NovelToon NovelToon
Nenekku Pahlawanku

Nenekku Pahlawanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Cinta Istana/Kuno / Mengubah Takdir
Popularitas:515
Nilai: 5
Nama Author: Mirage Ink

Shen Yu dikenal sebagai tuan muda paling bermasalah di Kota Qinghe. Ia gemar menghamburkan uang, membuat keributan, dan menghabiskan waktunya di rumah hiburan. Anehnya, setiap kali ia membuat masalah, sang nenek selalu berada di belakangnya.

Nyonya Lin bukanlah wanita tua biasa. Ia adalah legenda dunia persilatan, pendiri Aliansi Seratus Perguruan, dan sosok yang pernah menjaga kedamaian Dunia.

Namun ketika bayang-bayang perang kembali muncul dan musuh-musuh lama mulai bergerak, Shen Yu harus menghadapi kenyataan bahwa perlindungan neneknya tidak akan ada selamanya. Demi menjaga warisan orang yang paling ia cintai, ia perlahan berubah dari seorang tuan muda manja menjadi pendekar yang akan menentukan masa depan Kekaisaran dan dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mirage Ink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Fajar belum menyingsing. Kabut tipis masih menyelimuti Kota Qinghe. Namun...

Di luar gerbang kota, suara langkah kaki mulai terdengar dari berbagai arah. Dari timur...

Ratusan kultivator berjubah hijau datang membawa lambang daun giok di dada mereka. Dari barat...

Puluhan pendekar bersenjata tombak berjalan dengan langkah serempak. Dari selatan...

Beberapa kereta besar memasuki kota, dikawal para ahli pedang. Para penjaga gerbang saling berpandangan.

"Semuanya menuju Kediaman Shen?"

"Apa sebenarnya yang sedang terjadi?"

...

Di halaman utama Kediaman Shen. Pak Hong datang memberi laporan.

"Nyonya Lin."

"Empat puluh tujuh perguruan telah tiba."

Lin Xue mengangguk pelan.

"Persilakan mereka masuk."

Tak lama kemudian...

Halaman yang luas itu dipenuhi ratusan kultivator.

Begitu melihat Lin Xue...

Seluruh pemimpin perguruan langsung membungkukkan badan.

"Kami memberi salam kepada Pendiri Aliansi!"

Shen Yu memperhatikan pemandangan itu. Ia sedikit terkejut.

"Nenek jadi mereka semua benar-benar pengikutmu?"

Lin Xue tersenyum tipis.

"Bukan pengikut. Mereka adalah sekutu yang pernah bertarung bersamaku."

Seorang pria tua berjanggut putih melangkah maju.

"Kalau bukan karena Nyonya Lin dahulu, perguruan kami sudah musnah."

Tak lama kemudian...

Seorang wanita setengah baya ikut maju.

"Perguruan kami juga berutang nyawa kepada Nyonya."

Satu demi satu...

Para pemimpin perguruan menyampaikan rasa hormat mereka.

Shen Yu akhirnya memahami...

Nama Lin Xue bukan hanya disegani. Melainkan dihormati oleh begitu banyak kekuatan di Benua Tianxia.

Han Tian melangkah mendekati Lin Xue.

"Nyonya. Pasukan pengintai sudah kembali."

Lin Xue menoleh.

"Apa hasilnya?"

"Mereka menemukan jejak energi hitam sekitar tiga puluh kilometer dari Kota Qinghe."

"Jumlah musuh?"

"Belum diketahui."

Han Tian berhenti sejenak sebelum melanjutkan.

"Tetapi tekanan aura yang tertinggal sangat kuat."

Lin Xue mengangguk.

"Mereka sengaja memperlihatkan jejaknya."

Shen Yu ikut berbicara.

"Memancing kita keluar?"

"Tepat."

Jawab Lin Xue

Lin Xue memandang seluruh pemimpin perguruan.

"Mereka ingin kita kehilangan kesabaran. Jangan ada seorang pun yang bertindak tanpa perintah."

"Baik!"

Semua menjawab serempak.

Sementara itu...

Di sebuah bukit yang menghadap Kota Qinghe. Kelima Raja Kegelapan juga sedang mengamati kota. Wanita berjubah hitam tersenyum.

"Menarik. Dalam semalam, begitu banyak kultivator berkumpul."

Pria bertopeng merah menyilangkan tangan.

"Sepertinya ada seseorang yang memiliki pengaruh besar di kota itu."

Pria berjubah ungu kembali menggunakan teknik pencari auranya. Benang-benang hitam menyebar ke seluruh kota.

Sesaat kemudian...

Ia membuka mata dengan wajah serius.

"Aku menemukan tiga aura yang berbeda."

"Tiga?"

"Satu sangat tua, satu sangat murni, dan satu lagi..."

Ia mengernyit.

"...terus berubah."

Keempat rekannya saling berpandangan.

"Aura yang terus berubah?"

Pria berjubah ungu mengangguk.

"Kadang terasa setingkat Raja. Sesaat kemudian meningkat berkali-kali lipat. Aku tidak pernah merasakan aura seperti itu."

Wanita berjubah hitam tertawa kecil.

"Berarti target kita semakin menarik."

Pria bertopeng merah menggeleng.

"Jangan gegabah. Perintah Kaisar Dewa Kegelapan jelas kita harus memastikan siapa pemilik aura itu terlebih dahulu."

Kembali ke Kediaman Shen. Rapat para pemimpin perguruan hampir selesai. Tiba-tiba...

Seorang murid berlari masuk dengan napas terengah-engah.

"Laporan! Di luar gerbang utara ada seorang gadis terluka. Dia pingsan setelah berkata ingin bertemu Pendiri Aliansi."

Semua orang langsung saling berpandangan. Han Tian menyipitkan mata.

"Di saat seperti ini?"

Yan Luo langsung menggenggam gagang pedangnya.

"Bisa jadi jebakan."

Namun Lin Xue justru berdiri.

"Bawa dia masuk."

Han Tian sedikit ragu.

"Nyonya..."

Lin Xue menggeleng.

"Kalau dia benar-benar korban, kita tidak boleh membiarkannya mati."

Beberapa saat kemudian...

Dua orang membawa masuk seorang gadis berusia sekitar dua puluh tahun. Pakaiannya robek di beberapa bagian. Tubuhnya dipenuhi luka. Namun yang membuat seluruh aula terdiam...

Bukan lukanya.

Melainkan lambang berwarna hitam di punggung tangannya. Begitu melihat lambang itu...

Wajah Lin Xue langsung berubah.

Shen Yu segera menyadarinya.

"Nenek! Apa Nenek mengenal lambang itu?"

Lin Xue menatap gadis yang tidak sadarkan diri tersebut.

Lalu berkata dengan suara pelan.

"Itukan lambang keluarga yang seharusnya sudah musnah seratus tahun yang lalu."

Di saat yang sama...

Di sebuah lembah terpencil yang tersembunyi di balik pegunungan utara. Seorang pria tua berjubah abu-abu berdiri memandangi sebuah bendera usang yang berkibar pelan.

Pada kain itu...

Terlukis lambang seekor burung phoenix yang melingkari pedang hitam. Seorang pemuda berlutut di hadapannya.

"Guru! Kami telah menemukan jejaknya."

Pria tua itu perlahan membuka mata.

"Di mana?"

"Di Kota Qinghe."

Pemuda itu mengeluarkan sebuah pecahan giok. Di permukaan giok tampak pantulan samar lambang yang sama. Pria tua itu menggenggam pecahan giok tersebut. Tangannya sedikit bergetar.

Ia menatap langit.

"Dulu... seluruh dunia menyaksikan keluarga itu dimusnahkan sampai ke akar."

Suasana menjadi hening. Beberapa tetua di belakangnya saling berpandangan.

Salah seorang bertanya pelan.

"Apakah kita harus segera menuju Kota Qinghe?"

Pria tua itu menggeleng.

"Belum, kalau benar dia adalah pewaris keluarga itu cepat atau lambat seluruh Benua Tianxia akan kembali berguncang."

Ia menoleh ke arah sebuah peti batu yang telah tertutup debu selama ratusan tahun.

"Panggil seluruh tetua. Sudah waktunya membuka kembali Aula Leluhur."

Perintah itu membuat semua orang membelalakkan mata. Selama lebih dari tiga ratus tahun...

Aula Leluhur tidak pernah dibuka.

Tak seorang pun menyangka...

Hanya karena munculnya satu lambang kuno, seluruh organisasi yang selama ini bersembunyi mulai bergerak kembali.

1
anggita
like👍iklan☝, Shen Yu.
Mirage Ink: 🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!