya itu sebagai orang yang ikut menunggu di depan UGD saat Wicaksono menjalani operasi.

"Saya Gunadi. Saya asisten pribadi Tuan Wicaksono."

"Oh..." Aynara mengangguk kecil. "Apa Bapak ada perlu dengan saya?"

"Ada." Gunadi merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah amplop. "Ini untuk Anda."

Aynara mengerutkan kening ketika melihat amplop yang disodorkan kepadanya.

"Setelah pernikahan Anda kemarin, Tuan Besar meminta saya menyiapkan kartu ini untuk Anda." Gunadi menjelaskan. "Namun, sebelum saya sempat menyerahkannya, beliau mengalami kecelakaan. Setelah itu banyak hal yang harus saya urus sehingga baru sekarang saya bisa memberikannya kepada Anda."

Aynara masih memandangi amplop tersebut dengan bingung. "Ini..."

"Uang bulanan untuk Anda," jelas Gunadi.

Aynara mengangkat wajah.

"Tuan Besar meminta saya memastikan Anda menerimanya." Gunadi menyodorkan amplop itu sedikit lebih dekat. "Mohon diterima, Nyonya Muda. Ini amanah beliau. PIN-nya masih menggunakan PIN awal. Nomornya ada di dalam amplop ini. Setelah berhasil digunakan, sebaiknya segera Anda ganti dengan PIN pribadi."

Aynara terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menerima amplop tersebut. "Terima kasih."

Entah mengapa, perasaan lega muncul di dalam hatinya. Tadi ia sempat berpikir bahwa uang yang dimaksud Asti mungkin memang tidak pernah sampai kepadanya. Bahkan ia sempat menuduh Aksa menyimpan uang yang seharusnya menjadi haknya..Sekarang ia merasa sedikit malu karena telah berprasangka buruk.

"Ternyata Kakek memang sudah menyiapkannya..."

Gunadi memperhatikan perubahan ekspresi Aynara. "Ini baru saldo awal, Nyonya Muda. Setiap bulan akan ada transfer rutin yang masuk ke rekening ini."

Aynara mengangguk pelan, mulai memahami maksud Gunadi.

Gunadi kemudian melanjutkan, "Kalau Nyonya Muda membutuhkan bantuan atau ada sesuatu yang ingin ditanyakan, silakan hubungi saya."

Kali ini ia merogoh saku celananya, mengambil sebuah kartu nama, lalu menyerahkannya kepada Aynara. "Ini nomor saya."

Aynara menerimanya dengan kedua tangan. "Terima kasih, Pak."

Gunadi mengangguk. "Sama-sama, Nyonya Muda."

Aynara memasukkan amplop dan kartu nama itu ke dalam tasnya. "Kalau begitu saya pamit dulu, Pak."

"Silakan." Gunadi menepi untuk memberi jalan.

Aynara menundukkan kepala sebelum melanjutkan langkahnya menyusuri lorong.

Gunadi masih berdiri di tempatnya, memerhatikan punggung Aynara hingga gadis itu semakin jauh.

Ia kemudian melirik pintu kamar Wicaksono. "Kalau Tuan Besar bisa melihat sendiri sekarang..." gumamnya pelan. "Beliau pasti akan senang."

Gunadi akhirnya berbalik dan melanjutkan pekerjaannya. Namun, ada satu hal yang tidak diketahuinya.

Di dalam tas Aynara, kartu yang baru saja diberikan kepadanya bukan sekadar uang bulanan biasa.

Wicaksono telah memastikan cucu menantunya itu tidak akan kekurangan selama dirinya masih belum bisa membuka rahasia yang selama bertahun-tahun ia sembunyikan.

 

Sementara itu, Aynara terus melangkah menyusuri lorong rumah sakit sambil memegangi tasnya.

Pikirannya masih tertuju pada percakapannya dengan Asti.

"Kalau uang saku dari Mama sepuluh juta dan kata Mama itu gak seberapa dibandingkan pemberian Kakek..." gumamnya pelan. "Terus uang bulananku berapa?"

Rasa penasaran akhirnya membuat langkahnya berbelok menuju area ATM yang berada tidak jauh dari lobby rumah sakit.

Ia memilih salah satu mesin ATM yang sedang kosong, lalu mengeluarkan amplop pemberian Gunadi yang berisi kartu ATM dan informasi tentang PIN awal.

Setelah memasukkan kartu dan PIN, Aynara memilih menu untuk melihat saldo. Beberapa detik kemudian, angka-angka muncul di layar. Mata Aynara langsung membesar.

"Astaga..." Ia mendekatkan wajahnya ke layar. "Ini... lima ratus juta?"

Aynara berkedip beberapa kali. Ia bahkan menghitung jumlah angka nol yang tertera untuk memastikan dirinya tidak salah membaca. Lima ratus juta rupiah.

"Saldo awal aja sebanyak ini? Lalu berapa uang bulananku?"

Matanya masih terpaku pada layar cukup lama. Lima ratus juta. Jumlah yang bahkan belum tentu bisa ia dapatkan setelah bekerja selama bertahun-tahun.

Aynara mengembuskan napas panjang. "Tapi... ini aja udah banyak banget."

Ia menatap kembali saldo rekeningnya. "Kalau cuma untuk kebutuhan sehari-hari, gak bakal habis dalam setahun."

Aynara kemudian terdiam karena menyadari sesuatu. "Ternyata Kakek Wicaksono gak sekadar memenuhi janji pernikahan yang dibuat bersama mendiang kakekku. Beliau benar-benar memikirkan kehidupanku."

Entah mengapa, dada Aynara terasa hangat.

"Terima kasih, Kek."

Ia tersenyum kecil sebelum mengambil kembali kartunya. Namun, satu pertanyaan masih tertinggal di benaknya.

"Kenapa Kakek begitu baik kepadaku?"

 

Aynara akhirnya meninggalkan rumah sakit. Ia berjalan menuju halte bus yang berada tidak jauh dari sana.

Setibanya di halte, Aynara mengeluarkan ponselnya dan memesan taksi online. Setelah memastikan pengemudi sudah menerima pesanannya, ia memasukkan kembali ponsel ke dalam tas.

Namun, baru beberapa detik kemudian, sebuah suara yang begitu familiar membuat langkahnya terhenti.

"Nara?"

Aynara perlahan menoleh. Matanya membulat.

 

...🔸🔸🔸...

...“Jangan biarkan prasangka membuat kita lupa bahwa tidak semua kebaikan datang tepat pada waktunya. Ada kebaikan yang terlambat kita terima, ada perhatian yang baru kita pahami setelah semuanya terjadi, dan ada orang-orang yang diam-diam memikirkan kita tanpa pernah meminta untuk dihargai.”...

..."Nana 17 Oktober "...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Anonim
Regan yang sedang berada di taman rumah sakit, dadanya terasa nyeri sejak melihat Asti menangis.

Asti tidak menjawab pertanyaan Regan tentang Aksara Group.

Gunadi yang melihat Tuan Mudanya ada di taman dan terlihat sedih, merasa khawatir.

Gunadi berdiri di samping kursi tempat duduk Regan.

Tuan Mudanya bertanya pada Gunadi kenapa mamanya menangis ketika bertanya kenapa nama perusahaan Aksara Group.

Tuan Muda Arsa di mana ? Atau dia Regan ?
Anonim
Berkas-berkas yang dibawa Gunadi untuk diperiksa Regan, sudah diperiksa semua.

Regan tahu ada salah satu berkas yang harus dicek ulang oleh bagian keuangan.

Gunadi merasa heran, tuan mudanya bisa menemukan masalah tersebut.

Gunadi semakin heran dengan Aksa yang sekarang. Aksa lebih teliti.

Gunadi masih antara yakin dan tidak yakin, yang ada di rumah sakit itu Tuan Muda atau orang lain.
Anonim
Regan ingin pulang, merasa sudah baik dan tidak ada keluhan apapun.

Regan minta sama Gunadi mengirimkan berkas-berkas yang perlu dia kerjakan di rumah sakit.

Nanti kalau ada yang perlu ditandatangani bagaimana. Lupa juga tanda tangannya.
Anonim
Doni menyuruh seseorang mengunggah kecelakaan yang menimpa Aksa.

Juga tentang ayahnya Aksa, Aditya Wicaksono tak luput dari pemberitaan. Mempunyai anak diluar pernikahan.

Berita unggahan tentang kecelakaan yang menimpa Aksa, juga tentang Aditya yang mempunyai anak diluar penikahan sudah sampai kepada Aksa, Gunadi dan Asti
Anonim
Doni mengusik keluarga Wicaksono dengan menyuruh seseorang untuk menyebarkan kabar tentang kondisi Aksa Wicaksono setelah kecelakaan.

Diiih orang yang sudah meninggal diusik juga. Ayahnya sendiri juga.

Kelakuan jahat Doni akibat sakit hati tidak diakui sebagai keturunan Wicaksono.

Doni nanti musuhnya Regan. G
Anonim
Gunadi sudah berada di ruangan dokter yang menangani Aksa.


Gunadi menanyakan kondisi Aksa setelah kecelakaan.

Dokter dengan sabar menjawab semua pertanyaan Gunadi, dan memberikan penjelasannya.

Semua perbedaan Aksa yang dirasakan Gunadi ditanyakan kepada dokter.

Perubahan Aksa secara medis masih dianggap normal.

Penjelasan dari dokter, Aksa berubah setelah kecelakaan, semua masuk akal.

Gunadi masih merasa ada yang ganjil.
Anonim
Andai kakek Wicaksono sadar dari koma, beliau pasti bisa langsung mengenali cucunya.

Keturunan Wicaksono yang ada kini tinggal dua anak dari dua gundik Ayahnya Aksa.

Kalau Aynara nanti menikah ulang dengan Aksa palsu, kalau sampai hamil tentunya bukan keturunan Wicaksono.

Gunadi setelah selesai berinteraksi secara langsung dengan Aksa, pamit akan kembali ke kantor.

Gunadi pikirannya terus terganggu dengan perubahan Aksa.

Gunadi menuju ruang dokter sebelum kembali ke kantor. Sebelum menyimpulkan apapun, Gunadi harus mendapatkan jawaban yang masuk akal.

Gunadi seperti nggak yakin , apa cedera kepala dan amnesia bisa mengubah seseorang sampai sejauh itu.
Anonim
Asti juga merasa ada yang janggal. Aksa aekarang seperti bukan dirinya.

Gunadi belum bertemu Aksa sejak mulai sadar. Gunadi nanti kalau bertemu dan berinteraksi dengan Aksa kemungkinan juga merasakan ada yang janggal.
Anonim
Aynara emosinya mudah tersulut setiap berada di dekat Aksa. Apalagi melihat wajah Aksa, ia langsung ingat semua perkataan yang sangat menyebalkan.

Perasaan itu hilang sejak melihat Aksa setelah kecelakaan. Tidak ada raaa kesal, tidak berusaha menhaga jarak karena muak. Tapi ada rasa aneh yang sulit dijelaakan.

Aynara belum sadar saja kalau yang sedang dihadapi memang bukan Aksa.

Aynara selalu menepisnya - jangan-jangan karena amnesia.
Anonim
Regan seperti tak habis pikir, Aynara bisa memaafkan Aksa.

Aynara sepakat untuk mulai dari awal. Dengan syarat tetap tinggal terpisah. Hubungan mereka dilihat perkembangannya. Di jalani seperti teman dulu.

Setelah satu tahun baru diambil keputusan, mau mempertahankan pernikahan atau bercerai.

Apa yang dikatakan Aynara, Regan setuju.

Hubungan di kantor mereka profesional. Interaksi mereka sebagai atasan dan bawahan.

Regan setuju dengan semua syarat yang dikatakan Aynara.
Anonim
Aynara selesai mengetik nomornya di ponsel Regan. Untuk memudahkan berkomunikasi.

Wajah Regan bisa ya mirip sekali dengan wajah Aksa. Pengenalan wajah di layar ponsel Aksa utidak menolak wajah Regan.

Regan sebagai Aksa mengetik permintaan maaf atas semua sikapnya dulu yang sudah menyakiti Aynara.

Aynara tidak menyangka Aksa minta maaf.

Aynara memaafkan Aksa.
Anonim
Aynara datang, Asti belum pergi.

Regan mulai komunikasi sama Aynara dengan mengetik kalimat di ponselnya. Ia menunjukkan kepada Aynara.

Aynara mau menceritakan semuanya pelan-pelan.

Setelah Aynara menceritakan semuanya, apa yang akan dilakukan Regan nanti.

Aynara mulai menceritakan kenyataan yang ada.

Mendengar perlakuan dan hinaan Aksa terhadap Aynara, Regan punya penilaian lagi tentang Aksa. Jauh lebih buruk.

Aynara menyelesaikan ceritanya.

Regan baru tahu bahwa orang yang wajahnya hampir sama dengannya, saat sebelum kecelakaan terjadi, baru saja bertengkar hebat dengan istrinya.
Anonim
Regan dengan ponselnya menghubungi Joseph ketika Asti baru di dalam kamar mandi.

Joseph sudah mendapatkan informasi tentang Aksa Wicaksono. Tentang nama-nama mereka. Kakeknya, Ayahnya, Ibunya, juga dua gundik Ayahnya Aksa yang masing-masing juga punya anak tapi tidak diakui sebagai keturunan Wicaksono.

Komplit sekali informasi yang di dapat Joseph.

Sampai tentang Aksa yang dijodohkan dengan Aynara.

Juga tentang pekerjaan Aksa.

Pembicaraan belum selesai, suara air dari kamar mandi berhenti. Aksa memutuskan sambungan.
Anonim
Doni anaknya Ria, gundiknya ayahnya Aksa yang mencelakai Aksa ya.

Apa mobil Wicaksono yang mengalami kecelakaan juga Doni pelakunya ?
Anonim
Mereka tahu kecelakaan cukup parah. Sopir meninggal di tempat. Mobil mengalami rusak parah.

Kondisi Aksa dalam pemeriksaan secara medis baik semua. Dokter minta pasien tetap diobservasi.

Regan tahu kalau dokter merasa ada yang janggal.
Anonim
Siapa yang datang ?
Anonim
Regan diperiksa dokter - katanya dari pemeriksaan awal, ada tanda gangguan ingatan 😄. Padahal kenyataannya Regan akting mendalami 6perannya sebagai Aksa yang dia masih bingung mau bagaimana.

Regan benar-benar mendalami perannya. Beberapa pertanyaan dokter dijawab dengan menggeleng.

Mendengar nasehat dari dokter, Regan menjawabnya mengangguk pelan.

Asti dan Aynara jadi memperkenalkan diri biar Aksa yang amnesia tahu siapa kedua wanita itu.
Anonim
Aynara memanggil dokter, yang tidak lama kemudian datang.

Dokter memeriksa Aksa. Ketika ditanya oleh dokter, jawabnya hanya mengangguk dan diam.

Bikin Asti khawatir saja nih.
Anonim
Regan mulai memainkan perannya sebagai Aksa yang bingung mau bicara apa.

Pura-pura panik, tidak tahu harus bicara apa.

Aynara terkejut melihat Aksa yang cuma membuka mulut, ngga ada suara yang keluar.

Aynara dan Asti memang orang asing bagi Aksa palsu. Aman saat ini Aksa menjadi tidak ingat sama mama dan istrinya.

Aksa hilang ingatannya serta suaranya. Itu yang Aynara tahu saat ini.

Suara jadi berbeda juga kalau Aksa bicara.

Regan membuat hidupnya rumit sendiri.
Anonim
Regan memang pinter otaknya cerdas. Kalau tidak, mana mungkin dia dengan cepat bisa punya inisiatif memakai identitas Aksa yang kebetulan wajahnya mirip dengannya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!