NovelToon NovelToon
Jalan Dao Pendekar Mata Duitan

Jalan Dao Pendekar Mata Duitan

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: momon Joy

Di Benua Tianyu, kekuatan adalah segalanya.

Para kultivator menghabiskan seluruh hidup mereka untuk bermeditasi, berburu harta surgawi, dan mengejar puncak Dao.

Keluarga-keluarga besar berlomba melahirkan jenius.
Sekte-sekte kuat mencari murid berbakat.

Namun di tengah dunia yang memuja kekuatan itu, lahirlah seorang anak yang cukup aneh.

Namanya Feng Bai hu
Anak bungsu dari empat bersaudara keluarga Fang, keluarga kalangan menengah ,
Ketiga kakaknya dikenal sebagai jenius yang rajin berkultivasi dan menjadi kebanggaan keluarga.

Sedangkan Feng Bai hu terkenal karena satu hal:

Malas.
Ia sering kabur dari sesi latihan.
Tidur saat kelas kultivasi.
Menghilang ketika guru mengajarkan teknik baru.
Bahkan pelayan keluarga lebih sering melihatnya di pasar daripada di ruang latihan.

Namun yang membuat semua orang kesal adalah kenyataan bahwa meskipun malas, kultivasinya selalu mampu menyamai bahkan melampaui para jenius seusianya.
ayo ,, ikuti keseuan ceritanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon momon Joy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 Batu Putih ,Dibeli dengan Kerugian

Langit mulai berubah jingga

Matahari perlahan tenggelam di balik Pegunungan Seribu Binatang, memancarkan cahaya keemasan yang menyelimuti Kota Qinghe. Bayangan bangunan memanjang di atas jalan-jalan batu, sementara keramaian Pasar Timur sedikit demi sedikit mulai berkurang.

Para pedagang sibuk membereskan lapak mereka, menghitung keuntungan hari itu.

Sebagian lagi menghela napas karena dagangannya belum juga habis.

Di tengah keramaian yang mulai mereda itu...

Seorang bocah gemuk berjalan dengan kedua tangan berada di belakang punggungnya.

Langkahnya pelan.

Kepalanya sedikit tertunduk.

Wajah yang biasanya dipenuhi senyum licik kini justru terlihat muram.

Feng Bai Hu.

Ia sama sekali tidak memperhatikan orang-orang yang menyapanya.

Di dalam kepalanya...

Hanya ada angka yang terus berputar.

Sepuluh koin perak.

"Ah..."

Ia menghela napas panjang.

"Sepuluh koin...Itu bukan jumlah yang sedikit."

Tangannya perlahan meraih kantong penyimpanan kecil di pinggang.

Dari dalamnya ia mengeluarkan batu putih transparan sebesar ibu jari.

Batu itu tampak biasa.

Permukaannya halus.

Tidak memiliki fluktuasi energi spiritual.

jika dilempar ke pinggir jalan, Mungkin tidak ada orang yang sudi memungutnya.

Bai Hu menatap batu itu cukup lama ,

Ia mendengus pelan.

"kenapa aku merasa tertipu...?"

Semakin dipikirkan, dadanya semakin sesak.

Ia mulai menghitung dalam hati.

"Sepuluh koin perak..Bisa membeli tiga puluh tusuk daging panggang."

"Lima puluh bakpao isi daging."

"Dua puluh mangkuk mi."

Ia berhenti sejenak.

"Itu hampir setengah harga satu Pil Pengumpul Energi kualitas rendah."

Wajah Bai Hu langsung berubah seperti kehilangan seluruh harapan hidup.

"Ahh Rugi.."Besar sekali..."

Seorang pedagang kain yang kebetulan lewat mendengar gumaman itu.

"Tuan Muda Bai?"

Bai Hu mengangkat kepala.

"Oh, Paman Zhao."

Pedagang itu tersenyum ramah.

"Kenapa terlihat murung?"

Bai Hu menunjukkan batu putih di tangannya.

"ah ,,Aku baru saja membeli ini paman."

Pedagang itu mengambil batu tersebut, membolak-baliknya beberapa kali.

"Hm...ini hanya batu biasa, tidak ada nilai, Kalau dijadikan pemberat kertas mungkin masih berguna."

"..."

Kalimat itu menusuk hati Bai Hu jauh lebih tajam daripada pedang.

Ia perlahan mengambil kembali batu tersebut.

"Terima kasih, Paman."

Pedagang itu tertawa kecil lalu melanjutkan perjalanan.

Sementara Bai Hu masih berdiri mematung.

"Sialan,, Bahkan dijadikan pemberat kertas pun belum tentu laku..."

gumamnya lirih.

Ia menepuk dadanya sendiri.

"Ahh ,, Aku benar-benar terluka."

Tak lama kemudian...

Gerbang utama Kediaman Keluarga Feng mulai terlihat.

Melihat Bai Hu berjalan mendekat ,, dua penjaga yang bertugas segera memberi hormat.

"Selamat sore, Tuan Muda Bai Hu."

Bai Hu hanya mengangguk lemas.

"Sore..."

Kedua penjaga saling berpandangan.

Biasanya setiap pulang dari pasar, Bai Hu selalu tersenyum lebar.

Namun hari ini berbeda.

Wajah bocah itu terlihat putus asa.

Salah satu penjaga akhirnya memberanikan diri bertanya.

"Tuan Muda...Apa terjadi sesuatu?"

Bai Hu berhenti melangkah.

ia menatap kedua penjaga itu cukup lama.

Kemudian menghela napas.

"Aku rugi."

"Berapa?"tanya penjaga

"Sepuluh koin perak."

"Hanya itu?" ucap Penjaga itu ,menghela napas lega.

Bai Hu langsung membelalak.

"Hah ,,Hanya?Kau bilang hanya?

sepuluh koin perak itu uang hasil kerjaku!

Itu bukan uang yang jatuh dari langit!

,Aku harus membantu Paman Zhang menghitung pembukuan selama dua hari untuk mendapatkan uang sebanyak itu!"

Kedua penjaga langsung tertawa canggung.

"Ehh,,, hehehe iii- iya... ma-maaf, Tuan Muda."

Bai Hu mendengus.

"Kalian samasekali tidak mengerti rasa sakit seorang pedagang."

Setelah berkata demikian, ia kembali berjalan menuju halaman dalam.

Kedua penjaga hanya bisa saling memandang.

"Menurutmu, lebih menakutkan mana?"

Membuat Tetua Agung marah,Atau membuat Tuan Muda kehilangan uang?"

Mendengar pertanyaan itu ,, penjaga satunya berpikir cukup lama.

"Menurutku lebih baik membuat Tetua Agung marah."Kalau Tuan Muda rugi,,dia bisa saja mengeluh selama tiga hari hahahahaa"

Keduanya spontan tertawa .

Halaman kediaman keluarga cukup tenang.

Beberapa pelayan sedang menyapu daun-daun yang gugur.

beberapa pelayan wanita sedang menyiram bunga spiritual di salah satu sudut taman.

Saat para pelayan melihat Bai Hu lewat, mereka tersenyum menyapa.

"Tuan Muda sudah pulang."

Bai Hu mengangguk.

Namun langkahnya masih terlihat lesu.

Seorang pelayan muda bernama Xiao Lan memperhatikan wajah Bai Hu yang murung.

"Tuan Muda?"

"Hm?" Bai Hu menoleh,,

"Apa Tuan Muda dimarahi Tuan Besar lagi?"

Mendengar itu Bai Hu menggelengkan kepalanya.

"Lalu. Kenapa Tuan Muda terlihat sedih sekali?"

"huffhhh"" Bai Hu Menghembuskan napas pelan,,, ia perlahan mengeluarkan batu putih itu.

"Aku membeli batu ini."

Mendengar jawaban Bai Hu ,, Xiao Lan memperhatikan batu di tangan Bai Hu beberapa saat.

"Batu yang Bagus,,Apakah batu ini untuk dijadikan hiasan ,Tuan Muda."

Mata Bai Hu langsung berbinar, "Berapakah harga batu ini menurutmu ?" tanya Bai Hu

Xiao Lan kembali melihat batu itu.

"Hm...kemungkinan Lima koin tembaga Tuan Muda."

"..."

Senyum Bai Hu membeku.

Lima..Koin...Tembaga..Padahal ia membelinya dengan, Sepuluh koin perak.

Artinya...

Selisihnya mencapai seratus kali lipat.

Tubuh Bai Hu perlahan membungkuk.

Jiwanya seperti keluar dari tubuh.

Melihat itu ,, Xiao Lan panik.

"T-tuan Muda ,, apa Tuan baik-baik saja?"

Bai Hu mengangkat tangan pelan.

"Biarkan aku sendiri..."

"Aku sedang berkabung..." Ucap Baihu lirih

Xiao Lan langsung menutup mulutnya menahan tawa.

Tidak lama kemudian...

Suara tawa lembut terdengar dari belakang.

"Apa yang sedang kau ratapi sampai seperti itu?"

Bai Hu menoleh ,, ia melihat Liu Mei Lan berjalan mendekat,,

Wanita cantik itu baru saja kembali dari Aula Utama.

Masih mengenakan jubah biru muda khas keluarga Feng.

Tatapannya penuh kehangatan ketika melihat putra bungsunya.

Bai Hu buru-buru menghampiri.

"Ibu..."

Liu Mei Lan mengusap kepala Bai Hu dengan lembut.

"Ada apa?"

Bai Hu mengangkat batu putih itu.

"Ibu...menurut Ibu berapa harga batu ini jika di jual, ?"

Liu Mei Lan menerima batu tersebut dan mengamatinya cukup lama.

Diputar,Diterawang ke arah cahaya matahari,Lalu dikembalikan lagi.

"Untuk harga ibu tidak dapat memperkirakan ,, tapi menurut Ibu , batu ini bisa untuk pemberat kitab ..."

"..."

Kalimat itu menjadi pukulan terakhir.

Bai Hu merasa langit benar-benar runtuh hari ini.

Ia mengembalikan batu itu ke kantong penyimpanan dengan gerakan lambat.

Lalu menghela napas panjang.

"Ibu,Mulai hari ini,Aku tidak akan membeli barang yang tidak kukenal lagi."

Liu Mei Lan tersenyum geli.

"Bagus,Itu memang pelajaran yang harus dipelajari setiap pedagang."

Bai Hu mengangguk pelan.

"Tapi..."Ia kembali bergumam.

"Kalau nanti ternyata batu ini berharga,Aku akan untung besar."

Liu Mei Lan tertawa kecil melihat putranya.

Baru beberapa detik terlihat putus asa .

Kini sudah mulai berharap mendapat keuntungan lagi.

Dasar anak ini.....

Liu Mei Lan menggeleng pelan melihat perubahan ekspresi putranya yang begitu cepat.

Baru saja memutuskan untuk tidak membeli barang yang tidak dikenal.

hanya beberapa tarikan napas kemudian...

Sudah mulai membayangkan keuntungan yang mungkin diperoleh.

Wanita itu mengulurkan tangan, lalu dengan lembut mencubit pipi Bai Hu.

"Kau ini benar-benar..."

Bai Hu mengusap pipinya sambil tersenyum canggung.

"Hehehe... bukankah pedagang memang harus selalu berpikir tentang keuntungan, Ibu?"

Liu Mei Lan terkekeh.

"Kalau semua pedagang berpikir sepertimu, mungkin dunia akan menjadi jauh lebih berisik."

Bai Hu mengangguk serius.

"Itu bukan salah para pedagang."

"Lalu salah siapa?" ucap Liu Nei lan penuh tanya.

"Itu salah uang." potong Bai Hu cepat

"..."

Liu Mei Lan terdiam beberapa saat sebelum akhirnya tertawa lepas.

"Kenapa justru uang yang salah?"

Bai Hu mengangkat telunjuknya, seolah sedang menjelaskan sebuah kebenaran besar.

"Karena uang selalu di butuhkan ,,Kalau uang tidak di butuhkan, kalau tidak ada yang membutuhkannya,dunia pasti jauh lebih damai."celoteh Bai Hu

"..."

Liu Mei Lan tidak tahu harus tertawa atau memarahi putranya.

Logikanya terdengar aneh.

Namun sulit dibantah.

Wanita itu akhirnya hanya mengusap kepala Bai Hu.

"Sudahlah, Pergilah mandi kemudian makan malam, dan Jangan tidur larut lagi."

Bai Hu mengangguk patuh.

"Baik, Ibu."

Namun baru melangkah dua langkah...

Ia kembali berbalik.

"Ibu,Kalau batu ini nanti ternyata berharga...Ibu mau bagi hasil berapa persen?"

"..."

Liu Mei Lan menatap putranya tanpa berkedip.

Beberapa detik kemudian ia menghela napas panjang.

"Cepat Pergi mandi."

"Iya, Bu."

Bai Hu langsung kabur sebelum ibunya berubah pikiran.

Malam mulai turun.

Langit dipenuhi ribuan bintang.

Angin malam bertiup lembut melewati halaman keluarga Feng.

Di dalam kamarnya...

Bai Hu selesai mandi dan berganti pakaian bersih.

Di atas meja kayu telah tersedia makan malam yang disiapkan para pelayan.

Sup ayam.

Sayuran tumis.

Sepiring daging panggang.

Serta semangkuk besar nasi.

Bai Hu telah duduk.

Namun tangannya tidak segera mengambil sumpit.

Tatapannya justru kembali jatuh pada batu putih yang tergeletak di atas meja.

"Hm..." Ia mengambil batu itu.

Memutarnya ke kiri.

Lalu ke kanan.

Kemudian mendekatkannya ke cahaya lampu minyak.

"apakah hanya batu biasa..."

gumamnya.

"Tapi kenapa aku merasa sayang membuangnya?"

Ia pernah mengalami hal seperti ini.

Saat membeli Bintang Perak Biru.

Semua orang menganggap tanaman itu tidak berharga.

Namun instingnya mengatakan sebaliknya.

Dan insting itu terbukti benar.

"Jangan-jangan..."

Ia menyipitkan mata.

Bai Hu segera menggeleng keras.

perlahan Bai Hu mulai makan.

Namun setiap beberapa suapan...

Matanya selalu melirik batu putih itu.

Sampai akhirnya...

Ia tidak tahan lagi.

"Ahhhhh!Aku benar-benar tidak bisa menikmati makan malam."

Bai Hu meletakkan sumpit.

Kemudian kembali mengambil batu itu.

"Baiklah ,,Kalau memang kau istimewa,, tunjukkan sekarang!!"

Ia mengalirkan sedikit energi spiritual ke dalam batu.

Hening,tidak terjadi apa-apa.

Ia menambah jumlah energi.

Masih sama.

Bahkan ketika hampir sepersepuluh energi spiritual di dalam tubuhnya habis...

Batu itu tetap tidak berubah.

"Dasar batu sialan."

Bai Hu mendengus.

"Sudah kuberi makan energi spiritual, masih diam saja."

Ia meletakkan batu itu di atas meja dengan sedikit kesal.

/Tok/

Batu kecil itu menggelinding pelan.

Lalu berhenti tepat di samping cangkir tehnya.

Bai Hu menopang dagu.

Semakin lama dipikirkan...

Ia semakin penasaran.

Ia kemudian membuka lemari kecil di sudut kamar.

Di sana tersimpan beberapa barang aneh hasil membelinya selama beberapa bulan terakhir.

Sebuah pecahan logam yang menurut pedagang berasal dari senjata kuno.

Ternyata hanya besi biasa.

Sebuah biji tanaman yang katanya akan tumbuh menjadi Pohon Roh.

Sampai sekarang bahkan belum berkecambah.

Dan sebuah koin kuno berlubang yang ternyata masih banyak beredar.

Bai Hu memandang semuanya.

Kemudian memandang batu putih.

"Jangan bilang...Kau akan bergabung dengan kelompok barang gagal ini."

Ia menghela napas panjang.

Dengan pasrah batu itu dimasukkan ke dalam sebuah kotak kayu kecil bersama barang-barang

investasi gagal-nya.

"huhhh,,,Kalau memang tidak berguna , anggap saja pelajaran."

Baru saja ia hendak menutup kotak.

Tiba-tiba...

Sinar lampu minyak di atas meja bergoyang.

Api kecilnya berkedip beberapa kali.

Bai Hu spontan menoleh.

"Hm?"

Jendela kamar ternyata masih terbuka.

Angin malam masuk perlahan.

"Oh...sialan ,Kirain ada yang aneh."

Ia bangkit untuk menutup jendela.

Saat itulah...

Tanpa ia sadari...

Batu putih di dalam kotak kayu memancarkan kilatan putih yang sangat lembut.

Hanya sesaat.

Begitu singkat hingga bahkan mata manusia sulit menangkapnya.

Lalu semuanya kembali seperti semula.

Keesokan paginya.

Matahari bahkan belum sepenuhnya terbit.

Bai Hu sudah terbangun.

Bukan karena ia rajin.

Melainkan karena semalaman ia memimpikan seseorang menawar batu putih itu seharga seribu batu roh.

Namun tepat ketika hendak menerima uang...

Ia terbangun.

"Ahhh!"Bai Hu memegang kepalanya.

"Mimpi macam apa itu..Harusnya biarkan aku menerima uangnya dulu."

Ia menghela napas.

Kemudian duduk bersila di atas ranjang.

Tiba-tiba...Ia teringat ancaman ayahnya.

"Kalau empat bulan lagi kultivasimu tidak berkembang..."

Bai Hu bergidik.

"Ahh ,, Tidak boleh.Ayah benar-benar bisa memotong uang bulananku."

Kalau itu terjadi...

Kerugiannya akan jauh lebih besar daripada sepuluh koin perak.

Memikirkan hal itu saja membuat dadanya kembali sesak.

Bai Hu segera menenangkan pikirannya.

Baiklah ,hari ini aku akan berkultivasi.

Ia akan berusaha sedikit ,, setidaknya kalau ayahnya tiba-tiba datang memeriksa, ia punya alasan.

Ia mulai menjalankan teknik pernapasan keluarga Feng.

Energi spiritual di sekitarnya perlahan berkumpul.

Masuk ke dalam tubuhnya.

Mengalir melalui meridian.

Prosesnya berjalan sangat lancar.

Bahkan jauh lebih lancar dibandingkan kebanyakan murid keluarga Feng.

Bagaimanapun juga...

Ia memiliki Akar Spiritual Surgawi.

Bakat yang membuat para tetua iri.

Beberapa saat kemudian...

Bai Hu membuka matanya.

Ia menghela napas panjang.

"Ternyata,, berkultivasi memang membosankan."

Namun Ia merasakan sesuatu yang berbeda.

Energi spiritual di dalam tubuhnya tampak sedikit lebih padat daripada kemarin.

Perubahannya memang sangat kecil.

Namun cukup jelas untuk ia rasakan.

Senyum tipis muncul di wajah Bai Hu.

"Tidak buruk,,, kalau begini, setengah hari mencari uang dan setengah hari berkultivasi mungkin masih menguntungkan."

Ia mengangguk puas.

Baginya..bahkan jadwal berkultivasi pun harus dihitung untung ruginya.

Di luar kamar, embusan angin pagi berdesir lembut melewati pepohonan.

Tak seorang pun mengetahui bahwa, jauh di dalam kotak kayu sederhana di sudut ruangan...

Batu putih itu kembali memancarkan cahaya redup.

Seolah sedang memperhatikan bocah bermata duitan itu

bersambung..

1
REY ASMODEUS
atau jadi tetua agung? 🤣🤣🤣🤣
omes
kocak novel yang sangat mengocakan 🤣🤣🤣
makasih sudah buat novel fantasi timur komedi gw harap lanjut
Gege
coba MC belajar alkemis kan bisa tuh Thor.. jadi kuat jadi hebat bisa kayah rayah dan engga mati muda...🤣
Joy: bisa juga itu,, terimakasi untuk masukanya kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!