NovelToon NovelToon
Aversion To You

Aversion To You

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Dark Romance / Cintapertama
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Pernikahan Aurora dengan Jonathan Carser—menjadi neraka saat ia menjadi korban pengkhianatan dan manipulasi.

Puncaknya, ia dipaksa menghadapi keraguan sang suami atas bayi laki-laki nya yang terlahir dengan paras begitu mirip dengan mantan kekasih masa lalunya, Braxley Valerio-Desmon.

Ketika kebenaran mulai terkuak dan Jonathan semakin brutal meluapkan amarahnya, Siapkah Aurora menghadapi kenyataan pahit, menerima kebenaran?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#14

Mansion Utama Valerio-Desmon berdiri megah di atas perbukitan eksklusif Beverly Hills, memancarkan keagungan arsitektur eropa klasik yang dipadukan dengan keamanan tingkat tinggi.

Namun pagi ini, kemewahan ruangan utama yang berdindingkan marmer Italia dan dihiasi lampu kristal gantung bernilai jutaan dolar itu terasa hangat dan bernyawa.

Suara gelak tawa yang renyah dan penuh kebahagiaan bergema memantul di setiap sudut ruangan.

"Lihat matanya, Austin! Manik matanya yang bulat ini sangat mirip dengan mataku saat aku masih muda!" seru Zephyr dengan binar kebahagiaan yang meluap-luap.

Sang grandma memangku Draco di atas bantalan sutra khusus, menggoyangkan jemari lentiknya untuk memancing senyuman sang cucu.

Austin Jaxon—sang grandpa—kini duduk berlutut di dekat kursi sanak keluarga. Pria paruh baya bernilai triliunan dolar itu dengan sabar mengarahkan mainan kerincingan kayu berukir buatan tangan untuk menarik perhatian Draco.

"Jangan sembarangan mengklaim, Zephyr. Garis dahinya yang tegas ini murni warisan dari keturunan Desmon."

Baxeena yang duduk di samping mereka tertawa geli memergoki perdebatan kedua orang tuanya. "Mom, Dad, bayi itu baru lima minggu. Wajahnya masih bisa berubah seratus kali. Tapi yang jelas, dia jauh lebih tampan daripada Braxton–Braxley saat bayi."

Aurora berdiri beberapa langkah di balik sofa utama, menyaksikan pemandangan itu dengan dada yang bergemuruh hebat.

Air mata keharuan menggenang hangat di pelupuk matanya, hampir menetes membasahi pipinya.

Selama bertahun-tahun, dalam ketakutan mendalam sebagai seorang anak yatim piatu yang dibesarkan di panti asuhan, Aurora selalu membayangkan betapa mengerikannya jika ia berhadapan dengan keluarga elite kelas atas. Ia takut dihakimi, takut ditolak, dan takut dianggap sebagai parasit berdarah rendah.

Namun kenyataan yang dihadapinya pagi ini meluluhlantakkan seluruh prasangka buruk itu. Ia diterima dengan tangan terbuka, dipeluk hangat tanpa syarat, dan diberikan rasa aman yang belum pernah ia rasakan sepanjang hidupnya.

Di tengah suasana penuh kehangatan itu, Braxley berdiri agak jauh di balik pilar granit.

Pria tegap itu mengenakan kemeja santai berwarna abu-abu gelap dengan gulungan lengan hingga siku. Wajahnya nampak sangat tenang, matanya menatap tajam ke arah interaksi keluarganya dan Aurora.

Ia tidak mengatakan satu kata pun. Keheningan pria itu terasa begitu ganjil di tengah ramainya gelak tawa di ruangan tersebut.

"Aku ke kamar mandi sebentar," gumam Braxley pelan, meluncurkan suara yang hampir tak terdengar sebelum memutar tubuhnya dan melangkah menjauh menuju lorong panjang bagian barat mansion.

Aurora, yang diam-diam selalu mengamati setiap gerak-gerik pria itu, menangkap kegelisahan yang tersembunyi di balik langkah kaki Braxley.

Kerutan halus di dahi Braxley dan kepalan tangannya yang kaku di dalam saku celana tidak bisa membohongi intuisi Aurora.

Tanpa menarik perhatian keluarga Desmon yang masih sibuk memanjakan Draco, Aurora perlahan melangkahkan kakinya, mengikut langkah Braxley dari jarak aman.

Brak!

Pintu kamar mandi utama berdesain marmer hitam tertutup rapat.

Braxley berdiri mencengkeram tepi wastafel granit. Napasnya memburu, berat, dan terasa menyiksa. Wajah ketenangannya runtuh sepenuhnya begitu pintu terkunci.

Di dalam cermin besar di hadapannya, ia melihat bayangan seorang pria yang dipenuhi rasa bersalah yang teramat pekat—rasa sakit yang selama ini tertutup rapat di balik topeng keangkuhan dan kekuasaannya.

Mengapa...? bisik batinnya memaki, suaranya bergema parau dalam kerapuhan yang kelam.

Mengapa aku begitu membenci diriku sendiri?!

Kebenaran yang sesungguhnya menghantam otaknya tanpa ampun. Rasa mual, kejijikan absurd, dan reaksi tubuhnya saat mencoba mencium Aurora semalam bukanlah karena ia membenci Aurora... melainkan karena ia sangat membenci dirinya sendiri!

Reaksi fisik itu adalah wujud rasa jijik luar biasa terhadap keputusasaan dan kebodohannya di masa lalu yang telah membiarkan wanita yang amat dicintainya masuk ke dalam neraka.

"Kau pengecut, Braxley..." bisiknya pada bayangan di cermin. "Kau bajingan pengecut!"

BUGH!

Tanpa peringatan, tinju tegap Braxley melayang secepat kilat, menghantam tepat di tengah-tengah kaca tebal di hadapannya.

Suara dentuman keras memecah keheningan kamar mandi. Kaca cermin itu retak seribu, membentuk pola sarang laba-laba raksasa, dan serpihan-serpihan tajamnya runtuh berhamburan ke atas wastafel.

Darah segar berwarna merah pekat seketika mengalir deras dari buku-buku jari tangan kanan Braxley, menetes menetesi marmer putih bersih di bawahnya.

Namun Braxley tidak meringis. Ia bahkan tidak merasakan perih fisik dari lukanya. Rasa sakit di tangannya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan rasa bersalah yang mencabik-cabik dadanya.

"Seandainya..." Braxley meraung pelan, suaranya pecah tercekik tangis yang ditahannya bertahun-tahun. "Seandainya setelah aku tahu kemungkinan terbesar kau hamil anakku saat itu... aku tidak bersikap angkuh! Seandainya aku tidak menjadi pengecut yang berlari kembali ke Eropa!"

BUGH!

Pukulan kedua kembali menghantam keretakan kaca itu. Darah makin deras mengucur dari jemarinya yang terluka parah.

"Harusnya aku membawamu kabur! Harusnya aku menggagalkan rencana pernikahan gila itu dan membuang seluruh gengsiku!" amuk Braxley pada dirinya sendiri, dadanya naik turun memburu akibat emosi yang membakar.

"Kau tidak perlu merasakan ketidakadilan itu, Aurora! Kau tidak perlu dihina oleh keluarga Carser! Kau tidak perlu menangis sendirian melindungi anak kita..."

Pria tegap yang biasanya berdiri menantang dunia itu kini menundukkan kepalanya dalam-dalam di atas wastafel, membiarkan tetesan air matanya bercampur dengan darah segar di atas marmer.

"Oh Tuhan... Bisa-bisanya aku merasa mual dan jijik setiap kali dekat dengannya?" raung Braxley dengan keputusasaan murni. "Padahal akulah yang bersalah... Akulah monster yang menghancurkan hidupnya!"

BUGH!

Tinju ketiga kembali menghantam kesadarannya, melayangkan rasa sakit murni sebagai hukuman atas dosa masa lalunya.

Di balik pintu kayu tebal yang sedikit renggang, Aurora berdiri terpaku.

Tangan Aurora yang hendak memutar gagang pintu membeku di udara. Air mata yang sejak tadi ditahannya mendadak meledak deras membasahi kedua pipinya.

Menyaksikan pria bertubuh tegap yang selalu tampak tak terkalahkan itu kini hancur berkeping-keping di dalam sana, meraungkan penyesalan yang begitu kelam, merobek seluruh pertahanan batin Aurora.

Aurora mendorong pintu itu perlahan hingga terbuka lebar. "Axley..."

Braxley tersentak. Pria itu refleks memutar tubuhnya, berusaha menyembunyikan tangannya yang berdarah di belakang punggungnya. Namun terlambat—mata Aurora sudah menangkap serpihan kaca berdarah dan pecahan cermin yang berhamburan.

"Aurora... kenapa kau..." suara Braxley bergetar parau, panik dan cemas melihat air mata yang mengalir di wajah wanita itu. "Keluar dari sini, Sayang... Banyak serpihan kaca. Kau bisa terluka—"

"Cukup, Axley! Cukup!" jerit Aurora dengan suara pecah yang sarat akan kepedihan mendalam.

Aurora tidak peduli dengan bahaya pecahan kaca di lantai. Ia melangkah cepat memangkas jarak, meraih tangan kanan Braxley yang berdarah hebat, lalu memeluk tangan yang terluka itu di dada bidangnya tanpa peduli noda darah mulai mengotori pakaian putihnya.

"Hentikan... tolong hentikan menyiksa dirimu seperti ini!" tangis Aurora meledak, bahunya berguncang hebat di hadapan pria itu.

Braxley membeku, menatap wanita yang kini menangis histeris sembari merengkuh tangannya yang terluka. "Aurora... tanganku kotor oleh darah. Kau bisa—"

"Aku tidak peduli!" potong Aurora melengking. Ia mendongak, menatap mata Braxley yang merah padam bercucuran air mata. "Kau pikir hanya kau yang bersalah?! Kau pikir hanya kau yang memikul penyesalan gila ini?!"

Aurora menggelengkan kepalanya panik, air matanya menetes mengenai luka di tangan Braxley.

"Seandainya... seandainya aku juga tidak egois saat itu, Axley!" bisik Aurora dengan keputusasaan yang melumpuhkan. "Seandainya aku tidak membiarkan rasa minder ku menguasai kepalaku! Seandainya kau mendengarkan penjelasanku dan aku menunggumu alih-alih berlari dan menerima tawaran pernikahan dengan Jonathan Carser..."

Isak tangis Aurora makin menyayat hati. Ia menyandarkan dahi basahnya tepat di dada bidang Braxley yang memburu.

"Aku yang membuat kita terpisah..." bisik Aurora lirih, suaranya hampir hilang oleh duka. "Aku yang membawa Draco masuk ke dalam mansion itu karena ketakutanku sendiri. Kita sama-sama hancur karena kesalahpahaman konyol kita, Axley... Jangan menanggung seluruh dosa ini sendirian. Tolong... jangan siksa dirimu lagi."

Mendengar pengakuan tulus dan kepedihan murni dari suara Aurora, dinding pertahanan terakhir di dalam jiwa Braxley runtuh tanpa sisa.

Pria tegap itu melingkarkan lengan kirinya yang tidak terluka di sekeliling tubuh Aurora, merengkuh wanita itu masuk ke dalam pelukan paling protektif dan paling emosional yang pernah ada.

Braxley menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Aurora, membiarkan air mata penyesalannya mengalir bebas tanpa lagi menahannya.

Dua insan yang selama bertahun-tahun terpisah oleh dinding kesombongan, prasangka, dan rekayasa takdir yang kejam itu kini saling merengkuh erat di atas lantai marmer yang berhiaskan serpihan kaca dan noda darah.

Di dalam ruangan yang sunyi itu, tidak ada lagi rasa mual, tidak ada lagi bayang-bayang masa lalu yang kotor, dan tidak ada lagi kepalsuan.

Yang tersisa hanyalah dua jiwa yang saling memaafkan, membalut luka penyesalan masing-masing dengan rasa cinta yang teramat tebal dan abadi.

1
Astrid Kucrit
lyn,cuma kamu yang draco inginkan
Rosdianah 🌷: ma'aciww komentar nya kak🙏🏻
total 1 replies
Siti Kamisah Hasnul
Linzy ternyata anak Jonathan...wahhhhh...kacau ini
Rosdianah 🌷: jangan kacau dulu kak🤭
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
gak nyangka udah di tahap baca ceritanya anaknya AJ brarti si braxley ini cucunya vexana sama landon 🤣
Rosdianah 🌷: hehe iya kak, kembarannya Braxton disebelah kak🤭
total 1 replies
Mia Camelia
jonathan harus di kasih pelajaran tambahan nih 🤣🤣🤣tuh orang gak ada takut nya
😔
Rosdianah 🌷: Wajib digoyeng 🤣🤭
total 1 replies
Ainun Mahya
nggk up nih kak?
Rosdianah 🌷: huhu besok author Double Up 🫶🙏🏻
total 1 replies
Ainun Mahya
vote meluncur🤭🤭
Rosdianah 🌷: uhuy ma'aciww kak🫶
total 1 replies
Mia Camelia
widieww....braxley tipe2 blackflag banget gak sih🤔🤣😂
Rosdianah 🌷: wkwkw🤭
total 1 replies
Mia Camelia
selamat thor udah meluncur karya baru lagi🥳🥳🥳
makin prokdutif banget thor bulan ini udh baru lgi muncul🥳
Rosdianah 🌷: Huhu🫶 Ma'aciww kak, Dan ma'aciww juga asas setiap Jejak Nya selama ini. semoga cerita nya. happy reading 🥰
total 1 replies
Hennyy exo
wow karya mu emang bagus thor
Rosdianah 🌷: ma'aciw kak🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!