Demi menyelamatkan nyawa sang adik yang mempunyai penyakit jantung bawaan, Alina Savina seorang figuran terpaksa menerima tawaran gila dari Leon Gennadi Alexander.
Leon, aktor mega bintang sekaligus pewaris tunggal imperium bisnis Alexander Group, membutuhkan istri instan demi menghindari perjodohan kolosal keluarganya.
Sebuah kecelakaan tak sengaja di basement apartemen membawa keduanya ke meja pernikahan kontrak yang rahasia, dingin, dan penuh batasan ketat.
Di balik dinding kaca penthouse yang megah, sandiwara pernikahan satu tahun dimulai.
Sanggupkah mereka menjaga hati agar tetap logis, ataukah skenario takdir akan meruntuhkan dinding keangkuhan yang telah mereka bangun?
JANGAN LUPA KEPOIN CERITANYA YAAAAA
FOLLOW IG @LALA_SYALALA13
SUBSCRIBE YT @NOVELLALAAA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Papan Catur
Dalam sekejap, air mata di pipi Leon kering. Ekspresi keputusasaan yang begitu dalam di wajahnya menguap tanpa bekas, digantikan oleh raut wajah datar, dingin, dan cenderung acuh tak acuh yang menjadi ciri khas aslinya.
Dia tidak membalas pujian sutradara atau senyuman manis dari lawan mainnya. Pria itu hanya mengangguk sekilas, lalu melangkah turun dari set menuju area pribadinya tanpa banyak bicara, hanya dengan wajah dinginnya.
"Handuk, Tuan Leon." Jefri, asisten pribadi sekaligus tangan kanan Leon yang sudah bekerja bersamanya selama tujuh tahun, dengan cekatan menyodorkan handuk kecil dan sebotol air mineral dingin.
Leon menerimanya tanpa suara, menyeka sisa keringat di lehernya sambil berjalan menuju ruang VIP lounge yang dikhususkan hanya untuknya.
Di industri hiburan negeri ini, Leon Gennadi Alexander bukan sekadar aktor. Dia adalah fenomena. Setiap film yang dibintanginya dijamin menembus rekor box office, setiap serial yang memajang wajahnya akan merajai rating, dan setiap produk yang menjadikannya brand ambassador akan habis terjual dalam hitungan jam.
Namun, di balik semua gemerlap layar perak itu, industri hiburan hanyalah taman bermain kecil bagi Leon. Di luar statusnya sebagai aktor nomor satu, dia adalah pewaris tunggal dari Alexander Group, kekayaan yang tiada tandingannya.
Sebuah imperium bisnis raksasa yang gurita bisnisnya mencakup bidang properti, perhotelan, teknologi, hingga media massa, baik di dalam negeri maupun jaringan internasional yang berpusat di London dan New York.
"Jef, jadwalku setelah ini apa?" tanya Leon sambil menghempaskan tubuhnya ke sofa kulit yang empuk. Dia melonggarkan kerah kemeja periodik yang terasa mencekik lehernya.
Jefri segera membuka gawai tabletnya, jemarinya bergerak lincah. "Setelah ini tidak ada jadwal syuting lagi untuk minggu ini, Tuan. Anda bebas dari komitmen Alexander Media. Namun, Tuan Besar Bramantyo Alexander, kakek Anda meminta Anda hadir di kantor pusat besok jam sembilan pagi. Ada rapat direksi mengenai akuisisi lahan di koridor barat." ucap Jefri dengan presisi tidak ada yang terlewat karena dia tahu seberapa disiplin sang tuan.
Leon memejamkan matanya, memijat pangkal hidungnya yang terasa pening.
"Kakek masih belum menyerah untuk menarikku sepenuhnya dari studio?" seru Leon.
"Anda tahu sendiri bagaimana Tuan Besar, Tuan Leon. Baginya, berakting di depan kamera hanyalah hobi masa muda yang membuang-buang waktu. Beliau ingin Anda segera duduk di kursi CEO utama sebelum akhir tahun ini." jawab Jefri dengan nada hati-hati, sangat memahami dinamika rumit antara sang majikan dan kepala keluarga Alexander tersebut.
Leon mendengus sinis. Kehidupan seorang Leon Gennadi Alexander dari luar tampak seperti impian semua orang. Wajah tampan tanpa cela, bakat yang diakui dunia, kekayaan yang tidak akan habis hingga tujuh turunan, dan kekuasaan yang mampu menggerakkan roda ekonomi sebuah negara.
Namun, kenyataannya, hidup Leon seperti berada di dalam sangkar emas yang pintunya dikunci rapat dari luar oleh ambisi keluarganya, membuatnya menjadi seseorang yang dingin dan kaku seperti sekarang ini.
Sejak kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan pesawat saat dia masih berusia sepuluh tahun, Leon dibesarkan dengan tangan besi oleh kakeknya, Bramantyo Alexander, dan neneknya, Kartika Alexander.
Baginya, kata pilihan adalah sebuah kemewahan yang tidak pernah ada dalam kamus hidupnya. Dia dididik di sekolah-sekolah terbaik di Swiss, mengambil gelar ganda di bidang bisnis dan hukum di Harvard, semuanya demi satu tujuan yaitu menjadi mesin penggerak Alexander Group yang sempurna.
Dunia akting adalah satu-satunya pemberontakan kecil yang berhasil Leon pertahankan. Dia ingin membuktikan bahwa tanpa nama besar Alexander pun, dia bisa menaklukkan dunia dengan kemampuannya sendiri. Dan dia berhasil.
Namun, semakin tinggi posisinya di dunia hiburan, semakin kuat pula tekanan dari rumah utama keluarga Alexander untuk memulangkannya ke jalur yang seharusnya.
"Lalu, bagaimana dengan urusan... Nenek?" tanya Leon lagi, matanya masih terpejam namun rahangnya mengencang.
Jefri berdeham pelan, tampak agak segan untuk menyampaikan poin berikutnya.
"Nyonya Besar Kartika sudah mengirimkan profil tiga gadis lagi ke apartemen Anda pagi ini, Tuan. Semuanya dari latar belakang keluarga terpandang. Ada putri bungsu dari pemilik bank swasta terbesar, cucu dari mantan menteri, dan pewaris bisnis perhiasan internasional. Nyonya Besar menegaskan bahwa Anda harus memilih salah satu untuk diajak makan malam keluarga minggu depan. Jika tidak, beliau sendiri yang akan menentukan tanggal pertunangan Anda dengan pilihan Kakek." sahut Jefri dengan hati-hati karena ini adalah salah satu pembahasan yang cukup sensitif.
Leon membuka matanya yang tajam. Kilatan kemarahan melintas di bola mata gelap itu.
"Perjodohan bisnis berkedok pernikahan. Mereka benar-benar menganggap hidupku ini seperti papan catur." ucap Leon begitu muak dengan pembahasan itu.
Bagi keluarga Alexander, pernikahan bukanlah tentang cinta atau komitmen emosional. Pernikahan adalah merger dua korporasi besar, sebuah transaksi strategi untuk memperluas wilayah kekuasaan bisnis.
Leon tahu persis apa yang terjadi pada mendiang ayahnya dulu, yang terpaksa menikahi ibunya karena tuntutan bisnis, membuat masa kecil Leon dihiasi oleh dinginnya hubungan kedua orang tua yang tidak pernah saling mencintai hingga maut menjemput mereka.
Leon bersumpah, dia tidak akan pernah membiarkan dirinya jatuh ke dalam lubang neraka yang sama, bahkan selama ini banyak wanita gang menggoda dan mencoba membuat skandal dengannya namun Leon tidak pernah menggubris nya.
"Tuan Leon, apa Anda ingin saya mengatur penolakan halus seperti biasanya?" tanya Jefri menawarkan solusi.
"Tidak perlu, Jef. Penolakan halus tidak akan mempan lagi kali ini. Nenek sudah memberikan ultimatum," kata Leon, suaranya berubah menjadi sangat dingin.
Dia bangkit dari sofa, berjalan menuju cermin besar di sudut ruangan, menatap pantulan dirinya yang mengenakan baju mewah seorang Duke.
Di dunia nyata, dia harus menjadi sutradara bagi hidupnya sendiri, setidaknya untuk urusan yang satu ini. Leon tidak ingin terikat dengan wanita dari kalangan elit. Wanita-wanita itu egois, haus kekuasaan, dan setiap senyuman mereka selalu memiliki harga yang harus dibayar oleh Alexander Group.
Jika dia harus menikah demi meredam tuntutan kakek dan neneknya, maka dia harus memilih seseorang yang berada di bawah kendali penuhnya.
Seseorang yang tidak memiliki kekuatan politik atau finansial untuk menuntut apa pun darinya. Seseorang yang murni bisa dia beli dengan uang, gunakan kegunaannya, lalu singkirkan saat kontrak selesai tanpa ada drama keluarga besar yang merepotkan.
"Jef, siapkan mobil sport hitamku malam ini. Aku ingin menyetir sendiri. Jangan ada pengawalan," perintah Leon tiba-tiba.
"Tapi Tuan, ini sudah malam, dan besok pagi Anda ada rapat penting..." ucap sang asisten terpotong.
"Ini perintah, Jefri." potong Leon tanpa bantahan.
"Baik, Tuan. Saya laksanakan."
.
.
Cerita Belum Selesai.....
kuraanggg terus
kelamaan nunggu bsok thor😭😭😭😭
apa lagi perasaan wanita yg lemah lembut kaya lelembut wehhh melot duluan
gak sabar nunggu leon bucin akut 🤣🤣🤣