Karena pria yang mencintainya meninggalkan dirinya di hari pernikahannya membuat Lavanya mau tidak mau harus menikah dengan Mike.
Mike berusaha untuk menjalani pernikahan mereka meski pernikahan itu didasari tanpa cinta dan Lavanya tidak mudah membuka hatinya.
Percekcokan terjadi di antara mereka, Lavanya benar-benar tidak ingin mencoba untuk rumah tangganya dan tidak mungkin berpisah karena keluarga calon suaminya itu dikenal oleh orang banyak dan sangat terhormat.
Sahabatnya masuk dalam rumah tangga mereka dan menghancurkan rumah tangga itu dengan Mike mencari kenyamanan pada Arumi.
Ketika Lavanya menyadari adanya yang tidak sehat dalam rumah tangganya, bagaimana dirimu manfaatkan dan terlalu sibuk untuk dirinya dan sampai akhirnya mengetahui perselingkuhan suaminya. Lavanya ternyata tidak mundur dan justru maju untuk merebut suaminya kembali.
Bagaimana kelanjutan hubungan pernikahan antara Mike dan Lavanya. Apakah pada akhirnya Lavanya kembali mendapatkan suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonecis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13 Kenyataan
Lavanya perlahan membuka mata saat cahaya matahari pagi menembus celah-celah pepohonan.
Tubuhnya tergeletak di atas hamparan rerumputan yang basah oleh embun. Rasa nyeri menjalar dari kepala hingga ke ujung kaki, membuat setiap gerakan terasa begitu berat. Ingatannya tentang malam sebelumnya muncul samar-samar, tebing curam, teriakan panik, lalu kegelapan yang menelannya.
Seseorang yang misterius tidak diketahui siapa, mengikutinya dan bahkan menarik hijabnya dan sampai saat ini hijabnya lepas darinya. Lavanya mengingat benturan di dahinya yang masih terasa begitu sakit.
Dengan napas tersengal, Lavanya mencoba mengangkat tubuhnya. Tangannya gemetar saat menekan rerumputan di bawahnya sebagai tumpuan. Kepalanya terasa pusing, sementara seluruh tubuhnya dipenuhi lecet dan memar akibat benturan saat terjatuh.
Angin pagi yang dingin menyapu wajahnya, membuatnya sadar bahwa ia masih hidup.
Lavanya menoleh ke sekeliling. Hutan yang sunyi membentang di segala arah. Hanya suara burung dan desir dedaunan yang terdengar. Tidak ada seorang pun di dekatnya. Rasa lemas membuatnya kembali terduduk di atas rerumputan, mencoba mengatur napas yang tidak beraturan.
"Di... di mana aku?" bisiknya serak.
Ia menelan ludah, merasakan tenggorokannya kering. Meski tubuhnya terasa seperti akan roboh kapan saja, Lavanya memaksa dirinya tetap sadar. Dengan sisa tenaga yang dimiliki, ia berusaha berdiri perlahan, berpegangan pada batang pohon terdekat. Kakinya goyah, namun tekad untuk bertahan hidup membuatnya tetap bertahan.
Di tengah kesunyian pagi itu, Lavanya berdiri dengan tubuh lemah dan pakaian yang berdebu, menatap hutan asing di hadapannya. Perjalanan untuk keluar dari tempat itu baru saja dimulai.
"Tolong ...." suaranya terdengar begitu pelan seakan-akan tercekik.
"Ya Tuhan, siapa orang itu apa tujuannya melakukan hal itu kepadaku," ucapnya berusaha untuk berdiri.
Tetapi tenaga Lavanya belum sepenuhnya terkumpul yang membuatnya mau tidak mau harus menahan diri, mencoba tetap untuk setenang mungkin.
"Tolong......" panggil Lavanya lagi.
"Apa ada orang di sini, Tolong....."
"Tolong saya....."
"Tolong....."
Lavanya memanggil-manggil yang berusaha mendapatkan segera bantuan dan sementara di atas jurang.
Pihak kepolisian akhirnya terlibat karena Lavanya tidak kunjung ditemukan sampai sore hari. Mike bersama dengan keluarganya juga sahabatnya Digo ikut mencari istri dari temannya itu dan termasuk Arumi dan Naomi.
"Lavanya!"
"Nona Lavanya!"
"Nona Lavanya!"
"Lavanya...."
Semua orang berteriak memanggil Lavanya tetapi tidak ada sahutan sama sekali.
"Mike!" Digo menegur Mike membuat Mike menoleh.
"Kenapa?" tanya Mike melihat Digo yang berjongkok dengan memegang ponsel Lavanya.
"Ini milik Lavanya?" tanya Digo.
Mike dengan cepat mengambilnya, memastikan benar ponsel yang dipegang oleh temannya itu.
"Iya. Ini milik Lavanya, aku mengingat dia memakai ini terakhir kali," ucap Mike dengan yakin.
Semua orang berkumpul di tempat itu, bertanya-tanya dengan penuh ketegangan yang mulai berspekulasi buruk dan bahkan Mereka melihat ke arah bawah betapa terjauhnya jurang tersebut.
"Lavanya!" teriak Mike suaranya bahkan sangat menggelegar.
"Lavanya kamu di mana?"
"Lavanya!"
"Lavanya!" teriak Mike.
"Pak tolong perbesar pencariannya," sahut Brahmana.
"Baiklah, kami akan menelusuri hutan ini, termasuk masuk ke dalam jurang, untuk memeriksa keadaan di bawah sana," ucap polisi yang membuat Brahmana mengagungkan kepala.
Susana benar-benar semakin menegangkan dengan pencarian yang semakin diperbanyak dan bahkan beberapa dari pihak berwajib sudah menuruni jurang tersebut dengan sangat hati-hati. Tetapi Lavanya sudah meninggalkan tempatnya saat dia terbangun.
Lavanya berjalan dengan langkah yang tidak stabil berusaha untuk mencari jalan keluar dari hutan tersebut. Lavanya saat ini hanya mengandalkan sang pencipta agar semuanya baik-baik saja dan tidak ada masalah yang terjadi.
Semangatnya untuk kembali bertemu dengan keluarganya yang membuatnya sampai detik ini bertahan. Lavanya benar-benar berusaha dengan semampunya, dengan semestinya dan semua yang dia lakukan demi dirinya.
******
2 Hari berikutnya...
Pencarian tidak pernah selesai, tetapi tetap saja tidak mendapatkan hasil. Pihak kepolisian bahkan berulang kali menginterogasi keluarga suami Lavanya. Mereka justru mulai tidak nyaman.
Sekarang Mike, Clara, Brahmana dan Maria duduk di ruang tamu dengan Sekar memijat kepalanya, Clara bahkan tidak peduli dengan apapun yang terlihat santai dengan melihat ponselnya.
"Masa pencarian kemungkinan akan berakhir. Kita tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya," sahut Brahmana.
"Mungkin saja dia sudah mati dimakan binatang buas," celetuk Clara.
"Kamu bisa tidak Clara bicara itu jangan sembarangan!" tegas Mike.
"Tidak kembali sampai saat ini, bahkan jejaknya juga tidak ada dan apalagi jika bukan telan binatang buas, sudahlah nggak usah memikirkan hal yang sebenarnya juga tidak ingin dipikirkan, kita kembali saja ke Jakarta," sahut Lavanya.
"Apa kata orang-orang jika kita kembali ke Jakarta dan meninggalkan menantu Brahmana di Bali dengan masa pencarian yang belum selesai," sahut Maria.
"Lalu Mama akan menunggu sampai 1 tahun di tempat ini? Bagaimana jika dia tidak akan ketemu juga dan ujung-ujungnya yang ditemukan adalah tengkoraknya," sahut Clara.
"Clara sekali lagi kamu berbicara seperti itu, mulut kamu akan aku robek!" tegas Mike penuh penekanan
"Sudah-sudah, kita tunggu saja bagaimana laporan polisi berikutnya, masalah ini bahkan sudah sampai pada media, keluarga ini menjadi pembicaraan, kita harus hati-hati mengambil tindakan, sedikit celah saja akan mengacaukan semuanya. Ingat Papa sebentar lagi akan dilantik menjadi pemimpin negara," tegas Brahmana.
"Iya kalau menang," sahut Clara yang lagi-lagi berbicara dengan sesuka hatinya membuat mata Maria melotot menegaskan kepada putrinya itu.
"Kamu diam, jangan banyak bicara!" tegas Maria.
Mike semakin frustasi yang tidak kunjung menemukan sang istri, tidak ada jejak atas keper istrinya yang membuatnya wajar saja bertanya-tanya.
****
Maria memberikan secangkir kopi kepada Brahmana yang duduk di taman Villa.
"Mama terus memantau sosial media belakangan ini, banyak yang bersimpati kepada keluarga kita bahkan buzer-buzer sudah mulai bergerak membuat berita negatif yang mengarahkan atas kehilangan Lavanya berkaitan dengan pesaing Papa Santoso!" ucap Maria tersenyum miring.
"Ya, pada akhirnya kita berhasil menarik simpatik masyarakat, mereka memberikan simpatiknya dan bela sungkawa kepada keluarga kita, Papa sudah membaca banyak komentar, bagaimana keluarga kita yang tetap berada di Bali menunggu menantunya mereka pulang, padahal hal sepertinya sungguh membuat rumit, Papa juga masih banyak pekerjaan di Jakarta yang harus diselesaikan," ucap Brahmana.
"Papa benar, tetapi kita harus tetap bertahan dan apalagi media saat ini sedang ada di mana-mana yang selalu ingin mengetahui bagaimana keadaan keluarga kita, kita harus tetap memberikan ekspresi sedih dan merasa kehilangan atas menantu kita yang tidak kunjung ditemukan, ini akan semakin banyak simpatik masyarakat dan mereka sudah pasti akan menyuarakan Papa untuk menjadi pemenangnya," ucap Maria.
"Ternyata mengorbankan sesuatu yang bukan keluarga inti dan tidak penting justru menguntungkan, apa yang terjadi pada Lavanya benar-benar membawa keberuntungan untuk kita dan kemenangan saat ini berada di depan mata kita," ucap Brahmana tertawa kecil dan juga bahkan Maria ikut tertawa.
Siapa sangka pembicaraan suami istri itu didengarkan Lavanya sendiri yang ternyata berhasil keluar dari hutan.
Lavanya benar-benar kaget, bagaimana mertuanya ternyata tidak mengkhawatirkannya dan justru mengambil keuntungan dari apa yang terjadi padanya. Air mata Lavanya sampai jatuh, di saat dia berusaha untuk bertahan hidup dan di saat itu juga ayah dan ibu mertuanya tertawa terbahak-bahak.
Bersambung....
reputasinya , kamu dan seluruh keluarga