NovelToon NovelToon
Atas Trauma Kakakku, Aku Hancurkan Kau Lewat Pamanmu

Atas Trauma Kakakku, Aku Hancurkan Kau Lewat Pamanmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Hello Ketty.

Bertahun-tahun Sarah disiksa suaminya hingga trauma berat dan akhirnya memilih untuk pergi. Adik kembarnya, Sera, datang untuk membalas dendam. Mengetahui suami kakaknya licik dan telah merampas seluruh harta kakaknya, Sera berjanji akan mengambil kembali semua hak milik kakaknya—meski harus merangkak naik ke atas ranjang Sean, paman dari suami kakaknya yang berkuasa.

Berhasilkah rencana Sera? Bisakah ia mengambil kembali segala hak milik kakaknya? Atau penyamarannya akan terbongkar, menjatuhkannya ke dalam bahaya yang jauh lebih mengerikan di tangan keluarga yang kejam dan penuh kelicikan itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hello Ketty., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Pagi harinya, Sera terbangun dan turun perlahan dari ranjang dengan mata yang masih setengah terpejam.

Gadis itu berniat kembali ke kamar Adrian untuk mandi dan membersihkan tubuhnya. Kebetulan kamar tamu yang ia tempati berada tepat di sebelah kamar Sean.

Sembari sesekali menguap, Sera berjalan gontai dengan langkah lambat, matanya masih terasa berat.

Di tengah jalan...

Bruk!

Tiba-tiba Sera menabrak sesuatu yang keras. Ia hampir terjatuh, namun sosok laki-laki itu segera menahan tubuhnya dengan sigap, tangan kekarnya menumpu di pinggang Sera.

Kesadaran Sera seketika kembali sepenuhnya, matanya terbuka lebar dan bertemu langsung dengan tatapan dingin Sean.

Pria itu masih menahan tubuhnya dengan posisi yang terlihat sangat intim.

Satu detik...

Dua detik...

Tiga detik...

Keduanya sama-sama terdiam terpaku.

Deg... deg... deg...

Jantung Sera berdetak kencang.

Begitu tersadar, ia segera melepaskan diri dan berdiri tegak kembali.

"Kau dari mana? Kenapa kau keluar dari kamar tamu?" tanya Sean dengan nada curiga menatap gadis itu.

Sera terdiam. Perlahan tangannya terangkat menyentuh dadanya sendiri, merasakan detak jantung yang tak kunjung tenang.

Kenapa aku merasa seperti ada sesuatu yang berubah pada diriku? Tidak! Jangan bilang aku mulai jatuh hati pada pria ini, batin Sera gelisah.

Tanpa menjawab pertanyaan Sean, ia langsung melangkah pergi.

Sean sedikit bingung sekaligus heran melihat tingkah laku wanita itu yang aneh menurutnya. Berbeda dengan Sarah yang dia kenal selama ini.

_____

Alena tiba-tiba menarik tangan Adrian, menyeretnya masuk ke dalam kamarnya dengan tergesa-gesa dan langsung memutar kunci pintu hingga terkunci rapat.

"Alena, apa yang kau lakukan? Kalau sampai kita dilihat Paman Sean, kita bisa tamat!" bisik Adrian masih terkejut dengan tindakan mendadak Alena.

Alena menatapnya dengan tatapan horor.

"Seharusnya aku yang tanya Mas! Apa yang kau lakukan semalam! Apa kau sudah kehilangan akal sehatmu?" Alena berusaha menahan suaranya agar tidak terdengar ke luar dengan napas memburu menahan tangis dan amarah.

"Apa maksudmu Alena? Aku tidak mengerti," elak Adrian.

"Jangan pura-pura bodoh kamu, Mas! Kau sendiri yang berjanji enam bulan yang lalu kalau kau tidak akan pernah menyentuh Sarah lagi! Aku sudah memberikan segalanya, seluruh hidup dan tubuhku hanya untuk kamu! Kok bisa-bisanya kau kembali ke sisi istrimu dan melanggar janjimu!"

Adrian mencoba meredakan emosi wanita itu, lalu mengangkat kedua tangannya untuk memegang lembut pipi Alena yang memerah marah.

"Dengarkan aku baik-baik, Alena... Kau dengar sendiri kan apa yang dikatakan Kakek Adiguna kemarin? Dia hanya menginginkan cicit dari Sarah. Dia tidak mau cicit dari wanita lain, dia tegas bilang hanya mau keturunan yang lahir dari rahim Sarah. Jadi apa lagi yang bisa aku lakukan?"

"Kau ini bodoh ya, Mas? Kenapa harus kau sendiri yang melakukannya? Kita bisa saja menyuruh orang lain untuk melakukannya secara diam-diam supaya Sarah hamil! Kenapa harus kau yang mengotori dirimu dan melanggar janji kita!" Pekik Alena.

Adrian terdiam berusaha mencerna. Benar juga... Apa yang dikatakan Alena itu masuk akal. Kenapa aku tidak pernah memikirkannya? Yang penting di atas kertas Sarah terlihat hamil, Kakek pasti akan memberikan semua hadiah yang dia janjikan. Yang jelas aku mendapatkan semua kekayaan itu.

"Apa benar bisa seperti itu?" tanya Adrian.

Alena tersenyum licik. "Tentu saja bisa, Mas. Dan aku punya rencana yang jauh lebih bagus lagi.

"Apa, Sayang?" Memeluk pinggang Alena dan mencium bibirnya sekilas.

"Bagaimana kalau kita usahakan supaya Sarah hamil? Nanti kalau Sarah sudah hamil, aku pun akan mengatur supaya aku juga hamil. Setelah tiba waktunya melahirkan, kita tukar saja bayinya dengan anak kita sendiri. Jadi pada akhirnya, tetap anak kitalah yang akan menjadi pewarisnya. Kau mengerti maksudku kan, Mas?"

Adrian ikut tersenyum lebar. "Kau memang benar-benar wanitaku." Kembali mencium Alena.

Sera yang sejak tadi melihat dan mendengar seluruh pembicaraan mereka dari balik layar, tersenyum menyaksikan kebodohan sepasang sejoli itu.

Kau pikir semudah itu semuanya berjalan sesuai keinginan kalian? batinnya.

Ternyata, tanpa sepengetahuan mereka semua. Sera sudah memasang kamera tersembunyi di setiap sudut kamar Alena, Martha, Bianca, Raisa, Rika, hingga kamar Adrian yang ia tempati.

Hanya ada dua ruangan yang tidak ia pasangi alat rekam: kamar Sean dan kamar Bik Siska. Alasannya sederhana—semua yang terpasang kamera adalah orang-orang yang sudah ia tandai masuk dalam daftar sasaran dendamnya.

"Baiklah... Kalau kalian ingin bermain, aku pun akan ikut bermain-main dengan kalian," ucap Sera pelan.

Ia pun keluar kamar dan melangkah mantap menuju lantai bawah.

Di anak tangga paling bawah, Sera sempat mendengar bisikan Bianca dan Martha.

"Bu Martha, kenapa Tuan Sean belum pergi juga? Biasanya kan beliau cuma menginap satu malam saja di sini. Kalau hari ini beliau masih ada, berarti sudah genap dua hari Tuan Sean menetap," bisik Bianca.

"Aku juga tidak tahu. Padahal aku sudah tidak sabar ingin melihat penderitaan wanita jalang itu. Aku ingin sekali menghajarnya habis-habisan. Semuanya terhalang karena Tuhan Sean yang tidak mau pergi!" jawab Martha penuh kekesalan.

Ia menyimpan dendam kasumat pada Sera yang belakangan ini begitu berani melawan dan tak lagi mau menuruti setiap perkataannya.

Tidak semudah itu mak lampir, kalian para wanita ular... Kalian belum tahu siapa yang sedang kalian hadapi, batin Sera.

Sera pun melangkah menuju meja makan untuk sarapan, namun di sana belum ada makanan yang siap tersaji.

Hanya Bik Siska yang sibuk sendirian menyiapkan sesuatu.

"Kenapa belum ada sarapan, Bik?" tanya Sera pelan.

"Ya, Non. Maafkan Bibi, soalnya Bibi tadi telat bangun," jawab Bik Siska merasa takut.

Tak lama kemudian, Sean pun datang, disusul yang lainnya. Mereka masing-masing mengambil tempat duduk di kursi yang sudah disediakan.

"Bik, mana sarapannya? Kok belum di siapin?" tanya Rika tidak sabar.

Sean dengan tenang menarik kursi dan duduk, menatap meja makan yang masih kosong melompong.

"Mana semua pelayan?" tanyanya singkat tapi berhasil membuat beberapa orang menelan salivanya.

Martha yang sedari tadi bergosip di luar, tergesa-gesa berlari masuk ke ruang makan saat menyadari Sean sudah duduk di sana.

"I-iya, Tuan... Saya di sini..."

"Kau lihat sekarang jam berapa?" Tanya Sean datar.

Martha melihat ke arah jam. Dan ternyata sudah sangat telat untuk menyajikan sarapan.

"Sekarang sudah pukul setengah tujuh. Kau tahu kan aku harus berangkat ke kantor. Kenapa sampai jam segini sarapan belum ada di meja?" tanya Sean dingin.

Tubuh Bianca dan Martha gemetar hebat. "Itu... Saya akan segera menyiapkannya, Tuan..."

Martha berniat bergerak pergi, namun Sean mengangkat tangannya seolah memberi isyarat agar berhenti.

"Kumpulkan semua pelayan di sini."

"B-baik, Tuan..." Martha yang gemetar ketakutan terpaksa memanggil dan mengumpulkan sisa pelayan yang ada.

Sean mengerutkan kening, menatap Martha dengan tatapan tajam seolah ingin menelan hidup-hidup, saat melihat hanya tersisa tiga orang pelayan bersamanya.

"Dulu saya sudah mengatur pelayan di rumah ini. Kalau tidak salah hitung, ada sepuluh orang termasuk kau, Martha. Ke mana yang lainnya?" tanya Sean dengan nada sedingin es, membuat seluruh ruangan makan terasa membeku.

Bibir Martha bergetar hebat. "I-itu... Tuan... Maksud saya... Saya terpaksa... Saya terpaksa memecat sebagian pelayan... Untuk menghemat biaya pengeluaran, Tuan... Sebab di sini tidak banyak pekerjaan," jawabnya terbata-bata.

"Tidak banyak pekerjaan?" Sean mencondongkan dirinya sedikit yang membuat Martha berkeringat.

"Mansion sebesar ini kau bilang tidak banyak pekerjaan? Kau sedang bercanda, Martha?" ujar Sean dengan nada siap meledak.

Martha meremas ujung bajunya dengan cemas, bingung harus mencari alasan apa lagi.

Selama tiga tahun ini, pelayan-pelayan itu perlahan dipecat satu per satu, dan Sarah lah yang menjadi sasaran kemarahan serta dipaksa mengerjakan semua pekerjaan rumah seorang diri tanpa upah.

Sean tidak pernah tahu hal itu, sebab ia tidak pernah tinggal lama di kediamannya. Ini adalah pertama kalinya Sean menetap lebih dari sehari, sehingga akhirnya ia mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres di dalam rumahnya sendiri.

BRAK!!!

Sera mencengkram pinggir kursinya saat melihat kemarahan Sean. Dia tidak menyangka, Sean itu kalau marah sangat mengerikan.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!