Sebuah kerajaan terbesar punya misi menangkap semua petarung liar untuk kedamaian. Namun semua perguruan seni bertarung pedang menolaknya. Karena mereka tahu kalau kerajaan ingin mengatur masyarakat dengan menguasai sumber daya.
Sepasang pendekar pedang ini menjadi penyelamat untuk melawan sebuah kerajaan besar. Mereka melakukan perjalanan bersama untuk mengumpulkan rahasia teknik pedang tersembunyi dan dua pedang Sakti.
Pedang Zen Xi di Desa Win, lalu pedang Zoi Chu di Desa Hon. Namun mereka harus melewati rintangan dan tempat untuk bisa sampai di tujuan. Lalu mereka kembali untuk mengalahkan Kerajaan Sinpor.
Setelah masalah Kerajaan Sinpor selesai, kisah cinta mereka berdua sempat mendapatkan penolakan dari orang tua perempuan, karena perbedaan kelas sosial. Namun mereka berdua punya cara agar mereka berdua bisa menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Firdaus Rangkuti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pahami
Setelah mereka berdua sampai rumah, Jinsin meletakkan bahan belanja di atas meja. Rio hanya duduk diam melihat Jinsin berwajah bingung.
"Rio." panggil Jinsin.
"Iya." sahut Rio.
Sambil memeriksa barang belanja yang akan di taruh di dalam lemari es dan lemari penyimpan. Jinsin melihat Rio berwajah biasa. Setelah selesai menyusun itu semua, Jinsin berdiri di dekatnya duduk melihat mata Rio. Lalu Rio sedang duduk melihat Jinsin berdiri merasa bingung. Kemudian Jinsin menarik baju Rio.
"Jinsin apa salah ku. Kenapa kau?" tanya Rio Jinsin menutup mulut Rio.
"Rio sepertinya kau tidak paham tentang perasaan ku ya?" ucap Jinsin bisik ke telinga. Rio diam melihat Jinsin bermata melotot ketakutan. Rio menjawab dalam keadaan mulut di tutup terus berusaha bicara. Jinsin menghela napas lalu membuka mulutnya melihat Rio tanpa kedip.
"Jinsin, aku paham apa maksud kamu. Aku tahu kamu cemburu. Lalu aku juga melihat kamu di kedai tadi." ucap Rio melihat wajahnya.
"Lalu, apa lagi?" tanya Jinsin.
"Sudah lah Jinsin, kau tidak perlu ingat kejadian tadi?" ucap Rio bangkit memeluk Jinsin. Lalu Jinsin diam di peluk Rio, namun melepas pelukan dan melihat wajah Rio sambil memegang dagunya berwajah kesal.
"Jinsin." ucap Rio. Lalu Rio hanya diam melihat reaksi Jinsin dengan ekspresi marah. Namun Rio tetap bingung dan berusaha tersenyum walaupun merasa sedih.
"Rio kau adalah lelaki yang ku suka. Kok hal begini saja kamu tidak bisa baca situasi dan perasaan ku!" teriak Jinsin mulai menarik dagu lebih dekat ke wajahnya.
"Iya, aku tahu, Jinsin." ucap Rio menoleh ke bawah berwajah sedih.
"Jinsin." Rio melihat dengan mata berkaca-kaca lalu memegang wajah Jinsin.
Jinsin diam saat Rio bereaksi terhadap dirinya. Namun dia perlahan melepas tarikan baju Rio dan dagunya berwajah marah. Lalu Jinsin menarik kursinya untuk duduk di meja dapur melihat langit dapur dengan menghela napas. Lalu Rio berdiri menatap mata Jinsin, dan memeluk tubuhnya dengan erat lagi.
"Kau tetap orang yang ku suka walaupun kamu cemburu. Itu hal yang perlu ku sadari dari kamu." ucap Rio bisik ke telinga. Jinsin tidak melepas pelukan Rio namun tetap berdiri dan tidak membalas pelukannya dan mendengar ucapan Rio berwajah cemburu.
Setelah itu Rio melepas pelukan Jinsin dan duduk kembali duduk. Lalu Jinsin berdiri menatap Rio sesaat dengan mulut di kerucutkan. Dia berjalan membuka pintu meninggalkan Rio di dapur. Rio hanya diam melihat Jinsin sambil melipat kedua tangan memikirkan sesuatu.
Saat Jinsin sedang mencuci baju dan Rio sedang menyapu halaman rumah dengan sapu lidi di sore hari. Lima orang naik datang ke kediaman Rio dan Jinsin. Mereka berdua melihat lima pria dengan wajah biasa. Namun kelima lelaki itu merusak halaman mereka dengan memijak pakai seekor kuda mereka. Lalu yang lain ikut merusak halaman dengan memotong menendang dan membuat agar terlihat berantakan.
"Hei, apa yang kalian lakukan!" teriak Rio berlari ke arah mereka bawa sapu. Setelah Rio bereaksi, ke empat pria mendatanginya dengan berjalan kaki. Satu orang lagi sebagai pemimpin menghampiri naik kuda lalu turun melihat Rio bersama anggotanya dari dekat.
"Hei, betul ini orangnya?" tanya seorang pria bernama Geri turun dari kuda menunjuk dengan jari tengah.
"Betul bos." ucap Rewo. Lalu Geri mendekati Rio dengan berdiri memelototinya. Ke empat pria lain hanya diam dengan gaya menantang ingin bertarung.
"Hei kau, sudah pernah kena pukul oleh ku." ucap Geri menyentuhkan jidat ke jidat Rio dengan tatapan melotot.
"Masalahmu apa?" tanya Rio santai tapi tetap melawan jidat Geri.
"Kau, jangan sok jadi pahlawan kalau kau mau selamat!" teriak Geri.
"Aku tak ngerti maksudmu." ucap Rio bingung.
"Kalau kau ingin selamat jangan ganggu kami!" teriak Geri dengan napas marah dengan wajah marah ingin bertarung.
Rio diam melihat tingkah Geri, lalu dia melepas jidat Geri. Lalu Geri menarik kepala dari sentuhan Rio dengan berdiri melihat Rio tatapan melotot. Rio melihat salah satu rekan di kenalnya saat berada di gang itu. Rio tersenyum melihat tingkah menantang mereka. Lalu Jinsin berlari mendatangi Rio sedang di tantang di rumput halaman rumah.
"Hei Rio, kenapa?" tanya Jinsin memukul pundak. Rio diam melihat mereka dengan wajah marah, dan dia tidak menanggapi ucapan Jinsin.
"Hei, kau sebaiknya kalian bersihkan halaman yang sudah di buat berantakan, cepat!" teriak Rio melihat Geri masih memelototinya.
"Sialan, kau!" ucap Geri ekspresi marah.
"Rio, sudah biar aku yang bereskan, sebaiknya kamu masuk sana." ucap Jinsin menyuruh masuk ke dalam rumah. Rio tetap diam dan tubuhnya ditarik oleh Jinsin agar dia masuk ke dalam rumah. Setelah Rio disuruh masuk sampai ke dalam rumah. Jinsin menghampiri kelima pria sedang berdiri halaman rumah itu dengan wajah senyum.
"Ada masalah apa, bisa jelaskan?" tanya Jinsin.
"Hei, wanita. Jangan ikut campur urusan kami kalau ingin selamat." ucap Geri suara berat bicara ke Jinsin wajah marah.
"Baik, tapi masalah apa ya. Lalu kenapa kalian bisa tahu tentang kami?" tanya Jinsin ramah.
"Gang kecil, ingat?" tanya Rewo kepala di perban. Jinsin sadar kalau kejadian di gang itu telah membuat mereka marah dan tahu kediamannya. Jinsin hanya menuruti perkataan Geri dan mereka pergi meninggalkan Jinsin dan kediaman. Namun Jinsin menyampaikan kepada mereka saat balik.
"Kalau kalian ingin melakukan sesuatu, jangan merugikan warga desa." ucap Jinsin santai bicara. Geri berhenti melangkah menatap Jinsin dari samping penuh marah. Lalu menutup mata dan melanjutkan langkahnya lagi. Setelah itu dia masuk ke dalam rumah melihat Rio dengan menutup pintu depan. Dia melihat Rio sedang duduk santai menghela napas di ruang depan. Lalu Jinsin ikut duduk.
"Rio, sepertinya mereka kelompok bandit desa ini." ucap Jinsin.
"Kenapa kamu lawan aku?" tanya Rio.
"Kita di desa orang untuk sembunyikan identitas. Kalau kamu lawan desa akan gempar dengan kekuatan kita." ucap Jinsin. Rio mendengar ucapan Jinsin. Namun tetap bersikap cuek terhadap pemikiran yang disampaikan olehnya.
"Baik, aku akan ikuti pemikiran kamu, Jinsin selama itu benar." ucap Rio bangkit dari kursi ke dapur untuk mengambil gelas. Jinsin melihat Rio ke dapur, dan dia melihat sedang minum dari teko air. Lalu Rio kembali duduk di depan Jinsin dan melihat keluar jendela yang terbuka dengan angin bertiup ke arah wajahnya menjelang petang.
"Kau akan keluar malam ini, Rio?" tanya Jinsin.
"Kau mengajak ku jalan sama?" tanya Rio.
"Iya, kalau kau mau. Kalau tidak, juga tidak masalah." ucap Jinsin.
"Boleh, aku tidak keberatan." ucap Rio. Lalu Mereka berdua bersiap untuk jalan sama dan membiarkan halaman rumah dalam kondisi berantakan. Setelah siap, Rio berdiri di depan pintu rumah dengan pakaian rapi. Jinsin keluar dari kamar tidurnya dengan pakaian yang anggun. Rio kaget melihat kecantikan wanita bernama Jinsin sampai wajah merah, mata tak berkedip.