Nadia terbangun kembali di malam lamarannya, tepat saat Bella, adik tirinya, ketahuan bersama Arman, calon suaminya. Semua orang memintanya mengalah demi nama baik keluarga. Namun kali ini Nadia tidak mau menjadi korban lagi.
Ia tahu masa depan Arman: pengkhianatan, kekerasan, dan rahasia kelam yang akan menghancurkan siapa pun yang menikah dengannya. Maka saat Bella merebut Arman, Nadia justru tersenyum dan memilih Raka, paman Arman yang sakit-sakitan tapi berhati teguh.
Bella mengira ia mencuri takdir terbaik. Ia tidak tahu, yang ia rebut adalah awal dari neraka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Bab 28 - Arman Bau Oli
Arman mulai membenci bau oli karena bau itu menempel lebih lama daripada rasa malu.
Setiap pulang dari bengkel, tangannya tetap hitam meski sudah dicuci berkali-kali. Kuku-kukunya tampak kotor. Kemeja yang dulu ia pakai untuk nongkrong dengan teman kini diganti kaus lusuh yang tidak sayang terkena noda.
Pak Jaya tidak memberinya perlakuan khusus.
"Angkat ban itu."
"Bersihkan alat."
"Jangan berdiri seperti pejabat inspeksi."
Arman menelan amarah setiap hari.
Hari ketiga, ia hampir melempar kunci pas ketika seorang pelanggan mengenalinya.
"Lho, Mas Arman? Bukannya anak Pak Hendra?"
Pak Jaya menjawab sebelum Arman.
"Iya. Sekarang belajar kerja."
Pelanggan itu tersenyum canggung.
"Bagus, bagus. Kerja apa saja baik."
Arman mendengar tawa kecil dari montir lain setelah pelanggan pergi.
Ia merasa terbakar.
Sore itu, Bella datang ke bengkel membawa nasi bungkus. Bu Ratna yang menyuruh. Katanya calon istri harus menunjukkan perhatian, apalagi Arman sedang keras hati.
Bella memakai kerudung rapi dan bedak tipis. Ia membayangkan Arman akan senang.
Namun begitu masuk bengkel, ia langsung disambut bau oli dan panas mesin. Beberapa montir menoleh. Ada yang tersenyum menggoda.
"Calon istrinya Mas Arman?"
Bella memaksa senyum.
Arman keluar dari belakang, wajahnya langsung berubah saat melihat Bella.
"Kamu ngapain ke sini?"
Bella mengangkat nasi bungkus.
"Aku bawakan makan."
"Aku sudah makan."
"Oh."
Bella berdiri canggung.
Pak Jaya lewat sambil membawa helm.
"Bagus, Man. Calon istri perhatian. Jangan galak-galak."
Montir lain tertawa.
Arman merasa dipermalukan.
Ia menarik Bella ke samping bengkel.
"Aku sudah bilang jangan datang tanpa kabar."
Bella terkejut.
"Aku cuma ingin..."
"Apa? Lihat aku seperti ini? Puas?"
"Mas, aku tidak berpikir begitu."
"Lalu kenapa datang pakai baju rapi ke tempat penuh oli? Mau semua orang lihat calon istri Arman datang menengok laki-laki bengkel?"
Bella menatapnya.
"Mas malu kerja di sini?"
"Kamu tidak?"
Pertanyaan itu membuat Bella diam.
Keheningannya menjawab.
Arman tertawa pahit.
"Lihat. Kamu juga malu."
"Aku hanya belum terbiasa."
"Kamu tidak akan terbiasa."
"Mas, jangan bicara begitu."
"Bella, kamu pikir setelah menikah hidup kita akan seperti apa? Ayah hanya bantu tiga bulan kontrakan. Setelah itu? Kamu bisa hidup dengan uang bengkel?"
Bella menggenggam nasi bungkus.
"Kita bisa cari jalan."
"Kita?" Arman menatapnya sinis. "Kamu bisa apa?"
Bella seperti ditampar.
"Aku bisa belajar."
"Belajar setelah menikah? Semua orang tiba-tiba ingin belajar setelah membuatku terjebak."
Mata Bella basah.
"Jangan bilang terjebak. Aku tidak memaksamu masuk kamar malam itu."
Arman terdiam, lalu wajahnya mengeras.
"Pulang."
"Mas..."
"Pulang, Bella."
Bella keluar dari bengkel dengan nasi bungkus masih di tangan.
Di jalan, ia menangis diam-diam. Bukan karena Arman membentak paling keras, tapi karena ia sadar ada kalimat yang tidak bisa ia bantah.
Ia malu.
Ia memang malu melihat Arman bau oli.
Dan rasa malu itu membuatnya takut pada dirinya sendiri.
Di sisi lain pasar, Nadia sedang memilih mesin jahit bekas bersama Raka.
Pak Salim menunjukkan dua mesin. Satu lebih murah tapi pedalnya kasar. Satu sedikit lebih mahal, suara mesinnya halus dan bodinya masih kuat.
Nadia mencoba keduanya.
"Yang ini," katanya pada mesin kedua.
Pak Salim tersenyum.
"Mbak punya tangan penjahit."
"Tangan penjahit pemula."
"Pemula yang cerewet biasanya cepat maju."
Raka bertanya, "Ada garansi?"
Pak Salim tertawa.
"Mas ini lebih cerewet dari istrinya."
"Saya bagian mencatat risiko."
Nadia menatap Raka.
"Bagian yang sangat penting."
Raka tersenyum.
Mereka membeli mesin itu dengan uang gabungan: sebagian dari keuntungan pesanan pertama, sebagian dari tabungan pribadi Nadia sebagai modal usaha. Raka menawarkan menambah, tapi Nadia menolak untuk pembelian awal.
"Kalau nanti pesanan bertambah dan butuh modal lebih besar, kita bicarakan. Untuk sekarang, aku ingin tahu usahaku bisa berdiri di kaki sendiri."
Raka mengangguk.
"Saya hormati."
Mereka membawa mesin ke rumah kecil. Di jalan, mereka melewati bengkel Pak Jaya. Nadia melihat Bella berjalan di sisi jalan, mata merah, membawa nasi bungkus.
Bella melihat mereka juga.
Nadia tidak berniat berhenti, tapi Bella menatap mesin jahit di becak motor mereka.
"Kamu beli mesin?"
Nadia turun.
"Iya."
Raka membayar becak motor dan memberi isyarat pada sopir untuk menunggu sebentar.
Bella melihat mesin, lalu Nadia.
"Dari uang Mas Raka?"
Nadia tersenyum.
"Dari uang pesanan baju dan tabunganku."
Bella menunduk.
Nadia melihat nasi bungkus di tangannya.
"Dari bengkel?"
Bella langsung kaku.
"Bukan urusanmu."
"Benar."
Nadia hendak naik lagi, tapi Bella berkata pelan, "Arman berubah."
Nadia menatapnya.
"Belum. Kamu hanya mulai melihat."
Bella menggigit bibir.
"Kamu senang?"
"Aku tidak perlu senang. Kenyataan sudah bekerja sendiri."
Bella memegang nasi bungkus lebih erat.
"Dia malu kerja di bengkel."
"Apakah kamu tidak?"
Bella terdiam.
Nadia tidak mengejek. Ia hanya bertanya.
Justru itu membuat Bella lebih sulit berbohong.
"Aku... aku belum terbiasa."
"Kalau kamu menikah dengannya, kamu tidak menikahi seragam yang kamu bayangkan. Kamu menikahi Arman yang pulang bau oli, marah kalau lelah, dan menyalahkan orang kalau kecewa."
Bella menatap Nadia dengan mata basah.
"Kamu bicara seperti sudah mengenalnya lama."
Nadia diam.
Raka mendekat, berdiri di sampingnya.
"Nadia."
Ia tidak melarang. Hanya mengingatkan.
Nadia menarik napas.
"Bella, pulanglah. Jangan berdiri di jalan sambil menangis. Orang akan bicara lagi."
"Kenapa kamu peduli?"
"Aku tidak peduli pada dramamu. Aku hanya tahu perempuan menangis di pinggir jalan selalu jadi bahan cerita, dan cerita itu jarang berpihak pada perempuan."
Bella menatapnya lama.
Untuk pertama kalinya, ia tidak mendengar kebencian di suara Nadia. Ada batas. Ada dingin. Tapi ada juga kebenaran.
"Tante Nadia..."
Nadia menegang sedikit mendengar panggilan itu.
Bella tampak sama tidak nyamannya.
"Kalau aku mundur, apa semua orang akan menghancurkanku?"
Nadia menjawab jujur.
"Ya."
Bella pucat.
"Tapi kalau kamu lanjut tanpa siap, kamu bisa menghancurkan dirimu sendiri."
Bella menangis lagi.
Raka berkata pelan, "Keputusan tidak harus dibuat di pinggir jalan."
Bella mengangguk, lalu berjalan pulang.
Nadia naik ke becak motor. Mesin jahit di sampingnya terasa berat, tapi menyenangkan.
Raka duduk di sebelahnya.
"Kamu memberi nasihat."
"Aku memberi peringatan."
"Bedanya?"
"Nasihat berharap orang berubah. Peringatan hanya menaruh tanda bahaya."
Raka menatapnya.
"Kamu masih marah padanya."
"Iya."
"Tapi kamu tidak ingin dia mati terbakar."
Nadia memandang jalan.
"Aku ingin dia tahu api itu panas. Kalau setelah itu dia tetap memegang, itu pilihannya."
Becak motor bergerak.
Di belakang, bengkel Pak Jaya masih berisik. Arman mungkin masih mengutuk hidupnya.
Di depan, rumah kecil Nadia menunggu mesin jahit baru.
Bau oli dan suara mesin jahit sama-sama bagian dari hidup baru.
Bedanya, yang satu terasa seperti hukuman bagi Arman.
Yang satu lagi terdengar seperti peluang bagi Nadia.
Sesampainya di rumah, Nadia membersihkan mesin jahit bekas itu dengan kain lembut. Ada beberapa goresan di bodinya, catnya tidak lagi sempurna, tapi pedalnya kuat. Raka memasang meja kecil di dekat jendela agar cahaya pagi langsung jatuh ke area kerja.
"Seperti punya kantor," kata Nadia.
"Kantor dengan dapur lima langkah dari meja direktur."
"Efisien."
"Sangat."
Nadia duduk mencoba pedal. Suaranya lebih halus dari mesin pinjaman Sari. Ia menjahit garis lurus di kain sisa, lalu tersenyum puas.
Raka memperhatikan.
"Kamu terlihat seperti baru diberi mainan."
"Bukan mainan. Senjata."
"Untuk perang?"
"Untuk hidup."
Raka mengangguk, menerima jawaban itu dengan serius.
Di luar, suara azan asar mulai terdengar. Nadia menghentikan pedal, menutup mesin sebentar, lalu menatap rumah kecil mereka. Dulu ia mengira keselamatan datang dari keluarga besar atau nama suami. Sekarang ia mulai percaya keselamatan juga bisa datang dari keterampilan, catatan modal, dan keberanian berkata tidak.
Raka mengambil wudu lebih dulu. Sebelum masuk kamar mandi, ia berhenti dan menatap mesin itu.
"Setelah salat, kita coba hitung target pesanan seminggu?"
"Mas Raka tidak lelah?"
"Lelah. Tapi ini lelah yang menyenangkan."
Nadia mengangguk. Ia paham. Tidak semua lelah sama. Ada lelah yang menghabiskan, ada lelah yang menumbuhkan.
🤣🤣🤣