Dian meninggal dengan sangat menyedihkan: dikhianati tunangannya sendiri dan saudara tirinya, dihina sebagai wanita miskin pengemis cinta, lalu tewas dalam kecelakaan yang "disengaja". Namun saat membuka mata, ia kembali ke masa 3 tahun lalu—tepat saat ayahnya menawarkan pernikahan kontrak dengan pria paling dingin, misterius, dan ditakuti di kota: Erlan Pratama.
Di kehidupan dulu, Dian menolak tawaran itu dan memilih setia pada tunangannya yang brengsek. Kali ini, Dian tersenyum dingin dan menyetujuinya. Ia pikir ini hanya langkah untuk selamat dari nasib buruk—sampai ia perlahan sadar: pria yang terlihat tidak peduli itu diam-diam melindunginya, menyembunyikan rasa sakit yang sama, dan ternyata sudah mencintainya sejak lama... bahkan di kehidupan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ristika Rachma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 : Jejak Pengkhianat dan Kebenaran yang Terlindas Waktu
Hawa dingin seolah menyelimuti seluruh ruangan meski suhu udara di dalam rumah terjaga hangat. Erlan berdiri kaku di hadapanku, rahangnya terkatup rapat hingga urat-urat di lehernya tampak jelas, namun di matanya tidak ada amarah yang ditujukan padaku hanya rasa bersalah yang mendalam dan ketakutan yang belum pernah kulihat sebelumnya. Dia menggenggam bahuku erat seolah takut jika dia melepaskan tangannya sedetik saja, aku akan lenyap begitu saja seperti bukti-bukti yang hilang itu.
"Mereka berani masuk ke tempat yang seharusnya menjadi tempat paling aman bagimu..." suaranya bergetar pelan, penuh kepedihan. "Aku berjanji tidak akan membiarkan ini terjadi lagi. Mulai detik ini, tidak ada satu pun sudut rumah ini yang tidak diawasi, tidak ada satu pun orang yang bergerak tanpa aku ketahui."
Aku meletakkan tanganku di atas tangannya yang masih berada di bahuku, berusaha menenangkan badai yang sedang berkecamuk di dalam dirinya. "Ini bukan salahmu, Mas. Mereka merencanakan ini jauh lebih lama daripada yang kita duga. Mereka tahu kelemahan sistem kita, mereka tahu kebiasaan kita... bahkan mungkin mereka tahu kapan kita akan lengah dalam kebahagiaan kecil kita."
Erlan mengangguk pelan, lalu menarik napas panjang untuk menenangkan dirinya. Dia melepaskan genggamannya dan berjalan menuju meja kerja, mengambil sebuah peta besar yang menandai setiap titik pengawasan di sekitar kediaman ini. "Jika dia bisa mengambil foto dari balik jendela balkonmu tanpa terlihat satupun pengawal, berarti dia memiliki peta keamanan yang persis sama dengan yang aku miliki. Atau... ada orang yang memberitahukan celah mana yang tidak terawasi secara berkala."
Pagi itu berlalu dengan ketegangan yang menyelimuti setiap sudut rumah. Erlan memanggil seluruh staf rumah tangga, pengawal, hingga staf administrasi yang memiliki akses masuk ke bagian dalam kediaman. Dia memeriksa riwayat keberadaan mereka satu per satu dengan teliti, sementara aku duduk di sudut ruangan, memikirkan siapa yang mungkin melakukan pengkhianatan ini. Semua orang yang bekerja di sini sudah bersamanya sejak ia masih remaja, orang-orang yang dianggapnya keluarga kedua. Bagaimana mungkin salah satu dari mereka tega mengkhianati kepercayaan itu?
Saat pemeriksaan hampir selesai, mataku tertuju pada Bu Ratih yang berdiri agak terpisah dari yang lain. Wajahnya tampak pucat, tangannya meremas ujung celemeknya dengan gugup, dan sesekali dia melirik ke arah Erlan dengan tatapan yang sulit dimengerti, bukan rasa takut karena dituduh, melainkan tatapan penuh keresahan yang mendalam. Hati kecilku berbisik bahwa ada sesuatu yang dia sembunyikan. Bukan karena dia jahat, tapi mungkin karena dia terancam.
Saat semua orang dipersilakan keluar, aku mendekat ke arah Bu Ratih sebelum dia sempat pergi. "Bu Ratih, apakah ada sesuatu yang ingin Ibu sampaikan? Tolong katakan saja. Kami tidak akan menyalahkan Ibu jika Ibu terancam."
Bu Ratih menunduk dalam, bahunya perlahan bergetar menahan tangis. Dia menoleh memastikan pintu sudah tertutup rapat, lalu mendekat ke arahku dengan suara berbisik. "Maafkan saya, Nyonya Dian. Saya tidak berani bicara di depan yang lain. Kemarin sore, saat saya sedang berjalan ke gudang belakang, saya melihat Pak Rian, pengawal lama Tuan Erlan berbicara dengan seseorang di balik pohon beringin besar. Saya tidak melihat wajah orang itu jelas, tapi saya mendengar satu kalimat yang membuat saya merinding 'Lakukan apa yang saya perintahkan, atau rahasia tentang kematian orang tuamu akan saya sebarkan ke seluruh dunia.'"
Jantungku seakan berhenti berdetak sejenak. Rian, kepala pengawal yang paling dipercaya Erlan, orang yang pernah menyelamatkan nyawanya dua kali? Dan dia juga terancam dengan rahasia yang sama, rahasia kematian orang tua Erlan?
Aku segera menceritakan hal itu pada Erlan. Wajahnya yang tadinya tegas kini berubah pucat pasi. Dia tidak marah pada Rian, melainkan terlihat sangat terpukul. "Rian adalah anak angkat ayahku. Dia tumbuh besar bersama kami. Jika dia melakukan ini, itu bukan karena dia membenci kami... tapi karena dia terjebak dalam jebakan yang sama dengan kami. Mereka memanfaatkan rasa takutnya demi kebenaran yang belum terungkap."
Kami segera pergi ke ruangan tempat Rian biasanya beristirahat, namun dia sudah tidak ada di sana. Di atas mejanya hanya tertinggal selembar surat yang ditulis dengan tulisan tangan yang gemetar penuh rasa bersalah:
"Maafkan saya, Tuan Muda. Mereka mengancam akan membongkar kebenaran yang akan menghancurkan nama baik keluarga Anda selamanya jika saya menolak bekerja sama. Saya tidak mengambil dokumen itu, saya hanya memberi tahu mereka jam berapa sistem keamanan akan berhenti sebentar untuk pembaruan data. Dokumen asli itu saya sempat menyalinnya ke dalam kartu memori ini sebelum mereka membawanya pergi. Silakan cari kebenaran itu sendiri. Saya tidak pantas lagi melindungi Anda."
Di bawah surat itu tergeletak sebuah kartu memori kecil berwarna hitam pekat. Erlan mengambilnya dengan tangan yang sedikit gemetar, lalu segera menyambungkannya ke komputer di ruang kerjanya. Di dalamnya tersimpan bukan hanya salinan bukti kejahatan Paman Dika, tetapi juga berkas-berkas lama yang belum pernah kami lihat sebelumnya, laporan otopsi ulang, surat peringatan yang dikirimkan sehari sebelum kecelakaan, dan rekaman percakapan yang sangat mengejutkan.
Saat suara dari pita rekaman itu terdengar memenuhi ruangan, napasku tertahan dan Erlan terpaku diam di tempat. Itu adalah suara ayahnya sendiri, berbicara di telepon dengan seseorang yang tidak diketahui identitasnya:
"Saya tidak akan pernah diam melihat rencana kalian untuk menguasai kekuatan yang tidak seharusnya dimiliki manusia. Jika kalian terus memaksakan kehendak, saya akan melaporkan semuanya ke pihak berwenang sekalipun harus mengorbankan nyawaku sendiri."
Suara di seberang telepon terdengar dingin dan mengancam: "Hati-hati dengan ucapanmu, kawan lama. Ingat, kamu bukan satu-satunya yang memiliki kekuatan untuk memutar waktu. Dan jika kamu berani menghalangi jalan kami, bukan hanya nyawamu yang akan hilang. Tapi juga nyawa putramu yang masih kecil dan gadis yang selalu kamu anggap seperti anak sendiri."
Erlan terduduk lemas di kursinya, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Selama ini dia percaya bahwa kematian orang tuanya adalah kecelakaan murni karena jalan licin dan rem blong. Namun kenyataannya, mereka dibunuh secara terencana karena berusaha menghentikan sebuah rencana besar yang berkaitan dengan kekuatan melintasi waktu, kekuatan yang ternyata bukan hanya milik kami berdua, atau Dimas, melainkan milik sekelompok orang yang sudah berusaha menguasainya selama puluhan tahun.
"Mereka bukan sekadar ingin membalas dendam atau menguasai harta," bisik Erlan dengan suara serak penuh kepedihan. "Mereka ingin menguasai rahasia yang menjaga keseimbangan waktu itu sendiri. Dan ayahku adalah satu-satunya orang yang berusaha menghentikannya."
Belum sempat kami mencerna semua informasi mengerikan itu, telepon di meja berdering lagi. Kali ini bukan pesan atau ancaman, melainkan panggilan langsung dari rumah sakit. Suara perawat terdengar cemas di seberang sana: "Apakah ini keluarga Tuan Erlan Pratama? Kami menemukan seorang pria yang terluka parah di depan gerbang rumah sakit dengan nama dan nomor telepon Anda tertulis di kertas di sakunya. Dia terus berteriak meminta agar Anda tidak mempercayai Paman Dika dan menyuruh Anda menjaga cincin pusaka keluarga Anda dengan nyawa Anda sendiri."
"Itu pasti Rian!" seru Erlan seketika, langsung bangkit berdiri dan meraih jaketnya. "Mereka menyiksanya setelah dia memberi kami bukti itu. Mereka ingin memastikan dia mati sebelum sempat menceritakan lebih banyak hal."
Saat kami bergegas menuju pintu keluar, aku melihat sesuatu yang berkilauan samar di bawah lemari arsip, sebuah liontin kecil berbentuk matahari yang terbuat dari batu giok. Itu adalah liontin yang dulu selalu dipakai ibuku, liontin yang dikatakan hilang saat rumah kami dirampok beberapa tahun lalu. Mengapa benda itu ada di sini? Apakah ada hubungan antara kematian orang tua Erlan, hilangnya barang berharga ibuku, dan rencana jahat kelompok misterius itu?
Erlan berhenti melangkah saat melihatku terpaku menatap benda itu. Dia mendekat dan mengambilnya, matanya melebar seketika saat mengenali bentuknya. "Liontin ini... ada di dalam brankas ayahku sejak aku masih kecil. Dia pernah bilang bahwa benda ini adalah kunci untuk menyeimbangkan kekuatan waktu. Dan dia menyimpannya bersama cincin pusaka keluargaku. Jika benda ini ada di sini, berarti mereka sedang mencari cincin itu sekarang juga."
Di luar angin kencang kembali bertiup kencang, seolah alam pun merasakan betapa besar bahaya yang sedang mengancam kami. Kami berpikir perang ini hanya tentang dendam pribadi dan kebangkrutan perusahaan. Namun ternyata kami salah besar. Kami sedang berdiri di ambang rahasia yang sudah disembunyikan selama tiga generasi, dan nyawa kami, nyawa semua orang yang kami sayangi tergantung pada seberapa cepat kami bisa menemukan jawaban sebelum mereka menghancurkan segalanya demi kekuasaan mutlak.
Saat kami melangkah masuk ke dalam mobil untuk segera pergi ke rumah sakit, sebuah pertanyaan besar menghantam kepalaku. Jika Paman Dika hanyalah alat bagi kelompok itu, siapa sebenarnya pemimpin di balik semua ini? Dan mengapa dia begitu terobsesi padaku, bahkan sejak sebelum aku lahir ke dunia ini?