NovelToon NovelToon
Transmigrasi: Bercerai Dari Suami Brengsek Jatuh Ke Pelukan Vilain

Transmigrasi: Bercerai Dari Suami Brengsek Jatuh Ke Pelukan Vilain

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Jeje Jennifer

Orielle Celeste mati bersama bayi yang tak sempat ia lahirkan. Semua orang mengira wanita lemah yang selalu menangis itu akhirnya menyerah pada hidup. Mereka tidak tahu… Tubuhnya kini dihuni oleh Celeste Seraphina, mantan bodyguard profesional yang cerewet, dan ahli bela diri. Hal pertama yang ia lakukan setelah membuka mata bukanlah menangis. Ia menandatangani surat cerai, menghajar mantan suaminya hingga bersimbah darah, lalu meninggalkan rumah neraka itu tanpa sedikit pun penyesalan. Baginya, perceraian hanyalah awal. Namun, bahkan Celeste tidak menyangka seseorang telah menunggunya. Caspian Orion Devereux. Pria yang dijuluki sebagai villain paling berbahaya. Sosok yang bahkan dunia bawah pun enggan menyentuhnya. Tanpa banyak basa-basi, Caspian meletakkan sebuah kontrak pernikahan di hadapannya. “Menikahlah denganku.” “Sebagai gantinya, aku akan memastikan mantan suamimu… dan siapa pun yang pernah menyakitimu menerima balasan yang setimpal.” Kesepakatan yang terdengar menguntungkan. Sayangnya, bermain-main dengan seorang villain tidak pernah berakhir sederhana. Terlebih ketika pernikahan yang semula hanya sebuah kontrak perlahan berubah menjadi obsesi. Dan sang villain memutuskan bahwa wanita itu… adalah miliknya


Noh yg suka bini yg jijik liat suami pas Transmigrasi nohhhh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeje Jennifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kedatangan Tetua Devereux

Mobil hitam ber-plat khusus yang membawa Caspian dan Xanderion akhirnya meluncur meninggalkan pekarangan luas mansion utama, membelah jalanan kota di bawah langit siang yang mulai mendung.

Begitu mobil itu hilang di balik gerbang tinggi, Cassandra langsung bertepuk tangan riang. Gadis itu melompat kecil, lalu dengan sigap merangkul lengan Celeste erat-erat sebelum melangkah masuk ke dalam rumah.

"Celeeee!" rengek Cassandra manja, mengerlingkan matanya penuh harap.

"Abang kan udah pergi tuh, tiga hari ke depan. Tidur bareng aku ya malam ini? Please... ya? Pleaseeee?"

Celeste, yang napasnya baru saja kembali normal setelah ciuman intens suaminya tadi, mengerjap kaget mendengar ajakan sang adik ipar.

Sebelum Celeste sempat membuka mulut untuk menjawab, Chalista yang berdiri di sebelah mereka langsung menyahut antusias dengan mata berbinar-binar.

"Wah, ide bagus banget,Cassa! Biar nanti malam kalian bisa maskeran bareng, pakai piyama kelinci kembaran, terus gibahin si kulkas dua pintu sepuasnya!" dukung Chalista penuh semangat, langsung menyetujui tanpa butuh persetujuan pihak kedua.

Cassian, yang baru saja berhasil meredakan pusing di kepalanya akibat ulah Cassandra sebelumnya, hanya bisa pasrah mengangkat kedua tangan ke udara. Sang kepala keluarga memilih menyerah, berjalan mendahului mereka masuk ke dalam rumah sambil menggelengkan kepala pelan.

Celeste yang terhimpit di antara antusiasme ibu dan anak itu hanya bisa mendengus pasrah, sementara dalam hati ia sudah membayangkan betapa tidak tenangnya tiga hari ke depan tanpa kehadiran Caspian untuk melindunginya dari "kegilaan" keluarga Devereux.

"Yey! Asyik, tidur bareng kak Cele!" teriak Cassandra gembira, langsung menyeret Celeste masuk ke dalam mansion, meninggalkan koper Celeste yang masih tergeletak di teras tanpa sempat dibongkar.

Mendengar panggilan dengan nada usil oleh gadis di sampingnya, Celeste langsung mendengus sebal. Ia menghentikan langkahnya sejenak, lalu menatap Cassandra dengan mata menyipit tajam penuh ancaman.

"Berani banget lo manggil gue kakak, hah?" ancam Celeste setengah bergurau sambil melipat tangan di dada. "Awas ya kalau lo nggak mau nurut sama gue, bakal gue jodohin si Xander sama Serena sekarang juga!"

Mendengar nama "Serena" disebut, langkah Cassandra langsung terhenti. Binar usil di wajah gadis itu seketika meredup, digantikan oleh rona merah tipis yang tiba-tiba menjalar di kedua pipinya.

"Eh, eh, jangan bawa-bawa Serena dong, Celeee!" protes Cassandra panik, langsung mengerjap-ngerjap kikuk sambil menarik-narik lengan Celeste agar kembali berjalan.

Celeste tersenyum miring penuh kemenangan, merasa akhirnya menemukan senjata ampuh untuk menjinakkan sang sahabat. Sebelum Cassandra sempat membalas ancamannya, Celeste langsung mengalihkan pembicaraan dengan menoleh ke sekitar.

"Sena mana? Dari tadi gue nggak liat batang hidungnya. Ajakin juga lah, dia harus tidur bareng kita nanti malam di kamar lo!"

Chalista yang mendengar usulan itu langsung bertepuk tangan semakin antusias, membuat Cassian yang berjalan di depan semakin mempercepat langkahnya karena lelah melihat lingkaran sirkus di dalam keluarganya sendiri.

Sementara itu, di dalam mobil mewah yang membelah jalanan kota menuju bandara privat, suasana terasa mencekik.

Caspian duduk bersidekap di jok belakang dengan aura dingin yang mampu membekukan ruangan. Di kursi sebelah pengemudi, Xanderion mendadak merasa punggungnya basah oleh keringat dingin.

Tatapan mematikan dari sang bos lewat spion tengah setiap kali Xanderion tidak sengaja menghela napas terlalu keras.

"Ya Tuhan, tolong lindungi hamba dari kutukan keluarga ini" batin Xanderion merana dalam diam, sementara Caspian terus menatap tajam ke luar jendela dengan pikiran yang sepenuhnya tertuju pada sang istri yang ditinggalkannya di mansion utama.

Tepat saat mobil ber-plat khusus itu menembus gerbang landasan privat bandara, Xanderion dengan sigap membukakan pintu untuk bosnya. Tanpa membuang waktu, Caspian langsung keluar dari mobil dengan langkah lebar penuh wibawa, bersiap menaiki jet pribadi yang sudah siap lepas landas menuju kantor pusat di Negara Z.

Namun, sebelum kakinya menapak tangga pesawat, Caspian berbalik sejenak. Manik kelamnya menatap tajam ke arah Xanderion yang berdiri siaga di belakangnya.

"Pastikan separuh pengawal yang kau tinggalkan di mansion utama bekerja dengan benar," instruksi Caspian dengan suara berat bernada mutlak. "Jika ada satu goresan pun di tubuh istriku, atau jika keluargaku membuat hal aneh yang membuatnya tertekan..." Caspian menggantung kalimatnya, memberikan tatapan mengintimidasi yang membuat bulu kuduk Xanderion merinding seketika, "...kau tahu akibatnya, Xander."

"Baik, Tuan! Saya pastikan Nyonya Muda aman di bawah pengawasan ketat," jawab Xanderion cepat dengan postur tegap, meski dalam hati ia berdoa agar tiga hari ini segera berlalu tanpa insiden susulan dari Cassandra maupun Chalista.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Suasana di dalam kamar tidur mewah Cassandra mendadak riuh begitu pintu utama tertutup rapat. Chalista dan Cassian tadinya sempat mampir untuk memastikan kamar khusus yang disiapkan untuk Celeste bersih, sebelum akhirnya sang kepala keluarga memutuskan untuk menarik istrinya turun karena ada urusan bisnis mendadak yang harus mereka bereskan di luar kota sore itu juga.

Chalista berhenti. Wanita paruh baya itu berbalik, menerjang ke arah Celeste yang sedang duduk di tepi ranjang, lalu menangkup kedua pipi menantunya tanpa ampun.

"Duh, kesayangan Mommy mau ditinggal sebentar ya..." ratap Chalista manja, lalu mendaratkan rentetan ciuman bertubi-tubi di dahi, kedua pipi, hingga pucuk hidung Celeste dengan penuh kasih sayang yang menggebu-gebu.

Celeste hanya bisa memejamkan mata pasrah, membiarkan wajahnya diciumi layaknya bayi besar oleh ibu mertuanya sendiri.

"Udah ya, Mommy mau nemenin Daddy keluar sebentar. Nanti malam kita lanjut maskeran sama piyama kelincinya! Jangan kangen sama Mommy ya!" pesan Chalista riang, melambaikan tangan sebelum akhirnya ditarik keluar kamar oleh Cassian yang sudah mengelus dada sabar.

Begitu pasangan suami istri paruh baya itu benar-benar pergi, keheningan sejenak menyergap kamar bernuansa pastel milik Cassandra tersebut.

Celeste mengembuskan napas panjang, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan akibat ulah sang mertua. Di sebelah kanannya, Cassandra langsung merebahkan diri telentang di atas kasur king size, menatap langit-langit kamar dengan seringai usil yang kembali mengembang.

"Panggil Serena kesini dan kita mulai malam penuh gibahan kita, Kakak Ipar!"

Mendengar panggilan itu, Celeste mendengus pelan sambil melirik tajam ke arah Cassandra yang masih cengangas-cengengesan di atas kasur.

"Jangan panggil gue kakak ipar ah, geli gue" ketus Celeste sambil melempar bantal kecil tepat mengenai muka Cassandra.

Cassandra langsung menangkap bantal tersebut sambil tertawa terbahak-bahak. Ia bangkit dari posisinya, duduk bersila menghadap Celeste dengan mata berbinar-binar penuh antusias.

"Sumpah ya, Cele, gue senang banget parah waktu tahu lo yang jadi istri Abang gue!" seru Cassandra heboh, menepuk-nepuk paha Celeste gemas.

"Jadi gimana abang gue? Ganas kan. Gila gue nggak nyangka dia bisa begitu" goda Cassandra.

Mata Celeste langsung membelalak lebar. Wajahnya seketika berubah merah padam hingga ke telinga.

"Sialan lo, Cassa! Nggak usah diungkit-ungkit lagi, anjir!" teriak Celeste histeris, langsung menerjang Cassandra dan membekap mulut ipar sekaligus sahabatnya itu dengan bantal.

Mendengar teriakan panik Celeste, tawa Cassandra semakin meledak-ledak di balik bekapan bantal. Sebelum Celeste sempat mencecar sahabatnya itu lebih jauh, tiba-tiba suara ketukan pintu kamar yang diketuk dengan tongkat kayu menggema keras dari luar.

Tok! Tok! Tok!

Seketika itu juga, aksi kejar-kejaran kecil di atas ranjang terhenti. Celeste dan Cassandra saling berpandangan dengan kening berkerut. Belum sempat mereka bangkit untuk membuka pintu, daun pintu kamar ganda itu sudah didorong terbuka dengan kasar oleh seorang pelayan pria yang tampak pucat pasi.

"N-Nona Cassandra... Darurat!" lapor sang pelayan terbata-bata dengan napas tersengal. "Tuan Besar dan Nyonya Besar... baru saja tiba di lobi!"

Mata Cassandra langsung membelalak lebar, sementara warna muka Celeste seketika memudar.

"Tuan Besar dan Nyonya Besar? Itu kan kakek nenek suami gue" Batin Celeste menjerit ngeri. Kalau Chalista dan Cassian saja tipikal mertua yang hobi bikin jantungan, lalu bagaimana dengan kakek dan nenek Caspian yang notabene adalah tetua tertua di keluarga mafia Devereux?!

Belum sempat Celeste menetralkan detak jantungnya yang mendadak menggila, suara langkah kaki berat berbalut ketukan tongkat emas terdengar mendekat dari koridor.

"Mana cucu menantu ku, kesayangan si brengsek Caspian itu?! Berani-beraninya dia menikah diam-diam tanpa restu dari kakek moyangnya?!" bentak suara bariton tua yang menggelegar, sukses membuat Celeste merinding di tempat.

Dua sosok paruh baya berbalut kemewahan klasik dan aura intimidasi tingkat tinggi mendadak muncul di ambang pintu kamar Cassandra.

Sang Kakek—Donovan Devereux berdiri tegak dengan balutan jas hitam klasik, membawa tongkat bermata berlian yang mengetuk lantai dengan ritme mengancam. Di sebelah kanannya, sang Nenek—Helena Devereux menatap tajam dengan mata setajam elang, memindai seluruh isi kamar sebelum akhirnya manik tua itu mendarat tepat pada sosok Celeste yang sedang terduduk kaku di atas ranjang.

"Jadi... ini dia gadis yang berhasil menjerat cucu bodohku itu?" suara Helena mendesis dingin namun anggun, melangkah masuk tanpa diundang diikuti oleh tatapan yang membuat Celeste merasa seperti mangsa di hadapan singa betina.

Cassandra yang biasanya paling berisik mendadak menelan ludah rapat-rapat. Gadis itu refleks menarik ujung baju Celeste, berbisik panik, "Mati kita, Cel... Kakek sama Nenek kalau ngamuk levelnya udah beda server dari Mommy."

Celeste ingin sekali menangis. Baru saja ditinggal pergi sang suami, kini ia harus berhadapan dengan "boss final" dari keluarga Devereux yang terkenal kejam dan kolot.

Donovan mendengus keras, mengangkat tongkatnya dan menunjuk lurus ke arah Celeste. "Hei, gadis kecil! Turun dari ranjang itu dan jelaskan padaku, kenapa kamu berani-beraninya mencuri cucu kesayanganku tanpa upacara penyambutan resmi dari keluarga besar Devereux, hah?!"

Mendengar bentakan tegas kakek suaminya, Celeste merasa nyawanya seketika melayang entah ke mana.

Otaknya nge-lag. Di tengah kepanikan akut itu, alih-alih gemetar ketakutan seperti bayangan Donovan, Celeste justru mendengus reflek saking stresnya, lalu menatap tajam ke arah sang kakek tua itu.

"Nggak usah nunjuk-nunjuk pakai tongkat gitu, Kek! Emangnya aku sapi?!" balas Celeste spontan dengan nada ngegas, sama sekali lupa siapa yang sedang dihadapinya saat ini. "Tanya aja noh sama cucu kesayangan Kakek yang datang dan ngajak nikah! Kenapa malah aku yang dicecar?!"

Seketika itu juga, udara di dalam kamar Cassandra berubah hening.

Cassandra yang duduk di sebelah Celeste langsung menutup matanya rapat-rapat sambil menahan tawa padahal badannya merinding sedikit.

Bahkan para pengawal di belakang Donovan ikut menahan napas, bersiap menghadapi amukan sang kepala klan Devereux yang paling ditakuti seantero dunia bawah.

Namun, reaksi yang ditunjukkan Donovan dan Helena di luar dugaan siapa pun.

Alih-alih murka atau mengeluarkan pistol, sang Kakek, Donovan, justru tertegun beberapa detik. Alis putihnya berkedut, menatap Celeste lekat-lekat dari ujung rambut sampai ujung kaki.

Beberapa detik kemudian, tawa menggelegar tiba-tiba meledak dari mulut pria tua berwajah garang itu.

"Hahahahaha!" Donovan memukul lantai dengan tongkatnya penuh antusias, lalu menoleh ke arah istrinya dengan mata berbinar-binar lebar. "Helena! Kamu dengar itu?! Dia berani membalas ku, Hua hahaha! Nyali gadis ini jauh lebih besar daripada si brengsek Caspian waktu seumuran dia!"

Helena di sebelah suaminya ikut tersenyum tipis, sorot mata tuanya yang tadinya tajam kini berubah melembut penuh ketertarikan. Wanita paruh baya berwajah anggun itu melangkah mendekati ranjang, lalu langsung mencubit gemas pipi Celeste yang melongo kebingungan.

"Aduh, cucu menantu Nenek galak banget ya, ampun..." gemas Helena, mencolek hidung Celeste tanpa dosa. "Bagus! Bagus sekali! Keluarga kita emang butuh orang yang seperti kamu. Pantasan Caspian langsung mengikat kamu"

Celeste yang tadi sudah siap mental bakal diusir atau disiram air keras kini malah cengo sejadi-jadinya.

"Hah? Ini kakek neneknya salah minum obat atau gimana, anjir? Kok malah dipuji?" batin Celeste histeris, benar-benar tidak paham dengan alur logika keluarga kejam yang satu ini.

Melihat Celeste masih melongo kebingungan dengan pipi merah bekas cubitan Helena, tawa Donovan kembali mereda. Pria tua itu menyandarkan kedua tangannya di atas kepala tongkat berliannya, lalu menatap sang cucu menantu dengan senyuman lebar penuh arti.

"Sudah, jangan kaget begitu, Nak. Kakek sama Nenek ke sini bukan mau mengamuk," kata Donovan dengan nada yang kini terdengar jauh lebih santai, bahkan mirip seperti kakek-kakek pada umumnya yang sedang menengok cucu kesayangan. "Sebenarnya, kami sengaja datang ke mari karena bosan di pulau pribadi. Pas dengar si sialan Caspian menikah secara diam-diam, ya jelas kami penasaran ingin melihat gadis malang mana yang sanggup tahan hidup dengan dia!"

Helena mengangguk setuju, lalu dengan gerakan anggun langsung mendudukkan dirinya di tepi ranjang, merangkul bahu Celeste penuh kehangatan.

"Bener Celeste. Kamu tahu sendiri kan cucu kita itu karakternya seperti es batu berjalan? Dari kecil tidak pernah nakal, kerjanya cuma memimpin sindikat, memerintah orang, lalu memasang wajah datar," sambung Helena mendengus geli.

"Makanya, waktu Chalista kirim foto kalian tadi siang, Nenek langsung seret Kakekmu buat ke sini. Kamu harus sering-sering marahin dia biar nggak sewenang-wenang! Kalo perlu kamu potong tangannya kalo sampe dia berani main tangan"

Cassandra yang sedari tadi duduk meringkuk siap menahan tawa tidak sanggup lagi untuk menahan.

Celeste, yang perlahan mulai bisa mencerna situasi, mengerjap-ngerjap kikuk. Rasa takutnya kini berganti menjadi rasa heran tingkat dewa.

"Gila ya... Satu keluarga ini ternyata psikopat semua" batin Celeste ngeri.

1
Muft Smoker
aaaaa Manis nya mereka
Muft Smoker
di luar ekspektasi yx cele ,, 😂😂😂
Muft Smoker
😂😂😂😂😂😂😂😂
khemjira
Wkwkwk pantes. kaget kmrn tb2 Jocelyn🤭🤣
Muft Smoker
sabar ,, sabar ,, org sabar rejeki ny melebaaaar ,, 😂😂😂😂

POV cassian : bukan rejeki yg melebar tp kepala ma telinga saya yg melebar ,, 😒😒😒😒😒😒



🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker
Xander lngsung jdi patung hidup ,, 😂😂😂😂
Muft Smoker
😂😂😂😂😂😂😂😂klo gx liat mubazir yx ,, 😂😂😂
Muft Smoker
sabar yx cele ,, 😂😂😂😂😂
Muft Smoker
lanjuuut kak ,, ceritany seruuuuuu
Muft Smoker
gx majikan , gx ipar , gx pelayan ny ,, semua ny gesrek ,,
kasihan caspian di sekitar ny byk org2 di luar Nurul ,, termasuk sang istrii ,,
Muft Smoker
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Muft Smoker
astgaaaaa gx elegan banget mulut ny di jepit pake jepit rambut ,, sekalian di kuncir bibir adik ny caspian ,, 😂😂😂😂😂😂
Muft Smoker
sabar xanderion si Mak lagi mode senggol bacok ,,
Kade di Kadek ,, 😂😂😂😂
Muft Smoker
tenaga perempuan klo lagi dongkol setengah meninggoy bisa juga menggeser kulkas 2 pintu 😂😂😂😂😂
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
Muft Smoker
sbar yx Cassandra ,, selama 2 hari ini anda mentraktir org yg slah ,, 😂😂😂😂
Muft Smoker
aiisshhh ,, gibah dlm sgala hal ,, 😂😂😂😂😂
Muft Smoker
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
aku
jadi yg bnr 2 bulan apa 90 hari tor? 😁
Jennifer: makasiiii hihi
total 1 replies
Muft Smoker
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!