Bagi Rindu Setia Wiratman, hidup adalah buku catatan yang penuh dengan aturan ketat, ekspektasi, dan kesempurnaan semu. Sebagai gadis populer yang selalu memegang kendali, ia tidak pernah menyangka bahwa takdir akan menuliskan babak paling menyakitkan di saat ia merasa paling rapuh—ketika keluarganya runtuh dan dunianya hancur perlahan.
Di sisi lain, ada Langit Batara Nugroho, cowok arogan yang kehadirannya selalu berhasil menyulut emosi Rindu. Di balik sikapnya yang menyebalkan, Langit menyimpan luka masa lalu yang belum tuntas dan sebuah rahasia besar yang sengaja dikubur rapat-rapat.
Pertemuan mereka bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari halaman-halaman berat yang harus mereka balik bersama. Ketika badai menerpa hidup Rindu, justru Langit—seseorang yang paling ia benci—menjadi satu-satunya tempat untuk bersandar.
Namun, pertanyaannya: apakah mereka akan bertahan hingga akhir babak cerita, atau justru terhenti di halaman terakhir kisah ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T.K. OKVIANDI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HALAMAN TIGA PULUH DUA
Berhari – hari kedekatan Rindu dan Langit makin terlihat dilingkungan sekolah, hingga disuatu hari Langit mendapatkan sebuah pesan whatsapp dari nomor yang tidak dia kenal. Pesan tersebut berisikan beberapa foto screenshoot dari sebuah percakapan whatsapp antara beberapa orang. Langit terkejut ketika melihat foto-foto percakapan tersebut, ya itu adalah screenshot dari percakapan Rindu cs. Langit membaca satu persatu isi percakapan dalam foto tersebut. Dalam foto pertama terlihat isi percakapannya
"Oi Rin, gue mau nanya ke lu nih dari kemaren-kemaren sebenernya" pesan dari Gina
"Apaan sih Gin?" pesan dari Rindu.
"Lu beberapa minggu ini ya semenjak balik dari Bandung, napa jadi akrab sama si Langit ya?" pesan dari Gina.
"Iya Rin gue juga bingung" pesan dari Jessika.
"Et dah nanya gitu aja napa nggak langsung sih, gue deketin dia biasalah kesel gue sama dia, asik aja bikin dia kepedean bisa deket gue sampe tar gue banting" pesan dari Rindu.
Langit terus melihat percakapan tersebut hingga usai, setiap pesan disana semakin membuat Langit menjadi emosi. Pesan dar Rindu menceritakan , iya memang di Bandung dia dekat dengan Langit ya semata-mata jaga nama baik sekolah aja soalnya nggak mau sekolahnya jelek disekolah lain. Untuk masalah dekat disekolah ya sekadar melanjutan saja agar Langit yakin di Bandung tuh tidak main-main. Tapi nanti disaat yang tepat dimana Langit sudah senang dengan kedekatan mereka , Langit akan dijatuhkan.
Langit sangat kecewa mengetahui hal tersebut, satu sisi dia tetap saja merasa hatinya sudah terpaut di Rindu, tapi disisi lain dia merasa menyesal menolong Rindu sewaktu di Bandung. Membela nya mati-matian dai geng motor hingga mengorbankan dirinya, tapi Langit masih tetap bisa tersenyum karena rasa cintanya terhadap Rindu yang telah memenuhi setiap hela nafasnya.
Setelah peristiwa tersebut, sikap Langit berubah 180 derajat disekolah. Tidak ada lagi senyuman yang Langit keluarkan ketika berpapasan dengan Rindu, tak ada lagi sapaan terucap dari mulut Langit kepada Rindu walau hanya sepatah kata saja. Sementara Rindu masih berusaha bersikap baik dan ramah kepada Langit walau sahabat-sahabat tidak menyukai sikap Rindu tersebut. Namu tetap saja Langit mengacuhkannya. Ada apa dengan Langit? Itu pertanyaan yang kini muncul dalam benak Rindu.
Semakin hari sikap Langit semakin terlihat berubah, dia semakin cuek dan seperti kembali ke masa-masa sebelum ke Bandung. Suatu hari dilorong sekolah , Rindu yang sedang berlari menuju kamar mandi tiba-tiba terjatuh disaat yang bersamaan , ada Langit yang sedang berjalan melewati Rindu, bukannya menolong membangunkan Langit justru mengejeknya.
"Kayak bocah aja lu, jalanan segini kosongnya masih aja jatuh" ujar Langit sambil berlalu meninggalkan Rindu.
Dengan kesal Rindu bangkit seorang diri dari jatuhnya, dia merasa Langit tuh memang nggak akan berubah walau kejadian di Bandung, dia yakin Langit memang akan terus membencinya walau sempat baik padanya. Mungkin hanya kepalsuan juga kebaikan Langit tersebut, ituanggapan yang terlontar dari hati seorang Rindu. Semenjakitu hari-hari langit dan Rindu kembali diisi dengan pertengkaran yang tiada sebab, Allisya pun ikut terkejut mengapa ini terulang kembali. Semua terbaca jelas dari mata Langit dan Rindu masing-masing yang yakin setiap dari mereka memang tak akan bisa berdamai.
Di satu malam minggu menjelang tengah malam, terlihat dari luar rumah , Lampu kamar Langit masih menyala dengan terangnya. Didalam kamar, Langit terlihat sedang asik menulis diatas meja menggunakan laptop miliknya dengan ditemani secangkir kopi hangat. Langit terlihat fokus melanjutkan tulisan novelnya tersebut.
" Apa yang harus gue perbuat kini? Senang rasanya semenjak di Bandung gue bisa dekat dengan DIA, tapi sekarang gue tahu bahwa itu hanya sebuah kepalsuan saja, apa harus gue terus perjuangkan atau harus gue berhenti ke DIA? Perlahan rasa cinta ini semakin pupus, entah hilang terbawa emosi atau lenyap karena kesadaran gue yang nggak mungkin dengan DIA, ya sudah lah masih banyak cinta disana yang salah saunya mungkin buat gue dan itu bukan dari DIA.........."
Langit terus melanjutkan tulisannya, hingga tanpa sadar Langit terlelap tidur di kursi tempatnya duduk dan layar laptoppun mati dengan sendirinya setelah beberapa lama tak digunakan. Ayah Langit datang masuk ke kamar Langit, melihat Langit yang tengah tertidur pulas, ayah Langit tak tega membangunkan Langit dari tidurnya, ayah Langit hanya menutup laptop Langit dan mematikan lampu kamar tersebut lalu kembali keluar dari kamar Langit.
Mentari sudah mulai menampakkan dirinya, menandakan pagi telah tiba. Langit mulai bangkit dari tidurnya dan melirik kearah jam dinding dikamarnya. Langit terkejut ketika waktu telah menunjukkan pukul 6 pagi, bergegas Langit bersiap diri untuk berangkat ke sekolah.
Setibanya disekolah kedatangan Langit disambut oleh keusilan Rindu di tempat parkir. Indu yang sedang melintas dengan pura-pura tersandung menumpahkan minuman yang dibawanya kepada Langit yang baru saja memarkirkan sepeda motornya.
"Eh sorry , nggak sengaja ya gue, nggak marah kan lu,lu kan baik" ucap Rindu dengan nada meledek.
Dengan berusaha mengeringkan celananya menggunakan sapu tangan, Langit berlalu meninggalkan Rindu begitu saja tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Sementara Rindu tersenyum senang melihat Langit dengan wajah begitu.
Langit berjalan memasuki kelasnya, di dalam kelas Andy dan Robby bingung melihat celana Langit yang basah. Dengan sedikit tawa kecil Robby dan Andy pun bertanya sambil meledek Langit.
"Oi napa lu nyet, ngompol ya? Wah wah abis ngapain lu? hahahaha" tanya Robby.
"Sialan lu, ini nih si cewek aneh tau-tau numpahin minumnya ke gue" jawab Langit.
"Maksud lu Rindu? Lah perasaan lu di Bandung udah mesra banget sama dia" tanya Andy.
"Panjang deh kalo gue ceritain satu-satu, intinya sih selama ini dia tuh pura-pura deket gue , ya awalnya jaga nama baik sekolah tapi ternyata lama kelamaan dia niat pede pede in gue terus jatuhin gue" jawab Langit.
"Serius lu? Tau dari mana lu? Yang gue perhatiin sih dia serius kok pas di Bandung nggak keliatan gimana-gimana" Robby terkejut mendengar penjelasan dari Langit.
"Ada yang WA gue ngirim foto chatingan Rindu sama temen-temennya, lu pada baca sendiri aja dah" ucap Langit sambil menunjukkan foto-foto yang didapat dari orang tak dikenal kepada Robby dan Andy.
Andy dan Robby membaca pesan dalam foto itu satu-persatu, mereka terkejut jika isi pesan tersebut ternyata benar adanya. Tapi, Andy heran berarti yang mengirimkan foto tersebut pasti salah satu di antara orang yang berada dalam percakapan tersebut, antara Jessika, Gina, Chintia, atau mungkin Rindu itu sendiri. Untuk apa foto-foto tersebut dikirimkan? Kalau niat membodohi Langit mengapa dibuka? Pertanyaan itu yang tersirat dalam pikiran Andy. Belum sempat Andy berpikir akan jawabannya, bu Hesti selaku guru fisika kelas tersebut telah masuk kedalam ruang kelas. Seluruh siswa sibuk kembali ketempat duduknya masing-masing termasuk Langit dan teman-temannya.
Sesaat setelah masuk ke kelas Ibu Hesti langsung membagikan kertas ulangan kepada siswa yang duduk dibaris depan, untuk kemudian dioper kebelakangnya. Seluruh siswa terlihat terkejut mengetahui ada ulangan dadakan diadakan.
"Minggu depan kita sudah ujian semesteran, untuk itu minggu ini Ibu akan memberikan ulangan buat kisi-kisi ujian minggu depan" ucap Ibu Hesti.
Seluruh siswa terlihat mulai mengerjakan soal ulangan tersebut dengan serius, Ibu Hesti pun berjalan berkeliling mngamati siswa satu per satu sambil sesekali menasehati agar dikerjakan sendiri-sendiri karena minggu depan ujian soalnya akan berbeda-beda , akan ada 5 jenis soal yang dibagikan secara berselingan. Para siswa semakin terpacu untuk mengerjakan soal-soal tersebut lebih serius lagi. Menit demi menit telah berlalu, 45 menit semenjak soal dibagikan tak terasa telah terlewati, satu demi satu siswa mulai mengumpulkan kertas ulangan tersebut kedepan kelas, ke meja guru tepatnya. Situasi serupa terjadi dikelas Rindu cs. hanya saja dengan mata pelajaran yang berbeda.
Jam di dinding kelas telah menunjukkan waktu beristirahat telah tiba, siswa-siswi mulai keluar dari kelasnya masing-masing setelah bel berbunyi. Terlihat Langit keluar kelas dengan Andy, Robby, dan Rizky secara bersamaan berjalan menuju arah kantin. Begitupun Rindu dengan para sahabatnya menuju kearah yang sama. Di tengah perjalanannya menuju kantin, Langit berpapasan dengan Allisya yang baru keluar dari kelasnya juga. Langit memutuskan untuk ke kantin bersama Allisya sementara teman-temannya pergi kekantin mendahului Langit dan Allisya.
Suasana di kantin sekolah sangat ramai, ada yang berkumpul dengan teman-temannya, ada yang makan minum, ada pula yang hanya sendirian sambil membaca buku. Disudut kantin, terlihat Andy, Robby, dan Rizky yang duduk pada meja yang sama sedang membicarakan Langit.
"Lu sadar nggak Rob ada yang aneh sama yang ngirim foto-foto ke Langit itu" ucap Andy.
"Iya sih gue juga mikirnya gitu, kalau emang niat mau ngerjain Langit kan ngapain dibongkar, kalo gitu kan Langit jadi tahu jadi bisa jaga-jaga" balas Robby.
"Mungkin orang luar kali yang sengaja bikin settingan doang, kali aja ada yang nggak suka Langit deket sama Rindu, kali aja Allisya gitu kan dia deket sama Langit" terka Rizky.
"Bisa jadi sih itu" ucap Andy.
"Iya sih tapi kalo orang nya itu Allisya gue yakin sih bukan deh, Allisya tuh anggep Langit itu kakaknya sendiri" ucap Robby.
Di tengah mereka sedang membicarakan Langit, Langit datang bersama Allisya. Tanpa sungkan Langit langsung meminum es teh manis milik Robby yang ada di atas meja.
"Dateng-dateng maen minum aja, untung belum gue kasih racun tikus tuh minuman" gerutu Robby.
"Hahahaha sorry sorry, abis haus banget gue, lagian lu pada serius banget sih ngobrolnya, lagi pada ngomongin gue ya" ucap Langit.
"Dih parah Pede abis lu, siapa juga yang ngomongin lu, orang lagi ngomongin Allisya kan ya Robby" ucap Andy sambil menggoda Robby.
"Lah kok aku sih kak?" tanya Allisya dengan bingung.
"Hehehe nggak kok Sya , becanda kok, kita lagi ngomongin ujian minggu depan, kira-kira Robby bisa dapet nilai sempurna lagi nggak ya?" jawab Rizky dengan nada meledek Robby.
"Oh kak Robby pinter ya ternyata" Allisya dengan polosnya.
"Nggak Sya, itu mah pada ngeledekin aja, dapet 70 aja udah sujud syukur saya" ucap Robby.
" Oh iya kak aku mau mesen makan dulu ya, mau nitip ngak kak?" tanya Allisya
Belum selesai Allisya berucap, Robby memotongnya. "Nggak usah Sya, saya udah mesen kok tadi , ini lagi nunggu" ucap Robby
"Maaf kak Robby, maksud aku kak Langit, hihihi" ucap Allisya.
"Langit Rob bukan lu" ledek Andy.
"Namanya juga usaha" ujar Robby dengan malu.
Mereka pun kompak menertawakan Robby.
"Kakak minta tolong pesenin nasi uduk teteh aja Sya, pake gorengannya 2 ya , tempe sama bakwan. Minumnya es teh manis" jawab Langit.
"Oke deh kak, aku kesana dulu ya kak mesen dulu" ucap Allisya.
Allisya bangun dari duduknya dan segera pergi meninggalkan bangku menuju ke penjual makanan di kantin tersebut untuk memesan makanan. Sementara Langit dan teman-temannya masih melanjutkan canda tawa mereka di meja tersebut.