NovelToon NovelToon
Cinta Yang Tersembunyi Di Balik Cadar

Cinta Yang Tersembunyi Di Balik Cadar

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:12.5k
Nilai: 5
Nama Author: Aiza-ra

Jennaira Hanania Mecca tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah setelah menerima perjodohan dengan Arshaka Zayd Kalandra, pria dingin pewaris keluarga Kalandra yang sulit percaya pada cinta.

Pernikahan mereka dimulai tanpa kehangatan. Setelah akad, Shaka menetapkan batas yang jelas antara dirinya dan Jenna. Baginya, Jenna hanyalah tanggung jawab, bukan seseorang yang boleh masuk terlalu jauh ke dalam hidupnya.

Namun Jenna, dengan kelembutan, kesabaran, dan ketulusan hatinya, perlahan membuat pertahanan Shaka runtuh. Dari rasa penasaran, cemburu, hingga perhatian yang tak lagi mampu ia sembunyikan, Shaka mulai menyadari bahwa Jenna bukan sekadar istri yang dijodohkan dengannya.

Ia adalah perempuan yang diam-diam mengubah rumahnya menjadi tempat pulang, dan hatinya menjadi sesuatu yang kembali ingin percaya pada cinta.






Update setiap hari ya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aiza-ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 — Malu yang Terlalu Baru

Sesampainya di rumah, malam sudah benar-benar larut.

Lampu halaman menyala temaram, memantulkan cahaya lembut pada taman bunga di samping rumah. Udara malam terasa lebih dingin dari biasanya, mungkin karena mereka baru saja pulang dari pasar malam yang ramai, penuh suara, tawa, dan warna.

Jenna masuk lebih dulu ke dalam rumah sambil masih membawa boneka kelinci kecil dari pasar malam. Shaka berjalan di belakangnya, memastikan pintu utama terkunci setelah mereka masuk.

Tidak banyak kata yang terucap di antara mereka.

Namun diam malam itu berbeda.

Tidak lagi sebeku malam-malam sebelumnya.

Ada sisa canggung dari perjalanan pulang, tetapi juga ada kehangatan kecil yang tertinggal dari bakso, bianglala, dan tawa Jenna yang beberapa kali tidak sengaja keluar.

Mereka naik ke lantai dua bersama.

Di depan pintu kamar, Jenna berhenti sejenak, lalu masuk setelah Shaka membukakan pintu.

“Kamu bersih-bersih dulu?” tanya Shaka.

Jenna menunduk sedikit. “Mas dulu saja. Jenna rapikan barang sebentar.”

Shaka mengangguk.

Ia mengambil handuk dari lemari, lalu berjalan masuk ke kamar mandi. Jenna meletakkan tas kecilnya di meja, menyimpan boneka kelinci di samping bantal, kemudian mulai merapikan barang-barang kecil yang mereka bawa dari pasar malam.

Beberapa menit berlalu.

Jenna sedang melipat scarf yang tadi ia pakai ketika pintu kamar mandi terbuka.

Ia menoleh tanpa berpikir.

Dan langsung membeku.

Shaka keluar dari kamar mandi hanya dengan celana tidur panjang, sementara bagian atas tubuhnya tidak tertutup apa pun. Rambutnya masih sedikit basah. Tetes air jatuh dari ujung rambut ke bahunya. Dada bidang dan bahunya yang tegas terlihat jelas di bawah cahaya lampu kamar.

Jenna terkejut bukan main.

“Mas Shaka!”

Suaranya keluar lebih tinggi dari biasanya.

Shaka yang sedang mengambil napas santai langsung menoleh.

“Apa?”

Jenna segera memalingkan wajah, kedua tangannya hampir menutupi mata sendiri.

“Mas kenapa keluar seperti itu?”

Shaka menunduk melihat dirinya sendiri, lalu baru menyadari ia lupa membawa pakaian ganti.

“Oh.”

“Oh?” Jenna mengulang dengan suara tertahan panik. “Mas bilang oh?”

Shaka berjalan menuju lemari dengan tenang, seolah tidak ada yang aneh.

“Saya lupa ambil baju.”

Jenna semakin salah tingkah.

“Mas ambil cepat.”

Shaka meliriknya sebentar.

Wajah Jenna memerah. Ia benar-benar memalingkan wajah, berdiri kaku di dekat sisi ranjang seperti orang yang tidak tahu harus kabur ke mana.

Melihat itu, sudut bibir Shaka bergerak tipis.

Sangat tipis.

Namun jelas ada senyum di sana.

Jenna yang masih menutup pandangan tidak melihatnya.

Shaka mengambil kaus dari lemari, lalu berjalan kembali ke kamar mandi.

“Saya ganti di dalam.”

“Cepat, Mas.”

Shaka masuk ke kamar mandi sambil menahan senyum kecil yang nyaris tidak pernah muncul di wajahnya.

Tingkah Jenna terlalu polos.

Padahal mereka sudah suami istri.

Tetapi justru rasa malu Jenna itu membuat Shaka merasa ada sesuatu yang hangat dan lucu di dadanya. Perempuan itu bisa terlihat tenang di depan banyak orang, bisa mengurus kafe, bisa mengatur acara sosial, bisa menghadapi keluarganya dengan anggun.

Namun hanya karena melihatnya bertelanjang dada, Jenna langsung panik seperti anak kecil yang tertangkap melakukan kesalahan.

Shaka menggeleng pelan.

Malam itu, untuk pertama kalinya, ia tersenyum sendirian di kamar mandi.

Setelah Shaka selesai dan keluar dengan pakaian tidur lengkap, giliran Jenna yang masuk ke kamar mandi.

Ia membawa pakaian tidur, handuk, dan jilbab rumah yang biasa ia pakai. Namun karena masih sedikit gugup akibat kejadian tadi, gerakannya menjadi kurang hati-hati.

Saat ia hendak menggantung jilbab bersih di dekat rak, kain itu terlepas dari tangannya.

Jatuh tepat ke lantai kamar mandi yang basah.

Jenna terdiam.

Ia menatap jilbab itu beberapa detik, lalu menghela napas pelan.

“Ya Allah…”

Jilbabnya basah.

Ia melihat handuk yang baru saja ia gunakan, tetapi handuk itu pun basah. Tidak mungkin ia gunakan untuk menutup rambut. Pakaian tidurnya sudah ia pakai, tetapi tanpa jilbab ia tidak berani keluar begitu saja.

Bukan karena Shaka bukan suaminya.

Shaka memang suaminya.

Namun Jenna belum terbiasa.

Ia masih belajar membuka batas. Masih belajar percaya. Membuka cadar saja baru ia lakukan malam sebelumnya. Rambutnya adalah bagian yang selama ini benar-benar ia jaga. Memperlihatkannya kepada Shaka, meski halal, tetap membuatnya gugup.

Jenna berdiri bingung di dalam kamar mandi.

Akhirnya ia mendekati pintu dan mengetuknya pelan dari dalam.

“Mas Shaka?”

Tidak ada jawaban.

Jenna menunggu beberapa detik.

“Mas?”

Tetap tidak ada suara.

Ia mengerutkan kening. Apakah Shaka keluar kamar?

Jenna membuka pintu sedikit. Hanya celah kecil. Ia mengintip keluar.

Kamar kosong.

Shaka tidak ada.

Jenna menarik napas lega.

Mungkin Shaka sedang turun mengambil minum atau mengecek sesuatu.

Dengan cepat, Jenna membuka pintu kamar mandi sedikit lebih lebar. Rambut panjangnya yang hitam jatuh melewati bahu, masih sedikit lembap karena baru selesai mandi. Ia bergegas menuju lemari, tempat jilbab cadangannya disimpan.

Langkahnya cepat, tetapi tetap hati-hati.

Ia membuka laci, mengambil jilbab bersih, lalu hendak memakainya saat pintu kamar tiba-tiba terbuka.

Jenna membeku.

Shaka masuk.

Mereka saling menatap.

Untuk beberapa detik, waktu seperti berhenti.

Shaka berdiri di ambang pintu, satu tangan masih memegang gelas air. Matanya langsung tertuju pada Jenna.

Jenna berdiri di dekat lemari dengan jilbab bersih di tangan, tetapi belum sempat memakainya. Rambutnya terurai lembut, hitam dan panjang, sedikit bergelombang alami. Wajahnya yang tanpa cadar terlihat jelas. Kulitnya putih bersih, pipinya langsung memerah karena terkejut, dan matanya membesar panik.

Shaka tertegun.

Ia sudah melihat wajah Jenna tanpa cadar.

Ia sudah tahu Jenna cantik.

Tetapi melihat Jenna tanpa jilbab adalah sesuatu yang berbeda.

Bukan hanya karena kecantikannya terlihat lebih utuh, tetapi karena ada rasa kepercayaan yang terasa sangat pribadi di sana. Sesuatu yang biasanya Jenna sembunyikan dari dunia. Sesuatu yang tidak ia tunjukkan kepada sembarang orang.

Dan kini, meski tidak sengaja, Shaka melihatnya.

Cantik.

Terlalu cantik.

Anggun, lembut, dan sangat sederhana dalam kepanikannya.

“Mas…” suara Jenna keluar pelan, gugup.

Shaka tersadar.

Ia segera memalingkan wajah sedikit, bukan karena tidak berhak melihat, tetapi karena tidak ingin membuat Jenna semakin panik.

“Maaf.”

Jenna cepat-cepat memakai jilbabnya dengan tangan sedikit gemetar.

Shaka tetap berdiri menghadap sedikit ke samping, memberi Jenna ruang.

“Mas tadi keluar?”

“Iya. Ambil minum.”

“Jenna kira Mas masih di luar kamar.”

“Saya tidak tahu kamu sedang keluar dari kamar mandi.”

Jenna menggenggam ujung jilbabnya setelah berhasil memakainya. Wajahnya masih merah.

“Jilbab Jenna jatuh ke lantai kamar mandi. Basah. Jenna mau ambil yang baru.”

Shaka menoleh perlahan setelah memastikan Jenna sudah tertutup.

Ia menatap wajah Jenna yang masih tampak salah tingkah.

“Tidak apa-apa.”

Jenna menunduk.

“Jenna malu.”

“Jenna,” ucap Shaka rendah, “kita suami istri.”

Jenna mengangkat wajah perlahan.

Shaka melanjutkan, nadanya tidak menggoda, tidak memaksa, hanya tenang.

“Tidak ada yang salah kalau saya melihatmu tanpa jilbab. Tapi saya paham kalau kamu belum terbiasa.”

Kalimat itu membuat dada Jenna sedikit tenang.

Ia sempat takut Shaka akan menggodanya, atau membuat suasana menjadi semakin canggung. Namun laki-laki itu justru meminta maaf dan memberi ruang.

Jenna menunduk lagi.

“Jenna masih belajar, Mas.”

“Saya tahu.”

Shaka meletakkan gelas air di meja kecil, lalu menatap Jenna beberapa saat.

Ada senyum yang hampir muncul di wajahnya.

“Hari ini kamu sudah dua kali panik.”

Jenna langsung menatapnya.

“Mas Shaka.”

“Apa?”

“Jangan dibahas.”

Kali ini Shaka benar-benar tersenyum tipis.

Jenna terdiam.

Senyum itu kecil sekali, tetapi cukup membuat wajah dingin Shaka berubah. Entah kenapa, melihat Shaka tersenyum karena dirinya membuat dada Jenna berdebar lebih cepat.

Ia segera mengalihkan pandangan.

“Sudah malam, Mas. Besok kita harus bangun pagi.”

Shaka tidak memperpanjang. Ia mengangguk pelan.

“Iya. Tidur sekarang.”

Mereka bersiap tidur.

Tidak ada perdebatan soal sofa malam itu. Setelah semalam Shaka tidur di ranjang dan mereka sama-sama baik-baik saja, Jenna tidak meminta Shaka kembali ke sofa. Shaka pun tidak menawarkan diri, tetapi ia tetap menjaga jarak di sisi kiri ranjang.

Jenna berbaring di sisi kanan, memunggungi Shaka pada awalnya. Namun beberapa menit kemudian, ia memiringkan tubuh sedikit ke arah tengah, tidak sepenuhnya menghadap Shaka, tetapi juga tidak menjauh seperti sebelumnya.

Shaka menyadarinya.

Ia tidak mengatakan apa-apa.

Lampu utama dimatikan. Hanya cahaya redup dari lampu tidur yang tersisa.

Dalam hening, kejadian tadi kembali berputar di kepala Shaka.

Jenna yang panik melihatnya bertelanjang dada.

Jenna yang berdiri tanpa jilbab, wajahnya merah karena malu.

Jenna yang terlihat begitu lembut sampai membuatnya lupa bernapas sesaat.

Shaka menatap langit-langit kamar.

Ia tahu batas di antara mereka belum hilang.

Namun malam ini, batas itu terasa semakin tipis.

Bukan karena ia memaksa.

Bukan karena Jenna menyerah.

Tetapi karena perlahan, mereka mulai belajar merasa aman dalam satu ruang yang sama.

Di sisi lain, Jenna menutup mata sambil memeluk selimut.

Wajahnya masih terasa panas jika mengingat kejadian tadi. Namun di balik rasa malu, ada sedikit rasa lega yang ia simpan diam-diam.

Shaka tidak menertawakannya berlebihan.

Shaka tidak membuatnya semakin tidak nyaman.

Shaka bahkan memalingkan wajah dan meminta maaf.

Mungkin benar, laki-laki itu sedang belajar.

Dan mungkin Jenna juga harus terus belajar.

Belajar percaya.

Belajar membuka ruang.

Belajar bahwa pernikahan mereka tidak harus selalu dimulai dari luka.

Di luar kamar, malam semakin larut.

Besok pagi mereka harus pergi ke panti asuhan untuk kegiatan bakti sosial. Akan ada anak-anak, tawa, kesibukan, dan mungkin pertemuan dengan Sagara.

Namun untuk malam ini, sebelum semua itu terjadi, Jenna dan Shaka hanya dua orang yang berbaring dalam satu ranjang dengan jarak sopan di antara mereka.

Masih canggung.

Masih malu.

Tetapi tidak lagi sedingin dulu.

Dan saat kantuk mulai menarik mereka perlahan, Shaka sempat melirik Jenna dari sudut matanya.

Ia tidak mengatakan apa-apa.

Namun dalam hatinya, satu kalimat muncul begitu saja.

Aku benar-benar menikahi perempuan yang sangat indah.

Bukan hanya wajahnya.

Tetapi juga caranya menjaga diri.

Caranya malu.

Caranya mencoba percaya.

Dan entah sejak kapan, semua hal kecil tentang Jenna mulai menjadi sesuatu yang Shaka ingin lindungi.

1
partini
dihhh bikin esmosi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!