Di dunia di mana ibu tiri selalu dicurigai sebagai penyihir jahat, Clara harus menerima nasibnya.
Mantan Penyembuh Agung yang telah kehilangan seluruh kekuatan sihirnya ini terpaksa menjalani pernikahan kontrak dengan Kapten Alden, komandan militer yang dingin, kejam, dan ditakuti di seluruh Samudra Langit.
Tugas Clara sederhana namun nyaris mustahil:, menjadi "pengasuh" bagi tiga anak blasteran mistis sang Kapten di atas kapal layar terbang raksasa, The Sky Leviathan.
Anak sulung setengah Phoenix yang siap membakar siapa saja, anak kedua setengah Sirene dengan kutukan suara mematikan, dan si bungsu yang bisa melihat roh pelahap jiwa.
Mereka semua membenci Clara. Namun, berbekal ketulusan hati, keberanian bertaruh nyawa, dan sisa pengetahuan magisnya, Clara bertekad menjinakkan kekuatan liar anak-anak tersebut sekaligus mengusut misteri kutukan masa lalu yang menghantui mereka.
Mampukah seorang wanita tanpa sihir mencairkan hati beku sang Kapten Langit dan mengubah kapal penuh b
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Author Raf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 Obat Untuk Rin dan Toby
Sssss...!
Suara desisan halus terdengar menggema di dalam kabin saat cairan magis itu mulai bereaksi. Lapisan es hitam di wajah dan leher Rin mencair dengan cepat, berubah menjadi uap kelabu yang menguap ke langit-langit sebelum lenyap sepenuhnya.
Bersamaan dengan itu, lingkaran hitam kutukan di dada Toby memudar secara drastis, mengembalikan rona merah alami di pipi tembam anak bungsu tersebut. Keduanya mengembuskan napas panjang yang lega dan langsung tertidur dengan sangat lelap, sebuah tidur sehat yang sudah berbulan-bulan tidak pernah mereka rasakan.
Clara tersenyum lemah, air mata haru menetes di pipinya yang pucat. Akar kutukan hitam di dalam tubuh anak-anaknya kini telah tercabut total. Perjuangan daruratnya menembus utara terlarang tidak sia-sia. Namun, tepat ketika ia hendak berdiri, sebuah guncangan hebat menghantam seluruh lambung The Sky Leviathan.
BUMMMM!
Lampu-lampu sihir di dalam kabin berkedip tidak stabil, diiringi oleh raungan sirine darurat yang melengking tinggi.
"Nyonya Clara! Tiga kapal Dreadnought musuh telah melepaskan tembakan salvo meriam pelumpuh!" Suara Wakil Komandan terdengar panik dari alat komunikasi sihir di dinding. "Perisai kamuflase kita hancur total! Mereka menembakkan jangkar perantai hitam untuk mengunci pergerakan kapal kita di udara!"
Clara menyeka air matanya, memaksakan tubuhnya yang kelelahan untuk bangkit berdiri dengan ketegaran yang luar biasa. "Bernet, jaga Rin dan Toby di sini. Kunci pintu kabin dengan segel baja tertinggi. Saya akan naik ke ruang kemudi utama."
"Tapi Nyonya, tubuh Anda...."
"Kapten Alden menyerahkan kapal ini kepada saya, Bernet. Dan saya tidak akan membiarkan rumah bagi anak-anak saya hancur di tangan sekte hitam," potong Clara tegap, melangkah keluar koridor dengan langkah kaki yang memancarkan kuasa mutlak seorang pemimpin armada.
Begitu Clara melangkah masuk ke dalam ruang kemudi utama, situasi di sana sudah sangat kacau. Melalui jendela kaca besar, terlihat tiga kapal perang raksasa berlogo The Obsidian Dawn telah mengepung mereka dari arah depan, kiri, dan kanan.
Rantai-rantai besi raksasa berenergi hitam legam telah menancap di lambung kiri dan kanan The Sky Leviathan, menahan kapal induk itu agar tidak bisa berputar arah menuju celah keluar. Tembakan meriam laser sekte terus menghujani perisai energi pelapis terakhir kapal yang kini mulai retak di ambang batas hancur.
"Kapten Clara! Jika perisai ini runtuh dalam tiga menit, mereka akan melakukan invasi darat ke atas dek!" lapor perwira navigasi dengan pelipis yang berdarah.
Clara menatap lurus ke arah kepungan musuh. Rasa takut sama sekali tidak mendatangi benaknya, yang ada hanyalah perhitungan siasat yang dingin. "Wakil Komandan, putar seluruh daya turbin sihir belakang ke arah maksimum secara berlawanan. Kita tidak akan maju atau mundur."
"Apa? Tapi Kapten, itu akan membuat lambung kapal mengalami tekanan internal yang bisa mematahkan struktur utama!"
"Lakukan saja!" perintah Clara lantang, mengangkat tongkat komando elang peraknya tinggi-tinggi. "Gunakan sisa cadangan kristal api tingkat kedua untuk mengisi meriam penghancur buritan. Kita akan menggunakan tekanan tolak balik dari struktur tebing es Pulau Frostfire di belakang kita untuk memutuskan rantai-rantai hitam itu secara paksa!"
Para perwira kemudi tertegun mendengar strategi gila namun sangat brilian tersebut. Mereka langsung bergerak mengeksekusi perintah dengan kecepatan penuh.
Krieeek... KRAAAK!
Lambung The Sky Leviathan mengerang keras saat turbin sihir berputar berlawanan arah dengan kecepatan penuh, menciptakan pusaran angin raksasa yang menolak tarikan rantai musuh. Di saat yang sama, moncong meriam belakang kapal menembakkan salvo energi api raksasa ke arah dinding tebing es di belakang mereka.
BLAAAM!
Ledakan dahsyat di tebing menciptakan gelombang kejut (shockwave) mekanis yang luar biasa kuat, mendorong lambung kapal maju ke depan dengan sentakan ekstrim yang seketika memutuskan seluruh rantai sihir hitam musuh hingga hancur berkeping-keping.
The Sky Leviathan berhasil lolos dari jebakan kuncian, melesat cepat memanfaatkan momentum dorongan menuju celah udara hangat The Dragon's Breath.
Namun, kapal-kapal Dreadnought musuh tidak tinggal diam. Mereka segera mengubah formasi untuk mengejar, melepaskan tembakan salvo pamungkas yang mengincar ruang kemudi utama tempat Clara berada.
Kilatan energi hitam raksasa melesat cepat membelah kegelapan langit malam utara, siap menghancurkan ruang kemudi menjadi abu dalam hitungan detik. Clara terpaku menatap kilatan kematian yang semakin mendekat tersebut, menyadari bahwa perisai kapal tidak akan mampu menahannya.
Tepat di saat kritis yang menentukan hidup dan mati seluruh kru tersebut, sebuah bayangan raksasa melesat jatuh dari lapisan awan tertinggi di langit atas dengan kecepatan guntur.
BUMMMM!
Sebuah tameng energi berwarna biru safir militer yang luar biasa megah dan kokoh mendadak terbentang di depan ruang kemudi The Sky Leviathan, menahan dan mementalkan kembali seluruh tembakan salvo meriam sekte hitam hingga meledak di udara kosong.
Dari balik kabut salju yang terbelah oleh kilatan pelindung tersebut, muncul sebuah kapal sekoci tempur cepat bersimbol burung elang emas kekaisaran yang sangat megah. Di atas dek terbuka sekoci tersebut, berdiri seorang pria dengan jubah perang hitam militernya yang berkibar gagah tertiup angin badai.
Sepasang mata abu-abu badainya memancarkan murka yang luar biasa, sementara tangan kanannya menggenggam The Zephyr Blade yang mengalirkan badai sihir tingkat tinggi.
"Alden...!" bisik Clara, air mata kebahagiaan akhirnya lolos membasahi pipinya yang pucat saat melihat sosok suaminya telah kembali.
Kapten Alden telah menyelesaikan pertempuran politik dan penghancuran sel-sel tikus sekte hitam di ibu kota bawah dengan kecepatan kilat, dan kini ia telah kembali ke medan perang utara untuk melindungi belahan jiwanya.
Perang akhir untuk mengunci kebahagiaan keluarga utuh mereka kini telah resmi memasuki babak baru dengan kembalinya sang penguasa samudra langit yang sesungguhnya.
Mohon dukungan dan follownya ya....