NovelToon NovelToon
Malam Saat Aku Melahirkan, Suamiku Bersama Sahabatku

Malam Saat Aku Melahirkan, Suamiku Bersama Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Penyesalan Suami / Romansa Fantasi
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: Erunisa

Persahabatan selama lima belas tahun membuat Aurel percaya bahwa Kayla adalah keluarga yang dipilih oleh hati. Mereka berbagi tawa, air mata, mimpi, bahkan janji untuk selalu ada dalam setiap langkah kehidupan masing-masing.
Hingga suatu hari, semesta merobohkan semua kepercayaan itu.
Suami yang dicintainya, Mahesa, ternyata menyimpan rahasia yang tak pernah terbayangkan. Perempuan yang diam-diam mengisi ruang di hati Mahesa bukanlah orang asing, melainkan sahabat yang selama ini duduk di meja makan rumahnya, memeluknya saat ia menangis, dan mengucapkan doa terbaik di hari pernikahannya.
Yang paling menyakitkan bukanlah perselingkuhan itu sendiri, melainkan kenyataan bahwa kebohongan tersebut dibangun oleh dua orang yang paling ia percaya.
Di antara cinta, pengkhianatan, dan harga diri yang tercabik, Aurel harus memilih, bertahan demi mempertahankan keluarga, atau melepaskan semuanya meski harus kehilangan dua orang sekaligus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erunisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Sore hari di rumah orang tua Aurel terasa tenang. Aurel baru saja pulang dari kantor dan sedang membantu ibunya menyiapkan makan malam.

Raka bermain di ruang tengah ditemani kakeknya.

Tiba-tiba terdengar suara bel rumah. Ayah Aurel berdiri dan berjalan menuju pintu.

Begitu pintu dibuka, wajah beliau langsung berubah datar. Di hadapannya berdiri Kayla. Membawa tas selempang dan senyum yang terasa dipaksakan.

"Assalamu'alaikum, Om."

Ayah Aurel tidak langsung menjawab. Beberapa detik beliau hanya memandangi perempuan yang selama ini sudah dianggap seperti anak sendiri.

Namun kini...Perempuan itu justru menjadi penyebab hancurnya rumah tangga putrinya.

"Ada perlu apa?" tanya ayah Aurel dengan nada dingin.

Kayla menarik napas pelan. "Saya mau bertemu Aurel."

Ayah Aurel tetap berdiri di depan pintu. Tatapannya tidak lagi sehangat dulu.

"Untuk apa?"

"Saya hanya ingin bicara sebentar." jawab Kayla.

Ayah Aurel menggeleng pelan. "Kalau soal meminta maaf, kamu sudah pernah melakukannya."

"Kalau soal Mahesa, kami tidak punya apa-apa lagi untuk dibicarakan."

Kayla menundukkan kepala sesaat. "Om, tolong..."

"Saya hanya ingin bertemu Aurel."

Suara percakapan itu terdengar sampai ke ruang tengah. Aurel yang mengenali suara Kayla langsung keluar.

Begitu melihat mantan sahabatnya berdiri di depan pintu, ekspresi wajah Aurel tetap tenang.

"Kamu lagi." kata Aurel.

Kayla mengangguk. "Aku cuma mau bicara."

Ibu Aurel yang ikut keluar dari dapur langsung memalingkan wajah. Melihat Kayla membuat dadanya kembali sesak. Dulu, perempuan itu sering datang ke rumah. Makan bersama. Bahkan diperlakukan seperti anak sendiri. Kini semua kenangan itu terasa seperti penghinaan.

Dengan nada yang sulit menyembunyikan kekecewaan, ibu Aurel berkata, "Masih berani datang ke rumah ini?"

Kayla terdiam.

"Kami tidak pernah menyangka orang yang kami percaya malah menyakiti anak kami." kata ibunya Aurel lagi.

Ayah Aurel mengangguk pelan. "Kami memang bukan orang yang suka memusuhi siapa pun."

"Tapi jujur..."

"Kami sangat kecewa."

Kayla menggenggam tali tasnya erat. "Om... Tante... saya tahu saya salah."

Ibu Aurel menggeleng. "Kalau tahu salah..."

"...harusnya kamu menjaga batas sejak awal."

"Aurel sudah menganggapmu saudara."

"Justru kamu yang merusaknya."

Suasana menjadi hening.

Aurel melangkah mendekat. "Ada apa, Kay?"

Kayla menatap Aurel. "Aku cuma mau tahu..."

"Proses perceraian kalian sudah sampai mana?"

Aurel mengangkat sebelah alis.

 "Kenapa?" tanya Aurel.

"Karena Mahesa tidak pernah menjawab pertanyaanku."

"Aku hubungi sulit."

"Kutanya juga selalu menghindar."

"Aku jadi tidak tahu perkembangan sidangnya." jawab Kayla.

Aurel tersenyum tipis. Senyum yang membuat Kayla merasa tidak nyaman.

"Kalau begitu..."

"Tanya saja ke pengadilan."

Jawaban itu membuat Kayla menghela napas kesal. "Aurel, aku serius."

"Aku juga serius." Aurel menatap Kayla tanpa kebencian, tetapi juga tanpa kehangatan sedikit pun.

"Hubunganku dengan Mahesa sedang diproses secara hukum."

"Itu bukan sesuatu yang harus kulaporkan kepadamu."

"Kalau Mahesa memilih tidak bercerita, itu urusan kalian berdua."

Kayla mengepalkan tangan. "Aku hanya ingin semuanya cepat selesai."

Aurel mengangguk pelan. "Aku juga."

"Tapi cepat atau lambatnya proses itu bukan ditentukan olehku."

"Apalagi olehmu." jawab Aurel.

Kayla terdiam. Ia berharap mendapat jawaban yang lebih jelas. Namun Aurel tidak memberinya sedikit pun informasi.

Aurel kemudian melangkah mendekati pintu. "Kalau tidak ada lagi yang ingin dibicarakan..."

"...lebih baik kamu pulang."

Kayla menatap satu per satu wajah penghuni rumah itu. Tak ada lagi senyum hangat yang dulu selalu menyambut kedatangannya. Tak ada lagi sapaan akrab. Yang tersisa hanyalah tatapan kecewa dari orang-orang yang pernah menganggapnya bagian dari keluarga. Untuk pertama kalinya, Kayla benar-benar merasakan bahwa ia telah kehilangan lebih dari sekadar seorang sahabat. Ia juga kehilangan sebuah keluarga yang dulu selalu membuka pintu rumah untuknya.

Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, Kayla berbalik dan melangkah menuju mobilnya.

Sementara Aurel menutup pintu rumah dengan tenang. Baginya, tidak ada lagi yang perlu dijelaskan kepada seseorang yang telah memilih menjadi penyebab hancurnya kepercayaan yang dibangun selama bertahun-tahun.

♡♡♡

Malam itu, suasana di rumah orang tua Kayla dipenuhi keheningan. Ayah Kayla duduk di ruang tamu sambil memijat pelipisnya.

Sedangkan ibu Kayla berkali-kali menghela napas panjang. Sejak mengetahui semua kenyataan tentang putri mereka, keduanya merasa seolah gagal menjadi orang tua.

"Yah..." ucap ibu Kayla pelan.

"Sampai kapan kita begini?" tanya ibunya Kayla.

Ayah Kayla menggeleng lemah. "Aku juga tidak tahu."

"Setiap keluar rumah rasanya malu."

"Orang-orang mulai bertanya kenapa pertunangan Kayla dengan Ardi dibatalkan."

Ibu Kayla menundukkan kepala. "Yang lebih membuatku malu..."

"...Aurel dan keluarganya."

"Mereka tidak pernah berbuat buruk kepada kita."

"Tapi anak kita justru membalasnya seperti ini."

Ayah Kayla mengembuskan napas panjang. "Kita tidak bisa terus membiarkan semuanya menggantung."

"Mau bagaimana pun..."

"...Kayla adalah anak kita."

Ibu Kayla mengangguk. "Lalu?"

Ayah Kayla menatap istrinya. "Kita temui Mahesa."

Kedua orang tua itu sama-sama mengangguk setuju.

Keesokan harinya. Kedua orang tua Kayla datang ke bengkel milik Mahesa.

Beberapa karyawan menyambut mereka dengan ramah.

"Permisi, Pak."

"Apa Pak Mahesa ada?" tanya Ayahnya Kayla.

"Sebentar, saya panggilkan."

Tak lama kemudian Mahesa keluar dari ruang kerjanya. Begitu melihat kedua orang tua Kayla, wajahnya langsung berubah tegang.

"Pak... Bu..."

"Silakan masuk."

Mereka bertiga masuk ke ruang kerja Mahesa.

Begitu pintu ditutup, tidak ada basa-basi.

Ayah Kayla langsung berbicara. "Mahesa."

"Kami datang bukan untuk bertengkar."

Mahesa mengangguk pelan. "Saya mengerti, Pak."

Ayah Kayla menatap Mahesa tajam.

"Tapi saya ingin bertanya."

"Sampai kapan hubungan kalian seperti ini?"

Mahesa terdiam. Bingung harus menjawab apa.

"Kamu sudah membuat anak saya membatalkan pertunangannya."

"Rumah tanggamu juga sedang menuju perceraian."

"Lalu setelah itu apa?"

Mahesa masih belum menjawab.

Ibu Kayla yang sejak tadi diam akhirnya ikut berbicara. "Kami sangat kecewa pada Kayla."

"Kami tidak membenarkan apa yang dia lakukan."

"Tapi sebagai orang tua..."

"...kami juga memikirkan masa depan anak kami."

Mahesa menarik napas panjang. "Saya paham."

Ayah Kayla kembali bersuara.

"Kalau memang kamu mencintai Kayla..."

"...bertanggung jawablah."

Mahesa mengangkat wajahnya. "Maksud Bapak?"

"Menikahi Kayla."

Kalimat itu membuat Mahesa membeku.

Ayah Kayla melanjutkan. "Bagaimanapun juga..."

"Kayla adalah perempuan."

"Namanya sudah menjadi bahan pembicaraan banyak orang."

"Dia meninggalkan calon suaminya demi kamu."

"Kalau sekarang kamu juga meninggalkannya..."

"...apa yang harus kami katakan kepada keluarga besar kami?"

Mahesa mengepalkan tangannya di bawah meja. Dadanya terasa semakin sesak. Ia tahu ucapan ayah Kayla ada benarnya. Namun..Hatinya justru semakin menolak.

Beberapa minggu terakhir, Mahesa terus dihantui penyesalan. Bukan karena tidak bisa bersama Kayla. Melainkan karena kehilangan Aurel.

Dengan suara pelan, Mahesa akhirnya berkata, "Saya belum bisa memikirkan pernikahan."

Ayah Kayla mengernyit. "Kenapa?"

"Karena proses perceraian saya belum selesai." jawab Mahesa.

"Itu hanya soal waktu."

Mahesa menggeleng. "Bukan hanya itu, Pak."

"Saya masih harus menyelesaikan banyak tanggung jawab."

"Usaha saya sedang bermasalah."

"Ada persoalan harta bersama."

"Dan saya masih ingin menjadi ayah yang baik untuk Raka."

Ayah Kayla memandang Mahesa beberapa saat. "Kalau begitu..."

"Apakah kamu benar-benar berniat menikahi Kayla?"

Pertanyaan itu membuat ruangan mendadak sunyi. Mahesa tidak segera menjawab. Keheningan itulah yang justru membuat kedua orang tua Kayla saling berpandangan.

Mereka mulai memahami sesuatu. Selama ini, mereka mengira Mahesa hanya menunggu proses perceraian selesai. Namun kini...Keraguan itu terlihat jelas di wajah Mahesa.

Ayah Kayla perlahan berdiri. "Mahesa."

"Jangan gantungkan anak saya."

"Kalau memang ingin bertanggung jawab, katakan."

"Kalau tidak..."

"...jangan beri harapan."

Setelah mengatakan itu, ayah Kayla melangkah keluar. Ibu Kayla hanya menatap Mahesa dengan tatapan penuh kecewa.

"Kami tidak meminta kamu mencintai Kayla."

"Tapi kami meminta kamu bersikap sebagai laki-laki yang bertanggung jawab."

Mahesa hanya mampu menundukkan kepala.

Pintu ruangan kembali tertutup. Mahesa kini benar-benar berada di persimpangan. Di satu sisi, ada perempuan yang rela menghancurkan segalanya demi dirinya. Di sisi lain, ada penyesalan yang terus menghantuinya karena telah kehilangan istri yang selama tujuh tahun selalu setia menemaninya. Dan untuk pertama kalinya, Mahesa sadar..Tidak semua kesalahan bisa diperbaiki hanya dengan kata "maaf".

1
Yuyu
mamam tuh
Eneng Farida
dasar tidak tahu dri kmu kayla pengen hdup seneng dan bahagia atas jeri payah istri sah makan tuh laki2 kere
Ma Em
Semoga masalah Aurel dgn Mahesa cepat selesai .
Ma Em
Karena Aurel percaya seratus persen pada Galang jadi Aurel tdk menaruh curiga pada dua orang peselingkuh itu sampai bertahun tahun .
jekey
up lg thor
Allea
bagusss
Ma Em
Mahesa selingkuh dgn Kayla selama tujuh tahun dan Aurel tdk curiga sama sekali kalau Kayla sendiri tdk beritahu Aurel sekarang Aurel msh tenang2 saja , benar2 perselingkuhan yg hebat bisa sampai tujuh THN tdk diketahui .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!