Dihina karena dantiannya cacat, Xiao Bai mendadak mendapatkan Tungku Ekstraksi Surgawi—sebuah artefak gaib yang berfungsi sebagai sistem mutlak. Tanpa perlu berkultivasi dengan cara biasa, ia bisa mengekstrak esensi monster, tumbuhan obat, hingga pusaka kuno menjadi pil murni tanpa cacat! Dari seorang sampah yang diinjak-injak, Xiao Bai bangkit mengekstrak langit dan bumi untuk menjadi penguasa tunggal yang tak tertandingi.
#Romance #Drama #Adventure #Kultivasi #Sistem #Overpowered #BalasDendam #Action-Fantasy
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gudang yang Hancur
# TUNGKU EKSTRAKSI SURGAWI
Butuh dua hari penuh bagi Xiao Bai untuk memulihkan tenaganya setelah pertarungan nyaris mati melawan Serigala Bayangan. Dengan bantuan pil energi hasil ekstraksinya sendiri, lukanya berangsur membaik jauh lebih cepat dari yang seharusnya bagi orang biasa tanpa kultivasi—satu bukti lagi bahwa kekuatan yang bersemayam dalam dirinya bukanlah sesuatu yang bisa dianggap remeh.
Pada hari ketiga, dengan tubuh yang sudah cukup pulih untuk bergerak, Xiao Bai mulai merakit sesuatu yang lebih ambisius: sebuah alat ekstraksi sederhana dari sisa-sisa logam dan kayu yang ia kumpulkan di sekitar gudang tua, dirancang untuk membantu memurnikan proses ekstraksi tanpa terlalu menguras konsentrasinya sendiri—sebuah eksperimen yang, jika berhasil, bisa membuatnya memproduksi pil lebih cepat dan lebih banyak.
"Kalau alat ini berfungsi," gumamnya sambil mengencangkan sepotong logam ke rangka kayu yang ia bentuk seharian, "aku bisa membuat lebih banyak pil dalam waktu lebih singkat. Cukup untuk dijual diam-diam ke kota lain, jauh dari Kota Qingyun yang sudah mengenal namaku."
> **[Analisis: rancangan Host menunjukkan pemahaman dasar yang cukup baik tentang prinsip aliran energi, meski masih jauh dari sempurna. Dengan penyempurnaan lebih lanjut, alat ini berpotensi meningkatkan efisiensi ekstraksi hingga tiga puluh persen.]**
Xiao Bai tersenyum tipis mendengar itu—pujian kecil dari Tungku terasa seperti kemenangan tersendiri setelah berhari-hari hanya menerima hinaan dari manusia di sekelilingnya. Ia melanjutkan pekerjaannya hingga senja mulai turun, terlalu fokus hingga tidak menyadari suara langkah kaki yang mendekat dari luar gudang, disertai suara tawa yang familiar dan tidak menyenangkan.
"Jadi di sinilah sarang sampah itu bersembunyi."
Xiao Bai menoleh cepat, mendapati Lin Hai berdiri di ambang pintu gudang yang sudah lapuk, diapit oleh dua orang murid sekte lain yang selama ini selalu menjadi pengikut setianya—Zhang Kun, bertubuh besar dengan seringai puas, dan Chen Yu, lebih kurus namun matanya penuh kelicikan.
"Lin Hai," Xiao Bai berdiri waspada, tangannya secara refleks menutupi alat ekstraksi yang baru saja ia rakit. "Apa yang kau lakukan di sini?"
"Aku hanya menepati janjiku," Lin Hai melangkah masuk perlahan, matanya menyapu ruangan gudang yang sederhana dengan tatapan jijik. "Bukankah sudah kubilang, kalau kau berani mendekati Nona Ling'er lagi, aku tidak akan segan-segan. Dan kudengar dari beberapa orang di pasar, kau masih nekat mencoba menjual pil-pil buatanmu, mencoba membangun nama untuk dirimu sendiri."
"Itu bukan urusanmu," balas Xiao Bai, mencoba menjaga suaranya tetap tenang meski dadanya mulai bergejolak.
"Oh, tapi itu memang urusanku," Lin Hai tersenyum dingin, matanya kini tertuju pada alat ekstraksi sederhana yang tergeletak di meja kayu di belakang Xiao Bai. "Apa ini? Semacam alat alkimia buatan tanganmu sendiri? Lucu sekali. Seorang sampah tanpa bakat kultivasi mencoba bermain-main jadi alkemis."
"Jangan sentuh itu," Xiao Bai melangkah maju, mencoba menghalangi, tapi Zhang Kun sudah lebih dulu bergerak, mendorong bahunya kasar hingga terhuyung jatuh ke lantai berdebu.
"Diam saja di situ, sampah," geram Zhang Kun, berdiri mengancam di dekatnya sementara Chen Yu terkekeh puas melihat kejadian itu.
Lin Hai mendekati meja, mengangkat alat ekstraksi buatan Xiao Bai dengan satu tangan, memeriksanya sejenak dengan tatapan meremehkan. "Kau tahu, aku sebenarnya penasaran bagaimana seorang sampah bisa membuat pil yang katanya cukup baik untuk membuat tabib kota curiga. Tapi setelah melihat alat murahan seperti ini..." ia tersenyum sinis, "...kurasa aku sudah tidak penasaran lagi."
"Lin Hai, jangan—"
Terlambat. Lin Hai melempar alat ekstraksi itu ke lantai batu gudang dengan sekuat tenaga. Suara logam dan kayu yang hancur berderak keras memenuhi ruangan, potongan-potongan rangka yang sudah Xiao Bai rakit dengan susah payah selama tiga hari kini berserakan tak berbentuk di lantai.
"Tidak!" Xiao Bai berteriak, mencoba bangkit dan meraih sisa-sisa alatnya, tapi Zhang Kun menahannya kembali dengan kasar, mendorongnya jatuh terduduk.
"Sudah kubilang, kan?" Lin Hai berjongkok di depan Xiao Bai, menatapnya dengan senyum penuh kepuasan atas kehancuran yang baru saja ia ciptakan. "Setiap kali kau mencoba bangkit, aku akan selalu ada untuk memastikan kau tetap jatuh, sampah. Ini bukan hanya soal Nona Ling'er lagi. Ini soal mengingatkanmu di mana tempatmu yang sebenarnya—di dasar, selamanya."
Xiao Bai menatap reruntuhan alat ekstraksinya yang berserakan, tangannya terkepal erat menahan amarah yang membakar dadanya. Namun kali ini, di tengah kemarahan itu, ada sesuatu yang lain yang mulai tumbuh—sebuah ketenangan dingin, hasil dari latihan mengendalikan emosi yang sudah ia jalani sejak kegagalan ekstraksi pertamanya.
"Kau bisa menghancurkan alatku," kata Xiao Bai pelan, suaranya tenang meski matanya berkilat menahan amarah, "tapi kau tidak bisa menghancurkan apa yang sudah kupelajari untuk membuatnya. Aku akan membangunnya lagi, Lin Hai. Dan lagi. Sampai kau lelah sendiri mencoba menghancurkannya."
Lin Hai tertawa keras mendengar itu, berdiri sambil menggelengkan kepala. "Semangat yang mengagumkan untuk seorang sampah. Sayangnya, semangat saja tidak akan pernah cukup untuk mengubah takdirmu." Ia memberi isyarat kepada Zhang Kun dan Chen Yu untuk mengikutinya keluar. "Ayo. Sudah cukup waktu kita habiskan di tempat kotor ini. Baunya mulai membuatku mual."
Ketiganya melangkah keluar gudang sambil tertawa mengejek, meninggalkan Xiao Bai sendirian di antara reruntuhan alat yang ia rakit dengan susah payah, rasa sakit di bahunya yang terdorong kasar bercampur dengan kepedihan yang jauh lebih dalam—kepedihan melihat hasil kerja kerasnya dihancurkan hanya demi kepuasan seorang yang merasa terancam oleh keberadaannya.
---
Xiao Bai duduk di antara puing-puing alat ekstraksinya, menatap potongan logam dan kayu yang kini tak berbentuk, napasnya masih memburu menahan amarah yang membara.
> **[Host, aku mendeteksi tingkat stres emosional yang tinggi. Namun aku juga mendeteksi sesuatu yang berbeda dari sebelumnya: kemarahan Host kali ini tidak mengganggu stabilitas energi internalnya. Analisis: Host mulai menguasai pengendalian emosi yang selama ini menjadi kelemahan terbesarnya.]**
"Aku tidak peduli soal itu sekarang," gumam Xiao Bai, meraih satu-satu potongan logam yang masih bisa diselamatkan. "Yang kupedulikan adalah Lin Hai akan terus datang, terus menghancurkan apa pun yang kubangun, selama aku masih dianggap lemah dan tak berdaya."
> **[Sebuah pertanyaan, Host: apakah Host ingin aku mulai menganalisis kemungkinan cara meningkatkan kekuatan pertahanan diri, bukan hanya kemampuan ekstraksi? Sejauh ini, seluruh fokus Host tertuju pada produksi pil. Namun tanpa kemampuan melindungi diri secara fisik, setiap hasil kerja keras Host akan selalu rentan dihancurkan oleh mereka yang lebih kuat secara fisik atau kultivasi.]**
Xiao Bai terdiam, menyadari kebenaran pahit di balik kata-kata itu. Selama ini ia terlalu fokus pada kemampuan menghasilkan pil, lupa bahwa di dunia yang dipenuhi kultivator dengan kekuatan fisik dan qi yang jauh melampauinya, ia tetap rentan selama tak punya cara untuk melindungi dirinya sendiri dan hasil kerja kerasnya.
"Ya," jawabnya akhirnya, tekad baru mulai terbentuk di balik matanya yang lelah namun tak lagi putus asa. "Mulai sekarang, aku tidak hanya perlu belajar mengekstrak. Aku perlu belajar bertahan—dengan caraku sendiri, meski tanpa kultivasi seperti mereka."
Ia mulai mengumpulkan kembali potongan-potongan logam dan kayu yang masih bisa digunakan, menyusunnya perlahan di bawah cahaya senja yang masuk melalui celah atap gudang yang bocor—bukan hanya untuk membangun kembali alat yang hancur, tapi untuk membangun kembali dirinya sendiri, sedikit demi sedikit, dari puing-puing penghinaan yang terus menumpuk setiap harinya.