Jeviza tidak menyangka, persetujuannya mengikuti Keandra-sang mantan kekasih berkunjung ke rumah eyangnya di suatu kota membuatnya semakin terjebak lebih serius dan intim dengan Keandra.
Setelah dipertemukan dan tinggal satu atap dengan mantan kekasih, sekarang justru lebih serius, nama Jeviza dan Keandra tercatat dalam buku pernikahan.
Sama-sama masih memiliki rasa, tetapi gengsi dan ego masih saja membumbui rumah tangga dadakan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riria Raffasya Alfharizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tanggung Jawab
Suasana ruang tamu tamu tampak tegang, hening, dan sangat mendebarkan bagi salah satu penghuninya. Di sana sudah berkumpul keluarga besar Keandra di Jogja, termasuk Puspa dan Arlo yang langsung datang setelah tadi di telpon langsung oleh eyang.
Jeviza meremas jemari tangannya, ia tidak berani menatap orang-orang di sekelilingnya, bahkan Puspa yang sudah duduk di sebelahnya pun tidak berani Jeviza menoleh.
Puspa tidak memarahinya, tetapi jelas dari diamnya Puspa sedari tadi wanita itu pasti sudah menahan amarah yang akan meledak.
Sementara Keandra duduk santai di sebelah Arlo dan eyang. Ia sama sekali tidak ada rasa takut seperti yang Jeviza rasakan saat ini. Sampai membuat eyang memijit pelipisnya, dan Arlo masih diam karena tidak percaya dengan apa yang diberitahu eyang tadi melalui sambungan telepon.
"Mbak Puspa, tolong bawa mbak Jeviza ke belelang dulu," ujar eyang diangguki Puspa patuh.
"Baik eyang," balasnya berdiri dari duduknya.
Tangan Puspa menggenggam pergelangan tangan Jeviza. "Ayo."
Jeviza ragu, ia menatap Keandra seakan meminta pertolongan, karena jujur saja, disaat seperti sekarang ini, rasanya hanya Keandra yang tidak akan menyalahkan atau memarahinya, meski sumber masalah itu dari Keandra.
Setelah mendapat anggukan kepala Keandra, pada akhirnya Jeviza menurut, ia mengikuti Puspa untuk membawanya ke taman belakang rumah.
Sampai di taman belakang, Puspa langsung menyuruhnya duduk di gazebo yang kemarin sore ia tempati bersama Keandra.
Sementara Puspa berdiri di depannya, tangannya bersedekap dengan tatapan mengintrogasi Jeviza.
"Gue nggak tau mau bilang apa ke tante Ayumi Jepi," ujar Puspa tampak begitu frustasi.
"Kak Pus, gue sama kak Kean itu nggak ngapa-ngapain," belas Jeviza mencoba menjelaskan.
Puspa menghela napas, mendongakan kepalanya. Lalu menatap Jeviza lagi, sangat kentara sekali kalau Puspa begitu pusing memikirkannya.
"Lo masih bisa bilang gitu? Sementara orang-orang di sini pada liat kalian tidur bareng, pelukan lagi."
"Oke lah, Je. Kalau misal kalian tidur satu kamar, tapi Kean di sofa atau lo yang di sofa, intinya terpisah gitu pasti nggak bakal seruwet ini."
Jeviza juga tidak menyangka kalau ini akan jadi masalah besar. Bodohnya ia dan Kean benar-benar senyenyak itu sampai bangun siang. Hanya orang bodoh memang yang mempercayai ucapannya. Bukti yang terlihat lebih masuk akal dari pada sangkalan Jeviza.
"Eyang bahkan udah kirim foto kalian di grup keluarga, itu berati orang tua Kean juga udah tahu, karena nggak mungkin banget nggak liat."
Jeviza semakin takut, ia meremas jemarinya lagi, menatap Puspa dengan mata yang sudah berkaca-kaca ingin menangis.
"Terus gimana? Gue harus apa? Minta maaf sama keluarga besar kak Kean?"
Puspa tidak langsung menjawab. Ia menatap Jeviza dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
"Lo nggak perlu minta maaf, sekalipun lo terlihat salah juga, tapi di sini jelas yang salah Kean, gue yakin habis Kean sama eyang."
Benar saja
Setelah kepergian Jeviza dan Puspa tadi. Arlo atas perintah eyang langsung memukul Keandra. Cukup sekali sebagai peringatan atas kesalahannya.
Menyadari kesalahannya, Keandra tidak mengelak, ia tetap berdiri di tempatnya dengan wajah lebam bagian kirinya karena pukulan Arlo tadi.
"Eyang kecewa sama kamu, boleh bawa pacar kamu ke sini, atau menginap, tetapi bukan berati bebas."
"Maaf eyang, ini salah aku, Jeviza sama sekali tidak salah."
"Jelas itu salah kamu," balas eyang telak. "Kamu masuk ke kamarnya."
Eyang menatap Arlo dengan serius. "Apa di rumahmu dia juga begini? Seenaknya tidur dengan seorang gadis?"
Arlo terdiam, ia menatap Keandra sebelum menjawab. Lalu gelengan di kepala Arlo membuat eyang kembali menghela napas panjang.
"Tidak eyang."
"Bagaimana kamu akan bilang dengan orang tua Jeviza, Kean?"
Keandra diam, rasanya minta maaf saja tidak cukup, tetapi tidak mungkin jika ia mengatakan langsung keinginannya untuk tanggung jawab.
"Jangan jadi laki-laki pengecut, minta maaf dan tanggung jawab," ujar eyang seketika membuat Arlo syok.
Arlo menatap eyang tidak percaya, sementara Keandra yang disuruh tanggung jawab justru begitu tenang, tidak bereaksi berlebihan seperti dirinya yang kini menggeleng tanpa sadar.
"Mereka masih kuliah, eyang," ujar Arlo tampak keberatan.
"Dan menormalkan tindakan Kean pada Jeviza?"
Arlo diam, ia melirik Keandra dengan sorot mata tajam.
Jelas Arlo sangat kecewa, baik Keandra atau Jeviza sudah ia anggap sebagai adik sendiri. Rasanya sangat salah jika tiba-tiba kedua adiknya itu harus dinikahkan.
"Apa tidak ada cara lain?" tanya Arlo masih tampak keberatan.
"Ada, tapi eyang tidak mau hal seperti ini terulang lagi di keluarga kita, eyang tahu Kean tumbuh besar di kota besar, tetapi bukan berati bisa bertindak seenaknya, apa lagi sebebas itu."
"Mau tidak mau, kamu harus tanggung jawab Kean, jangan bikin keluarga kita malu karena ulah tidak pantasmu itu."
"Baik eyang, aku mengerti," balas Keandra seketika membuat Arlo menatap Keandra tidak percaya.
Setelah keputusan eyang tadi meminta Keandra untuk bertanggung jawab. Satu persatu keluarga besar pergi. Sementara kedua orang tua Keandra sudah dalam perjalanan menuju ke rumah eyang, hanya keluarga Jeviza yang sampai saat ini belum mengetahui. Kecuali Puspa yang sedari tadi memijit pelipisnya karena memikirkan Jeviza.
"Maaf ya nak, kamu pending dulu, mama urusin tante nakal satu ini," ujar Puspa sembari mengelus perutnya yang masih rata.
Jeviza menoleh, ingin tertawa dan mengolok jika saja keadaannya sedang tidak seperti ini, tetapi tatapan tajam dari Puspa membuat Jeviza hanya diam, menunggu sampai Arlo dan Keandra datang.
Setelah hampir 2 jam berlalu, terlihat Keandra yang datang menghampiri mereka, disusul Arlo di belakangnya.
Anehnya
Wajah Keandra terlihat begitu tenang, sampai membuat Puspa menatap heran dengan ketenangan Keandra. Disaat semua orang panik dan pusing karena ulahnya, reaksi Keandra benar-benar diluar nalar.
Lalu Puspa kembali menoleh pada Jeviza, wajah gadis itu sudah pucat pasi karena gelisah.
"Mas, gimana?" tanya Puspa pada Arlo.
Arlo tidak langsung menjawab, ia menatap Puspa dan Jeviza secara bergantian. Jeviza terlihat gugup, menunggu jawaban darinya.
Jelas rasa penasarannya sedari tadi sudah menggerogoti relung hati dan pikirannya, pikiran negatif seperti mungkin saja ia mendapat hukuman, disuruh meminta maaf atau pergi dari rumah Arlo seperti ketakutannya.
Diam-diam ia mengepalkan tangannya, takut kalau tiba-tiba Arlo juga akan memarahinya seperti Puspa tadi, atau paling parah mengatainya gadis tidak benar atau semacamnya.
"Gue mau tanggung jawab."
Bukan Arlo yang menjawab pertanyaan Puspa tadi, tetapi pernyataan Keandra yang begitu sederhana tetapi terdengar sangat mendebarkan.
Keandra menatap Jeviza. Tidak ada keraguan, justru keyakinan dari iris hitam legam itu, dan sialnya wajah itu tetap terlihat begitu tenang seakan baru saja tidak mengatakan sesuatu yang sangat sakral.
"Bentar, maksud lo, apa Ke?"
"Eyang nyuruh Kean tanggung jawab," ulang Arlo dengan jawaban Keandra.
Menjelaskannya pun masih berat untuk Arlo.
"Menikah?" tanya Puspa denga mulut ternganga.
...****************...
Menurut kalian direstui engga nih pasangan masih mantan ini?
pake nanya mau ngapain
MANDI sonoo🤣🤣🤣
bahaya ikii
calon " ulet bulu nih pasti 🤣
hareudang kak🤭😍🤭🤭🤭
lanjut maljum😁