NovelToon NovelToon
BOBON PENDEKAR TERKUAT

BOBON PENDEKAR TERKUAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Mengubah Takdir / Action
Popularitas:944
Nilai: 5
Nama Author: GEELANG

Di Desa Windu Sari yang tenang, hiduplah Bobon, bocah polos yang selalu lapar dan membantu Nenek Mira menjual tahu. Tanpa sadar, ia memiliki kekuatan aneh yang kadang muncul tiba-tiba.

Nenek Mira menyimpan rahasia besar tentang asal-usulnya. Ketika peristiwa tak terduga terjadi, sosok asing mulai mengintai desa. Siapa sebenarnya Bobon, dan apa yang tersembunyi dalam dirinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GEELANG, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 - Tanda Kekuatan

Pertempuran malam itu meninggalkan bekas di seluruh Kerajaan Kencana. Tembok gerbang retak di beberapa bagian, tanah di depan istana berlubang-lubang akibat gelombang kejut yang diciptakan Bobon. Tapi tidak ada korban jiwa dari pihak kerajaan. Pasukan Sekte Iblis mundur dengan kekalahan telak.

Keesokan paginya, Bobon terbangun dengan tubuh yang terasa sangat ringan. Dia bangkit dari tempat tidur dan merasakan energi mengalir di setiap pori-porinya. Segel di dahi dan dadanya telah terbuka total, meninggalkan bekas pola samar yang perlahan memudar. Tapi kekuatan yang diberikan tetap ada.

Dia berjalan ke cermin dan memandangi dirinya sendiri. Tubuhnya masih gemuk, wajahnya masih polos dengan pipi tembem. Tapi matanya berbeda. Ada kilau baru di sana. Kilau kebijaksanaan yang mulai muncul dari balik kepolosan.

"Bobon, kau sudah bangun?" suara Nenek Mira dari luar pintu.

"Sudah, Nek. Masuklah."

Nenek Mira masuk dengan membawa nampan berisi sarapan. Dia meletakkannya di meja dan menatap Bobon dengan bangga. "Kau terlihat berbeda hari ini."

"Aku merasakan banyak hal, Nek. Energi mengalir di tubuhku seperti sungai. Aku bisa mendengar detak jantung orang dari jarak jauh. Aku bisa merasakan getaran tanah."

"Itu adalah tanda kekuatanmu yang mulai pulih, Nak. Kau sudah membuka dua segel. Sekarang tubuhmu mulai menyesuaikan diri dengan kekuatan itu."

"Apa yang harus aku lakukan selanjutnya?"

"Latihan. Kau harus menguasai kekuatanmu sebelum membuka segel berikutnya. Kalau tidak, tubuhmu tidak akan kuat menampungnya."

Bobon mengangguk. Dia duduk dan menyantap sarapannya dengan lahap. Energi yang dia rasakan membuatnya lebih lapar dari biasanya. Dia menghabiskan sepuluh porsi makan dalam waktu singkat.

Setelah sarapan, Bobon berjalan ke arena latihan. Pangeran Bima sudah menunggunya di sana. Di samping Pangeran, ada Wulan dengan seruling di tangannya.

"Kau datang," kata Pangeran Bima sambil tersenyum. "Aku sudah menyiapkan latihan khusus untukmu."

"Apa latihannya, Pangeran?"

"Kau akan melawan aku dan Wulan sekaligus. Kami ingin melihat seberapa kuat kau sekarang."

Bobon mengangguk. Dia mengambil pedang kayu dan berdiri di tengah arena. Pangeran Bima dan Wulan bersiap di sisi berlawanan.

"Mulai!" teriak Pangeran Bima.

Pangeran Bima menyerang dengan cepat. Pedang kayunya berkilat di udara. Tapi Bobon melihat gerakan itu dengan sangat jelas. Terlalu jelas. Seolah-olah waktu berjalan lebih lambat di matanya.

Bobon menghindar dengan satu langkah ke samping. Pedang Pangeran Bima meleset tipis. Pada saat yang sama, Wulan memainkan serulingnya dan mengirimkan gelombang energi ke arah Bobon.

Bobon merasakan getaran itu. Dia mengangkat tangannya dan menangkis gelombang energi dengan telapak tangannya. Gelombang itu memantul dan mengenai dinding arena, meninggalkan retakan.

"Luar biasa!" seru Wulan. "Kau menangkis seranganku dengan tangan kosong!"

"Aku hanya mengikuti aliran energi, Wulan. Tubuhku tahu apa yang harus dilakukan."

Pangeran Bima menyerang lagi. Kali ini lebih cepat dan lebih kuat. Tapi Bobon terus menghindar dengan gerakan yang sempurna. Setiap pukulan dan tusukan ditangkis atau dihindari dengan mudah.

Setelah beberapa menit, Pangeran Bima berhenti dan mengatur napas. "Aku menyerah. Kau terlalu cepat untukku."

Wulan juga berhenti bermain. "Kau benar-benar Pendekar Dewata, Bobon. Tidak ada yang bisa mengalahkanmu."

"Aku belum sepenuhnya kuat," kata Bobon. "Masih ada lima segel yang harus dibuka. Tapi aku akan terus berlatih."

Mereka bertiga duduk di tepi arena. Pangeran Bima memberi Bobon sebotol air dan sepotong roti.

"Bobon, aku ingin bertanya sesuatu," kata Pangeran Bima.

"Tanya saja, Pangeran."

"Setelah semua ini selesai, setelah kau mengalahkan Kaisar Kegelapan, apa yang akan kau lakukan?"

Bobon berpikir sejenak. "Aku ingin kembali ke desa. Membangun kembali rumahku. Menjual tahu bersama Nenek Mira."

Pangeran Bima tertawa. "Kau Pendekar Dewata terkuat di dunia, tapi kau ingin menjadi penjual tahu?"

"Aku hanya ingin hidup tenang, Pangeran. Aku sudah cukup bertarung seumur hidupku."

Wulan tersenyum. "Aku akan ikut denganmu. Aku akan menjual tahu bersamamu."

"Benarkah?" tanya Bobon dengan mata berbinar.

"Benar. Aku sudah lelah menjadi Jenderal Iblis. Aku hanya ingin hidup sederhana bersamamu."

Bobon memeluk Wulan dengan erat. "Terima kasih, Wulan. Itu semua yang aku inginkan."

Sore harinya, Bobon berjalan di taman bersama Nenek Mira. Mereka berbicara tentang masa lalu dan masa depan. Nenek Mira menceritakan tentang masa mudanya di Sekte Gunung Suci, tentang bagaimana dia bertemu Bobon untuk pertama kalinya.

"Ketika aku menemukanmu di hutan, kau hanya bayi kecil dengan tubuh penuh segel," kata Nenek Mira. "Aku tahu kau bukan bayi biasa. Tapi aku tidak peduli. Aku hanya ingin merawatmu."

"Nenek selalu baik padaku. Aku tidak akan pernah melupakan itu."

"Kau adalah cucu terbaik yang pernah aku miliki, Bobon. Aku bangga padamu."

Bobon memeluk neneknya. "Aku mencintaimu, Nek."

"Aku juga mencintaimu, Nak."

Di kejauhan, Putri Laras dan Sari sedang bermain di taman. Mereka tertawa dan berlarian di antara bunga-bunga. Bobon tersenyum melihat mereka.

"Mereka bahagia," kata Bobon.

"Iya. Karena kau melindungi mereka."

Tiba-tiba, Bobon merasakan getaran aneh di pergelangan tangan kirinya. Segel kelima berdenyut dengan hangat. Dia mengerutkan kening dan memeriksa tangannya.

"Ada apa, Bobon?" tanya Nenek Mira.

"Segel di tanganku... berdenyut. Seperti ada yang memanggil."

"Apa kau merasakan sesuatu?"

"Aku merasakan... kehadiran. Di suatu tempat yang jauh. Seseorang membutuhkan bantuanku."

Nenek Mira mengerutkan kening. "Itu mungkin panggilan dari sekte lain. Mungkin ada yang dalam bahaya."

"Aku harus pergi, Nek. Aku harus menolong mereka."

"Tapi kau baru saja pulih dari pertempuran. Kau butuh istirahat."

"Aku tidak bisa beristirahat ketika ada yang membutuhkan bantuan, Nek. Nenek sendiri yang mengajariku itu."

Nenek Mira tersenyum. "Kau memang anak yang baik. Pergilah. Tapi hati-hati."

Bobon mengangguk. Dia berjalan ke kamarnya dan bersiap untuk pergi. Wulan datang dan menawarkan diri untuk ikut.

"Aku akan pergi bersamamu," kata Wulan. "Aku tidak akan membiarkanmu pergi sendirian."

"Terima kasih, Wulan. Aku senang kau ikut."

Mereka berdua berjalan ke gerbang istana. Pangeran Bima dan Putri Laras mengantar mereka.

"Kembalilah dengan selamat," kata Pangeran Bima. "Kami akan menunggumu."

"Aku akan kembali, Pangeran. Aku berjanji."

Bobon dan Wulan melangkah keluar dari Kerajaan Kencana. Di hadapan mereka, dunia yang luas terbentang. Penuh dengan bahaya dan petualangan. Tapi Bobon tidak takut. Dia punya kekuatan, dia punya teman, dan dia punya cinta.

Dan di pergelangan tangan kirinya, segel kelima terus berdenyut. Memanggilnya menuju takdir berikutnya.

1
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
Tak kira judulnya Babon, jebule Bobon🗿👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!