NovelToon NovelToon
Tahanan Sang Konglomerat

Tahanan Sang Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / CEO / Obsesi
Popularitas:740
Nilai: 5
Nama Author: Buana

Monique "Momo" Salim — gadis Tionghoa dari gang sempit Pecinan Semarang, anak haram yang dijual ayahnya sendiri, tabungan Rp 300.000 — terbangun di sebuah pulau mewah yang tak pernah ada di peta mana pun.
Di hadapannya berdiri seorang pria yang menguasai separuh ekonomi Asia Tenggara.
Renard Aurelius Widjaja.
CEO Widjaja Group. Konglomerat paling berkuasa — dan paling berbahaya — di Indonesia. Matanya amber seperti matahari terbenam, tapi tatapannya lebih dingin dari es.
"Kamu milikku," katanya. Bukan pertanyaan. Bukan permintaan. Itu pernyataan.
Momo dikurung. Bajunya diganti. Ponselnya disita. Satu-satunya yang tersisa: setengah gelang sakura di pergelangan tangannya — dan ingatan samar tentang pil putih yang memulai segalanya.
Tapi Momo bukan gadis yang mudah tunduk.
Di balik tembok emas penjara Renard, ada rahasia yang lebih gelap dari obsesinya:
— Seorang hacker jenius yang menawarkan kebebasan... dengan harga yang tak terduga.
— Sebuah password sembilan huruf yang menyimpan cinta bertahun-tahun.
— Dan kebenaran tentang keluarga Widjaja yang bisa menghancurkan segalanya.
Ketika cinta paksa berubah menjadi cinta sungguhan — siapa yang sebenarnya menjadi tahanan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Bab 26: Vila Puncak, Dunia Baru

Udara Puncak tidak asin seperti Pulau Raja.

Udara di sini dingin, tipis, dan berbau daun teh yang basah oleh kabut. Ketika mobil hitam mereka memasuki gerbang Bukit Permaisuri, Momo menurunkan kaca jendela tanpa sadar. Angin menyentuh pipinya. Tidak ada suara ombak. Tidak ada tebing yang mengurung seluruh pandangan. Di kiri kanan jalan, hamparan kebun teh turun naik seperti lipatan kain hijau.

Untuk beberapa detik, dada Momo terasa longgar.

Lalu gerbang besi di belakang mobil tertutup.

Suara logamnya tidak sekeras pintu Pulau Raja, tetapi cukup untuk mengingatkan Momo bahwa udara segar juga bisa diberi pagar.

"Selamat datang di Vila Puncak," kata Albert dari kursi depan.

Momo menatap vila besar di ujung jalan. Bangunannya tidak seputih istana Pulau Raja. Dindingnya batu abu-abu muda, atapnya gelap, jendelanya tinggi dan banyak. Di baliknya ada hutan pinus dan kabut yang bergerak pelan. Tempat itu terlihat seperti rumah tua milik keluarga kaya yang ingin menyembunyikan rahasia di balik taman rapi.

"Vila," gumam Momo. "Kata yang lebih sopan untuk penjara."

Renard duduk di sebelahnya. Sejak turun dari helikopter dan berganti mobil, pria itu lebih diam dari biasanya. Luka gigitan ular belum benar-benar sembuh. Kemeja hitamnya tertutup mantel panjang, tetapi Momo tahu di balik kain itu ada perban, memar, dan bekas racun yang belum sepenuhnya pergi.

"Kau bisa menyebutnya apa pun," katanya. "Yang penting kau tetap hidup."

"Kalau hidup berarti melihat dunia dari balik kaca, mungkin definisi kita berbeda."

Renard menoleh. Tatapannya turun sebentar ke bibir Momo, terlalu cepat untuk disebut menatap, terlalu jelas untuk diabaikan. "Kau masih bisa berdebat. Berarti sehat."

Jantung Momo membuat kesalahan kecil.

Ia benci bagian tubuhnya yang tidak selalu meminta izin kepada pikirannya.

Mobil berhenti di depan tangga batu. Beberapa pelayan sudah menunggu. Tidak sebanyak di Pulau Raja, tetapi cukup untuk membuat Momo tahu setiap langkahnya akan dilihat. Seorang perempuan paruh baya memperkenalkan diri sebagai Bu Ratih, pengurus vila. Wajahnya ramah, suaranya halus, matanya terlatih untuk tidak bertanya.

Momo turun dari mobil. Sepatunya menyentuh batu yang dingin. Ia melihat jalan menurun di balik taman, melihat cahaya kecil rumah penduduk jauh di lembah, melihat asap tipis dari warung atau dapur seseorang. Ada kehidupan biasa di bawah sana. Orang-orang mungkin sedang membeli gorengan, menjemput anak sekolah, menawar harga sayur, atau bertengkar soal listrik.

Kehidupan yang bisa dicapai dalam beberapa menit jika tidak ada gerbang.

Renard berdiri di sampingnya. Bahunya hampir menyentuh bahu Momo. Hangat tubuh pria itu terasa aneh di udara dingin.

"Kau ingin lari ke sana?" tanyanya pelan.

Momo tidak menatapnya. "Kalau aku bilang ya?"

"Aku akan mengejarmu."

"Tentu saja."

"Dan kalau kau jatuh, aku akan menangkapmu."

Kalimat itu seharusnya terdengar seperti ancaman. Masalahnya, Momo sudah pernah jatuh dari tebing. Tangan Renard benar-benar pernah menangkapnya dari gelap. Ingatan itu menyelinap masuk sebelum ia sempat menutup pintu.

"Jangan bicara seolah kau pahlawan," katanya.

"Aku tidak pernah mengaku pahlawan."

"Kau hanya mengaku pemilik."

Renard menunduk sedikit. Suaranya menjadi lebih rendah, seolah hanya untuk kulit Momo, bukan telinganya. "Karena itu satu-satunya cara yang membuat semua orang mundur."

Momo akhirnya menoleh. "Termasuk aku?"

Tatapan Renard tidak bergerak. "Kau tidak pernah mundur."

Kata-kata itu mengenai Momo dengan cara yang tidak ingin ia pahami.

Albert berdeham dari belakang mereka. "Saya akan menjelaskan aturan rumah, Nona Momo."

"Aturan," kata Momo. "Indah. Rumah baru, udara baru, aturan baru."

Renard naik tangga lebih dulu. "Dengarkan Albert."

"Kalau tidak?"

Ia berhenti satu anak tangga di atas Momo. Posisi itu membuatnya tampak lebih tinggi, tetapi Momo sudah terlalu sering ditindih oleh bayangannya untuk gentar hanya karena beda tinggi.

"Kalau tidak," katanya, "aku yang menjelaskannya."

Ada jeda. Terlalu dekat. Terlalu dingin. Terlalu hangat pada saat yang sama.

Momo mengangkat dagu. "Albert, silakan."

Sudut bibir Renard hampir bergerak.

Di dalam, vila itu lebih hangat dari luar. Perapian menyala di ruang tengah. Lantainya kayu gelap, dindingnya dipenuhi lukisan pemandangan gunung dan rak buku. Tidak ada aroma laut. Tidak ada kaca besar yang memantulkan wajah pucatnya. Di sini, semua terasa lebih manusiawi.

Justru itu yang membuat Momo waspada.

Albert membawa Momo melewati koridor timur.

"Kamar Anda di sayap timur," katanya. "Kamar Tuan Renard di sayap barat. Ruang makan di tengah. Perpustakaan dan ruang kerja ada di lantai dua. Taman belakang boleh digunakan kapan saja, selama pengawal tahu posisi Anda."

"Boleh digunakan," ulang Momo. "Seperti taman hewan."

Albert tetap tenang. "Anda boleh berjalan di dalam vila, taman depan, taman belakang, dan rumah kaca. Anda tidak boleh melewati gerbang utama tanpa pengawal. Anda tidak boleh meninggalkan area kebun teh. Anda tidak boleh menerima paket atau pesan dari orang luar tanpa pemeriksaan."

"Dan kalau aku ingin melihat warung di bawah sana?"

"Kami bisa mengirim orang untuk membeli apa yang Anda inginkan."

"Aku tidak tanya soal barang. Aku tanya soal pergi."

Albert berhenti di depan pintu kamar. Untuk pertama kalinya sejak mereka tiba, ekspresinya melembut. "Ini bukan penjara, Nona Momo. Ini... perlindungan."

"Perlindungan yang dikunci."

"Kadang kunci dipasang karena orang di luar ingin masuk, bukan karena orang di dalam ingin keluar."

Momo menatapnya lama. "Kamu belajar bicara seperti Renard?"

"Saya belajar bertahan hidup di dekatnya."

Kamar Momo menghadap ke timur. Jendelanya besar, tirainya warna hijau pucat, tempat tidurnya tidak sebesar di Pulau Raja tetapi jauh lebih hangat. Ada meja tulis, sofa kecil, rak buku, dan kamar mandi dengan air panas. Di atas meja, seseorang sudah meletakkan teh melati, selimut tambahan, dan sekotak kecil wingko babat dari Semarang.

Momo memandang kotak itu.

Albert berkata pelan, "Tuan Renard meminta makanan Semarang tetap tersedia."

Tentu saja.

Pria itu selalu membuat sesuatu yang lembut terasa seperti borgol.

Setelah Albert pergi, Momo membuka jendela. Udara dingin langsung masuk. Dari kamar itu, ia bisa melihat lembah, kebun teh, dan bagian sayap barat vila. Jendela kamar Renard ada di sana, mudah dikenali karena lampunya belum dinyalakan meski sore mulai turun.

Jarak antara kamar mereka lebih jauh daripada di Pulau Raja.

Tidak ada pintu penghubung.

Tidak ada napas berat di balik dinding.

Tidak ada suara gelas pecah tengah malam.

Momo seharusnya lega.

Ia duduk di tepi tempat tidur dan menyentuh Gelang Sakura di pergelangan tangannya. Logam itu dingin, tetapi kulit di bawahnya sudah terbiasa. Terlalu terbiasa.

Sore berubah menjadi malam. Vila menjadi sunyi. Kabut menempel di kaca seperti napas seseorang. Momo makan sedikit, mandi air panas, lalu berdiri lagi di depan jendela.

Lampu di sayap barat akhirnya menyala.

Hanya satu jendela.

Momo tahu itu kamar Renard sebelum siapa pun memberi tahu.

Ia benci karena tahu.

Lebih buruk lagi, ia benci karena ada bagian kecil dalam dirinya yang ingin bertanya apakah luka pria itu kambuh, apakah racun masih membuatnya menggigil, apakah ia duduk sendirian di kamar besar itu sambil pura-pura tidak membutuhkan siapa pun.

Momo menutup tirai dengan gerakan kasar.

"Jangan gila," bisiknya kepada dirinya sendiri.

Namun setelah lampu kamar padam, bayangan jendela sayap barat tetap tinggal di belakang kelopak matanya.

Dan Momo tidak bisa memutuskan apakah yang membuatnya sulit tidur adalah gerbang vila yang terkunci, atau jarak yang tiba-tiba terlalu jauh antara dirinya dan Renard.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!