Sepuluh tahun membina rumah tangga, Adila mengira restu mertua adalah pelindung abadi bagi cintanya dan Revan. Namun, segalanya runtuh saat Meisya sahabat masa lalu Revan hadir membawa janin di rahimnya karena suaminya meninggal.
Tiba-tiba, pengorbanan Adila sebagai istri sekaligus calon dokter yang mandiri justru menjadi senjata untuk memojokkannya. Karena dianggap mampu berdiri sendiri, Adila dipaksa mengalah. Revan mulai membagi perhatian, waktu, hingga nafkah bulanan demi menjaga Meisya yang dianggap lebih rapuh.
Hati Adila hancur saat melihat Revan membelai perut wanita lain dengan kasih sayang yang seharusnya menjadi miliknya. Ketika restu itu ditarik kembali dan posisinya sebagai istri perlahan dijandakan di rumah sendiri, masihkah ada alasan bagi Adila untuk bertahan? Ataukah gelar dokter yang ia kejar akan menjadi jalan baginya untuk melangkah pergi dan meninggalkan pengkhianatan ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Restu Yang Ditarik Kembali
Sinar matahari pagi menembus celah gorden, namun tidak sedikit pun menghangatkan suasana di koridor lantai dua. Revan terbangun dengan leher kaku. Tidur di sofa depan kamar bukanlah ide yang bagus untuk tulang punggungnya, tapi ego dan rasa bersalahnya menahan dia di sana semalaman. Ia sempat mondar-mendir, mengetuk pintu berkali-kali hingga tangannya pegal, namun Adila tetap bergeming di balik pintu kayu jati yang kokoh itu.
Tepat pukul enam pagi, bunyi klik kunci yang terbuka terdengar seperti simfoni di telinga Revan. Pintu terbuka, dan sosok Adila muncul. Revan terpaku sejenak. Adila sudah rapi dengan kemeja slim-fit yang dibalut jas dokter putih yang licin tanpa cela. Wajahnya segar, riasannya tipis namun tegas, membuat aura otoritasnya sebagai seorang dokter terpancar kuat. Ia tampak berkali-kali lipat lebih cantik, sekaligus berkali-kali lipat lebih sulit dijangkau.
Revan, dengan rambut berantakan dan wajah bantal yang menyimpan kekesalan, langsung berdiri. Tanpa berpikir panjang, ia melangkah maju dan memeluk Adila dari belakang saat wanita itu hendak melangkah menuju tangga.
"Adila, maafkan aku soal semalam. Aku benar-benar tidak bermaksud membuatmu marah," bisik Revan, suaranya serak khas orang bangun tidur.
Tubuh Adila seketika membeku. Ia tidak membalas pelukan itu, tidak juga meronta. Ia hanya berdiri mematung dengan tatapan dingin yang lurus ke depan. Rasa hangat dari pelukan Revan yang biasanya ia rindukan, kini terasa seperti gangguan yang tidak diinginkan.
"Simpan kata maafmu, Revan," suara Adila datar, hampir tanpa emosi. "Aku tidak membutuhkannya pagi ini. Masuklah, bersihkan dirimu. Kamu harus ke kantor, bukan?"
Adila melepaskan tangan Revan dari pinggangnya dengan gerakan yang sangat sopan namun penuh penolakan. Ia berbalik, menatap Revan dengan mata yang tajam. "Jangan membuatku mengulang kalimat yang sama. Aku belum memaafkanmu."
Setelah Revan masuk ke kamar dengan wajah gusar, Adila tidak langsung turun. Ia merogoh ponsel dari saku jas putihnya, membuka sebuah aplikasi tersembunyi yang hanya diketahui olehnya. Di layar ponselnya, muncul visual hitam putih yang jernih.
Beberapa hari yang lalu, Adila telah memasang beberapa unit CCTV mikro di sudut-sudut strategis rumah mereka. Sejak perubahan sikap Revan yang mendadak sikap yang membuatnya was-was dan merasa ada sesuatu yang disembunyikan Adila memutuskan untuk mengambil kendali. Sebagai seorang dokter, ia tahu bahwa diagnosis yang tepat memerlukan observasi yang akurat.
Layar ponselnya menunjukkan rekaman semalam. Ia melihat Revan yang mondar-mandir seperti setrikaan di depan pintunya. Ia melihat suaminya itu menghela napas frustrasi, duduk di sofa, lalu akhirnya tertidur dengan posisi yang tidak nyaman.
Namun, perhatian Adila teralih ke sudut lain. Kamera di area ruang tamu menunjukkan bayangan seseorang. Meisya.
Adila menyipitkan mata. Ia melihat Meisya sempat keluar dari kamarnya saat tengah malam, berdiri di bawah tangga sambil menatap ke arah lantai atas ke arah di mana Revan berada. Ada senyum tipis di wajah Meisya yang tertangkap kamera sebelum gadis itu kembali masuk ke kamarnya.
"Jadi, kamu sedang menunggu celah, Meisya?" gumam Adila sinis. Jas putih yang ia kenakan seolah menjadi zirah. Jika Revan adalah bidak yang sedang bingung, dan Meisya adalah penyusup yang mencoba mencuri posisi, maka Adila adalah sang ahli strategi yang sedang menyusun papan permainan.
Suasana di meja makan pagi itu tidak lagi sekadar dingin, tapi mulai terasa menyesakkan. Bau aroma nasi goreng gila dan berbagai lauk pauk memenuhi ruangan, namun bagi Adila, aroma itu tercium seperti polusi. Di sana, Meisya berdiri dengan celemek merah muda, meletakkan piring terakhir dengan gerakan yang sengaja dibuat gemulai di depan kursi Revan.
"Pagi, Kak Adila! Aku tadi bangun lebih awal, jadi aku pikir sekalian saja masak untuk kita bertiga. Ada ayam goreng, sambal matah dan nasi goreng kesukaan Kak Revan," ujar Meisya dengan senyum lebar yang terlihat sangat dipaksakan di mata Adila.
Adila hanya berdiri di ujung meja, masih mengenakan jas putih dokternya yang kontras dengan suasana domestik yang sedang dibangun Meisya. Ia melirik meja makan yang penuh sesak. "Banyak sekali. Kamu pikir kita sedang mengadakan syukuran?"
Revan yang baru saja turun, langsung duduk dan mencoba mencairkan suasana. Ia tidak ingin ada perang dingin lagi. "Sudahlah, Di. Meisya kan niatnya baik. Dia ingin membantu karena tahu kamu sibuk di rumah sakit dan mungkin Bik Ijah belum sempat masak sebanyak ini."
Adila menarik kursi, namun ia tidak menyentuh piring yang disodorkan Meisya. Ia justru memanggil asisten rumah tangganya. "Bik Ijah!"
Bik Ijah datang dengan wajah serba salah. "Iya, Nyonya Dokter?"
"Bik, mulai besok jangan biarkan orang asing mengacaukan dapur saya. Tugas memasak itu tugas Bibik. Kalau dapur berantakan seperti ini, saya yang pusing melihatnya," ucap Adila tajam, matanya tetap tertuju pada Meisya yang kini mulai menunduk, memainkan ujung celemeknya.
"Adila!" tegur Revan dengan nada bicara yang mulai meninggi. "Bisa tidak bicara lebih lembut sedikit? Meisya ini adikmu juga, dia tamu di sini. Aku yang mengizinkannya tinggal sementara agar kalian bisa akrab. Aku ingin kalian damai, bukan malah seperti ini setiap pagi."
Adila menyandarkan punggungnya di kursi, melipat tangan di depan dada. Jas putihnya sedikit berkerut, namun tatapannya tetap setajam silet.
"Mendamaikan? Revan, kamu bicara seolah-olah aku yang memulai peperangan ini. Kamu lupa ya, siapa yang tiba-tiba membawa tamu tanpa persetujuan pemilik rumah yang sah?"
"Ini rumahku juga, Adila!" balas Revan tidak mau kalah. "Dan aku ingin suasana di rumah ini hangat. Meisya sudah berusaha, dia memasak makanan ini untukmu juga."
Adila terkekeh sinis, sebuah tawa pendek yang membuat bulu kuduk Meisya meremang. "Memasak untukku? Dia bahkan tidak tahu kalau aku punya alergi terhadap salah satu rempah di sambal matah itu. Atau mungkin... dia memang sengaja?"
Meisya langsung mendongak dengan mata berkaca-kaca. "Nggak, Kak! Sumpah, Meisya nggak tahu. Meisya cuma mau bantu."
"Bantu apa? Membantu membuatku merasa seperti tamu di rumahku sendiri?" Adila menunjuk tumpukan makanan di meja. "Seorang perempuan yang tahu diri dan punya tujuan hidup yang jelas tidak akan menghabiskan seluruh pagi harinya hanya untuk berkutat di dapur orang lain. Kamu punya tangan dan kaki yang sehat, Meisya. Kenapa kamu tidak mencari apartemen sendiri atau pergi dari rumah kami ? Bukankah itu lebih terhormat daripada menjadi benalu yang mencoba mengambil peran nyonya rumah?"
"Adila, cukup!" Revan menggebrak meja pelan. "Meisya baru saja mengalami masa sulit, dia butuh dukungan keluarga. Kenapa kamu jadi sekaku ini? Kamu seorang dokter, harusnya punya empati lebih besar."
Mendengar kata dokter disebut oleh suaminya sebagai alat untuk menekannya, Adila merasa jantungnya berdenyut nyeri. Ia teringat kembali percakapan semalam, saat Revan memohon agar ia tidak bersikap terlalu keras pada Meisya.
"Empati? Kamu bicara soal empati kepada orang yang sedang berusaha memanipulasimu?" Adila berdiri, auranya mendominasi meja makan. "Dengar Revan, dokter manapun akan menyarankan pasien yang sedang sakit seperti Meisya ini untuk belajar mandiri, bukan malah dimanja di lingkungan yang tidak sehat bagi mentalnya dan mental istrinya."
Adila menatap Meisya yang kini mulai terisak kecil. "Masakanmu terlalu banyak, Meisya. Lain kali, simpan tenagamu untuk mengemasi barang-barangmu. Rumah ini punya aturan dan aturan pertamaku adalah tidak ada tempat bagi orang yang tidak tahu batasan."
Revan berdiri, mencoba meraih tangan Adila, namun Adila menghindar dengan gerakan cepat.
"Aku tidak nafsu makan," ujar Adila dingin. "Dan Revan, sebelum kamu mencoba mendamaikan orang lain, pastikan dulu kamu tahu posisi istrimu di mana. Karena saat ini, aku merasa suamiku lebih peduli pada air mata palsu daripada harga diri istrinya sendiri."
Adila melangkah pergi, suara sepatunya bergema keras di lantai marmer, meninggalkan Revan yang terpaku kesal dan Meisya yang menangis di pelukan kursi meja makan. Dari sudut matanya, Adila tahu CCTV di pojok ruangan merekam segalanya setiap keraguan di wajah Revan dan setiap kepura-puraan di wajah Meisya.
Permainan baru saja dimulai, dan Adila tidak akan membiarkan jas putihnya ternoda oleh sandiwara murahan mereka.