NovelToon NovelToon
Suami Ku Selalu Dihina Karena Dia Autisme

Suami Ku Selalu Dihina Karena Dia Autisme

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: NisfiDA

Demi menghindari aib, Naresta dan Elvan memilih meninggalkan keluarga mereka dan memulai hidup baru di sebuah desa. Dengan kerja keras, mereka berhasil membangun sebuah toko yang berkembang pesat dan menjadi sumber penghidupan mereka.

Namun, kesuksesan itu tak membuat mereka diterima. Elvan yang merupakan penyandang autisme terus menjadi sasaran hinaan dan cemoohan warga. Meski begitu, Naresta tetap setia berada di sisinya, membuktikan bahwa cinta sejati tidak pernah memandang kekurangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menjaga Toko

", Mbak, kembali menjaga toko?" tanya seorang pelanggan yang baru saja masuk dan melihat Naresta duduk di belakang meja kasir.

Naresta yang sedang merapikan beberapa barang di dekat kasir langsung menoleh.

"Iya, Bu."

Wanita itu kemudian melihat ke sekeliling toko.

"Hari ini Mbak Aya nggak ada?"

"Nggak, Bu. Hari ini Mbak Aya sedang izin."

"Izin?"

"Iya. Katanya membawa ibunya berobat."

"Oh begitu."

Pelanggan tersebut mengangguk-angguk, lalu kembali memperhatikan keadaan toko. Beberapa karyawan terlihat sibuk dengan tugas masing-masing.

"Oh, orang anak buahnya banyak, masa iya cuma Mbak Aya yang jaga kasir?"

Naresta tersenyum kecil.

"Tugas mereka masing-masing sudah ada, Bu."

"Maksudnya?"

"Sudah ada yang bagian menyusun barang, melayani pelanggan, mengangkat barang, dan mengurus bagian lainnya. Jadi mereka tetap bekerja sesuai tugas masing-masing."

"Oh, begitu."

Naresta mengangguk.

"Kalau bagian kasir memang biasanya Mbak Aya. Karena hari ini dia izin, saya yang menggantikan sementara."

"Tapi Mbak Naresta kan sedang hamil."

"Iya, Bu."

"Terus kenapa masih menjaga toko?"

Naresta terkekeh kecil.

"Saya juga nggak melakukan pekerjaan berat, kok. Cuma duduk di kasir dan melayani pelanggan."

Wanita itu menatap perut Naresta yang sudah semakin terlihat.

"Sudah besar juga perutnya."

Naresta spontan mengusap perutnya.

"Iya, Bu. Sudah semakin besar."

"Berarti sebentar lagi lahiran?"

"Masih beberapa waktu lagi."

"Oh, pantas sekarang sudah jarang kelihatan di toko."

"Iya. Saya memang lebih sering istirahat di rumah."

Naresta kemudian mengambil beberapa barang milik pelanggan tersebut dan meletakkannya di depan kasir.

"Belanja apa saja hari ini, Bu?"

"Ini saja, Mbak."

Naresta mulai menghitung satu per satu barang tersebut.

"Yang ini..."

Ia menyebutkan beberapa harga sambil memasukkannya ke mesin kasir.

Wanita itu kembali melihat sekeliling.

"Jadi benar-benar nggak ada yang menggantikan Mbak Aya?"

"Ada, Bu. Saya yang menggantikan."

"Maksud saya, selain Mbak Naresta."

Naresta tersenyum.

"Kalau untuk kasir, hari ini saya yang pegang. Karyawan lainnya sudah ada pekerjaan masing-masing."

"Oh, iya juga."

Naresta kemudian menyelesaikan perhitungan.

"Totalnya segini, Bu."

Wanita tersebut memberikan uang kepada Naresta.

"Nah, ini."

Naresta menerima uang tersebut dan menghitungnya sebelum memberikan kembalian.

"Ini kembaliannya, Bu."

"Terima kasih."

"Sama-sama."

Namun, sebelum pergi, wanita itu kembali melihat Naresta.

"Jangan terlalu capek, Mbak."

Naresta tersenyum.

"Iya, Bu. Saya juga cuma sampai nanti kalau sudah merasa lelah."

"Baguslah."

Wanita itu mengangguk.

"Jangan sampai gara-gara menjaga toko malah kecapekan."

"Iya, Bu. Tenang saja."

Wanita tersebut kemudian membawa belanjaannya dan berjalan menuju pintu.

Naresta kembali duduk dengan nyaman di kursinya.

Tangannya perlahan mengusap perut yang semakin membesar.

"Sebentar saja," gumamnya pelan.

Ia memang sudah berjanji kepada Elvan untuk tidak terlalu memaksakan diri.

Hari ini pun ia hanya ingin menggantikan Aya sebentar, sementara seluruh karyawan tetap menjalankan pekerjaan mereka masing-masing.

Naresta kembali menatap pintu toko yang terbuka.

Meski sedang hamil besar, ia masih ingin memastikan tokonya tetap berjalan dengan baik.

Tring!

Pintu toko kembali terbuka. Pandangan Naresta langsung mengarah ke pintu dan ternyata Dewi yang masuk.

"Aku mau hutang, Naresta."

"Sebentar, saya lihat catatan dulu."

"Halah, nggak usah lihat. Langsung aja. Aku mau makan ini, tapi perlengkapanku habis."

Naresta tidak mendengarkan perkataan Dewi. Ia tetap mengambil buku khusus untuk mencatat hutang, lalu membukanya dan mencari nama Dewi.

Beberapa saat kemudian, Naresta menemukan catatannya.

"Mbak, ini masih ada dua juta belum dibayar," ucap Naresta sambil melihat catatan tersebut.

Dewi langsung menghela napas.

"Iya, terus kenapa?"

"Ya kalau masih ada hutang, saya nggak bisa kasih hutang lagi."

Dewi langsung menatap Naresta dengan wajah tidak senang.

"Kenapa nggak bisa? Aku kan memang mau bayar nanti."

"Nanti kapan, Mbak?"

"Ya nanti kalau sudah ada uang."

Naresta menutup buku catatan hutang tersebut.

"Saya sudah beberapa kali memberikan kelonggaran, Mbak. Tapi yang dua juta ini saja belum dibayar."

Dewi mendengus.

"Kan saya nggak kabur."

"Saya juga nggak bilang Mbak mau kabur."

Naresta tetap berbicara dengan tenang.

"Tapi saya harus mengikuti catatan toko. Kalau hutang sebelumnya belum lunas, saya nggak bisa menambah lagi."

Dewi melihat beberapa barang yang ingin dibelinya.

"Padahal saya cuma mau beli makanan dan beberapa perlengkapan."

"Saya mengerti."

Naresta mengusap perutnya yang semakin besar, lalu kembali menatap Dewi.

"Tapi aturan tetap aturan, Mbak."

Dewi terdiam sebentar.

"Jadi benar-benar nggak boleh?"

"Nggak bisa."

Dewi terlihat kesal.

"Ya sudah."

Ia hendak berbalik, tetapi kemudian kembali menatap Naresta.

"Nanti kalau sudah saya bayar, baru boleh hutang lagi?"

"Iya."

Dewi mengangguk malas.

"Ya sudah."

Naresta hanya mengangguk.

"Kalau sudah ada uangnya, silakan bayar dulu. Setelah itu kalau memang masih membutuhkan, nanti kita lihat lagi."

Dewi akhirnya berjalan menuju pintu tanpa berkata apa-apa.

Tring!

Pintu kembali tertutup setelah Dewi pergi.

Naresta menghela napas panjang.

"Kenapa setiap datang selalu mau hutang lagi..."

Tiba-tiba.

Dug!

"Ah!" Naresta meringis sambil memegangi perutnya.

Rasa sakit itu datang cukup tiba-tiba hingga membuat wajahnya berubah tegang.

"Lho, kenapa ini perutku? Kan padahal masih tujuh bulan."

Naresta mencoba menarik napas perlahan, tetapi perutnya kembali terasa kencang.

"Aduh..."

Ia berpegangan pada sisi meja kasir agar tetap berdiri.

Beberapa detik kemudian, Naresta mencoba duduk di kursinya.

"Mungkin cuma kaget atau kecapekan..."

Ia mengusap perutnya perlahan sambil mencoba menenangkan diri.

"Tenang, Nak. Jangan bikin Mama takut."

Namun, rasa tidak nyaman itu belum juga hilang.

Naresta kemudian menoleh ke arah bagian belakang toko.

"Aya nggak ada..."

Ia menghela napas pelan.

"Semoga cuma sebentar."

Naresta kembali memegangi perutnya sambil duduk diam di belakang kasir, berharap rasa sakit tersebut segera mereda.

"Lho, Mbak Aya kenapa?" tanya Dicky yang saat itu membawa beberapa barang.

"Bukan Mbak Aya, Dicky," jawab Naresta sambil masih memegangi perutnya.

"Lalu kenapa, Mbak?"

Naresta mencoba mengatur napas.

"Dicky, tolong panggilkan Mas Elvan."

Dicky langsung meletakkan barang yang dibawanya.

"Mas Elvan di rumah, Mbak?"

"Iya. Tolong cepat panggilkan."

"Iya, Mbak."

Dicky segera berlari menuju rumah yang berada tidak jauh dari toko.

Sementara itu, Naresta masih duduk di kursi kasir. Wajahnya mulai terlihat pucat karena rasa sakit di perutnya datang kembali.

"Aduh..."

Tangannya semakin erat memegangi perut.

"Kenapa tiba-tiba sakit begini?"

Tak lama kemudian, Dicky kembali bersama Elvan yang terlihat sangat panik.

"S-sayang!"

Elvan langsung menghampiri Naresta.

"Mas..."

"A-apa yang s-sakit?"

"Perutku, Mas. Tiba-tiba terasa kencang dan sakit."

Elvan langsung berjongkok di hadapan istrinya.

"K-kita ke k-klinik."

Naresta mengangguk pelan.

"Iya, Mas. Aku juga takut."

Elvan langsung membantu Naresta berdiri, tetapi baru beberapa langkah, Naresta kembali meringis.

"Ah!"

Elvan langsung menahannya.

"S-sayang!"

"Sakit lagi, Mas."

Dicky yang melihat keadaan tersebut langsung terlihat panik.

"Mas Elvan, bawa Mbak Naresta ke klinik saja. Saya yang jaga toko."

Elvan mengangguk cepat.

"I-iya."

Dicky segera membuka pintu toko dan membantu menyiapkan jalan.

Elvan kemudian mengangkat Naresta dengan kedua tangannya dan menggendongnya di depan.

"Mas, aku bisa jalan sebenarnya."

"T-tidak."

"Tapi..."

"A-aku g-gendong."

Naresta akhirnya diam dan menyandarkan kepalanya di dada Elvan.

"Iya."

Elvan membawa istrinya keluar dari toko dengan langkah cepat tetapi tetap hati-hati.

Dicky berjalan di belakang mereka.

"Mas, mobilnya bagaimana?"

"Mobil s-sewa."

Dicky langsung mengangguk.

"Baik, saya panggilkan."

Beberapa saat kemudian, mobil yang mereka gunakan datang.

Elvan tetap menggendong Naresta sampai ke mobil. Ia kemudian membantu istrinya duduk dengan nyaman sebelum masuk ke dalam.

"Dicky, tolong jaga toko."

"Iya, Mas. Tenang saja."

Elvan mengangguk.

"S-saya b-bawa Naresta ke k-klinik."

Dicky mengangguk lagi.

"Semoga Mbak Naresta baik-baik saja, Mas."

"A-amiin."

Mobil pun mulai berjalan meninggalkan toko.

Di dalam mobil, Naresta masih menggenggam tangan Elvan erat.

"Mas..."

"I-iya?"

"Kenapa perutku sakit begini? Aku baru tujuh bulan."

Elvan terlihat semakin cemas.

"J-jangan t-takut."

"Aku takut, Mas."

"A-aku ada."

Naresta menatap suaminya.

"Jangan panik juga."

Elvan mengangguk meskipun wajahnya masih terlihat tegang.

"I-iya."

Sopir yang melihat dari kaca depan ikut berbicara.

"Kita langsung ke klinik yang biasa, ya, Mas?"

"I-iya."

"Baik."

Naresta kembali memegangi perutnya.

"Mas..."

"I-iya, S-sayang?"

"Semoga anak kita nggak apa-apa."

Elvan langsung menggenggam tangan Naresta lebih erat.

"P-pasti b-baik."

Ia mencoba menenangkan istrinya, meskipun dalam hati dirinya sendiri merasa sangat takut.

Tak lama kemudian, mobil melaju semakin cepat menuju klinik tempat Naresta biasa melakukan pemeriksaan kehamilan.

1
Andi Sary Nova
maaf ini masih berlanjut Khan jgn hiatus yaaa ade author tetap semangat😍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!