NovelToon NovelToon
The Last Crown

The Last Crown

Status: tamat
Genre:Fantasi / Drama / Tamat
Popularitas:652
Nilai: 5
Nama Author: Inkbound

The Last Crown adalah buku pertama dari The Hollow Thorne Trilogy. Bercerita tentang perjalanan Pangeran Kal Valdyr, pewaris takhta Izengard yang kehilangan segalanya setelah istana jatuh dalam pengkhianatan berdarah. Dari seorang pangeran yang dibesarkan untuk memerintah, Kal berubah menjadi buronan yang hanya membawa satu hal, nama keluarganya yang hampir musnah.

Dengan petunjuk terakhir dari ayahnya, Kal mencari Marlow Renad, Nightingale terakhir yang pernah bergerak di balik bayangan mahkota. Bersamanya, Kal mulai menempuh jalan gelap untuk merebut kembali apa yang dirampas darinya.

📢 Visualisasi karakter atau hal penting lainnya dapat dilihat pada postingan di profil saya, Visualisasi itu saya buat dengan bantuan AI berdasarkan gambaran saya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inkbound, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cahaya Arlenville

Arlenville adalah desa kecil yang menenangkan, meski keindahannya sama sekali berbeda dari Gisa. Tidak ada kanal-kanal luas, pulau-pulau batu, ataupun deretan bangunan yang bertumpuk di atas air. Rumah-rumah di desa itu berdiri rendah di kedua sisi jalan, sebagian besar hanya memiliki satu lantai dengan atap miring dan cerobong pendek yang mengembuskan asap tipis ke udara malam.

Hampir seluruh bangunan dibuat dari batang kayu cedar merah yang telah dipotong dan disusun mendatar. Warna alaminya telah memudar karena hujan dan matahari menjadi cokelat keabu-abuan yang hampir seragam. Beberapa rumah memiliki bagian dinding yang lebih gelap karena baru diperbaiki, tetapi bentuknya tetap sederhana: jendela-jendela kecil, pintu tebal, serta beranda sempit yang dinaungi ujung atap.

Aku menduga kayu itu diperoleh dari hutan yang terlihat tidak jauh di belakang desa. Bahkan dalam gelap, puncak-puncak pohonnya membentuk garis hitam yang rapat di bawah langit. Aroma kayu terbakar dari cerobong bercampur dengan bau tanah, rumput lembap, dan makanan yang masih dimasak di beberapa rumah.

Jalan utama Arlenville terbuat dari batu-batu sungai yang disusun rapat. Permukaannya tidak rata dan masih menyimpan air dalam cekungan-cekungan kecil, membuat cahaya dari lentera rumah bergetar di bawah kaki kami. Jalan itu tidak selebar jalan di kota, tetapi cukup untuk dilewati dua gerobak kecil secara bersisian.

Malam belum benar-benar membuat desa sepi. Orang-orang masih lalu-lalang sambil menyelesaikan pekerjaan terakhir sebelum pulang. Para pedagang menurunkan penutup kain dari kios-kios mereka, mengangkat keranjang kosong, dan membawa peti ke dalam bangunan. Seorang tukang roti menyapu tepung dari ambang pintu, sementara istrinya mengangkat papan harga dari dinding luar.

Beberapa anak masih berlarian di antara rumah dengan tongkat kayu dan roda kecil. Suara mereka memantul di sepanjang jalan sampai satu per satu orang tua memanggil dari pintu.

“Lysa, masuk sekarang!”

“Orin! Sudah malam!”

Seorang anak laki-laki berambut pendek mencoba bersembunyi di belakang tong air ketika namanya dipanggil untuk kedua kali. Temannya tertawa, lalu segera berlari pulang setelah seorang perempuan keluar dari rumah sambil membawa kain lap di tangan.

Orang-orang yang kami lewati sempat memandang kami, terutama Marlow yang membawa pedang dan tas perjalanan besar. Namun tatapan itu tidak bertahan lama. Ishar berjalan di depan kami dengan keranjang apel di lengannya, dan kehadirannya mungkin cukup untuk membuat kami tampak seperti tamu, bukan orang asing yang menyelinap masuk setelah malam.

Satu-satunya tempat yang masih benar-benar ramai berdiri di salah satu sudut jalan. Bangunan itu sedikit lebih besar daripada rumah-rumah di sekitarnya, dengan cahaya kuning terang mengalir dari jendela-jendelanya. Suara tawa, meja digeser, dan cangkir yang beradu terdengar sampai ke luar.

Sebuah papan kayu menggantung pada dua rantai besi di dinding luarnya. Permukaannya dicat hitam, dengan gambar paku bengkok berwarna merah karat di tengah.

THE RUSTY NAIL

Papan itu berayun pelan setiap kali angin bertiup, mengeluarkan bunyi derit yang hampir tenggelam oleh keramaian dari dalam. Seorang pria keluar sambil tertawa terlalu keras, merangkul temannya dengan satu lengan, lalu berhenti ketika melihat Ishar. Senyumnya mengecil sedikit, tetapi ia hanya mengangguk sebelum melanjutkan perjalanan.

Aku menarik tudung lebih rendah.

Orang-orang di bar itu mungkin belum pernah melihat wajahku, tetapi setelah Mitenn Highroad, kemungkinan terdengarnya kabar terasa cukup untuk membuat setiap tatapan mengganggu. Para peziarah yang melarikan diri pasti menuju desa atau kota terdekat. Kami tidak tahu seberapa cepat cerita mereka bergerak, atau bentuk apa yang akan diambilnya setelah diulang berkali-kali.

Marlow berjalan di sebelahku tanpa terlihat terburu-buru. Ia tidak memandang ke arah The Rusty Nail terlalu lama, tetapi matanya mencatat pintu, jendela, dan orang-orang yang berdiri di luar. Tangannya tetap jauh dari pedang, meski tubuhnya tidak pernah sepenuhnya santai.

“Rumahku berada di ujung jalan ini,” kata Ishar.

Ia menoleh kepada kami sambil berjalan. Senyum kecil muncul di wajahnya, seolah perkelahian di bawah pohon ek tadi tidak lebih dari gangguan yang sudah tertinggal jauh di belakang. Kepangan tipis di sisi kanan wajahnya bergerak mengikuti langkah.

Marlow hanya mengangguk.

Kami terus mengikuti jalan utama sampai rumah-rumah mulai berdiri lebih renggang. Di depan, sebuah aliran sungai membelah desa. Airnya bergerak tenang, lebih lebar daripada sungai kecil tempat kami membersihkan darah, tetapi tidak cukup besar untuk membutuhkan perahu.

Sebuah jembatan kayu melengkung melintasinya. Bentuknya menyerupai setengah lingkaran rendah, dengan pagar kayu pada kedua sisi dan papan-papan pijakan yang telah mengilap karena sering diinjak. Lentera kecil tergantung di tiang dekat ujung jembatan, menerangi permukaan air yang bergerak hitam di bawahnya.

Ishar menaiki jembatan lebih dahulu. Papan-papannya mengeluarkan bunyi berderit lembut di bawah langkahnya.

“Air ini menuju Blue Lake,” katanya sambil memandang ke bawah. “Membelah bagian selatan desa, lalu terus ke barat.”

Aku berhenti sebentar di titik tertinggi jembatan. Cahaya dari rumah-rumah memanjang di permukaan sungai, terputus setiap kali arus menyentuh batu. Di tepi air tumbuh rumpun-rumpun alang pendek dan bunga liar yang menutup saat malam. Sebuah perahu kecil diikat pada tonggak tidak jauh dari sana, bergoyang pelan tanpa penumpang.

Blue Lake berada di rute memutar yang disebut Marlow sebelumnya. Aku tidak tahu seberapa jauh lagi kami harus berjalan sebelum mencapainya, tetapi tubuhku sudah mulai memikirkan tempat tidur lebih serius daripada arah perjalanan.

Saat turun dari jembatan, rasa sakit pada rusuk kembali muncul. Tendangan pemuda tadi meninggalkan nyeri tumpul yang memburuk setiap kali menarik napas terlalu dalam. Bibirku juga membengkak, dan bagian dalamnya masih terasa asin meski darah telah berhenti mengalir.

Marlow melihatku berjalan sedikit miring, tetapi tidak mengatakan apa-apa. Setelah kejadian di Mitenn Highroad, aku tidak berharap ia akan menanyakan apakah aku baik-baik saja. Setidaknya kali ini aku tidak membunuh siapa pun. Mungkin itu sudah cukup untuk malam ini.

Rumah Ishar berdiri hampir di ujung jalan, sedikit menjauh dari bangunan lain. Bentuknya tidak berbeda jauh dari rumah-rumah yang telah kami lewati, dibuat dari kayu cedar dengan warna cokelat kusam dan atap curam yang ditutupi sirap gelap. Namun rumah itu terlihat lebih terawat.

Pagar rendah mengelilingi halaman depan. Tidak ada bagian yang patah atau miring, dan jalan kecil menuju beranda dilapisi batu datar yang disapu bersih. Pot-pot tanah liat berjajar di sepanjang teras, ditanami lavender, marigold, serta geranium merah yang masih berbunga meski malam mulai dingin. Beberapa pot gantung tergantung dari balok atap, dipenuhi viola ungu dan tanaman merambat kecil yang menjuntai hampir menyentuh kusen jendela.

Aroma lavender bercampur dengan kayu dan asap dari cerobong.

Ishar membuka pagar, lalu berjalan menuju pintu. Ia menaiki dua anak tangga beranda sambil memindahkan keranjang apel ke tangan kiri.

“Kakek, aku pulang.”

Ia membuka pintu tanpa mengetuk.

Cahaya hangat langsung tumpah ke teras. Dari dalam tercium bau sup, roti panggang, lilin lebah, dan ramuan kering. Ishar melangkah masuk, sementara aku dan Marlow tetap berdiri di ambang pintu.

Suara tongkat menghantam lantai terdengar dari bagian dalam rumah. Pelan, teratur, disertai langkah kaki yang menyeret sedikit.

Seorang pria tua muncul dari balik dinding pemisah.

Tubuhnya kurus dan bungkuk, membuat bahunya terdorong ke depan meski ia berusaha berdiri tegak. Satu tangannya menggenggam tongkat dari kayu gelap yang permukaannya telah halus karena dipakai bertahun-tahun. Rambut putih di kepalanya nyaris habis, hanya tersisa lingkaran tipis di sekitar belakang kepala dan telinga. Kulit pada bagian atas kepalanya dipenuhi bercak cokelat tanda usia, begitu pula punggung tangannya yang mencengkeram tongkat.

Wajahnya dipenuhi kerutan dalam di sekitar mata dan mulut. Namun tatapannya masih jernih, tidak selemah tubuhnya. Ada keramahan di sana, tetapi bukan keramahan yang diberikan begitu saja kepada setiap orang. Ia melihat terlebih dahulu sebelum memutuskan bagaimana menerima seseorang.

“Ishar, sayangku, dari mana saja kau?” katanya. “Aku baru saja akan—”

Kata-katanya berhenti ketika ia melihat kami.

Tatapan pria tua itu berpindah dari Marlow kepadaku, lalu kembali pada Ishar. Tangannya mengencang sedikit pada tongkat. Punggungnya yang sudah bungkuk tampak menegang, walau hanya sesaat.

Ishar menaruh keranjang apel di atas meja kecil dekat pintu.

“Oh, perkenalkan, Kek. Mereka Marlow Renad dan Kal Primm.”

Pria tua itu tidak langsung menyambut kami. Matanya bergerak menilai pakaian perjalanan yang kotor, tas besar di punggung, pedang Marlow, dan luka yang masih terlihat pada wajahku. Tatapannya berhenti cukup lama pada bibirku yang membengkak.

“Mereka yang membantuku mengusir Reiss dan teman-temannya,” lanjut Ishar.

Kening pria tua itu berkerut.

“Reiss?”

“Dia menungguku di jalan bersama dua orang temannya.”

Tongkat pria tua itu menghantam lantai sedikit lebih keras.

Marlow mengangkat satu tangan, memotong sebelum Ishar sempat menjelaskan lebih jauh.

“Tidak sepenuhnya,” katanya. “Cucu Anda cukup mampu menjaga dirinya sendiri.”

Ia melirik pisau kecil di pinggang Ishar.

“Dia perempuan yang kuat.”

Raut pria tua itu melunak. Tidak banyak, tetapi tekanan pada mulutnya berkurang dan bahunya turun sedikit. Ia memandang Ishar seolah ingin memastikan cucunya benar-benar tidak terluka, lalu menggeleng pelan.

“Anak itu lagi.”

Suaranya terdengar lebih lelah daripada marah. Ia menunduk sebentar sambil mengusap ibu jari pada gagang tongkat, seolah nama Reiss membawa persoalan lama yang belum selesai.

Ishar membuka mulut, mungkin hendak menambahkan sesuatu, tetapi pria tua itu tiba-tiba mengangkat kepala. Tatapannya kembali kepada kami yang masih berdiri di luar.

“Oh.”

Ia bergeser dari ambang pintu, lalu mengangkat tangan dengan sedikit tergesa.

“Maaf. Silakan masuk. Silakan masuk. Aku membiarkan kalian berdiri di udara dingin.”

Marlow melewati ambang lebih dahulu. Aku mengikutinya, menundukkan kepala agar tudung tidak tersangkut pada kusen yang rendah.

Bagian dalam rumah terasa sangat hangat setelah perjalanan panjang di luar. Ruang utama tidak besar, tetapi bersih dan dipenuhi benda-benda yang menunjukkan rumah itu telah dihuni lama. Sebuah perapian batu menyala di dinding sebelah kiri. Di atasnya tergantung ikatan tanaman kering, sendok kayu, dan panci kecil berwarna hitam karena asap.

Meja makan berdiri dekat jendela, cukup untuk empat atau lima orang. Kursinya tidak seragam. Satu memiliki sandaran tinggi, sementara yang lain dibuat lebih sederhana. Rak-rak kayu memenuhi sebagian dinding, menyimpan botol, mangkuk tanah liat, buku-buku tua, serta beberapa benda kecil yang tidak bisa kulihat jelas dari tempatku berdiri.

“Namaku Rosh Danmer,” kata pria tua itu. “Terima kasih karena sudah membantu cucuku.”

Ia mengulurkan tangan kepada Marlow lebih dahulu.

“Marlow Renad.”

Marlow menerima tangannya dengan hati-hati, mungkin takut genggamannya terlalu kuat untuk tulang-tulang tua itu. Rosh kemudian beralih kepadaku.

Aku baru sadar tudung masih menutupi sebagian wajah. Menyembunyikannya di dalam rumah setelah Ishar membawa kami sebagai tamu akan terlihat lebih mencurigakan daripada membukanya.

Tanganku naik ke tepi kain.

Aku menarik tudung ke belakang.

Udara hangat menyentuh seluruh wajahku. Rambut yang lembap oleh keringat terlepas dan jatuh tidak beraturan di kening. Luka di pipi, bibir bengkak, serta memar baru mungkin membuat penampilanku cukup berbeda dari potret resmi keluarga kerajaan, tetapi aku tetap menahan napas ketika Rosh melihatku.

Wajahnya berubah.

Perubahan itu hanya berlangsung sesaat, tetapi aku melihatnya dengan jelas. Matanya melebar sedikit. Mulutnya terbuka tanpa suara, sementara tatapannya bergerak dari rambutku ke mata, hidung, lalu bentuk rahang. Jari-jarinya menegang pada tongkat.

Seolah ia pernah melihat wajahku sebelumnya.

Atau wajah seseorang yang mirip denganku.

Aku melirik Marlow. Ia juga memperhatikan Rosh, meski ekspresinya tetap tenang.

Pria tua itu mengedip, lalu menggeleng cepat. Gerakannya kecil, seperti seseorang yang menolak pikiran yang baru saja muncul sebelum sempat tumbuh lebih jauh. Ketika kembali menatapku, wajahnya telah memperoleh keramahan terukur yang sama seperti saat pertama melihat kami.

“Kal Primm,” kataku.

Namanya masih terasa asing di lidahku.

Rosh mengangguk.

“Selamat datang di rumah kami, Kal.”

Ishar masuk paling akhir. Ia menutup pintu dengan kedua tangan, mendorongnya sampai kayunya masuk ke dalam bingkai. Kait besi dipasang dari dalam dengan bunyi pendek.

Suara desa, angin, dan keramaian The Rusty Nail menghilang sekaligus.

Pintu rumah itu pun tertutup.

1
Annabelle
Oke lah
Annabelle
Numpang mampir
Nomnom Yumyum
ceritanya seru, serasa baca novel translate an luar. ditunggu eps selanjutnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!