NovelToon NovelToon
IBU TIRI SEWAAN

IBU TIRI SEWAAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Orang Disabilitas / Menikahi tentara / Anak Genius
Popularitas:12.5k
Nilai: 5
Nama Author: Lisa

Demi uang, Asia menerima tawaran menikah kontrak dengan Kapten Hugo, seorang tentara yang mengalami kelumpuhan parsial karena cidera tugas. Baginya pernikahan itu hanyalah jalan tercepat untuk melunasi utang seratus juta rupiah yang ditinggalkan ayahnya setelah kabur karena kalah berjudi.

Namun ia harus menjadi ibu tiri bagi putra bungsu yang super aktif dan sulit dikendalikan. Serta putri kelas 3 SMP yang membencinya karena merasa Asia telah menggantikan posisi mendiang ibunya.

Asia tak berniat menjadi istri yang baik atau ibu yang penyayang. Targetnya hanya satu: mengumpulkan uang sebanyak mungkin, lalu pergi saat kontrak pernikahan berakhir.

Hanya saja, keluar dari keluarga itu ternyata jauh lebih sulit daripada masuk ke dalamnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 28

Gadis itu mendengus pelan, menatap Asia dengan sudut mata dingin. Kakinya sudah bersiap untuk berbalik arah dan kembali ke atas.

Namun Hugo sudah menemukan keberadaan putrinya disana.

"Jenny," panggil Hugo tenang. Suaranya cukup tegas untuk menghentikan langkah sang putri.

Jenny menghentikan gerakan kakinya. Ia menghela napas panjang dan berat. Aku ketahuan, keluh Jenny.

Dengan enggan, Jenny akhirnya berbalik badan dan melangkah memasuki area dapur.

"Selamat pagi, Papa," sapa Jenny pelan, berusaha menahan kekesalannya di depan papanya.

"Selamat pagi," jawab Hugo menatap putrinya dengan hangat.

Nyonya Malinda tersenyum lebar melihat cucu perempuannya itu. "Nah, Jenny sudah bangun. Kalau sudah mandi, ayo cepat ke sini. Kita sarapan sama-sama. Tante Asia bikin sarapan enak hari ini."

Jenny melirik Asia sekilas yang berdiri tenang di dekat meja. Alih-alih menjawab ajakan neneknya dengan antusias, Jenny hanya bergumam pendek dan membuang muka. Dia ingin membatasi diri dari kehangatan keluarganya yang tidak ia inginkan.

"Tidak. Aku tidak ingin sarapan," tolak Jenny saat mendengar Asia memasak.

"Jangan menolak. Sarapan itu penting. Kamu harus makan," ajak Hugo yang langsung memberi ultimatum untuk ikut sarapan bersama. Tidak seperti pagi waktu itu. Disaat ia bebas menolak makanan yang dibuat oleh wanita yang menjadi istri papanya itu.

Kata-kata Hugo menggantung tegas di udara. Tidak ada bentakan, tetapi nada perintah khas perwira yang tidak bisa dibantah terpancar jelas dari suaranya.

"Tapi Papa, aku bisa bawa roti dan susu," cicit Jenny mencoba protes. Suaranya terdengar sedang menahan kesal.

"Duduk, Jenny," potong Hugo singkat namun tegas. Pandangan mata pria itu terkunci lurus pada sang putri. "Hargai orang yang sudah bangun pagi untuk menyiapkan makanan di rumah ini."

Nyonya Malinda menatap cucunya dengan tatapan teduh, mencoba mencairkan ketegangan yang mendadak menyelimuti dapur. "Ayo, Nak. Duduk dulu. Coba sedikit saja."

"Aku mau bangunkan Nero dulu, Ibu," pamit Asia halus. Ia sebenarnya tidak ingin berlama-lama berada di tengah drama ketegangan antara ayah dan anak itu. Mungkin jika ia pergi dari sana, Jenny bisa sedikit lebih tenang dan mau menikmati sarapannya bersama Hugo dan Nyonya Malinda.

"Oh, iya," jawab Nyonya Malinda mengangguk paham.

Jenny melirik Asia yang bergerak menjauh dan melangkah keluar dari area dapur. Begitu sosok Asia menghilang di balik lorong, bahu Jenny yang tadinya menegang perlahan tampak sedikit rileks.

"Ayo, makan, Jenny," pinta Hugo sekali lagi, suaranya kini melunak tanpa mengurangi ketegasannya.

Jenny menatap piring di depannya sejenak sebelum akhirnya mengambil sendok. Meski masih diam dan mempertahankan gengsinya, gadis itu mulai memakan sarapannya. Nyonya Malinda dan Hugo terdiam. Mereka menangkap satu hal. Awal yang kaku, tetapi setidaknya batasan dan kerapian aturan di rumah itu mulai terbentuk.

***

Suasana ruang kerja markas sore itu terasa makin sesak oleh tumpukan berkas dan peta wilayah di atas meja kayu yang tebal. Dengung kipas angin gantung menyertai keheningan Hugo, yang duduk di belakang mejanya dengan seragam loreng yang lengannya tergulung rapi hingga siku.

Pelipis Hugo berdenyut pelan. Luka lama di kakinya dan rasa pegal akibat terlalu lama duduk di kursi roda mulai menjalar ke punggung. Ia memijat pangkal hidungnya, memejamkan mata sejenak untuk mengusir lelah yang menggerogoti tubuhnya.

Suara ketukan pintu kayu yang tegas memecah hening.

"Izin masuk, Komandan."

Hugo membuka mata. "Masuk."

Akira melangkah masuk dengan langkah tegap. Meski terhitung orang baru yang dipindahkan dari wilayah lain, Akira memiliki pembawaan yang sangat meyakinkan. Posturnya tegap, matanya tajam, dan rekam jejak prestasinya di lapangan membuat Hugo secara pribadi sangat menyukai dan bangga pada prajurit muda ini.

Akira berhenti tepat di depan meja, meletakkan seberkas laporan evaluasi tugas lapangan yang baru saja ia selesaikan.

"Laporan evaluasi tugas minggu ini sudah siap, Komandan," ucap Akira dengan nada lugas dan penuh rasa hormat.

Hugo menarik berkas itu. Matanya menyapu lembar demi lembar laporan. Hasil kerja Akira selalu di atas rata-rata. Rapi, cermat, dan eksekusinya di lapangan hampir tak pernah meleset. Tak heran jika Akira menjadi salah satu prajurit kesayangan yang paling menonjol di markas ini.

"Analisis lokasi yang kamu buat sangat detail," puji Hugo datar. Sebuah apresiasi yang lumayan langka keluar dari mulut perwira kaku seperti dirinya. "Strategi yang kamu pakai berhasil memangkas waktu kerja tim."

"Terima kasih, Komandan. Semua berkat petunjuk Komandan," sahut Akira mantap, tetap menjaga jarak dan sikap hormat seorang bawahan pada atasan.

Hugo mengangguk puas. Prajurit berprestasi yang tetap rendah hati dan tahu aturan seperti Akira adalah tipe bawahan yang sangat ia hargai. Hugo membubuhkan tanda tangannya di lembar persetujuan, lalu menyerahkannya kembali.

"Pertahankan kinerjamu. Sampaikan hasil evaluasi ini ke anggota tim yang lain."

"Siap. Laksanakan, Komandan!" Akira memberi hormat dengan sempurna, lalu berbalik dan melangkah keluar dari ruangan dengan gerakan tegas.

Hugo menutup map terakhir di depannya, lalu bersandar di kursi roda. Kelelahan fisiknya sore itu sangat terasa, namun ada rasa puas melihat prajurit berbakat seperti Akira bekerja dengan baik.

Tepat saat Akira berbalik hendak keluar, ketukan dua kali terdengar di pintu sebelum terbuka. Sosok Gilang muncul di ambang pintu dengan sikap tegap.

"Izin masuk, Kapten," sapa Gilang tegas, menghentikan langkah Akira sejenak.

Hugo mengangguk dari balik mejanya. "Masuk, Gilang."

Gilang melirik ke arah Akira, lalu menunjuk map di tangan adik tingkatnya itu. "Laporan evaluasi lapangan sudah beres?"

"Siap, Sersan. Baru saja ditandatangani Kapten Hugo," jawab Akira lugas dan penuh sikap disiplin.

Gilang mengangguk singkat. "Bagus. Kamu serahkan dulu berkasnya ke ruang administrasi."

"Siap, Laksanakan!" Akira memberi hormat pada Hugo dan Gilang, lalu berbalik dan melangkah keluar ruangan dengan cepat.

Pintu kembali tertutup rapat, menyisakan Gilang dan Hugo di ruangan tersebut. Gilang melangkah mendekati meja kerja, meletakkan map tambahan yang dibawanya. Tatapannya sempat tertuju pada deretan obat di sudut meja Hugo sebelum kembali menatap sang perwira.

"Laporan pengawasan wilayah besok sudah saya rapikan, Kapten," ujar Gilang. Ia lalu melonggarkan sedikit sikap tegaknya setelah melihat Hugo menyandarkan punggung dengan raut lelah.

"Kakimu... masih terasa lemah, Hugo?" tanya Gilang pelan. Dia bicara sebagai sahabat. Melepaskan status atasan dan bawahan sebentar.

Hugo terdiam sejenak. Ia menyandarkan punggungnya di kursi roda, menatap lurus ke depan dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Ya," keluh Hugo akhirnya, sebuah pengakuan jujur yang jarang sekali keluar dari mulutnya. "Aku mencoba berdiri lebih lama dari biasanya tadi... tapi ternyata belum kuat."

Gilang menghela napas berat, menatap miris ke arah sahabatnya itu. Ia paham betul betapa keras kepalanya Hugo dan betapa beratnya bagi seorang perwira tangguh seperti Hugo untuk menerima keterbatasan fisiknya saat ini.

1
Hartati Tati
jangan baper Hugo ... kamu yg pasang tembok tinggi 🤣🤣
Hartati Tati
banyak banyak update jangan sampai lupa 🤣🤣🤣🤣
English Lesson
bagus 👍🏻👍🏻
Lina Marali
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!