SANG NAGA PURBA (Garis Darah yang Terbuang)
Di Benua Canglan, garis darah adalah segalanya. Terlahir dari pasangan prajurit kuat Klan Chi, bayi Chi Tian justru dibuang ke kasta terendah karena Altar Naga tidak memberikan respon sedikit pun. Dianggap sampah tak berguna, ia ditinggalkan untuk mati.
Belasan tahun berlalu, Chi Tian kembali menyamar di balik jubah hitam dan zirah perak, siap membalas dendam di Arena Penyisihan.
Namun, empat klan agung tak pernah menyadari kebenaran mengerikan ini: Altar Naga hari itu bukannya mati, melainkan darah Chi Tian terlalu tinggi dan agung untuk dijangkau oleh altar biasa.
Mereka pikir telah membuang sebuah sampah, tanpa tahu telah melepaskan seekor Naga Purba yang siap meruntuhkan seluruh takhta kesombongan benua!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ARAH BARU MENUJU GERBANG KOTA
Keheningan yang amat mencekam kembali menguasai malam di pinggiran pemukiman Low-Blood.
Angin berembus pelan, membawa aroma anyir darah segar yang kini bercampur pekat dengan bau belerang dari arah tambang.
Tian Xue berdiri tanpa ekspresi. Tatapan matanya sedingin es abadi, menatap lurus ke arah tiga jasad pengawas Half-Dragon yang kini terbaring kaku di dalam lubang reruntuhan tanah akibat hantamannya.
Tidak ada sedikit pun rasa penyesalan atau ketakutan di wajah pemuda berusia tujuh belas tahun itu.
Bertahun-tahun hidup di dasar tambang neraka telah mengajarinya satu hukum mutlak di Benua Canglan: Yang lemah akan menjadi pijakan, dan yang kuat akan menjadi penentu takdir.
Perlahan, Tian Xue melangkah turun mendekati ketiga mayat tersebut.
Sebagai mantan kuli tambang, ia tahu betul bahwa para pengawas berdarah Half-Dragon ini selalu menimbun kekayaan. Entah itu dari hasil merampas jatah pekerja kelas bawah, atau menggelapkan setoran kristal naga dari klan utama.
Ia sempat menoleh sejenak ke arah ibunya yang masih berdiri mematung di ambang pintu, sebelum kembali memfokuskan pandangannya pada jasad di bawah kakinya.
Tanpa ragu apalagi rasa jijik, jemari Tian Xue yang masih menyisakan hawa pertarungan mulai menggeledah saku zirah kulit ketiga mayat itu satu per satu.
Dari balik lipatan zirah mereka, ia berhasil menemukan tiga buah Kantong Semesta berukuran kecil yang terbuat dari kulit Beast tingkat rendah.
Dengan memicu sedikit energi fisik Peringkat 3 miliknya, Tian Xue menembus segel spiritual rendahan pada ketiga kantong tersebut dan memindai isinya.
Seringai tipis yang dingin perlahan terukir di sudut bibirnya. Benar dugaannya, para bajingan ini sangat kaya untuk ukuran pengawas kota pinggiran.
Tiga puluh lima kristal naga peringkat rendah, dua botol kecil berisi Pil Naga Penyembuh, dan satu keping Lencana Resmi Pengawas Kota yang terbuat dari besi hitam.
Bagi seorang kuli Low-Blood, melihat satu buah kristal naga peringkat rendah saja adalah kemewahan yang langka.
Pasalnya, seluruh hasil galian dari tambang maut maupun Gua Purba selalu disita dan dialirkan penuh untuk memanjakan para tuan muda di empat klan Naga Murni.
"Cara tercepat untuk mendapatkan kekayaan dan sumber daya kultivasi di dunia ini memang dengan membunuh para lintah darat seperti mereka," gumam Tian Xue pelan.
Namun, sebelum bergegas pergi, ia sadar harus segera memulihkan luka di bahunya. Ia tidak boleh membiarkan bau darah menempel di tubuhnya jika ingin melewati gerbang kota tanpa memicu kecurigaan.
Tian Xue membuka salah satu botol kecil, mengeluarkan sebutir Pil Naga Penyembuh berwarna merah pekat, lalu melemparnya ke dalam mulut tanpa ragu.
SLUUP!
Pil spiritual itu seketika meleleh di pangkal tenggorokannya.
Sebuah gelombang kehangatan mengalir deras, menyebar melalui pembuluh darah dan bermuara langsung di kedua bahunya yang sempat terkoyak oleh pukulan musuh.
Sensasi hangat yang bercampur sedikit perih terasa menggelitik.
Di bawah kulitnya, kekuatan regenerasi pil itu bereaksi dengan Garis Darah Naga Purba miliknya yang tersembunyi. Jaringan otot dan daging yang robek merapat kembali dengan kecepatan yang sangat tidak wajar.
Hanya dalam tiga kali tarikan napas, rasa sakit yang merajam bahunya sirna sepenuhnya, menyisakan kulit yang kembali utuh seolah tak pernah tersentuh luka.
Tian Xue memutar lencana besi hitam di jemarinya, lalu menoleh ke arah sang ibu yang masih syok.
"Lencana kota ini akan sangat membantu kita untuk keluar dan masuk wilayah pengawasan tanpa dicurigai, Bu," ucap Tian Xue dengan nada tenang.
Sun'an hanya terdiam kaku di tempatnya.
Mata rentanya menatap sosok Tian Xue yang berdiri begitu tenang di tengah genangan darah dan mayat. Ada sebersit rasa asing yang sempat melintas di benak wanita paruh baya itu.
Apakah ini benar-benar anak angkat yang selalu ia rawat dengan penuh kelembutan?
"Tian'er... apa... apa ini benar-benar tidak apa-apa?" tanya Sun'an dengan suara bergetar pelan. Ketakutan akan pembalasan dendam dari otoritas kota mencekik lehernya.
Tian Xue mengalihkan pandangannya. Binar matanya yang tadi tajam dan mematikan kini seketika melunak, kembali membawakan kehangatan yang tulus khusus untuk ibunya.
Ia berjalan mendekat, menyentuh bahu Sun'an dengan lembut.
"Jangan khawatir, Bu. Beginilah hukum di jalan bela diri. Jika kita tidak membunuh saat mereka menodongkan taringnya, maka merekalah yang akan membantai kita esok hari," jawab Tian Xue memberikan pengertian.
Tanpa membuang waktu lebih lama, Tian Xue segera menyeret ketiga jasad berdarah itu menuju area semak belukar yang lebat di belakang rumah.
Ia menggali tanah berbau belerang itu cukup dalam, melempar ketiga mayat pengawas Half-Dragon ke dalamnya, lalu meratakan kembali permukaan tanah dan menaburkan debu belerang untuk menyamarkan bau anyir darah serapi mungkin.
Ia sama sekali tidak peduli pada risiko atau kemurkaan otoritas kota di masa depan.
Bagi Tian Xue, keselamatan wanita tua yang sedang gemetar di dalam rumah itu adalah segalanya. Sun'an adalah satu-satunya keluarga sejati yang ia miliki di dunia ini.
"Kemasi barang-barang kita, Bu. Kita harus pergi ke kota malam ini juga," ujar Tian Xue seraya membersihkan sisa tanah di tangannya saat kembali masuk ke dalam rumah.
"Di sana tempatnya jauh lebih ramai. Jejak dan identitas kita tidak akan mudah tercium oleh para pengawas maupun anjing pelacak mereka."
Sun'an mengangguk, memaksa dirinya untuk kembali tegar.
Mereka berdua segera bergerak cepat mengemasi beberapa helai pakaian kusam dan barang-barang peninggalan paling berharga. Semua itu adalah saksi bisu dari hasil keringat dan darah Tian Xue saat bertahan hidup di area terdalam tambang kristal naga.
Area terdalam tambang tersebut adalah manifestasi dari neraka dunia.
Di sana, kegelapan abadi berpadu dengan gas beracun dan tekanan gravitasi bumi yang sanggup meremukkan tulang manusia biasa.
Namun, justru di tempat paling mematikan dan terbuang itulah Tian Xue secara diam-diam menempa fisik dan memicu kebangkitan Garis Darah Naga Purba miliknya selama bertahun-tahun.
Setelah memastikan tidak ada hal penting yang tertinggal, Tian Xue dan Sun'an melangkah keluar.
Mereka berdua meninggalkan kediaman panggung reyot yang menyimpan ribuan kenangan pahit itu di belakang punggung, berjalan menyusuri jalan setapak yang ditelan kegelapan malam.
Hembusan angin malam membelai wajah mereka. Sun'an berjalan berdampingan di sisi Tian Xue, namun garis-garis kecemasan di wajah wanita itu belum sepenuhnya sirna.
"Tian'er... Ibu mau bertanya sesuatu," panggil Sun'an pelan, memecah keheningan di antara mereka.
Tian Xue menoleh, memandang wajah ibunya yang dipenuhi keraguan. "Tanyakan saja, Bu."
Jari-jemari Sun'an bertautan erat. Ia tampak sedikit ragu sebelum memaksakan kata-katanya keluar.
"Apakah... apakah kau sudah sering membunuh orang sebelumnya? Hingga kau terlihat begitu tenang di hadapan kematian dan darah?"
Mendengar kegugupan dalam nada suara ibunya, Tian Xue menghentikan langkahnya.
Ia berbalik, lalu meraih lembut kedua lengan ibunya, menggenggamnya hangat di bawah terpaan sinar rembulan yang menyelinap dari balik awan mendung.
"Ini pertama kalinya bagiku membunuh manusia, Bu," jawab Tian Xue jujur.
Ia menatap lurus ke dalam sepasang mata ibunya yang mulai berkaca-kaca.
"Tapi inilah jalan yang sudah aku persiapkan sejak dulu. Aku sudah menguatkan mental dan tekadku setiap kali menghadapi kematian di dasar tambang kristal naga."
Sebuah senyuman hangat, yang jauh dari kesan pembunuh berdarah dingin, mengembang di wajah pemuda itu.
"Sebagai makhluk hidup, aku juga masih bisa merasakan rasa takut. Tapi ketakutan hanya akan membuat kita terlihat lemah dan diinjak-injak."
Tian Xue mengusap punggung tangan ibunya dengan jempolnya. "Jadi, percayalah padaku. Aku masih Tian, anakmu. Masih orang yang sama."
Mendengar ucapan yang begitu tulus dari bibir anak angkatnya, gejolak batin dan kengerian di dalam dada Sun'an perlahan mulai mereda.
Bayangan ketakutan akan sosok "monster" pembunuh yang sempat membayangi pikirannya luluh seketika.
‘Benar... Kenapa aku harus takut?’ batin Sun'an merenung.
‘Sejam apa pun dunia di luar sana, Tian tetaplah Tian-ku. Anak yang selalu mempertaruhkan nyawa dan jatah makannya untuk melindungiku. Jika bukan aku yang mendukungnya di dunia yang kejam ini, lalu siapa lagi?’
Rasa haru dan ketetapan hati memancar kuat dari sepasang mata wanita paruh baya itu. Sun'an mengangguk mantap, membalas genggaman jemari Tian Xue dengan erat.
"Ya, Ibu percaya padamu, Tian'er. Ke mana pun kau melangkah, Ibu akan selalu ada di sisimu."
Keduanya saling melempar senyum menguatkan, lalu kembali melanjutkan langkah menembus pekatnya malam.
Namun, selang satu jam perjalanan, tepat ketika mereka mulai mendekati area depan gerbang luar menuju kota utama, langkah keduanya mendadak terhenti secara paksa di balik bayangan pepohonan besar.
Di hadapan mereka, sekitar seratus meter jauhnya, antrean warga Half-Dragon dan Low-Blood tampak mengular panjang.
Ada yang tidak beres malam ini.
Penjagaan gerbang diperketat secara ekstrem, jauh melampaui kebiasaan harian. Puluhan prajurit berzirah sisik lengkap berdiri berbaris membentuk barikade, memeriksa setiap individu yang lewat dengan tatapan liar dan sangat teliti.
Obor-obor besar menyala terang benderang di area gerbang, memantulkan pendar mematikan dari ujung tombak dan pedang para prajurit.
Mata tajam Tian Xue seketika menyipit saat menangkap keberadaan sebuah pilar batu kristal berwarna biru yang memancarkan pendar sihir di tengah-tengah gerbang.
Batu Pendeteksi Energi.
Sepertinya, kabar tentang hilangnya tiga pengawas Half-Dragon, atau bau darah dari area pemukiman pinggiran, telah tercium lebih cepat oleh otoritas klan murni di pusat kota.