Tiga tahun menjadi istri Rayhan Sutanto, Keira tidak pernah diperlakukan selayaknya. Dicaci mertua, dihina ipar, dan diabaikan suami yang hatinya sudah milik perempuan lain.
Malam itu, di atas ranjang pernikahan mereka, Rayhan memanggilnya dengan nama wanita lain. Cukup sudah.
"Rayhan, kita cerai."
Tapi ketika pintu Pengadilan Negeri tertutup di belakangnya, sebuah Rolls-Royce Phantom berhenti di hadapannya. Seorang pria tua membungkuk hormat dan menyerahkan kartu hitam bertuliskan 300 triliun rupiah.
Keira bukan yatim piatu dari panti asuhan. Dia adalah putri bungsu keluarga Liem — konglomerat nomor satu di negeri ini. Tiga kakak laki-lakinya menguasai dunia militer, medis, dan hiburan. Dan sekarang, dia kembali.
Sementara mantan suaminya berlutut memohon maaf, Keira duduk di kursi CEO perusahaannya. Sementara mantan mertua yang dulu menyuruhnya berlutut di hujan kini menjadi pembantunya. Dan sementara wanita yang dulu memanggilnya "pengganti" kini membusuk di balik jeruji.
Tapi di balik semua pembalasan dan kejayaan, ada satu rahasia yang belum terungkap — identitas asli Rayhan Sutanto, dan pengorbanan yang dia sembunyikan selama bertahun-tahun.
Cinta yang terlambat, apakah masih layak diperjuangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Bab 28: Empat Panggilan
"Aku datang sebagai Liem."
Keira mengucapkan kalimat itu di pintu ruang VIP, lalu benar-benar pergi sebagai Liem.
Dalam dua jam berikutnya, tiga tim bergerak dari arah berbeda. Pengacara keluarga mengirimkan surat pencegahan perjalanan untuk Harrison Liem. Divisi forensik digital Liem Group menarik ulang jejak transfer yang sempat diputus. Kevin, dengan suara malas yang berbahaya, meminta daftar semua tamu Om Herman dalam satu bulan terakhir.
Keira tidak datang sendirian ke rumah Herman.
Ia bahkan belum datang.
Ia membuat seluruh pintu keluar lebih dulu terkunci.
Di RS Pondok Indah, Rayhan menerima laporan itu dari Sinar sambil berbaring miring. Wajahnya tidak berubah, tetapi jemarinya yang memegang gelas air berhenti di udara.
"Dia selalu seperti ini?" tanya Sinar pelan.
"Seperti apa?"
"Kalau marah, bukan menghancurkan meja, tapi menutup semua jalur napas lawan."
Rayhan meminum airnya sedikit. Tenggorokannya masih terasa perih. "Dulu dia tidak diberi ruang untuk marah."
Sinar terdiam.
Rayhan meletakkan gelas. Di meja samping ranjang, tiga tube salep militer dari Keira tersusun rapi. Ia menatap benda kecil itu lebih lama daripada laporan S404. Bodoh, tetapi ia tidak bisa menahan diri.
"Tuan," kata Sinar.
Rayhan tidak menoleh. "Jangan panggil begitu di rumah sakit."
"Maaf. Ada panggilan dari sana."
Udara di ruangan berubah.
Sinar menyerahkan ponsel hitam tanpa nama kontak. Layar hanya menampilkan satu simbol abu-abu, garis tipis seperti topeng tanpa mata.
Rayhan melihatnya beberapa detik.
Ini satu-satunya panggilan yang tidak boleh masuk saat ia masih memakai nama Rayhan Sutanto.
Ia mengangkat telepon.
Suara lelaki tua terdengar dari seberang, rendah dan kering. "Kau terkena S404 dan masih berbaring di rumah sakit orang luar."
"Saya masih sadar."
"Cabang dalam bergerak. Tiga gudang logistik dibekukan. Dua orang kita hilang. Kau harus kembali malam ini."
Rayhan menutup mata. Punggungnya berdenyut di bawah perban, seolah luka itu ikut mendengar perintah.
"Beri saya tiga hari."
Sinar langsung mengangkat kepala.
Di seberang, hening jatuh panjang.
"Tiga hari?" suara tua itu menjadi lebih dingin.
"Keira masih dalam jalur tembak. S404 yang dipakai untuk menyerangnya keluar dari akses keluarga Liem, tapi ada jejak yang terlalu sengaja ditinggalkan. Kalau saya pergi sekarang, dia akan bergerak sendiri."
"Perempuan itu selalu menjadi alasanmu."
"Dia target mereka."
"Dan kau apa? Tameng yang boleh rusak?"
Rayhan tidak menjawab.
Lelaki tua itu tertawa pendek, tanpa gembira. "Datang malam ini. Kalau masih meminta tiga hari setelah berdiri di depan altar keluarga, kau tahu harganya."
Telepon terputus.
Sinar menggenggam ponsel itu terlalu erat. "Anda tidak bisa pergi. Luka Anda..."
"Siapkan mobil."
"Tuan."
"Sinar."
Satu panggilan saja cukup membuat Sinar menutup mulut.
Rayhan mengangkat satu tube salep dari meja, lalu memasukkannya ke saku jaket rumah sakit yang dipaksakan Sinar ke tubuhnya. Ia bergerak pelan, setiap tarikan kain di punggung terasa seperti api menyala ulang.
"Keira akan membunuh saya kalau tahu," gumam Sinar.
"Dia tidak akan tahu."
"Anda selalu mengatakan itu sebelum semuanya ketahuan."
Rayhan meliriknya.
Sinar menunduk, tetapi tidak menarik ucapannya.
Malam turun lebih cepat daripada yang seharusnya. Mobil hitam tanpa pelat depan meninggalkan RS Pondok Indah melalui akses servis. Di kursi belakang, Rayhan mengenakan kemeja gelap yang longgar, perban tetap terlihat di leher belakang. Napasnya tertahan setiap kali mobil melewati polisi tidur.
Tujuan mereka bukan Villa Teluk.
Bukan pula Sutanto Corp.
Mobil itu masuk ke halaman rumah tua di Menteng, bangunan besar yang dari luar tampak seperti milik keluarga kaya lama yang sudah lelah dipamerkan. Tidak ada papan nama. Hanya dua patung singa batu, pohon kamboja tua, dan aroma dupa yang samar dari dalam.
Di ruang utama, lampu kuning menempel di lantai marmer. Sebuah altar keluarga berdiri di ujung ruangan. Di atas meja samping altar, ada topeng perak berbentuk wajah hantu, dingin dan tanpa ekspresi.
Rayhan menatap topeng itu.
Selama bertahun-tahun, benda itu menjadi pintu antara dua hidupnya.
Malam ini, ia datang dengan nama yang salah, tubuh yang rusak, dan satu permintaan yang sudah pasti dianggap kelemahan.
Lelaki tua itu duduk di kursi kayu gelap. Rambutnya putih seluruhnya, tetapi matanya tidak tua.
"Berlutut."
Rayhan berlutut tanpa bantahan.
Sinar berhenti di ambang pintu. Dua pria bersetelan hitam berdiri di sisi altar. Salah satu dari mereka membawa cambuk rotan tipis, ujungnya dibungkus kulit.
"Kau meminta tiga hari," kata lelaki tua itu.
"Ya."
"Untuk perempuan yang menceraikanmu."
"Untuk perempuan yang menjadi target S404."
"Kau masih membedakan dua hal itu?"
Rayhan mengangkat kepala. Keringat sudah muncul di pelipisnya padahal cambuk belum menyentuh tubuhnya.
"Kalau saya kembali malam ini, saya bisa meredam cabang dalam. Tapi Keira akan mengejar Herman sendirian. Nathan akan masuk di celah itu. Saya butuh tiga hari untuk menutup jalurnya."
"Kau kira keluarga ini menunggu karena kisah cintamu belum selesai?"
"Tidak."
"Lalu?"
"Saya kira keluarga ini tidak akan membiarkan musuh memakai S404 di Jakarta tanpa jawaban."
Untuk pertama kalinya, lelaki tua itu tidak langsung membalas.
Sinar menahan napas.
Rayhan tahu ia baru saja mempertaruhkan lebih dari tubuhnya. Ia memakai harga dirinya sebagai pemimpin yang belum boleh disebut, bukan sebagai mantan suami Keira yang putus asa.
Lelaki tua itu mengangkat tangan.
"Tiga hari."
Sinar hampir menghela napas lega.
"Tiga puluh cambukan."
Napas itu mati di tenggorokannya.
Rayhan menunduk. "Saya terima."
"Lepas kemejanya."
Sinar maju satu langkah. "Lukanya masih..."
"Keluar kalau kau tidak sanggup melihat," kata lelaki tua itu.
Rayhan membuka kancing kemejanya sendiri. Gerakannya lambat. Perban putih di punggungnya terlihat jelas, sedikit ternoda obat. Ketika udara malam menyentuh kulit yang terbuka, tubuhnya sudah gemetar sebelum rotan pertama jatuh.
Cambuk itu menghantam.
Rayhan menggigit bagian dalam pipinya sampai rasa darah memenuhi mulut.
Ia tidak bersuara.
Yang kedua jatuh di tepi perban.
Yang ketiga membuat pandangannya putih sesaat.
Sinar memalingkan wajah, lalu memaksa diri melihat lagi. Ia harus menghitung. Kalau Rayhan pingsan sebelum tiga puluh, hukuman bisa diulang saat sadar.
"Empat."
"Lima."
Di pukulan kesebelas, Rayhan mulai batuk.
Di pukulan ketujuh belas, darah menetes dari sudut bibirnya.
Di pukulan kedua puluh tiga, lututnya hampir lepas dari lantai, tetapi ia menekan jari ke marmer dan tetap tegak.
Di pukulan ketiga puluh, cambuk berhenti.
Ruangan hening.
Rayhan masih berlutut.
Lelaki tua itu berdiri. "Tiga hari. Setelah itu kau kembali, memakai topengmu, dan memadamkan pemberontakan keluarga sebelum mereka memadamkanmu."
Rayhan menelan darah di mulutnya. "Baik."
"Dan perempuan Liem itu?"
Rayhan mengangkat mata. Matanya merah, tetapi jernih.
"Dia bukan kelemahan saya."
Lelaki tua itu menatapnya lama.
"Semoga kau benar."
Pukul dua lewat empat menit, Keira terbangun di Villa Teluk dengan napas tercekat.
Kamarnya gelap. AC menyala pelan. Di luar jendela, laut PIK hanya berupa garis hitam. Namun di dalam kepalanya, api masih berkobar.
Dalam mimpi itu, Rayhan berdiri di tengah gudang yang terbakar. Kemejanya penuh darah. Punggungnya terbuka, wajahnya pucat, dan ia memanggil nama Keira berkali-kali, bukan dengan suara lelaki yang menuntut, melainkan suara seseorang yang sudah berdiri di tepi jurang.
Keira duduk di ranjang, menekan dada.
Tidak ada darah di tangannya.
Tidak ada bau asap.
Tetapi tubuhnya tidak percaya.
Ia meraih ponsel dan menelepon Rayhan.
Panggilan pertama tidak diangkat.
Jantung Keira menghantam tulang rusuk.
Ia menelepon lagi.
Panggilan kedua tersambung sampai akhir, lalu mati.
"Rayhan," bisiknya.
Panggilan ketiga.
Tidak diangkat.
Keira turun dari ranjang, tanpa sandal, berjalan ke pintu kamar. Ia sudah hendak memanggil pengawal ketika panggilan keempat akhirnya tersambung.
"Keira?"
Suara Rayhan terdengar serak, terlalu rendah, tetapi hidup.
Keira berhenti di tengah koridor.
Selama beberapa detik, ia tidak bisa bicara.
"Keira?" suara itu terdengar lebih cemas. "Ada apa?"
"Kau di mana?"
"Rumah sakit."
Kebohongan itu datang terlalu cepat.
Keira menutup mata. Ia tidak punya tenaga untuk membongkarnya malam ini. Yang ia butuhkan hanya mendengar napasnya.
"Video call."
"Sekarang?"
"Rayhan."
"Baik."
Layar menyala. Wajah Rayhan muncul setengah gelap, seperti ia memiringkan ponsel dari ranjang. Cahaya hanya mengenai sisi wajahnya. Ia tampak pucat, bibirnya kering, tetapi matanya menatap Keira dengan kelembutan yang membuat mimpi itu mundur sedikit.
"Kau mimpi buruk?" tanyanya.
Keira menggenggam ponsel. "Tidak."
"Kau menelepon empat kali jam dua pagi karena ingin menagih laporan keuangan?"
"Bisa saja."
"Kalau begitu aku harus jujur. Nilai asetku malam ini turun. Punggungku protes, paru-paruku ikut rapat, dan martabatku cuti tanpa izin."
Keira menatapnya.
Lelucon itu dingin, jelek, dan sangat Rayhan.
Dadanya yang sejak tadi terkunci perlahan longgar.
"Jangan lucu."
"Aku memang tidak lucu. Itu sebabnya kau menceraikanku."
"Aku menceraikanmu karena kau brengsek."
"Benar. Tapi kalau aku lucu, mungkin hukumannya dikurangi jadi pisah ranjang."
Keira ingin marah, tetapi suara napasnya masih belum stabil. Rayhan mendengarnya.
"Keira," katanya lebih pelan, "aku masih di sini."
Kalimat itu membuat tenggorokannya panas.
"Aku mimpi kau terbakar."
Rayhan diam sebentar.
Di sisi lain layar, jari-jarinya yang tidak terlihat mencengkeram seprai sampai kainnya berkerut.
"Mimpi itu salah," katanya.
"Kau yakin?"
"Aku tidak akan terbakar tanpa izinmu."
"Rayhan."
"Baik. Tidak bercanda." Ia menarik napas hati-hati. "Aku masih hidup. Aku masih menyebalkan. Aku masih punya kontrak sebagai pelayanmu. Jadi tidur."
Keira kembali ke kamar dengan ponsel tetap menyala. Ia meletakkannya di samping bantal. Rayhan juga tidak memutus panggilan.
"Ceritakan sesuatu," kata Keira setelah berbaring.
"Cerita apa?"
"Apa saja. Jangan soal racun."
Rayhan memandang layar yang kini hanya memperlihatkan sebagian wajah Keira dan rambutnya yang jatuh di bantal. Ia tahu seharusnya memutus panggilan agar bisa menahan sakit tanpa ditonton. Namun suara Keira yang meminta ditemani membuat semua hukuman malam ini terasa hampir murah.
"Dulu," katanya, "ada seorang CEO bodoh yang mengira kopi hitam tanpa gula adalah kepribadian."
"Itu bukan cerita. Itu pengakuan dosa."
"Lalu ia bertemu perempuan yang membuat hidupnya lebih pahit dari kopi."
"Rayhan."
"Tapi anehnya, setelah perempuan itu pergi, semua yang manis jadi tidak ada rasanya."
Keira tidak menjawab.
Rayhan mengira ia akan memarahinya. Namun setelah beberapa saat, napas Keira mulai melambat. Matanya setengah tertutup.
Ia tetap bercerita, tentang dokter yang takut padanya, tentang Sinar yang hampir menangis melihat tagihan parkir rumah sakit, tentang bagaimana salep militer dari Keira mungkin lebih mahal daripada mobil pertama yang pernah ia beli.
Satu demi satu kalimatnya semakin pelan.
Ketika Keira akhirnya tertidur, layar masih menyala.
Rayhan menatapnya lama.
Di belakang bahunya, Sinar mengganti perban yang kembali basah oleh darah. Rayhan menggigit handuk kecil agar tidak bersuara.
Keira tidur dengan alis masih sedikit berkerut.
Rayhan mengangkat tangan, menyentuh layar, tepat di dekat wajahnya.
"Tiga hari," bisiknya tanpa suara.
Lalu ia menutup mata, sementara panggilan tetap tersambung dan darah di punggungnya belum berhenti sepenuhnya.