Aria Evander, seorang mahasiswi kedokteran brilian di dunia modern, terbangun di dalam tubuh putri Baron yang bangkrut dalam novel fantasi yang pernah ia baca. Mengetahui nasibnya adalah kematian tragis sebagai pion politik, ia menolak tunduk pada naskah 'takdir'. Dengan bantuan Lumi, roh pena takdir yang memberinya kemampuan memanipulasi narasi realitas, Aria memulai permainan catur politik di Kekaisaran Sihir Elgarth. Ia harus menyeimbangkan antara bertahan hidup, memperbaiki kondisi keluarganya yang terpuruk, dan menjinakkan hati para penguasa yang memegang kunci kelangsungan dunianya, sambil menyadari bahwa setiap perubahan yang ia buat menciptakan riak yang mengancam keseimbangan antara terang dan kegelapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjalanan Pulang
Kepala Aria berdenyut ritmis, seirama dengan detak roda kereta kuda yang menghantam jalanan berbatu di sepanjang distrik bangsawan. Setiap guncangan terasa seperti palu godam yang menghantam sisi pelipisnya. Napasnya terasa berat, meninggalkan jejak embun tipis pada kaca jendela yang buram oleh uap dingin. Di luar sana, langit ibu kota Elgarth mulai melebur dalam gradasi warna ungu pekat, menelan sisa-sisa cahaya keemasan yang baru saja menjadi saksi bisu drama di taman istana. Pikirannya melayang pada detik-detik saat ia memutarbalikkan logika naskah dunia, sebuah tindakan yang nyaris menguras seluruh napas hidupnya.
“Nona, minumlah ini selagi hangat,” bisik Mia. Suara pelayannya yang setia itu bergetar, memecah keheningan kabin kereta. Tangan Mia menyodorkan cangkir porselen berisi teh herbal beraroma kamomil dan madu, uapnya menari-nari tipis di antara mereka.
Aria menerima cangkir itu. Permukaan keramik yang hangat menyalurkan sedikit kelegaan pada jemarinya yang nyaris membeku. Ia menyesap teh itu perlahan, membiarkan rasa manis yang pekat menyamarkan sisa rasa anyir darah yang masih tertinggal di pangkal tenggorokannya. Saputangan sutra yang tersampir di pangkuannya telah berubah warna menjadi merah tua, menyembunyikan bukti fisik dari harga mahal yang harus ia bayar setelah memanipulasi alur takdir hari ini. Ia menatap kain itu dengan tatapan kosong; setiap tetes darah yang keluar adalah tanda bahwa hukum realitas dunia ini enggan menyerah begitu saja.
Tatapannya beralih pada pantulan dirinya di kaca kereta yang remang. Wajah itu tampak pucat pasi, dengan lingkaran hitam samar yang membingkai bawah matanya, menyingkap kelelahan yang luar biasa. Namun, di balik kelemahan fisik itu, sepasang manik matanya tetap memancarkan kilatan ketegasan yang dingin—seperti baja yang ditempa dalam api. Peringatan dari Duke Lucien Veritas masih berdengung jelas di telinganya, sebuah bisikan yang lebih tajam daripada belati.
Pria itu tahu. Duke muda yang misterius dan berbahaya itu tidak hanya menyadari adanya anomali dalam alur dunia, tetapi ia juga memahami bahwa kehidupan mereka semua bergerak di atas lembaran takdir yang ditulis oleh tangan tak kasatmata. Bagaimana mungkin seorang karakter pendukung dalam novel memiliki kesadaran yang melampaui batas naskah? Aria mencengkeram cangkir tehnya lebih erat, buku jarinya memutih. Jika Lucien adalah musuh, maka ia adalah ancaman terbesar; namun jika ia adalah sekutu, ia adalah kunci yang bisa membuka pintu gerbang kemenangan.
Kereta berguncang pelan sebelum akhirnya berhenti, tanda mereka telah memasuki gerbang kediaman Baron Evander. Bangunan batu tua yang biasanya tampak suram dan tak terawat itu kini terlihat berbeda. Beberapa lentera baru tampak terpasang di sepanjang selasar depan, memancarkan cahaya hangat yang mengusir bayang-bayang kelam. Perubahan kecil yang ia lakukan pada rute dagang Henderson di meja negosiasi sore tadi telah membuahkan hasil nyata. Bisnis botol kaca keluarganya kini terselamatkan dari jurang kebangkrutan yang seharusnya mengakhiri riwayat nama Evander.
Ketika pintu kereta terbuka, Baron Edward Evander sudah berdiri di sana, menantinya dengan raut wajah yang sulit digambarkan. Mantel tuanya yang sedikit koyak di bagian lengan tidak mampu menyembunyikan binar kelegaan yang luar biasa di matanya. Di belakangnya, Elena berdiri dengan tangan bersedekap, jemarinya meremas kain gaunnya sendiri, matanya berkaca-kaca menahan haru.
“Aria, putriku,” panggil Edward. Suaranya serak, penuh dengan beban berat yang baru saja terangkat dari pundaknya. Ia melangkah maju, hendak menyambut putrinya yang tampak begitu rapuh namun berdiri dengan punggung yang tegak.
Aria turun dari kereta dengan langkah yang dipaksakan stabil. Ia tidak boleh menunjukkan kelemahannya sekarang, tidak di depan keluarganya. “Ayah, Ibu. Mengapa kalian menunggu di luar dalam cuaca sedingin ini?”
“Utusan dari Persekutuan Dagang Henderson baru saja pergi,” ujar Edward sembari menuntun Aria masuk ke dalam kehangatan aula utama. “Mereka menandatangani kontrak eksklusif jangka panjang. Seluruh utang keluarga kita... telah dilunasi dalam satu sore. Ini seperti mimpi, Aria.”
Elena segera memeluk Aria erat-erat. Aroma lavender yang familier dari gaun ibunya meredakan ketegangan di dada Aria, membiarkan pundaknya yang tadi kaku perlahan meluruh. “Kami sangat mengkhawatirkanmu di istana, Sayang. Mereka bilang kau pingsan setelah perdebatan dengan Evelyn. Tetapi kau justru membawa mukjizat ini pulang.”
Aria tersenyum tipis, menyandarkan dagunya di bahu sang ibu. Mukjizat. Mereka menyebutnya begitu. Mereka tidak tahu bahwa mukjizat itu ditulis dengan tetesan darah dan pengurangan paksa sisa energi magis dalam jiwanya. Baginya, ini bukan mukjizat; ini adalah pertarungan intelektual yang brutal.
“Ini baru permulaan, Ibu,” bisik Aria lirih, memastikan suaranya tidak terdengar goyah atau menyimpan keraguan. “Keluarga kita tidak akan pernah membiarkan siapa pun merendahkan kita lagi. Hari-hari di mana kita harus memohon belas kasihan telah berakhir.”
Setelah makan malam singkat yang dipenuhi tawa lega dari kedua orang tuanya—sebuah pemandangan yang terasa asing namun menghangatkan di dunia yang keras ini—Aria akhirnya bisa mengunci diri di dalam kamarnya. Ruangan itu sunyi, hanya diterangi oleh nyala lilin tunggal yang menari di atas meja kerja kayu yang retak. Ia melepaskan gaun pestanya yang berat dan menyesakkan, menggantinya dengan gaun tidur katun putih yang longgar. Ia duduk di tepi ranjang, memijat pelipisnya yang masih berdenyut kencang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kewarasannya.
Sebuah pendaran cahaya keemasan lembut mendadak muncul dari balik laci meja kerja. Cahaya itu memadat, membentuk sosok Lumi, roh pena takdir yang kecil dengan sayap transparan yang melayang anggun di udara. Wajah kecil Lumi tampak muram, memancarkan kesedihan yang mendalam.
“Kau terlalu memaksakan diri, Aria,” cicit Lumi. Suaranya terdengar seperti denting lonceng perak yang redup dan kehilangan resonansi. “Mana suci di dalam tubuhmu hampir terkuras habis. Jika kau menulis ulang takdir sekali lagi dalam kondisi rapuh seperti ini, jiwamu yang akan menjadi taruhannya. Kau akan lenyap sebelum sempat mengubah naskah ini.”
“Aku tidak punya pilihan, Lumi,” jawab Aria pelan. Ia menatap telapak tangannya sendiri yang tampak sedikit gemetar. “Evelyn Roselia tidak akan berhenti. Rencana penagih utang palsunya hari ini gagal total, dan dia dipermalukan di depan Pangeran Kael. Dia pasti sedang menyusun rencana yang jauh lebih kejam dan licik di balik layar.”
Lumi mendarat di atas bantal di samping Aria, melipat sayap kecilnya dengan sedih. “Tetapi Duke Veritas... dia menyadari keberadaanku, Aria. Aku bisa merasakan tatapannya tadi di taman. Dia bukan manusia biasa, dia seolah bisa melihat menembus tabir dimensi ini. Dia sangat berbahaya.”
“Aku tahu.” Aria teringat seringai tipis di bibir Lucien saat pria itu berbisik di dekat telinganya tadi. Ada sesuatu yang gelap dan dalam dalam tatapan pria itu. “Dia tahu dunia ini adalah novel. Kita harus sangat berhati-hati di sekitarnya. Dia bisa menjadi sekutu terbaik, atau justru musuh paling mematikan yang pernah kita hadapi dalam perjalanan ini.”
“Lalu, bagaimana dengan Pangeran Kael?” tanya Lumi lagi, mendongak menatap Aria dengan mata bulatnya yang bercahaya. “Dia sang pewaris takhta, apakah dia akan menjadi pelindungmu?”
Aria terdiam sejenak. Bayangan netra merah keemasan milik sang Putra Mahkota yang menatapnya dengan campuran rasa curiga dan kepedulian yang aneh kembali melintas di benaknya. Sikap dingin Kael yang biasanya tak tertembus sempat retak, memperlihatkan sedikit kekhawatiran saat melihatnya mimisan di taman. Itu adalah perubahan alur yang signifikan.
“Kael adalah bidak terkuat di papan catur ini,” ujar Aria dengan nada penuh perhitungan, suaranya kini terdengar lebih dingin dan berwibawa. “Dia mulai tertarik padaku karena aku tidak lagi bertingkah seperti Aria yang bodoh dalam naskah asli. Kita harus memanfaatkan ketertarikannya untuk membangun perlindungan politik, tetapi tidak boleh terlalu dekat hingga dia menyadari rahasia tentang diriku dan peranmu.”
Aria bangkit berdiri, melangkah mendekati jendela besar yang menghadap ke arah taman belakang kediamannya yang terbengkalai. Angin malam berembus kencang, menggoyang dahan-dahan pohon oak tua yang meranggas, menciptakan bayangan-bayangan panjang di dinding kamar. Ia tahu, ketenangan malam ini hanyalah jeda singkat sebelum badai berikutnya datang menghantam.
Evelyn Roselia mungkin memegang posisi sebagai 'protagonis wanita' yang dicintai oleh hukum dunia ini, namun Aria telah membuktikan bahwa naskah emas itu bisa retak, bisa disobek, dan bisa ditulis ulang. Dengan jemari yang perlahan mengepal kuat, Aria menatap kegelapan malam dengan keyakinan baru yang membakar dadanya. Ia tidak akan membiarkan takdir tragis menyeret keluarganya kembali ke dasar jurang kemiskinan dan penghinaan.
“Biarkan mereka mencoba,” gumam Aria pada kesunyian malam, seulas senyum dingin terukir di sudut bibirnya. “Karena mulai sekarang, bukan mereka yang memegang pena takdir ini. Akulah yang akan menulis setiap babak selanjutnya.”