Keisya bangun kembali ke masa lalu–tepat sebelum kecelakaan yang mengubah segalanya. Dulu, rasa iri dan provokasi membuatnya menyiksa Keyla yang merupakan anak kandung keluarga Jordan yang tlah lama hilang, hingga akhirnya ia mati dibunuh oleh keluarga yang membesarkannya itu..
Kini, ia kembali ke usia 15 tahun dengan ingatan penuh penyesalan, dan setiap ia mengingat masa dimana ia menyiksa Keyla, kepalanya akan terasa sangat sakit, oleh sebab itu, sekarang ia hanya punya satu tekad yaitu melindungi Keyla dari bahaya, menebus kesalahan, dan membiarkan gadis itu mendapatkan tempatnya yang sesungguhnya di keluarga Jordan sebelum dirinya pergi dari keluarga itu agar bisa menjalani hidupnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Keisya menangkap perubahan ekspresi Jena lalu tersenyum tipis dan berkata, "Kakak jangan pura-pura nggak sadar."
Ia menatap kamar itu dengan tenang.
"Harusnya kamar ini memang milik Keyla, kan??" Ucapan Keisya benar-benar terdengar seperti seseorang yang sudah ikhlas dan tidak sama sekali menyimpan amarah tentang kenyataan itu.
"Tapi, Nona.... Anda tidak perlu sampai sejauh ini. Nona Keyla sudah memiliki kamar sendiri." Nada suaranya terdengar semakin berat, kesabaran yang selama ini ia tahan perlahan mulai terkikis.
Selama seminggu tidak bertemu Keisya, ternyata banyak hal yang berubah tanpa sepengetahuannya.
"Hei..." Keisya memanggil lembut.
"Seperinya Kak Jena lupa... Aku ada di rumah ini cuma sebagai pengganti Keyla."
"Nona!" Suara Jena meninggi, rasa frustrasi yang selama ini ia pendam akhirnya mulai terlihat. Namun Keisya tetap mempertahankan senyum tenangnya.
"Begitu Keyla diperkenalkan ke publik, tugasku selesai dan aku juga akan pergi dari rumah ini."
Ia menatap Jena dengan mata yang begitu jernih.
"Sampai hari itu tiba... sabar sebentar lagi ya kak.. Izinkan aku merepotkan kakak untuk terakhir kalinya."
Senyum itu begitu tulus, hangat dan indah. Namun justru senyum itulah yang paling membuat hati Jena terasa sesak.
"Tapi Nona.."
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Keisya sudah menepuk pelan lengan wanita itu.
"Udahlah.. Jangan ngomong yang aneh-aneh. Ayo bantu aku beres-beres, masih banyak yang harus dikemas."
Melihat Keisya yang kembali sibuk melipat pakaian dan memasukkannya ke dalam kardus, Jena hanya mampu menghela napas panjang.
Pada akhirnya ia menyerah. Ia ikut berjongkok di lantai, membantu memasukkan beberapa barang ke dalam kardus lain.
Namun ketika hendak mengambil sebuah kotak di dekat meja belajar, matanya menangkap sesuatu yang membuatnya langsung terdiam.
Isi kardus itu bukan berisi pakaian ataupun buku, melainkan tumpukan bungkus mi instan, gelas mi cup, kaleng makanan, serta berbagai sampah makanan instan lainnya yang memenuhi hampir seluruh kotak.
"Nona..." suara Jena terdengar tercekat.
"Ini apa?"
Keisya menoleh sekilas.
"Oh, itu." Jawabnya santai sambil tetap melakban kardus lain.
"Itu sampah makanan beberapa hari terakhir. Aku sengaja kumpulin dulu, nanti sekalian dibuang."
Keisya terkekeh kecil namun Jena sama sekali tidak tertawa, ia masih menatap isi kardus itu dengan wajah pucat.
"Bukan itu yang saya maksud."
Tatapannya perlahan berpindah kepada Keisya.
"Semua makanan ini anda habiskan sendirian? Sebanyak ini?.. Tuan Muda Ivar pasti akan sangat marah kalau mengetahui hal ini."
Keisya mengangkat kedua bahunya dengan santai dan malah berkata, "Tenang aja.. Kak Ivar sekarang udah nggak sekepo itu sama aku."
Ia kembali menutup kardus yang ada di depannya.
"Lagian kalau aku nggak makan beginian, mungkin sekarang Kakak nemunya tinggal kerangka."
"Hahaha...." Keisya tertawa sendiri, baginya ucapan itu hanyalah lelucon berlebihan. Namun Jena sama sekali tidak melihatnya sebagai candaan.
"Maksud Anda... apa?"
Keisya masih belum menyadari perubahan ekspresi wanita itu dan saat ia sadar bahwa Jena sedang merasa kasihan padanya, Keisya melambaikan tangan dan berkata, "Udahlah.. Aku kan nggak sepenting itu di rumah ini."
"Semenjak kalian semua pergi ke vila..." Ia berhenti sejenak dan lanjut berkata, "Nggak ada makanan yang disiapin buat aku, jadi aku keluar beli makanan instan."
"Yang penting gampang dimasak, kan lumayan buat bertahan hidup."
Keisya kembali tertawa kecil, merasa dirinya terlalu dramatis, namun Jena justru membeku di tempat. Tidak sedikit pun ia menganggap perkataan itu sebagai lelucon.
Yang ia dengar hanyalah kenyataan bahwa selama tujuh hari terakhir ini tidak ada seorang pun yang memastikan Keisya memiliki makanan.
Wanita itu mengepalkan kedua tangannya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Dalam hati, ia benar-benar ingin menyuruh Keisya mulai menyaring setiap ucapannya sebelum berbicara.
Karena bagi anak itu, semuanya mungkin terdengar seperti candaan. Namun bagi orang yang menyayanginya, setiap kalimat yang keluar dari mulutnya terasa seperti pisau yang perlahan mengiris hati.
Saat Jena hendak berdiri sambil membawa kardus berisi bungkus makanan instan itu sebagai barang bukti untuk dilaporkan kepada Alex, pandangannya tanpa sengaja tertuju pada beberapa berkas yang tergeletak rapi di atas meja belajar.
Gerakannya langsung terhenti.
Tanpa sadar ia meletakkan kembali kardus yang baru saja diangkat, lalu mengulurkan tangan ke arah tumpukan dokumen itu dengan perasaan yang tiba-tiba berubah tidak tenang.
pasti lelah kmu
kok dikit amat siiihhhhh
satu dua tiga scroll abisssssa nunggu bab selanjutnya 😭😭😭😭
up banyak banyak yaa thorrrrr
semangattttttttttttt 💪💪💪💪
kesiannya keysia 😭😭
biar saja keluarga mu semua menyesal karena sudah mengabaikan mu keu