Danu, jatuh cinta pada seorang gadis cantik yang modis bernama Qiara. Ia menikahinya hanya karena rupa. Ia tak tau bahwa gadis tersebut berasal dari keluarga sederhana, Ia pun tak tau bahwa Qiara mau menikah dengannya hanya karena tergiur dengan harta kekayaan kedua orang tua Danu.
Danu tak mengindahkan nasehat kedua orang tuanya, hingga mereka memiliki dua orang anak, Danu dilanda kesulitan finansial akibat perusahaan tempatnya bekerja sedang pailit. Saat Danu sedang kesulitan ekonomi, Qiara justru bertemu dengan mantan kekasihnya. Disana lah terjadi pengkhiatan, Namun justru Qiara menuduh Danu yang mengkhianati pernikahan mereka, hingga membuat Qiara tega mengabaikan anak hasil pernikahannya dengan Danu, sebagai bentuk cara membalas pengkhiatan Danu padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zian Bachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eksploitasi Fanya
Tekanan dari Irwan tak lantas membuat Qiara sadar. Kebiasaan barunya berpesta, belanja barang mewah, dan traktir sana-sini demi mengimbangi gaya hidup Irwan justru makin menyedot uang tabungannya. Ya walaupun Irwan juga menggelontorkan banyak uang untuk kebersamaan mereka, Tapi Qiara juga harus menghidupi Mami dan saudara-saudara yang pengangguran.
Demi menutupi gaya hidup impulsif itu, Qiara mulai memotong pengeluaran rumah tangga—termasuk menunggak gaji Mbak Yanti, kakak iparnya sendiri yang mengasuh Fanya.
Sudah tiga bulan sejak keberangkatan Danu ke Kalimantan, gaji Mbak Yanti tak dibayar sepeser pun. Setiap kali Mbak Yanti menagih, Qiara selalu mengelak dengan alasan uang transferan dari Danu belum masuk atau terpakai untuk biaya cek kehamilan.
"Qi, Mas Hermanmu butuh uang buat bayar kontrakan sama servis motor! Mbak juga butuh makan!" protes Mbak Yanti suatu sore dengan napas terengah.
"Duh, Mbak! Nanti dulu sih, Mas Danu lagi seret di Kalimantan! Lagian Mbak tinggal di sini kan juga ikut makan barang aku!" ketus Qiara seraya menyemprotkan parfum mahal dan bersiap pergi menemui Irwan.
"Selama ini aku kurang baik apa sama kamu dan mas Herman, mbak. Bahkan sebelum ikut kerja bareng aku, kamu tinggal di rumah kontrakan yang cuma sepetak. Kamu bisa hidup nyaman disini, rumah gedong mewah, kamu bisa menganggap ini rumah sendiri, toh Danu tidak ada di rumah, aku pun sibuk kerja diluaran pulang aja hanya malam. Ngapain masih alasan ngontrak rumah?"
Mbak Yanti diam. Rasa sakit hati dan dendam membakar dadanya. Bagi Mbak Yanti, Qiara sudah benar-benar melunjak dan tak tahu diri. Mengetahui Qiara sering keluyuran hingga malam dan tak peduli lagi pada anak biologisnya, timbul niat picik di otak Mbak Yanti. Namun entah apa, Ia pun tak tahu apa yang harus ia lakukan untuk memberi pelajaran pada Qiara.
***
Siang itu, rumah sepi. Hanya ada mbak Yanti dan Fanya. Sementara Herman, suami mbak Yanti sudah berangkat untuk mengais rejeki. Begitu juga Qiara ia sedang tak di rumah karena sudah berangkat kerja.
"Ude..Anya mau eklim" suara cadel Fanya merengek meminta es krim. Mbak Yanti pun segera mengecek kulkas. Ternyata stok es krim di kulkas sudah habis
"Nanti ya, Nak. Mama Fanya beli kalau Mama sudah pulang kerja, stok dikulkas lagi habis, sayang" bujuk Yanti kepada ponakannya itu
"Anya au cekarang eklim nya (Fanya mau sekarang es kirmnya)" anak kecil itu merajuk.
Duh ni bocah nggak sabaran banget disuruh nunggu sampai Mamanya pulang. Batin Yanti dalam hatinya
"Udeeeee...huaaaa...eklim ude....huaaa..huaaaa"
Karena si bocah mulai menangis, Mbak Yanti pun bergegas menggendong bocah kecil itu dan ia segera keluar rumah menuju toko terdekat untuk membeli es krim. Ia hanya berjalan kaki karena toko yang dituju hanya berjarak sekitar sepuluh meter dari rumah mereka. Namun rupanya toko di dekat rumah mereka lagi tutup. Sementara Fanya terus merengek meminta es krim. Terpaksa Yanti berjalan kaki agak jauh untuk mencari minimarket terdekat. Di dekat lampu merah sana ada sebuah minimarket, dengan berjalan kaki menuju minimarket tersebut. Namun untuk sampai disana, ia harus menyebrang jalan.
Matahari sangat terik siang ini. Dengan menggunakan jarik, Yanti menggendong ponakannya. Rupanya Fanya mengantuk, ia tertidur dalam gendongan. Karena panas yang sangat terik, Yanti menutupi wajah ponakannya itu dengan kain jarik. Saat hendak menyebrang jalan, trafict light sedang berwarna hijau hingga kendaraan melintas dengan kecepatan tinggi. Lalu lintas sangat ramai, iapun menunggu dibawah tiang traffic light, tiba-tiba ada beberapa pengendara mobil yang melemparkan uang receh ke arahnya, terkumpul uang receh nominal seribuan sebanyak enam biji. Mbak Yanti terkaget. Apa-apaan? dikira kita pengemis? batinnya dalam hati.
Lampu traffic light berganti merah. Ia segera memungut uang receh tersebut. Lumayan juga buat dimasukan kecelengan, batinnya lagi. Usai memungut uang tersebut ia segera menyebrang jalan dan berjalan kaki lewat trotoar menuju rumah adik iparnya.
Sampai dirumah, mbak Yanti segera menidurkan Fanya. Hufttt, dasar anak kecil. Nangis minta es krim, eh belum dimakan es kirm nya dia malah tidur. Gerutu mbak Yanti seorang diri. Iapun menaruh es kirm itu ke dalam freezer.
***
Pagi itu, Fanya kembali merengek meminta es krim kesukaannya. Lagi-lagi mbak Yanti terpaksa harus berjalan kaki menuju minimarket yang ada disebrang jalan. Saat hendak pulang, mereka harus menyebrang jalan dan melewati sebuah lampu merah. Mbak Yanti yang sedang menunggu lampu merah menyala, berdiri dipinggir jalan sembari menggendong ponakannya itu. Lagi-lagi ada yang memberinya uang lembaran dua ribuan.
'Apaan nih?' ia bertanya dalam hati. Namun seketika ia mencerna, mungkinkah orang-orang yang sedang lalu lalang dijalan raya ini menganggapnya seorang pengemis? dan karena mereka merasa kasihan, maka mereka memberi sejumlah uang? Ah, kenapa tidak dimanfaatkan saja kesempatan ini? pekik mbak Yanti dalam hati. Toh ia kepepet, gaji yang seharusnya menjadi haknya tidak diberikan oleh adik iparnya itu. Ya walaupun kini ia sudah tinggal dirumah Qiara, namun ia juga ada kebutuhan lain yang harus ia penuhi.
Ia memilih duduk dipinggir jalan, sambil menggendong Fanya yang ternyata tertidur lelap usai ia menghabiskan es krimnya. Tak sedikit pengguna jalan yang memberinya uang receh seribuan maupun uang kertas dua ribuan. Dengan menggunakan kain jarik yang ia pakai untuk menggendong Fanya, ia kumpulkan uang-uang tersebut.
Tak terasa hari sudah siang, matahari makin panas membakar kulit. Fanya tampak terbangun dari tidurnya. Mbak Yanti memutuskan untuk pulang dan memandikan Fanya karena keringat membanjiri tubuhnya.
Yanti kemudian menghitung jumlah uang receh yang dia dapat. Lumayan, seratus ribu lebih hanya dalam hitungan jam. Tak ada salahnya mulai besok ia mempersiapkan diri untuk memulai 'pekerjaan barunya' itu.
Yanti kemudian menyiapkan properti untuk aksinya besok. Agar lebih dramatis seperti yang ia lihat diberita-berita di Televisi. Ia Menyiapkan topi agar panas matahari tak terlalu menyengat wajah. Tak lupa menyiapkan baju-baju yang tampak kusut agar lebih dramatis. Juga memberi makeup agar ia dan Fanya tampak kumal dan terlihat menderita. Ia memberi obat tidur pada Fanya agar tak terbangun. Lumayan, hasil yang di dapat mbak Yanti. Toh Qiara juga sudah tidak peduli sama anaknya.
Mulai hari itu, setiap kali Qiara pergi dari rumah, Mbak Yanti tidak lagi menjaga Fanya dengan kasih sayang. Balita mungil yang tak berdosa itu dibawa Mbak Yanti ke persimpangan lampu merah di daerah padat perkotaan. Di bawah terik matahari yang menyengat, Fanya yang bajunya disengaja dibuat kusam dan kotor, didudukkan di pinggir jalan untuk meminta-minta kepada para pengendara.
"Biar kamu tahu rasa, Qi! Kalau ibunya nggak mau bayar gaji saya, anaknya yang harus cari uang buat saya!" bisik Mbak Yanti sambil mengawasi Fanya dari kejauhan.
Fanya yang masih polos hanya bisa menangis ketakutan di tengah kebisingan asap kendaraan, memegang mangkok plastik kecil, memanggil nama mamanya yang sedang tertawa riang di restoran mewah bersama Irwan.
Sementara itu, ribuan kilometer jauhnya di pedalaman Kalimantan, Danu berjuang mati-matian. Ia tidak tahu-menahu bahwa uang dikirimkannya setiap bulan habis dilalap kerikil moral istrinya, bukan untuk Fanya.
Danu memperketat pola hidupnya. Ia menolak membeli barang-barang pribadi, mengambil jam lembur sebanyak mungkin di lokasi tambang, dan berhemat habis-habisan. Makan seadanya di kantin proyek menjadi rutinitasnya.
"Kamu makin kurus aja, Mas. Jangan terlalu memaksakan diri, nanti sakit," ujar Aisyah penuh perhatian saat menyodorkan vitamin dan kotak makan siang di sela-sela rehat analisis proyek.
Danu tersenyum tipis, matanya menyiratkan kelelahan luar biasa namun penuh tekad. "Nggak apa-apa, Ca. Qiara lagi hamil anak kedua. Fanya juga makin besar, sebentar lagi butuh biaya sekolah. Saya harus nabung sebanyak-banyaknya dari bonus proyek ini biar kehidupan anak dan istriku terjamin."
Aisyah menatap Danu dengan rasa kagum yang makin dalam—melihat sosok pria yang begitu bertanggung jawab, setia, dan rela mengorbankan raga demi keluarga. Namun di balik keagungan niat Danu, ia tidak tahu bahwa setiap rupiah yang ia tabung dengan keringat dan air mata, sedang dikhianati oleh jalanan yang membakar kulit putri kecilnya di Kota Surabaya sana.