Bima mengira ia bisa mengubur masa lalunya yang kelam di Desa . Mantan komandan regu pasukan khusus ini memilih hidup bersahaja sebagai petani jagung dan pemancing di tepi sungai demi melarikan diri dari trauma perang. Namun, kedamaian yang ia bangun susah payah runtuh setiap kali ia teringat pada Joni, sahabat sekaligus anak buahnya yang gugur dalam pelukan Bima akibat terjangan peluru senapan mesin musuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
koki terbaik
Pagi-pagi sekali, ketika embun masih tebal menyelimuti danau dan matahari bahkan belum sepenuhnya menampakkan diri, Bima sudah terbangun. Kebiasaan hidup bertahun-tahun di barak militer serta disiplin sebagai seorang petani jagung membuatnya tidak bisa tidur mendengkur hingga siang. Setelah merapikan bantal dan selimut di sofa, dia melangkahkan ringan menuju dapur villa yang mewah dan modern. Dengan cekatan, mantan ketua regu pasukan khusus itu mulai mengumpulkan bahan makanan yang tersedia di dalam lemari es dan mulai memasak.
Tidak butuh waktu lama, aroma wangi yang sangat menggoda dari tumisan bumbu dan masakan segar seketika menyeruak, mengalir melewati celah pintu kamar atas dan langsung mengganggu indra penciuman Viona. Gadis itu perlahan membuka matanya, mengerutkan hidung sembari menghirup aroma lezat yang membuat perutnya mendadak keroncongan. Dengan kesadaran yang belum pulih sepenuhnya, Viona menoleh ke arah sofa. Dia sedikit terkejut melihat Bima sudah tidak ada di sana. Sofa itu sudah rapi bersih seperti tidak pernah ditiduri semalaman.
Didorong oleh rasa penasaran dan rasa lapar yang tidak bisa ditahan, Viona bangkit dari ranjang. Dengan rambut yang sedikit acak-acakan khas orang baru bangun tidur, dia melangkah turun menyusuri tangga menuju lantai bawah. Begitu sampai di area lantai satu, Viona kembali dibuat tertegun.
Bima rupanya sudah duduk tenang menunggu di ruang makan. Di atas meja kayu panjang yang mewah, sudah lengkap tersaji berbagai macam hidangan hangat yang mengepulkan asap tipis.
Bima mendongak, menatap istrinya yang baru turun dengan piyama sutranya. "Mandilah dulu, setelah itu kita makan bersama," ujar Bima dengan suara baritonnya yang tenang dan terdengar sangat sejuk di pagi hari.
Mendengar perintah yang begitu perhatian namun tegas itu, Viona mendadak merasa canggung dengan penampilannya yang masih berantakan. Tanpa membantah sedikit pun, dia langsung bergegas kembali ke kamar atas untuk mandi secepat kilat. Tak sampai sepuluh menit, Viona sudah kembali turun dengan tubuh yang segar, rambut yang basah rapi, dan langsung mengambil posisi duduk di hadapan Bima.
"Cobalah," kata Bima singkat sembari menyodorkan sendok penangkap lauk ke arahnya.
Viona yang masih menjaga gengsinya sebagai gadis tsundere mencoba memasang wajah datar. Dia mengambil satu irisan sayur tumis dari piring terdekat, lalu mulai memasukkannya ke dalam mulut untuk mencicipinya. Namun, begitu lidahnya menyentuh masakan tersebut, sepasang mata bulat Viona langsung melebar sempurna. Rasa gurih, kesegaran bahan, dan tingkat kematangan bumbunya benar-benar meledak di mulutnya, sangat pas dan sesuai dengan selera lidahnya yang terbiasa dengan makanan kelas atas.
"Enak, Bim!" puji Viona spontan, melupakan sejenak topeng dingin yang sejak kemarin dia pasang di depan Bima.
Bima hanya tersenyum tipis melihat binar kepuasan di wajah istrinya. "Makanlah yang banyak," sahut Bima lembut.
Mendapat lampu hijau, tanpa ragu sedikit pun Viona langsung menyendok nasi dan mengambil lauk-pauk apa saja yang dia inginkan ke atas piringnya. Dia makan dengan sangat lahap, seolah lupa bahwa semalam dia sangat kesal pada pria di hadapannya ini. Di sela-sela kunyahannya, rasa penasaran Viona kembali membuncah.
"Kamu belajar masak di mana, Bim? Petani desa kok bisa masak sebegini enaknya?" tanya Viona menyelidik.
Bima mengunyah makanannya perlahan sebelum menjawab dengan santai, "Cuma masakan sederhana saja. Kebetulan saja rasanya cocok dengan seleramu." Bima sengaja menyembunyikan fakta bahwa selama bertahun-tahun di hutan belantara saat tugas militer, bertahan hidup dan mengolah bahan makanan dengan rasa terbaik adalah keahlian dasar yang harus dia kuasai.
"Kamu tahu tidak?" potong Viona cepat, mengabaikan jawaban merendah suaminya. "Ini rasanya sekelas dengan masakan koki bintang lima di restoran langganan keluargaku!" puji Viona lagi dengan antusias, berkata dengan mulut yang masih sedikit penuh oleh makanan.
Bima terkekeh pelan melihat tingkah laku Viona yang ternyata bisa bersikap sangat polos jika sudah berurusan dengan makanan enak. "Iya, iya. Habiskan saja semuanya," kata Bima menyemangati.
Mendengar kata 'habiskan semuanya' sambil melirik ke arah sisa lauk yang masih melimpah di atas meja, Viona mendadak menghentikan kunyahannya. Dia langsung melotot tajam ke arah Bima dengan pipi yang menggembung penuh makanan.
"Bimaaaaa! Kamu mau membuatku jadi gendut, ya?!" seru Viona ketus dengan nada tsundere-nya yang kembali membubung tinggi, membuat suasana sarapan pagi pertama mereka di villa tepi danau itu mendadak penuh dengan canda tawa yang hangat.