Intan adalah gadis yang lugu dan baik hati, dia selalu membantu ibunya yang bekerja sebagai asisten rumah tangga di sebuah rumah mewah. Intan bersama ibunya hanya orang biasa yang tidak memiliki keluarga dan beruntung mereka bertemu dengan bu Ratna yang membawa mereka kerumah nya dan bekerja di sana.
Ratna yang berusia 18 tahun itu nampak cekatan membantu ibunya. Sikap sopan dan paruhnya membantu Ratna dan suami Agung begitu menyukai Intan, 5 tahun sudah berlalu kini intan sudah beranjak menjadi gadis dewasa.
Di mana kisah yang tidak pernah dia bayangkan akan terjadi, kisah pencinta dan tanpa restu akan terlibat dalam kehidupan nya.
Saat pertemuan nya dengan anak tunggal keluarga Wicana yang sudah menampung nya dan ibunya selamat bertahun-tahun lama nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lembayung Senjaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apartemen
Mahendra mengajak Intan berjalan menyusuri gank sempet di ujung kota. Jam sudah menujukan pukul 13.05 siang.
" Hemz seperti memang sudah tidak sama lagi, percuma kita kesini. " Gumam Mahendra melihat rumah yang sudah kosong itu.
" Itu rumah siapa?. "
" Bimo dan yang sebelahnya itu rumah Aldo sahabat baik aku dulu dari SMP, entah kemana mereka sekarang. Yaa udah lah pulang yuk cari makan siang, kamu pasti laper... " Mahendra menarik tangan Intan pelan mengajaknya pergi berlalu.
Intan menangkap kesedihan di mata Mahendra mata hitam itu nampak kosong melihat beberapa bangun kosong itu.
Terik matahari benar-benar di atas kepala mereka, membuat Intan beberapa kali bersembunyi di balik punggung Mahendra agar matahari tidak menyentuh kulit nya. Mahendra melajukan motornya sedikit kencang melewati beberapa tempat makan yang semakin membuat Intan bingung mau kemana sebenarnya mereka.
Intan sama sekali tidak tahu arah jalan kota itu karena dia sendiri belum pernah berkeliling jauh dari komplek rumah Mahendra. Tak lama Mahendra memarkirkan motornya di sebuah basman khsusus pemilik apartemen mewah.
" kita mau kemana kak?. " Ucap Intan turun dari motor Mahendra.
" Masuk aja ke apartemen ku, dah lama gak pulang jadi kangen Apartemen lama ku. Ayoo gak papa gak usah takut Intan aku gak akan melakukan hal gila tenang aja. " Intan nampak ragu tapi dia tetap mengikuti langkah Mahendra.
Mereka masuk kedalam lift berdua nampak tempat itu sepi dan semakin membuat Intan merasa sedikit takut. Apa lagi dia dan Mahendra baru bertemu dua kali dan dia belum kenal dekat dengan pemuda Itu.
Intan melihat tombol lift yang di tekan Mahendra menuju lantai 14 apartemen itu. Tak lama ponsel Mahendra berdering memecah keheningan mereka.
Sayanggggggg aku kangennnnnn, itu siapa?
Mahendra langsung mundur kebelakang mengindari Intan.
Sayang, kamu sama siapa?. Selingkuhan kamu yah?.
Mahendra terkekeh pekan melihat seseorang di sebrang sana yang terlihat heboh sendiri. Sedangkan Intan hanya diam dia tahu itu pasti pacar Mahendra dan tentu saja dia akan cemburu saat melihat kekasihnya bersama gadis yang tidak dia kenal.
" Itu bukan selingkuhan sayang, itu Intan teman aku di jakarta. Gak usah seheboh itu kenapa sih kamu ini.. "
Awas ajaa bohong, aku gak akan maafin siapapun gadis itu yang berusaha merebut kamu dari aku.
" Iyaaa, siap. "
Ting
" Nanti aku vc lagi yah, love you. " Mahendra langsung mematikan video call nya kemudian mengajak Intan untuk keluar lift dan masuk kedalam Apartemen nya.
" Ayo masuk, anggap aja Apartemen kamu sendiri. Maaf soal tadi aku gak tahu jika Lili akan menghubungi ku. " Intan menggeleng kepala nya pelan tidak enak hati saat Mahendra meminta maaf pada nya.
" Gak papa kok kak, gak usah minta maaf. Ngomong ngomong kok Apartemen nya bersih banget kak tertatap tanpa debu ?. " Mata gadis itu menelusuri semua area apartemen itu dengan takjub dan kagum akan ke indahan dan ke mewahnya. t" Gede banget, seandainya aku punya 1 yang kayak gini di jamin gak keluar keluar ni aku. " Batin Intan mulai berhayal.
Mahendra menatap Intan lekat sembari mengeluarkan minuman dari kulkas. Gadis itu berjalan pelan menatap setiap foto foto masa remaja Mahendra bersama dengan teman teman nya yang terlihat begitu seru.
" Apartemen ini dulu termasuk markas kami, makanya banyak banget foto foto pribadi kami di sini sebagai kenangan. Mungkin kalau mereka tahu aku di Indonesia mereka akan kesini. " Ucap Mahendra pelan menyodorkan minuman pada Intan.
" Terima kasih. "
" Apartemen ini ada yang jaga dan keluar masuk jadi tentu saja terawat, bunda yang bayar orang untuk tetap jaga Apartemen ini tanpa mengubah apapun itu sampai aku pulang. Dan aku benar-benar tidak menemukan cela perbedaan dari setiap jengkal nya. " Gumam Mahendra bersandar di tembok menatap semua nya yang masih terlihat benar-benar sama.
" Mereka pasti seneng banget ketemu sama kamu lagi kak, tapi sayang mereka entah di mana sekarang. " Mahendra tersenyum kecut mendengar ucapan Intan.
" Kamu mau makan apa, kayaknya ada mie instan aja di kulkas?. "
" Aku aja yang bikin , kak Mahen tunggu di sini aja. " Intan langsung ke dapur dan memasak mie untuk mereka dengan bahan yang ada di dalam kulkas.
Mahendra sibuk berkirim pesan dengan Lili kekasihnya yang nampak sedikit marah padanya.
Kring
" Hallo bun... " Mahendra menjawab telpon dari Ratna.
. ...
" Iyaa, ok bunda hati hati di jalan. Mahendra masih mau makan dulu sama Intan setelah itu pulang. Mungkin jika Mahendra tidak pergi ke suatu tempat. "
. ...
" Iya Mahendra tahu batasan nya bunda.. " Intan meletakkan dua porsi mie instan di depan Mahendra yang sedang berbicara lewat ponsel dengan ibunya.
. ...
" Iya bunda. " Mahendra mematikan ponselnya menatap Intan yang juga menatapnya.
" Apa? " Ucap Mahendra pada Intan yang masih menatapnya penuh tanya.
" Nyonya Ratna meminta ku pulang?. "
" Enggak kok, bunda cuman bilang kalau dia pergi ke Singapura dan aku harus segera pulang dan tidak lupa akan batasan tentang kita.. " Seketika Intan menunduk mengerti.
" Hey, kenapa?. " Intan menggeleng pelan.
" Ayo makan kak, setelah itu kita pulang. " Mahendra mengangguk mereka menikmati mie Instan dengan hening tanpa pembicaraan.
" Intan, boleh aku bertanya sesuatu? ". Intan mengganguk dengan tetap menyuapkan mie ke dalam mulut mungil nya.
" Kenapa kamu harus bunda dengan sebutan Nyonya, kenapa bukan ibu atau apa gitu?. Atau bunda yang meminta nya?. " Intan menghentikan makan nya kemudian menatap Mahendra yang juga menatapnya penuh tanya.
" Itu lah panggilan pengingat untuk aku tahu batasan aku dan keluarga Cendana kak Mahendra, mau sedekat apapun aku pada kalian aku tetap lah orang lain dan aku tidak akan pernah bisa lupa akan itu. Nyonya sendiri meminta ku selalu mengingat siapa aku dan siapa kalian. " Mahendra diam mendengar ucapan Intan yang bergetar dia tahu ada sesuatu yang mengganjal dari mulut gadis itu.
" Ayo makan nanti keburu dingin. " Gumam Intan dan langsung memakan kembali mie nya.
" Maaf jika ucapan dari ibunya menyakiti mu Intan, maaf aku sama sekali tidak tahu akan itu semua. "
Langit nampak menghitam dan mulai lah turun rintik rintik hujan di luar sana.
" Kenapa malah hujan sih, perasaan tadi panas?. " Gumam Intan melihat kearah jendela besar Apartemen Mahendra.
" Sudah waktunya hujan bagaimana lagi, kita harus bersyukur bukan. " Intan tersenyum tipis mengambil mangkuk mie Mahendra membawa nya kebelakang dan mencuci nya.
Mahendra berjalan ke arah jendela menatap hujan yang kian deras saja di sambut dengan kilat yang bersahutan. Mahendra menarik tirai Apartemen itu menutup kaca jendela agar hujan dan kilat tidak terlihat dengan jalas.
" Istirahat aja dulu sampai hujan reda baru kita pulang, kamu tidur aja di kamar aku akan tidur di kamar sebelah. " Gumam Mahendra pelan.
" Kak.. " Intan langsung menahannya pergi.
" Apa?. " Gadis itu nampak diam dan bingung.
" Di sini aja kita duduk atau tidur di sini aja, maaf Intan takut suara petir yang bersahutan.. " Gumam nya pelan.
" Astaga Intan Intan, ya udah gini aja kita ke kamar ku saja kamu tidur di kasur aku akan tidur di sofa. "
" Tapi... "
" Di luar dingin dan suara guntur akan jauh lebih keras di sini, kalau di kamar tidak terlalu terdengar juga. " Intan menurut kemudian ikut bersama Mahendra masuk kedalam kamar nya.
Kamar itu bernuansa putih hitam sama seperti kamar nya di rumah, tanpa foto atau figuran yang lain. Hanya ada 3 buah gitar yang di sana sebagai penunggu kamar.