Tiga tahun menjalani pernikahan, Rindu dan suaminya masih menanti kehadiran buah hati. Di tengah cinta yang mereka bangun, harapan itu perlahan berubah menjadi beban ketika sang mertua terus menyalahkan Rindu dan mendesaknya untuk segera memberikan cucu.
Tekanan yang tak kunjung reda membuat hubungan mereka mulai retak. Di saat kepercayaan dan komunikasi memudar, hadir sosok perempuan lain yang menawarkan perhatian dan kenyamanan kepada suami Rindu. Kehadiran orang ketiga itu menjadi ujian terbesar dalam pernikahan mereka. Kini, Rindu harus memilih terus bertahan memperjuangkan rumah tangganya atau melepaskan cinta yang perlahan berubah menjadi luka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehancuran Rindu
"Yang satu pandai berbohong, dan yang satu lagi sangat lihai mengkhianati."
Rindu mundur satu langkah. Ia menegakkan kepalanya, merapikan gaun yang dikenakannya, lalu menatap Arsen.
Laki-laki yang selama ini selalu membisikkan kata-kata cinta yang begitu halus di setiap pagi dan malamnya, laki-laki yang berjanji akan menjadi pelindung seumur hidupnya, ternyata tak lebih dari seorang pendusta ulung.
Segala kepedulian, kehangatan, dan tatapan lembut yang diberikan Arsen selama ini mendadak berubah menjadi tumpukan racun yang memuakkan.
"Sayang... kamu salah paham," Arsen masih mencoba mengelak. Suaranya serak, matanya menatap Rindu dengan permohonan yang campur aduk antara panik dan takut kehilangan.
"Jangan panggil aku dengan sebutan itu!" potong Rindu tajam.
"Mendengarnya dari mulut kamu sangat menjijikkan, Arsen."
Deg!
Mendengar ucapan Rindu membuat Arsen tak tahu lagi harus berkata apa untuk menenangkan perempuan yang sangat dia cintai itu. Kalimat sederhana namun begitu beracun itu telak menghantam dadanya.
Ucapan Rindu barusan membuat hatinya tersayat hebat, Rindu jijik padanya. Pria itu mematung, mendadak kehilangan seluruh kosa kata yang biasanya begitu lihai ia rangkai.
Tatapan benci dan jijik di mata istrinya menjadi hukuman pertama yang paling menyiksa.
Melihat Arsen yang membisu dengan raut hancur, Nia yang sejak tadi bersembunyi di belakang Arsen akhirnya memberanikan diri melangkah maju satu pijakan.
"Rindu... aku bisa jelaskan semuanya," kini Nia yang bersuara. Suaranya gemetar, dipaksakan agar terdengar seperti seorang sahabat yang memohon pengertian.
"Aku nggak mau dengar apa pun dari kamu, Nia," balas Rindu dingin, bahkan tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun untuk menatap wajah wanita itu. Bagi Rindu, mendengarkan penjelasan dari seorang penikam dari belakang hanya akan mengotori telinganya.
"Rindu, tolong... kita sahabat. Ini cuma kesalahpahaman, aku...."
"Sahabat?" Rindu akhirnya melirik Nia dari sudut matanya. Sebuah senyuman pahit yang sangat dingin terbit di bibirnya.
"Sahabat tidak melangkah masuk ke dalam rumah tangga sahabatnya sendiri, apalagi naik ke ranjang dengan suami sahabatnya, Nia. Sahabat tidak meniduri kebohongan sahabatnya."
Nia bungkam seketika. Bibirnya bergetar rapat, rasa malu membakar seluruh wajahnya hingga ia tak sanggup lagi mendongak.
Rindu kembali menatap Arsen yang masih berdiri mematung bagai patung bernapas. Rasa sakit di dada Rindu begitu dahsyat, seolah-olah jantungnya diremas hingga hancur. Namun, di atas segala kehancuran itu, ia tidak ingin terlihat begitu lemah. Ia tidak boleh terlihat hancur di depan dua manusia yang telah merendahkan martabat pernikahan ini.
"Arsen... kamu berhasil," ucap Rindu, suaranya sangat tenang namun bergetar pelan oleh kekecewaan yang teramat dalam.
"Kamu berhasil membuat tiga tahun pernikahan kita tampak seperti lelucon yang murahan."
"Rindu, enggak... Aku mohon, jangan seperti ini. Aku cinta sama kamu, Rindu. Aku cuma..." Arsen mencoba mendekat, meraih tangan Rindu, namun Rindu mengibaskannya dengan tegas sebelum kulit mereka bersentuhan.
"Cinta?" Rindu terkekeh pelan, sebuah kekehan hampa yang terdengar sangat menyedihkan di lorong yang sunyi itu.
"Jika ini caramu mencintai, maka cintamu sungguh nggak bernilai. Dan aku nggak butuh cinta dari seorang pembohong."
Rindu menarik napas panjang, mengisi paru-parunya yang terasa kering dengan udara lorong apartemen yang dingin.
Ia merapikan tali tasnya, menegakkan bahunya kembali, lalu melangkah mundur satu pijakan untuk memberi jarak mutlak di antara mereka.
"Malam ini, semua rasa hormatku padamu sebagai suami resmi berakhir," pungkas Rindu dengan nada final.
Rindu langsung membalikkan badan dan berjalan pergi. Langkah kakinya bergerak cepat namun tetap teratur, meninggalkan Arsen dan Nia yang mematung di ambang pintu Unit 1404 seperti dua patung bernapas yang kehilangan seluruh daya pikatnya.
Ia memburu menuju ujung lorong, menempelkan kartu akses pada panel dengan jemari yang bergetar hebat. Saat pintu stainless steel terbuka, Rindu melangkah masuk ke dalam kabin lift yang dingin dan sunyi. Pintu merapat sempurna, mengunci dirinya dalam isolasi tak bersuara.
Di dalam lift, Rindu menyandarkan punggungnya pada dinding kaca. Kelopak matanya membendung genangan air mata yang sudah mendidih di pelupuk.
Ia menengadahkan kepala, menarik napas pendek-pendek melalui hidungnya. Tidak boleh. Ia tidak boleh runtuh di gedung ini.
Ting.
Lift tiba di lantai lobi. Rindu menegakkan bahunya kembali, menyapu ujung matanya dengan cepat, lalu melangkah keluar dengan dagu terangkat.
Ia melewati meja resepsionis dan pintu kaca otomatis tanpa menoleh sedikit pun ke belakang. Udara malam yang dingin langsung menyapa wajahnya yang pucat saat ia berjalan melintasi area pelataran menuju mobilnya.
Begitu pintu mobil tertutup rapat dan terkunci dari dalam, Rindu segera memutar kunci kontak. Mesin meraung halus. Tanpa membuang waktu satu detik pun, ia menginjak pedal gas, meluncurkan kendaraannya keluar dari area apartemen mewah yang kini menjelmakan diri sebagai tempat paling beracun dalam ingatannya.
Mobil bergerak menembus pekatnya jalanan kota yang kian lengang. Lampu-lampu jalan membiaskan bayangan panjang di atas dashboard.
Rindu memegang erat lingkar kemudi, pandangannya lurus mengawasi aspal, sementara dadanya terasa kian sesak, seolah ada bongkahan es raksasa yang mendadak mencair dan menghimpit seluruh rongga pernapasannya.
Setelah berjalan sekitar sepuluh menit dan menjauh beberapa kilometer dari kompleks apartemen tersebut, Rindu membelokkan kemudinya ke tepi jalan yang sepi. Ia memindahkan tuas transmisi ke posisi parkir, lalu mematikan mesin.
Seketika itu juga, pertahanan yang ia bangun mati-matian akhirnya hancur tak bersisa.
Hawa dingin mobil perlahan berganti menjadi gelombang kesedihan yang membuncah hebat.
Air mata yang sedari tadi ia tahan sekuat tenaga mendadak tumpah ruah bagai bandang yang membobol tanggul.
Rindu menangis sejadi-jadinya. Suara tangisannya yang melengking kepedihan memecah keheningan di dalam kabin mobil yang sempit.
"Argh... hhh..." Rindu terengah-engah, napasnya Patah-patah akibat histeria yang tak lagi sanggup ia bendung.
Kedua tangannya melepaskan setir, lalu beralih mengepal keras di depan dada. Rindu memukul-mukul dadanya sendiri berulang kali, mencoba mengusir rasa nyeri yang teramat sangat, sebuah rasa sakit fisik yang lahir dari hancurnya hati secara mendadak.
Udara di sekitarnya mendadak terasa langka, setiap kali ia menarik napas, bagian dalam dadanya terasa bagaikan ditusuk ribuan jarum tajam.
Kenyataan pahit itu menghantamnya tanpa ampun secara bertubi-tubi. Laki-laki yang menjadi suaminya, tempatnya menyandarkan hidup dan masa depan, telah berbohong dengan begitu rapi.
Dan yang lebih menyakitkan, wanita yang membagi tempat tidur rahasia itu adalah Nia, sahabat yang selama ini memeluknya, mendengarkan curahan hatinya, dan tersenyum manis di depannya.
Pengkhianatan ganda itu meremukkan seluruh harga diri dan kepercayaannya hingga menjadi abu.
Rindu melipat tubuhnya di atas lingkar kemudi, menyembunyikan wajahnya yang basah oleh air mata dan riasan yang luntur.
Bahunya naik-turun hebat seiring dengan keputusasaan yang meluap dari jiwanya. Malam itu, di tepi jalan yang sepi dan dingin, Rindu menumpahkan seluruh air matanya, meratapi sebuah pernikahan yang hancur berkeping-keping hanya dalam hitungan detik.
buatlah rindu bercerai dari Arsen & keluar dari keluarga toxic itu. aku ga rela rindu menderita lebih lama lagi 🥺🥹
btw jangan lama² bongkar kebusukannya si Arsen & Nia dong,Thor. kasihan banget di rindu...
tolong buat dia pisah dari Arsen & keluarga toxic nya itu lalu buat dia bahagia ya, Thor....🙏🫵🫰