Alya pernah menjadi perempuan yang mengangkat seorang pria ke puncak, tapi hidupnya berakhir dengan luka dan pengkhianatan.
Saat kembali ke hari perjanjian pernikahan, adiknya merebut Rafi, pria yang diyakini akan menjadi pewaris Pradipta Group. Alya justru “dibuang” untuk menikahi Arga, putra sakit-sakitan yang bahkan tak hadir di akadnya sendiri.
Namun mereka tidak tahu satu hal.
Takdir yang mereka rebut bukan milik Rafi.
Takdir itu ada di tangan Alya.
Di rumah Pradipta yang penuh racun, rahasia, dan ambisi, Alya akan menyelamatkan Arga, menghancurkan para pengkhianat, dan merebut kembali hidup yang seharusnya menjadi miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Bab 06
Ratna tidak langsung menjawab.
Di ujung telepon, kesunyian itu lebih jujur daripada bantahan apa pun.
Alya menunggu.
Ia tidak perlu berteriak. Orang seperti Ratna tidak takut pada suara tinggi. Mereka takut pada bukti yang bisa dibawa ke ruangan yang salah, di depan saksi yang salah, pada waktu yang salah.
"Kamu baru satu malam menjadi istri Arga," kata Ratna akhirnya. "Jangan merasa lebih tahu daripada dokter yang merawatnya bertahun-tahun."
"Saya tidak merasa lebih tahu."
"Lalu kenapa kamu menghentikan obatnya?"
"Karena botol ini tidak punya label resmi."
"Itu racikan dokter."
"Racikan dokter tetap punya catatan."
"Alya."
"Bu Ratna."
Nada mereka sama-sama rendah.
Lilis berdiri di sudut kamar dengan wajah pucat. Marni menatap lantai, tetapi rahangnya mengeras. Di ranjang, Arga diam. Matanya terbuka, dan Alya tahu ia mendengar setiap kata.
Ratna menarik napas pelan. "Baik. Simpan obat itu. Besok pagi Dokter Hamzah akan datang menjelaskan semuanya. Jangan membuat keputusan medis sendiri malam ini."
"Saya akan menunggu Dokter Hamzah bersama dokter independen."
"Dokter independen?"
"Iya."
"Atas izin siapa?"
"Atas izin saya sebagai istri sah."
Ratna tertawa pendek. "Kamu pikir menikah beberapa jam membuatmu punya hak mengatur semua hal?"
"Tidak semua hal. Hanya hal yang berkaitan dengan tubuh suami saya."
Arga menoleh sedikit.
Ratna terdengar menahan amarah. "Tubuh Arga sudah bertahun-tahun kami jaga."
"Hasilnya dia berbaring seperti ini."
Kali ini, hening di telepon jauh lebih panjang.
Marni mengangkat kepala dengan wajah ngeri.
Ratna berkata pelan, "Kamu sangat berani."
"Saya hanya teliti."
"Keberanian tanpa adab bisa menghancurkan perempuan."
"Adab tanpa akal juga bisa membunuh orang sakit."
Telepon terputus.
Marni langsung berkata, "Nyonya sudah keterlaluan."
Alya meletakkan ponsel di meja. "Kamu boleh keluar."
"Saya kepala rumah tangga di sini."
"Dan saya istri Arga."
"Nyonya Ratna--"
"Kalau kamu menyebut nama Bu Ratna sekali lagi untuk menolak perintahku, besok pagi kamu tidak perlu kembali."
Wajah Marni merah padam.
Ia menatap Arga. "Tuan, saya sudah mengurus rumah ini bertahun-tahun. Saya tidak mungkin mencelakai Tuan."
Arga menatapnya tanpa ekspresi. "Keluar."
Satu kata.
Marni seolah kehilangan napas.
"Tuan Arga..."
"Keluar."
Marni menggenggam ponsel, lalu menunduk kaku. "Baik."
Setelah ia pergi, kamar terasa lebih lega.
Lilis masih berdiri seperti orang menunggu vonis.
Alya berkata, "Tutup pintu."
Lilis menutup pintu.
"Sekarang katakan," Alya menatapnya, "apa yang kamu tahu?"
Lilis menggigit bibir sampai pucat. "Saya tidak tahu banyak, Nyonya."
"Kalau tidak tahu banyak, katakan yang sedikit."
Lilis melihat Arga. "Tuan, maaf."
Arga menjawab datar, "Jangan minta maaf sebelum bicara."
Lilis menelan ludah. "Obat cair itu diberikan setiap malam. Kalau Tuan menolak, Bu Marni akan bilang Tuan sengaja membuat kondisi sendiri memburuk. Dokter Hamzah bilang obat itu membantu tidur dan menenangkan saraf."
"Efeknya?" tanya Alya.
"Besok paginya Tuan sulit bangun. Kadang bingung. Kadang napas pendek."
Arga menutup mata.
Alya melihat tangannya mengepal di atas selimut.
"Sudah berapa lama?"
"Saya hanya tiga bulan di sini. Tapi perawat sebelumnya pernah bilang obat itu sudah lama ada."
"Nama perawat sebelumnya?"
"Mbak Rina."
"Kenapa dia keluar?"
Lilis menunduk. "Katanya mencuri."
"Kamu percaya?"
"Tidak."
"Kenapa?"
"Karena sebelum keluar, dia pernah berbisik ke saya. Dia bilang jangan terlalu banyak bertanya kalau masih ingin bekerja."
Kamar hening.
Arga membuka mata. "Kenapa kamu baru bicara sekarang?"
Lilis hampir menangis. "Saya takut, Tuan. Saya butuh pekerjaan. Ibu saya cuci darah. Kalau saya dipecat, saya tidak tahu harus bagaimana."
Arga tidak menjawab.
Alya tidak menghibur.
Rasa takut tidak hilang hanya karena orang mengatakan tidak apa-apa. Ia hilang ketika seseorang punya jalan keluar.
"Mulai malam ini," kata Alya, "kamu tetap bekerja. Gajimu tetap dari rumah ini, tetapi perintah medismu dariku. Kalau ada yang menekanmu, rekam. Kalau ada yang memintamu mengganti obat, lapor. Kalau kamu berbohong, aku tidak akan melindungimu."
Lilis mengangguk cepat. "Iya, Nyonya."
"Sekarang ambil semua obat di kamar ini. Semua."
Lilis segera bergerak.
Alya berdiri dan membuka laci meja samping ranjang. Ada beberapa strip obat, vitamin, botol tetes mata, kapsul dalam plastik tanpa nama, dan sebuah kotak kecil berisi ampul.
Ia mengeluarkan semuanya.
Arga mengawasinya.
"Kamu selalu seperti ini?"
"Seperti apa?"
"Masuk ke kamar orang sakit lalu mengambil alih."
"Kalau orang sakit itu suamiku dan obatnya tidak jelas, iya."
"Kamu sangat nyaman menyebutku suamimu."
Alya menatapnya sekilas. "Kamu keberatan?"
"Aku hanya belum terbiasa."
"Biasakan. Itu berguna."
"Untuk siapa?"
"Untukku. Untukmu. Untuk membuat Ratna kesal."
Arga tertawa pelan, tetapi kali ini ia menahan batuk.
"Kamu membencinya?"
"Belum."
"Belum?"
"Aku tidak membuang emosi untuk orang sebelum tahu nilai strategisnya."
Arga menatapnya lama.
"Kamu bukan seperti perempuan yang dikirim keluarga Wiratama untuk menjadi perawat gratis."
"Aku memang bukan perawat gratis."
"Lalu apa?"
Alya menata obat di nampan. "Orang yang bisa membuatmu hidup lebih lama."
"Dengan imbalan?"
Ia cerdas.
Bagus.
Alya duduk kembali di kursi.
"Akses ke semua informasi tentang Pradipta Group. Perlindungan sebagai istrimu. Dan saat waktunya tiba, kamu tidak boleh menghalangi langkahku."
Arga tersenyum tipis. "Langkah ke mana?"
"Belum perlu tahu."
"Kamu bicara dengan orang yang mungkin mati kapan saja."
"Kalau kamu patuh, tidak secepat itu."
"Patuh?" Alis Arga terangkat. "Kamu bahkan belum satu jam duduk di kamarku."
"Dan dalam satu jam itu aku menemukan obat tanpa label, perawat ketakutan, kepala rumah tangga yang lebih patuh pada ibu tirimu, dan dokter yang perlu ditanyai. Bayangkan apa yang bisa kutemukan dalam seminggu."
Arga tidak membantah.
Di balik wajah pucatnya, ada sesuatu yang bergerak. Bukan percaya. Belum. Lebih mirip rasa ingin tahu yang sudah lama tidak diberi makan.
"Keluarga Wiratama tahu kamu seperti ini?"
"Tidak."
"Rafi tahu?"
Alya mengangkat mata.
Nama itu keluar terlalu mendadak.
"Kenapa Rafi?"
Arga menatapnya. "Karena harusnya adikmu yang menikah denganku, kan? Lalu tiba-tiba dia memilih Rafi. Aku penasaran apakah kamu kecewa."
Alya tertawa kecil.
Arga tampak terkejut.
"Apa yang lucu?"
"Kamu terlalu lama dikurung di kamar sampai mengira Rafi layak diperebutkan."
Untuk pertama kalinya, Arga benar-benar tersenyum.
Tipis. Lelah. Tapi nyata.
"Kamu tidak menyukainya?"
"Tidak."
"Dia sehat."
"Banyak orang sehat yang tidak berguna."
"Aku sakit."
"Banyak orang sakit yang tetap berbahaya."
Arga menatapnya dengan mata gelap. "Kamu ingin aku berbahaya?"
"Aku ingin kamu hidup cukup lama untuk memilih."
"Memilih apa?"
"Menjadi korban atau menjadi masalah."
Kalimat itu jatuh di antara mereka.
Lilis kembali dengan kotak obat tambahan. Ia meletakkannya di meja, lalu berkata pelan, "Nyonya, ini semua yang saya temukan."
Alya memeriksa satu per satu.
"Mulai malam ini, tidak ada obat cair. Tablet yang punya resep tetap diberikan setelah aku periksa dosisnya. Infus dihentikan setelah cairan ini habis, kecuali ada instruksi dokter independen."
Lilis mengangguk.
Arga bertanya, "Kalau aku tidak bisa tidur?"
"Bagus. Kita bisa bicara."
"Aku tidak yakin itu lebih baik."
"Kamu akan terbiasa."
Ketukan pintu terdengar lagi.
Kali ini Yusuf masuk dengan membawa map cokelat. "Nyonya, arsip dari Bu Marni."
"Di mana Marni?"
"Di bawah. Dia bilang pusing."
"Pusing atau menelepon Ratna?"
Yusuf tidak menjawab.
Alya mengambil map itu.
Di dalamnya ada beberapa hasil lab, tetapi tidak lengkap. Banyak halaman fotokopi. Beberapa tanggal hilang. Ada resep Dokter Hamzah, tetapi tidak ada catatan obat cair.
Terlalu rapi untuk disebut lalai.
Terlalu kosong untuk disebut lengkap.
Alya memotret semua halaman.
Lalu ponselnya bergetar.
Pesan dari Hadi.
`Aku akan simpan salinan perjanjian. Jangan gegabah.`
Alya membalas:
`Gegabah itu memberi obat tanpa resep. Aku hanya menghentikannya.`
Hadi tidak membalas lagi.
Arga melihatnya. "Ayahmu?"
"Ayah angkat."
"Kamu menekankan kata itu."
"Karena itu fakta."
"Mereka memperlakukanmu buruk?"
Alya menutup map. "Mereka memperlakukanku cukup baik untuk merasa berhak menentukan hidupku."
Arga diam.
Kalimat itu mungkin terlalu akrab baginya.
Di luar, rumah kembali sunyi.
Alya berdiri. "Aku akan tidur di kamar sebelah."
"Bukan di sini?"
"Kamu kecewa?"
"Aku hanya memastikan."
"Kita baru bertemu. Kamu sakit. Aku waras."
Arga tersenyum samar. "Kata-katamu selalu menyenangkan."
"Tidurlah kalau bisa. Kalau sesak, panggil Lilis. Kalau ada yang memaksa masuk, panggil aku."
"Dan kalau kamu yang memaksa masuk?"
Alya berhenti di pintu.
"Maka kamu sebaiknya berharap aku membawa obat yang benar."
Ia keluar.
Di dalam kamar, Arga menatap pintu yang tertutup.
Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, obat malam tidak masuk ke tubuhnya.
Dan untuk pertama kalinya juga, ia tidak yakin apakah perempuan yang baru menjadi istrinya itu datang sebagai penyelamat atau bencana.
Namun satu hal pasti.
Rumah yang selama ini sunyi mulai retak.