"Gue benci banget sama lo. Tapi kalau lo pergi... gue bisa hancur."
Ini tentang ego yang sama-sama keras kepala, sampai akhirnya sadar kalau kehilangan itu ternyata jauh lebih nakutin daripada ngakuin perasaan sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkaqia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melanggar Batas
Kata-kata Arsen di apartemennya tiga hari lalu sebenarnya masih terngiang jelas di kepala Senja seperti alarm berkekuatan tinggi.
"Tetap berada di dekat saya, patuhi semua ucapan saya di kantor maupun di luar. Dan satu lagi, Senja Naura... jangan pernah berani menapakkan kaki keluar dari gedung kantor ini lebih dari jam enam sore kalau kamu masih sayang nyawa."
Itu adalah perintah mutlak. Bukan imbauan, bukan pula saran ramah dari seorang atasan. Suara bariton Arsen malam itu terdengar seperti vonis tak terbantah dari seorang penguasa yang terbiasa mendikte hidup orang lain.
Namun, sial bagi Senja, dunia agensi kreatif tidak pernah ramah pada sebuah regulasi waktu. Tepat pukul 17.45 WIB, ketika Senja sudah bersiap merapikan tas ranselnya, layar laptopnya mendadak berkedip brutal. Direktur operasional dari klien utama mereka mendadak meminta revisi total pada draf presentasi kerja sama untuk esok pagi.
Senja sempat bimbang. Matanya melirik jam digital di pojok kanan bawah laptop yang bergerak kejam. 17.50. Kemudian melirik ke arah pintu ruangan marmer hitam di ujung koridor yang tampak tertutup rapat sejak konfrontasi sengit Arsen dan Devan siang tadi.
"Ah, persetan. Arsen cuma parno aja. Ini kan area perkantoran ramai, mana mungkin ada penjahat nekat," gumam Senja meyakinkan diri sendiri. Dia memilih kembali duduk, mengabaikan ketukan darurat di dadanya demi profesionalisme kerja dan bonus tahunan yang sangat dia butuhkan.
Satu kesalahan kecil yang harus dia bayar sangat mahal.
Tepat pukul tujuh malam, suasana divisi kreatif sudah sepi senyap. Lampu-lampu kubikel sebagian besar sudah dimatikan. Tersisa Senja yang baru saja menutup ritsleting tasnya dengan terburu-buru dan melangkah keluar melewati lobi utama.
Suasana luar ternyata sudah berubah total. Hujan rintik-rintik mulai turun, menciptakan kabut tipis yang membuat lampu-lampu jalanan di kawasan bisnis itu tampak pudar dan temaram. Jalanan depan kantor yang biasanya padat merayap, entah kenapa malam ini terasa lengang.
Senja meraba saku rok kerjanya, mengeluarkan ponsel untuk memesan taksi daring. Namun, layar ponselnya terus-menerus menampilkan lingkaran berputar dengan tulisan 'No Internet Connection'. Jaringan selulernya mendadak mati total.
"Aduh, ayolah... jangan sekarang," gerutu Senja frustrasi. Dia mengangkat ponselnya tinggi-tiinggi ke udara sambil kakinya terus melangkah perlahan menyusuri trotoar menuju halte busway terdekat yang berjarak sekitar seratus meter dari gerbang luar kantor.
Trotoar itu dinaungi oleh deretan pohon palem raksasa yang daun-daunnya berdesir kasar tertiup angin malam. Suasana sangat sunyi, hanya menyisakan suara gemercik air hujan yang menghantam aspal.
Tak. Tak. Tak.
Langkah kaki Senja mendadak terhenti. Bulu kuduknya meremang seketika. Di antara suara rintik hujan, dia menangkap gema suara langkah kaki lain di belakangnya. Bukan cuma satu pasang, tapi beberapa. Ritmenya konstan, sengaja melambat setiap kali Senja melambatkan jalannya.
Senja menarik napas dalam-dalam, mencoba menguasai kepanikannya. Dia memberanikan diri untuk melirik sekilas lewat pantulan kaca toko lampu hias yang dia lewati di sisi kiri trotoar.
Jantung Senja serasa melompat keluar dari dadanya.
Tiga orang pria bertubuh tegap dengan jaket hoodie gelap dan masker hitam yang menutupi sebagian wajah sedang berjalan sekitar lima meter di belakangnya. Tatapan mata mereka tajam, dingin, dan sepenuhnya terkunci pada sosok Senja.
Orang-orang itu lagi... Mereka beneran ngincer gue! Insting bertahan hidup Senja langsung mengambil alih.
Tanpa memedulikan sinyal ponsel lagi, Senja mempercepat langkahnya, berganti menjadi lari kecil yang terengah-engah. Namun, ketiga pria di belakangnya ternyata bergerak jauh lebih gesit. Mereka tidak lagi menyembunyikan niat, melainkan langsung merangsek maju mengejar Senja.
"Nona Senja, jangan buru-buru pulang," panggil sebuah suara bariton yang berat dan parau.
Senja tidak menoleh. Air matanya mulai menggenang di pelupuk mata karena takut setengah mati. Dia berlari sekuat tenaga, namun karena trotoar yang licin akibat air hujan, hak sepatu kerjanya mendadak tersangkut di sela paving blok yang rusak.
"Akh!" Senja terpekik pelan. Tubuhnya limbung dan kehilangan keseimbangan. Dia jatuh tersungkur di atas trotoar yang dingin. Tas ranselnya terlepas dari genggaman, membuat isinya berhamburan di atas aspal.
Sebelum Senja sempat bangkit berdiri, sepasang tangan kekar berpakaian gelap langsung mencengkeram kasar kerah blazer kerja abu-abu yang dikenakannya. Tubuh Senja disentakkan berdiri dengan paksa, diseret mundur, lalu dibenturkan dengan keras ke tiang listrik besi di tepi trotoar.
DUG!
"Ahg!" Senja mengerang kesakitan saat punggung dan belakang kepalanya menghantam besi dingin tiang tersebut. Pandangannya sempat mengabur sedetik, dan rasa pening langsung menyerang kepalanya.
"Lepas! Lepasin gue!!" jerit Senja histeris, mencoba memberontak dengan memukul dada pria di depannya.
Namun, kekuatannya sama sekali bukan tandingan. Pria bertubuh besar itu mendengus sinis. Tangan kirinya mencengkeram kedua pergelangan tangan Senja dan menguncinya di atas kepala, sementara tangan kanannya menarik paksa bagian depan blazer Senja hingga kancing-kancingnya terlepas brutal dan terlempar ke aspal. Tidak berhenti di situ, kain kemeja putih di dalam blazer-nya ikut tercakar dan robek di bagian bahu, menampilkan kulit mulus Senja yang kini mulai memerah akibat goresan kasar.
"Berisik banget sih jalang kecil ini," desis pria itu, wajah bermaskernya maju mendekati wajah Senja yang sudah basah oleh air mata dan rintik hujan. "Gak usah banyak tingkah kalau bos lo gak mau kirim jasad lo besok pagi."
Pria kedua maju, mengeluarkan seutas tali tebal dari kantong jaketnya, siap untuk mengikat tubuh Senja. Senja menangis terisak, tubuhnya gemetaran parah di bawah kungkungan kasar pria-pria itu. Hatinya hancur diliputi rasa bersalah dan ketakutan murni. Arsen... tolong gue... gue salah...
BUKK!!!
Suara hantaman keras yang luar biasa dahsyat mendadak menggema, memecah suara derasnya hujan.
Pria besar yang tadinya mengunci tubuh Senja mendadak terlempar ke samping seolah baru saja dihantam oleh truk berkecepatan tinggi. Tubuhnya menghantam pembatas jalan beton dengan keras sebelum akhirnya berguling di atas aspal, melolong histeris sambil memegangi rahangnya yang bergeser hancur. Blood segar langsung menyembur dari mulutnya.
Senja yang kehilangan tumpuan hampir merosot jatuh ke tanah, namun sebuah lengan kokoh bersetelan kemeja hitam langsung menangkap pinggangnya dengan sigap, menarik tubuh gemetar Senja ke dalam dekapan dada bidang yang sangat familiar.
Arsen Malik.
Payung hitam besar yang dibawa Arsen dilemparkan begitu saja ke aspal, membiarkan tubuh tegapnya ikut diguyur hujan malam yang dingin. Namun, atmosfer di sekitar Arsen saat ini sama sekali tidak dingin—melainkan terasa panas, pekat, dan dipenuhi oleh aura haus darah murni yang mengerikan.
Mata elang Arsen melirik ke bawah, menatap kondisi Senja dalam dekapannya. Begitu matanya menangkap blazer yang terkoyak, kemeja putih yang robek di bagian bahu, serta kulit memerah dan memar di pergelangan tangan Senja... sepasang mata elang itu seketika berkilat merah pekat penuh murka yang tak terkendali.
Topeng manusia korporat Arsen runtuh total malam ini. Yang tersisa hanyalah monster dunia bawah tanah yang paling ditakuti.
"Kalian..." Suara Arsen terdengar sangat rendah, parau, dan bergetar hebat karena menahan amarah yang meledak-ledak di dadanya. Dia perlahan melepaskan dekapannya pada Senja, menaruh tubuh asistennya di posisi bersandar yang aman pada tiang listrik, lalu berbalik menghadap dua penjahat tersisa yang kini sudah melangkah mundur dengan wajah pucat pasi. "Kalian baru saja menandatangani surat kematian kalian sendiri."
Dua pria berjaket hoodie itu gemetaran hebat melihat aura yang dipancarkan Arsen. Mereka buru-buru mencabut pisau lipat dari saku mereka dengan tangan yang bergetar parah, tahu betul kalau pria di depan mereka ini adalah sang tiran yang tidak kenal ampun.
Arsen melangkah maju satu langkah, gerakannya lambat namun penuh tekanan intimidasi yang mutlak. Dia menggulung kemeja hitamnya hingga siku, memperlihatkan urat-urat tangan yang menegang keras.
"Saya sudah peringatkan berkali-kali," desis Arsen, suaranya seperti bisikan malaikat maut di tengah badai hujan. "Nggak ada satu orang pun di dunia ini yang boleh menyentuh, apalagi menggores milik saya. Malam ini... saya pastikan tidak akan ada satu pun dari kalian yang pulang dengan tubuh yang utuh."
Di bawah guyuran hujan malam yang kian menderas, jeritan ketakutan dari para penjahat itu pun pecah, menandai dimulainya pembantaian dingin dari seorang Arsen Malik yang mengamuk demi wanitanya.