Budiman Sekar, mahasiswi biasa yang butuh uang, melamar kerja di PT Lestari Group. Tapi nasib berkata lain — lamarannya dialihkan, dan dia berakhir jadi pengasuh pribadi nomor 88 untuk Tan Ardian, mantan Direktur Utama yang kini terpaksa duduk di kursi roda setelah kecelakaan misterius.
Ardian dingin. Angkuh. Sudah mengusir 87 pengasuh sebelumnya.
Tapi Sekar bukan orang yang gampang menyerah. Dia berani, blak-blakan, dan tidak takut membalas tatapan tajam sang CEO dengan senyum lebar.
Yang tidak Sekar tahu: Ardian menyimpan banyak rahasia. Tentang kecelakaan itu. Tentang kakinya. Dan tentang buku catatan kulit cokelat yang diam-diam ia tulis setiap malam — "Panduan Memelihara Kucing Hoki."
Isinya? Semua hal tentang Sekar.
"Hari ke-15: Dia tersenyum. Rasanya seperti matahari masuk lewat jendela yang sudah lama tertutup."
*Ketika sang kucing dingin bertemu anjing kecil yang ceria — siapa yang sebenarnya merawat siapa?*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Bab 16
Makan Gratis di Restoran Imperial
Isi halaman pertama buku catatan kulit cokelat itu tetap menjadi rahasia.
Sekar baru tahu buku itu ada dua hari kemudian, itu pun hanya karena ia melihat Ardian menutupnya terlalu cepat saat ia masuk membawa jadwal kompres hangat.
"Pak Tan menulis wasiat?"
"Jadwal."
"Jadwal apa sampai harus disembunyikan seperti dokumen negara?"
"Jadwal agar pengasuh tidak terlalu banyak bertanya."
Sekar menatap buku yang sudah tertutup itu, lalu menatap wajah Ardian. "Berarti jadwalnya gagal."
Ardian tidak menjawab. Ia hanya menyodorkan sticky note kuning.
Di atasnya tertulis dua kata: Restoran Imperial.
Sekar membacanya dua kali. "Ini pesanan makan?"
"Alamat."
"Pak Tan mau makan di luar?"
"Kamu bilang dunia tidak semuanya ruang terapi."
Sekar berkedip. Kalimat itu ia ucapkan saat membujuknya ke Dufan. Ia tidak menyangka pria ini menyimpannya, lalu mengeluarkannya kembali dalam bentuk restoran mahal.
"Baik," katanya pelan. "Tapi kalau menunya aneh, saya tidak tanggung jawab."
"Restoran Imperial tidak aneh."
Satu jam kemudian, Sekar duduk di ruang privat Restoran Imperial, menatap piring putih besar yang di tengahnya hanya ada tiga potong makanan seukuran penghapus.
Ia diam.
Ardian tampak tenang di seberang meja.
Pelayan dengan sarung tangan putih menjelaskan, "Ini ayam rebus herbal dengan saus goji berry dan minyak daun bawang, disajikan dalam gaya modern."
Sekar menunggu kelanjutannya.
Tidak ada kelanjutan.
Tiga potong itu memang satu hidangan.
Pelayan keluar dengan anggun. Pintu tertutup. Sekar menatap piring, lalu menatap Ardian.
"Ayamnya tadi lewat mana?"
Sudut mata Ardian bergerak.
"Makan," katanya.
Sekar mengambil satu potong kecil dengan sumpit. Ia mengunyah. Rasanya tidak buruk, hanya saja otaknya masih mencari nasi, kuah, sayur, dan sesuatu yang membuat tubuh percaya bahwa ini makan malam.
"Enak?" tanya Ardian.
"Enak seperti parfum."
"Apa maksudnya?"
"Wanginya mahal, tapi jangan disuruh kenyang."
Hidangan berikutnya datang. Sup bening di mangkuk mungil. Udang kukus yang duduk sendirian di atas batu panas. Tahu sutra dengan saus hitam yang digambar seperti kaligrafi. Bebek panggang satu iris, lengkap dengan bunga kecil yang terlalu cantik untuk dimakan.
Setiap pelayan masuk, Sekar tersenyum sopan.
Setiap pelayan keluar, Sekar menatap Ardian dengan rasa kehilangan yang makin dalam.
"Pak Tan," katanya setelah hidangan keenam, "orang kaya makan begini supaya tetap kurus atau supaya tetap marah?"
"Kamu masih lapar?"
"Saya baru diajak berkenalan oleh makanan, belum makan."
Ardian akhirnya tertawa kecil. Sangat kecil, tetapi cukup membuat Sekar lupa satu detik bahwa perutnya masih protes.
"Pesan tambahan," katanya.
Sekar langsung cerah. "Nasi goreng ada?"
"Ini restoran Chinese fine dining."
"Berarti pasti ada nasi goreng. Peradaban masih punya harapan."
Ardian menekan bel pelayan. Nasi goreng seafood datang sepuluh menit kemudian, disajikan dalam mangkuk kecil, wangi, dan tetap tidak cukup untuk menyelamatkan rakyat jelata dari kelaparan. Sekar memakannya pelan-pelan agar tidak kelihatan terlalu putus asa.
Makan malam itu menjadi kombinasi paling aneh: piring mahal, porsi kecil, dan dua orang yang diam-diam lebih menikmati saling mengomentari makanan daripada makanan itu sendiri.
Masalah muncul saat tagihan datang.
Pelayan meletakkan map kulit hitam di meja. Ardian membukanya, melihat angka, lalu menutupnya lagi.
Sekar penasaran. "Berapa?"
"Tidak penting."
"Kalau tidak penting, kenapa mata Pak Tan berhenti bergerak?"
Ardian menggeser map itu ke arahnya.
Sekar membuka.
Selama tiga detik, ia lupa cara bernapas.
"Ini harga makan malam atau cicilan rumah?"
"Jangan berlebihan."
"Pak Tan, angka nolnya berlebihan duluan."
Ardian memasukkan tangan ke saku jas.
Diam.
Ia memeriksa saku lain.
Diam lebih panjang.
Sekar melihat wajahnya berubah setipis kertas. "Dompet Pak Tan?"
"Di mobil."
"Tidak apa-apa. Pakai ponsel."
Ardian menatap meja.
Sekar ikut menatap meja. Tas kecilnya tidak ada. Ponselnya juga tidak ada. Ia baru ingat, tadi ia meninggalkan tas di mobil karena Ardian bilang ruang privat aman dan ia hanya membawa map alergi makanan.
"Ponsel saya di mobil," katanya pelan.
"Ponselku juga."
Mereka saling menatap.
Di luar, Restoran Imperial tetap elegan. Di dalam ruang privat, dua orang dengan total aset keluarga yang mungkin bisa membeli gedung itu sedang terjebak oleh teknologi, dompet, dan rasa gengsi.
"Sopir?" Sekar bertanya.
"Parkir basement sebelah. Sinyal di sana jelek."
"Staf restoran bisa panggil."
"Tidak perlu."
Sekar mengenal nada itu. Itu nada Tan Ardian ketika harga diri mulai berdiri lebih tinggi dari akal sehat.
Ia berdeham. "Saya punya solusi."
Ardian menatapnya curiga. "Tidak."
"Pak Tan belum dengar."
"Karena dari wajahmu, solusinya buruk."
"Tidak buruk. Praktis." Sekar menunjuk kursi roda elektrik. "Saya tinggal Pak Tan di sini sebagai jaminan. Saya ke mobil ambil dompet dan ponsel. Kalau saya tidak kembali, restoran bisa menjual kursi roda ini. Nilainya lebih dari dua miliar rupiah, kan?"
Ardian menatapnya tanpa berkedip.
Sekar mengangguk serius. "Atau jual Pak Tan sekalian sebagai bonus. Wajahnya cocok jadi poster rumah sakit mahal."
"Budiman Sekar."
"Saya sedang menyelamatkan kehormatan finansial."
"Kamu mau meninggalkanku sebagai sandera?"
"Sandera premium."
"Tidak."
"Baik. Kalau begitu saya yang jadi sandera?"
"Lebih tidak."
"Berarti kursi roda."
Ardian menutup mata sebentar, seperti sedang berdoa agar kesabarannya diberi subsidi.
Lalu tangannya bergerak ke sisi kursi roda.
Sekar langsung waspada. "Pak Tan mau apa?"
Jari Ardian menekan tombol darurat merah.
Di Rumah Tan, puluhan kilometer dari Restoran Imperial, alarm keamanan utama langsung menyala.
Di ruang monitor, petugas keamanan melompat dari kursi.
Di kamar Darren, pria yang baru selesai mandi dan masih memakai piyama motif sapi hitam putih terjerit sambil menjatuhkan pengering rambut.
Di restoran, Ardian menarik tangannya kembali dengan wajah tenang.
Sekar menatapnya. "Pak Tan menekan tombol kiamat untuk tagihan makan?"
"Kamu mau menjual kursi rodaku."
"Sebagai jaminan."
"Sama saja."
Kurang dari lima belas menit kemudian, suara rem berdecit terdengar di depan Restoran Imperial. Dari jendela ruang privat lantai dua, Sekar melihat enam mobil hitam dengan plat nomor berurutan berhenti satu per satu seperti adegan film aksi.
Pintu mobil pertama terbuka.
Darren melompat keluar memakai piyama motif sapi, sandal rumah, rambut setengah kering, dan wajah panik.
Ia menerobos masuk ke restoran sambil berteriak, "Koko! Aku datang!"
Sekar berdiri dengan harapan baru.
Darren masuk ke ruang privat, terengah-engah, dikelilingi bodyguard.
Manajer restoran berdiri di belakang mereka dengan senyum profesional yang mulai retak. Beberapa tamu di lorong mengintip, mungkin mengira ada penculikan konglomerat, bukan krisis pembayaran tagihan makan malam.
Ardian menatapnya datar. "Bayar."
Darren membeku.
Lalu wajahnya pelan-pelan berubah pucat.
"Koko," katanya lemah, "aku juga tidak bawa dompet."