NovelToon NovelToon
Terjebak Pesona Paman Tunanganku

Terjebak Pesona Paman Tunanganku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Crazy Rich/Konglomerat / Beda Usia
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Novaa

"Kamu tidak bisa melangkah keluar dari pintu itu sebelum kamu bertanggung jawab untuk apa yang sudah kamu lakukan padaku."

"Tanggung jawab? Harusnya kamu bersyukur Tuan, dapat ciuman gratis dari gadis secantik aku malam ini. Bye!"

....

Demi kabur dari kejaran pengawal papanya, Zevanya Anneliza Sanjaya (21) nekat menerobos ruang VIP sebuah bar eksklusif dan membungkam pria asing di dalamnya dengan ciuman panas. Dia mengira urusan mereka selesai malam itu juga.
Namun, takdir bercanda. Seminggu kemudian, Anya dipaksa bertunangan dengan Calvin Fernandez (25), pria kaku yang super membosankan. Syoknya lagi, pria asing yang dia cium di bar malam itu ternyata adalah Bara Fernandez (35) sang paman tunangannya yang berkuasa. Di depan keluarga, Bara tampil berwibawa bak malaikat, tapi di depan Zevanya, dia menjelma menjadi pria nakal yang siap menjeratnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 #Membangunkan amarah serigala

Ctak..

Suara ketukan halus dari kotak beludru hitam yang ditutup dengan cepat oleh Bara Fernandez seketika memutus pasokan oksigen di sekitar Anya. Jantung gadis itu mencelos saat kilauan berlian buah ceri itu lenyap dari pandangannya, berganti dengan tatapan mata elang Bara yang begitu mengunci.

"Ambil kalung ini nanti malam," ucap Bara dengan nada suara bariton yang teramat tenang, namun sarat akan titah yang tidak boleh dibantah. Pria matang itu condong ke depan, mengikis jarak hingga embusan napasnya yang hangat menerpa permukaan wajah Anya yang memucat. "Datang sendiri ke kamarku... atau aku yang akan datang ke kamarmu dan menggendongmu keluar dari sana tepat di depan mata Jessica."

Mata Anya membelalak sempurna mendengarkan ancaman gila tersebut. Gila! Pria di hadapannya ini benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya!

"Om Bara, jangan gila ya!" protes Anya dengan bisikan tertahan yang penuh kepanikan, matanya melirik waswas ke arah pintu vila, takut jika ada orang yang tiba-tiba keluar. "Gimana caranya aku bisa menyelinap masuk ke kamar Om? Kamarku itu satu ruangan dengan Kak Jessica! Mana bisa aku keluar kalau dia belum tidur? Belum lagi kalau Calvin atau para orang tua masih berkeliaran di luar kamar? Di vila ini juga banyak pelayan, Om! Gimana kalau mereka melihatku lalu mengadu pada Papa, Tante Isyana, atau Om Tomi?!"

Anya mencecar Bara dengan rentetan alasan logis, berharap pria itu akan menggunakan akal sehatnya dan membatalkan taruhan konyol mereka. Namun, Bara justru hanya menyunggingkan sebuah seringai tipis yang teramat seksi di sudut bibirnya. Pria itu memasukkan kotak beludru tersebut ke dalam saku celana jeans-nya, lalu menepuk pelan puncak kepala Anya yang masih dihiasi bando imut.

"Itu tugasmu untuk berpikir bagaimana caranya, Zevanya. Aku hanya menerima hasil akhir malam ini, dan tugas pertamamu malam ini adalah mengambilkan makanan untukku di depan semua orang," sahut Bara santai, lalu berbalik melangkah masuk ke dalam vila dengan langkah tegap, meninggalkan Anya yang berdiri mematung sembari menghentakkan kakinya ke tanah dengan perasaan dongkol setengah mati.

...

Malam pun tiba dengan cepat, membawa serta embusan angin laut yang semakin dingin dan suara deburan ombak yang kian menderu di bawah tebing villa. Seluruh anggota keluarga kini telah berkumpul di ruang makan terbuka yang menghadap langsung ke arah pantai. Hidangan makan malam mewah khas laut telah tersaji dengan rapi di atas meja panjang, aroma sedapnya menguar memanjakan lidah.

Tito, Tomi, dan Isyana duduk di satu sisi sembari berbincang hangat mengenai bisnis investasi mereka. Sementara di sisi lain, Calvin, Jessica, dan Bara sudah menempati kursi masing-masing. Anya yang baru saja keluar dari kamar segera bergabung, menempati kursi kosong di sebelah Calvin.

Namun, sebelum ada satu pun orang yang menyentuh sendok mereka, Anya mendadak berdiri dari kursinya. Dia bisa merasakan tatapan mengintimidasi dari Bara yang duduk tepat di seberangnya, seolah pria itu sedang menagih tugas pertama yang sempat Bara katakan tadi di halaman.

Anya menarik napas dalam-dalam, mencoba menguasai keadaan agar tidak mencolok. "Biar Anya yang ambilkan makanannya ya," ujar Anya dengan senyuman manis yang dipaksakan.

Anya segera meraih piring kosong pertama. Mengingat ancaman tersembunyi Bara yang terus mengawasinya, Anya mengarahkan sendok besar untuk mengambilkan porsi makanan pertama... khusus untuk Bara.

Tindakan spontan Anya itu seketika membuat suasana di meja makan sedikit hening. Tomi dan Isyana menghentikan obrolan mereka, menatap heran ke arah piring yang disodorkan Anya ke depan Bara. Bahkan Calvin pun menoleh dengan dahi sedikit berkerut, merasa aneh kenapa tunangannya justru mendahulukan sang paman daripada dirinya sendiri atau orang tua mereka.

Menyadari atmosfer yang mendadak canggung dan mencurigakan, otak cerdas Anya langsung berputar kilat. Dia segera memasang wajah polos tanpa dosa, lalu mengulas senyuman paling tulus yang bisa dia buat sebagai bentuk pembelaan diri.

"Ini sebagai bentuk bakti dan rasa hormat Anya sebagai calon keponakan untuk Om Bara," tutur Anya dengan nada suara yang sengaja dibuat lembut dan santun. "Tadi sore kan tangan dan kaki Om Bara sempat kram karena terlalu lama menyetir mobil untuk membawa kami kemari. Jadi, Anya rasa Om Bara harus mendapatkan porsi makanan pertama supaya tenaganya cepat pulih."

Mendengar penjelasan logis dan penuh perhatian dari Anya, raut wajah heran di meja makan itu seketika mencair, berganti dengan senyuman hangat.

"Ya ampun, Anya sayang... kamu perhatian sekali ya pada Om-mu," puji Isyana dengan mata berbinar senang, merasa sangat bangga melihat betapa santunnya calon menantunya itu.

Tito Sanjaya terkekeh pelan sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. "Anya ini memang dasarnya anak yang berbakti, Isyana. Dia memang selalu perhatian pada yang lebih tua."

Bara merasa tersentil saat ayah Zevanya bicara soal umur. Raut wajah Bara yang awalnya tampak menikmati kepanikan Anya seketika berubah. Sepasang mata elangnya menatap tajam ke arah Anya, seolah berjanji akan memberikan hukuman ekstra nanti malam karena gadis itu lagi-lagi menyentil egonya.

Demi menutupi aksinya agar sama sekali tidak terkesan mencolok atau pilih kasih, Anya dengan sigap melanjutkan pergerakannya. Dia mengambil piring berikutnya, mengisinya dengan nasi dan lauk pauk secara estetik, lalu membagikannya berturut-turut untuk Isyana, Tomi, Tito, dan juga Jessica yang menerima piringnya dengan senyuman formal.

Hingga akhirnya, piring terakhir tersisa di tangan Anya. Piring ini khusus dia siapkan untuk Calvin.

Karena ingin benar-benar menghapus sisa-sisa kecurigaan Calvin, sekaligus ada sedikit niat nakal di dalam hatinya untuk membalas dendam pada intimidasi Bara sejak sore tadi,.Anya sengaja mengubah sikapnya menjadi teramat manis. Jauh lebih manis dan romantis daripada saat dia melayani yang lain.

Anya memotongkan daging salmon berukuran sedang di piring Calvin menjadi potongan-potongan kecil yang rapi menggunakan pisau dan garpu dengan telaten. Setelah selesai, dia menggeser piring itu ke hadapan Calvin sembari menatap wajah tampan pria muda itu dengan binar mata yang sengaja dibuat lembut nan manja.

"Ini khusus untuk kamu, Calvin. Potongannya sudah aku sesuaikan supaya kamu bisa langsung makan tanpa repot," ucap Anya dengan nada suara yang mendayu romantis, bahkan jemari lentiknya sengaja mengusap punggung tangan Calvin sekilas di atas meja sebelum dia kembali duduk di kursinya.

Calvin tertegun sesaat menerima perlakuan yang tidak biasa dari tunangannya itu, namun sedetik kemudian dia tersenyum tampan dan mengangguk. "Terima kasih banyak, Anya. Kamu baik sekali," sahut Calvin lembut.

"Sama-sama, Calvin sayang," balas Anya dengan senyuman manis yang merekah lebar.

Kreeet..

Suara halus dari pisau potong steak yang beradu kencang dengan piring hampir saja terdengar dari arah kursi Bara. Pria matang itu mencengkeram garpunya dengan begitu erat hingga urat-urat hijau menonjol tegas di sepanjang lengan kekarnya.

Sepasang mata elang milik Bara Fernandez kini telah berubah sepenuhnya menjadi pekat, gelap, dan memancarkan kilat ketidaksukaan yang amat kentara. Rahangnya mengeras rapat, menatap lurus ke arah interaksi romantis di antara keponakannya dan gadis kecilnya tersebut. Aura dominan dan posesif yang dingin seketika menguar dari tubuh Bara, membuat atmosfer di sekitar meja makan mendadak terasa mencekam dan menurunkan suhu udara secara drastis bagi siapa saja yang menyadarinya.

Anya yang melirik dari sudut matanya sengaja menegakkan kepalanya, memberikan senyuman kemenangan yang teramat tipis ke arah Bara. Dia merasa telah memenangkan babak ini. Namun, melihat bagaimana dada bidang Bara naik turun menahan gemuruh cemburu yang membakar, di dalam hati kecil Anya mendadak terselip rasa ngeri yang teramat sangat.

Dia tahu, dengan membuat sang serigala kelaparan itu cemburu buta di depan umum, Anya baru saja menggali lubang kuburnya sendiri untuk malam ini di kamar Bara.

1
Yohana Pandie
lnjut thor.ceritanya keren bnget
Novaa: Halo, terimakasih sudah mampir. pantengin terus ya karena om Bara bakal semakin memBara 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!