Di balik gaun megah bertabur mawar merah dan dansa yang begitu mesra, tersimpan sebuah rahasia yang mematikan.
Melanie mengira ia telah menemukan cinta sejatinya pada diri Glen, seorang pria menawan yang memperlakukannya bak seorang ratu tanpa cela, seperti mawar merah yang indah tanpa duri (Thornless Red Rose). Namun, Melanie tidak pernah tahu bahwa di balik tatapan penuh kehangatan itu, Glen sedang merajut jaring balas dendam yang kejam terhadap keluarganya.
Ketika kebenaran perlahan mulai terkuak, Melanie harus menghadapi kenyataan pahit: apakah cinta Glen kepadanya murni nyata, ataukah ia hanya sekadar bidak dalam permainan balas dendam yang dirancang untuk menghancurkan hidupnya?
Sebuah kisah tentang cinta yang tumbuh di atas bara dendam, di mana batas antara ketulusan dan pengkhianatan menjadi begitu tipis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menenun Luka di Atas Kanvas Digital
Matahari baru saja terbit, membiaskan semburat warna jingga di ufuk timur Jogja, namun Glen masih setia di posisi yang sama sejak semalam. Secangkir teh dari Bik Sisi sudah lama mendingin dan menyisakan ampas di dasarnya. Layar laptop di hadapannya kini tak lagi menampilkan situs lowongan kerja, melainkan sebuah halaman putih kosong dari dasbor penulis di platform NovelToon.
Jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Glen memiliki sebuah cita-cita besar yang terpendam: ia ingin menjadi seorang penulis skenario film. Ia ingin melihat kata-kata yang ia susun mewujud menjadi karakter yang bernyawa di layar lebar. Namun, hingga detik ini, belum ada satu buku pun yang berhasil ia ciptakan atau ia terbitkan. Terlalu banyak pikiran yang berkecamuk di dalam kepalanya, benturan antara dendam masa lalu, rasa bersalah pada ayahnya, dan kehadiran Melanie yang mengacaukan segalanya membuat fokusnya selalu buyar di tengah jalan. Menulis sebuah karya yang utuh terasa begitu sulit dan menyiksa bagi jiwanya yang gundah.
Namun pagi ini, setelah frustrasi mencari pekerjaan konvensional yang selalu menuntut pengalaman, Glen memutuskan untuk mengambil jalan lain. Ia akan menulis. Bukan skenario film yang rumit dengan segala teknisnya, melainkan sebuah cerita yang mengalir langsung dari luka di dadanya.
Jemari Glen yang tadinya kaku perlahan mulai menyentuh papan ketik. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengetikkan sebuah judul di kolom yang tersedia:
**Thornless Red Rose**
Sebuah judul yang ironis. Sebuah judul yang langsung merujuk pada sketsa mawar yang tempo hari ia remuk di kamar kost Thone. Dengan tatapan mata elang yang menajam, Glen mulai mengetikkan sinopsis cerita tersebut, merangkai kata demi kata yang sejatinya adalah cerminan dari takdir hidupnya sendiri:
Di balik gaun megah bertabur mawar merah dan dansa yang begitu mesra, tersimpan sebuah rahasia yang mematikan. Antara seorang wanita yang menemukan cinta sejatinya pada diri seorang pria, seorang pria menawan yang memperlakukannya bak seorang ratu tanpa cela, seperti mawar merah yang indah tanpa duri (Thornless Red Rose). Namun, wanita itu tidak pernah tahu bahwa di balik tatapan penuh kehangatan itu, sang pria sedang merajut jaring balas dendam yang kejam terhadap keluarganya.
Ketika kebenaran perlahan mulai terkuak, wanita harus menghadapi kenyataan pahit: apakah cinta pria kepadanya murni nyata, ataukah ia hanya sekadar bidak dalam permainan balas dendam yang dirancang untuk menghancurkan hidupnya?
Sebuah kisah tentang cinta yang tumbuh di atas bara dendam, di mana batas antara ketulusan dan pengkhianatan menjadi begitu tipis.
Glen tertegun menatap barisan kalimat sinopsis itu. Tepat sekali. Cerita yang akan ia gubah di platform digital ini adalah ceritanya sendiri. Karakter wanita itu adalah Melanie, sang mawar tanpa duri yang hidup di dalam istana berlapis emas hasil jarahan. Dan karakter pria kejam yang merajut jaring dendam itu tidak lain adalah dirinya sendiri.
Pintu kamar Glen tiba-tiba terbuka tanpa ketukan yang berarti. Thone melangkah masuk dengan wajah mengantuk, membawa kantong kresek berisi bubur ayam untuk sarapan mereka. Setelah malam tadi Glen pergi begitu saja dari kostnya, Thone merasa perlu memastikan bahwa sahabatnya itu tidak nekat melakukan hal bodoh.
"Kamu tidak tidur semalaman?" tanya Thone, meletakkan bungkusan bubur di atas kasur lalu berjalan mendekati meja belajar Glen. Matanya yang menyipit mendadak melebar begitu melihat tampilan layar laptop Glen. "NovelToon? Thornless Red Rose? Kamu... kamu akhirnya mulai menulis, Glen?"
Glen tidak menutup laptopnya, ia hanya bersandar pada kursi dengan tatapan dingin yang kembali terpasang. "Aku butuh media untuk melepaskan penat, Thone. Dan kurasa, mengubah hidupku menjadi sebuah konsumsi publik adalah cara terbaik."
Thone membaca sinopsis yang tertera di layar dengan saksama. Dahinya berkerut dalam, lalu ia menatap Glen dengan pandangan yang sarat akan rasa prihatin.
"Ini cerita tentang kamu dan Melanie, kan?" suara Thone merendah, menepuk bahu Glen dengan ragu. "Glen, kamu bilang kamu sangat membencinya kemarin di Tamansari. Kamu menyuruhnya pergi dan bersumpah tidak ingin melihat wajahnya lagi. Tapi sekarang... kamu justru mengabadikan sosoknya menjadi karakter utama dalam ceritamu? Kamu menjadikannya mawar indah tanpa duri."
Glen mengalihkan pandangannya ke arah jendela, menolak bertatapan dengan Thone. Rahangnya menegang hebat.
"Aku menulis ini untuk mengingatkan diriku sendiri, Thone," desis Glen, suaranya terdengar parau namun tajam. "Di dalam cerita ini, aku yang memegang kendali atas takdir sang mawar. Aku menulis ini agar aku tidak lupa... bahwa pada akhir bab nanti, sang pria harus tetap menghancurkan bidak permainannya, tak peduli seberapa besar rasa cinta yang mulai menggerogoti hatinya."
Thone hanya bisa menggelengkan kepala pelan, menyadari bahwa sahabatnya kini sedang menenun lukanya sendiri di atas kanvas digital.
Glen mungkin bisa membohongi Melanie dengan caci makinya, namun lewat untaian kata yang mulai ia ketik di pagi buta itu, seluruh dunia, termasuk dirinya sendiri, akan tahu bahwa sang pangeran sastra telah sepenuhnya terjebak dalam pesona gadis yang seharusnya ia benci.
terlalu mengaitkan kisah fiksinya...