NovelToon NovelToon
Raja Kiamat dengan Perlengkapan Tanpa Batas

Raja Kiamat dengan Perlengkapan Tanpa Batas

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Hari Kiamat
Popularitas:30.6k
Nilai: 5
Nama Author: Novi

Hendry Wijaya mati di periode kiamat tahun ke-12, dicabik oleh zombie Lord-Level di sebuah reruntuhan bangunan dip Jakarta.
Lalu ia membuka mata—30 hari sebelum dunia berakhir.
Semua ingatan 12 tahun di neraka itu masih utuh: siapa yang akan berkhianat, di mana kristal langka tersembunyi, kapan gelombang zombie pertama menerjang, dan siapa anjing jalanan kotor yang kelak menjadi legenda bernama Raja.
Bedanya? Kali ini Hendry punya Ruang Dimensi—gudang tak terbatas di mana waktu berhenti. Sementara orang lain panik membeli mie instan, ia menimbun seribu ton beras, ratusan ton daging, senjata, obat-obatan, dan cukup solar untuk menghidupi sebuah kota.
Hari pertama kiamat: semua orang kelaparan. Hendry makan rendang.

Di dunia di mana satu kristal bisa memicu perang, Hendry duduk di atas gunung kristal yang tak seorang pun tahu keberadaannya.
Di dunia di mana Lord-Level bisa meratakan kota, Hendry tersenyum—karena dia tahu persis kapan mereka akan mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Bab 28: Void Blade

"Gue akan menemukan kalian. Dan kalian akan berharap kalian zombie, karena zombie mati lebih cepat."

Tidak ada yang menjawab.

Di samping tubuh Indah, angin barat membawa bau debu, darah lama, dan beton basah. Mawar menutup wajah Indah dengan kain bersih. Fajar sudah mengirim dua pengintai ke jalur yang disebut Hendry, sementara Bagus berdiri dengan linggis di bahu, matanya tidak lagi bercanda.

Kurang dari satu jam kemudian, laporan kembali.

Tiga kilometer dari Cluster Pondok Indah, ada proyek konstruksi apartemen yang belum selesai. Sebelum kiamat, tempat itu cuma rangka beton, besi tulangan, tumpukan pasir, dan crane mati. Sekarang, dinding luarnya ditutup batu, seng, dan mobil bekas. Ada sekitar enam puluh orang. Ada yang berjaga di lantai dua dengan panah rakitan. Ada jejak tanah terangkat di sekitar pagar.

Tanah Keras ada di sana.

Hendry tidak menunggu malam.

Ia kembali ke base, meletakkan Kristal Level 6 di kotak terkunci, lalu memanggil tim inti.

"Bagus, depan. Melati, bakar penghalang luar, jangan biarkan api melebar. Awan, tutup jalur kabur. Fajar, bawa sepuluh orang yang sudah lulus latihan untuk perimeter, bukan masuk tengah. Raja, buru yang lari. Budi dan Sari ikut garis kedua. Mawar tetap di belakang bersama tim medis."

Mawar membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Ia tahu tatapan Hendry.

Ini bukan misi penyelamatan.

Ini hukuman.

Tiga puluh menit kemudian, rombongan bergerak cepat melewati jalan barat. Tidak ada teriakan perang. Tidak ada pidato panjang. Hanya langkah, senjata, dan napas orang-orang yang tahu bahwa kali ini mereka pergi untuk membunuh manusia.

Dari kejauhan, markas Tanah Keras terlihat seperti gigi patah yang tumbuh dari tanah.

Beton proyek menjulang setengah jadi. Dinding batu kasar menutup akses utama. Besi tulangan dipasang seperti duri. Di atas gerbang, dua kepala zombie kering digantung sebagai hiasan menjijikkan.

Bagus meludah ke samping. "Orang macam begini memang harus dibersihin."

Hendry mengangkat tangan.

Semua berhenti.

Di balik dinding, seseorang tertawa. "Siapa di luar?"

Fajar memberi isyarat senyap. Posisi penjaga sudah terlihat.

Hendry menurunkan tangan.

Serangan dimulai.

Awan menghentakkan kaki. Es naik dari tanah, bukan tinggi, tetapi cukup untuk menutup dua celah belakang dan membuat pagar seng membeku keras. Orang yang mencoba keluar dari jalur belakang langsung terpeleset dan jatuh.

Melati mengangkat kedua tangan.

Api merah terbuka seperti bunga.

Red Lotus Burst menghantam tumpukan ban dan papan kayu di sisi gerbang. Api meledak pendek, panas, terkendali. Penghalang luar terbakar, membuat penjaga di atas panik.

"Serangan!" teriak seseorang dari dalam.

Terlambat.

Bagus sudah maju.

Tubuhnya menghantam gerbang batu setengah jadi dengan linggis di depan. Budi mengikuti dari belakang, menahan diri sesuai latihan, menghantam titik yang Bagus buka. Retakan muncul. Sekali lagi. Dua kali.

Gerbang pecah.

Raja masuk seperti kilat rendah. Thunder Tail menyapu lutut tiga pria bersenjata golok. Mereka jatuh sebelum sempat mengangkat senjata. Sari menurunkan bidang gelap di sisi kanan, membuat lima orang salah arah dan berlari ke dinding es Awan.

Fajar tidak mengejar masuk terlalu dalam. Ia menempatkan orang-orangnya di luar, menutup celah, mengikat yang menyerah, dan menembak kaki orang yang mencoba lari sambil membawa senjata.

Tiga menit pertama cukup untuk menghancurkan lapisan luar.

Lalu tanah di tengah proyek bergetar.

Retakan terbuka dari lantai beton. Batu-batu naik seperti tulang punggung hewan besar. Seorang pria tinggi keluar dari dalam debu dengan tubuh tertutup lapisan tanah keras. Batu membentuk pelindung di dada, lengan, bahu, bahkan sebagian wajahnya.

Tanah Keras.

Matanya merah karena marah, bukan takut.

"Siapa yang berani menyerang tempat gue?" suaranya mengguncang area proyek.

Hendry berjalan melewati asap.

Tanah Keras menatapnya, lalu tertawa kasar. "Lu? Anak villa? Lu pikir lu siapa?"

Hendry tidak menjawab.

Di kehidupan sebelumnya, ia pernah mendengar kalimat itu dari terlalu banyak mulut. Orang-orang yang mengira kekuatan adalah alasan untuk menginjak yang lemah selalu punya pertanyaan sama: lu pikir lu siapa?

Hari ini, Hendry tidak datang untuk menjelaskan.

Tanah Keras menghentakkan kaki. Tiga tombak batu keluar dari lantai dan melesat ke arah Hendry.

Void Walk.

Tubuh Hendry hilang.

Tombak batu menembus udara kosong.

Hendry muncul tepat di depan Tanah Keras.

Untuk pertama kalinya, wajah pria itu berubah.

"Apa--"

Ruang di sekitar tangan kanan Hendry menipis.

Tidak ada cahaya terang. Tidak ada bilah besi. Hanya garis bening yang membuat udara tampak terbelah, seperti retakan tipis di kaca dunia.

Void Blade.

Hendry mengayunkan tangan.

Garis itu melewati batu, kulit, tulang, dan kemampuan tanah tanpa suara keras. Pelindung batu Tanah Keras yang tadi tampak seperti benteng terbelah rapi dari bahu ke pinggang. Tubuh di dalamnya ikut terpotong oleh ruang yang tidak peduli pada keras atau lunak.

Tanah Keras berdiri selama satu detik.

Matanya masih memuat pertanyaan yang belum sempat selesai.

Lalu tubuhnya jatuh menjadi dua bagian di atas beton, hampir tanpa percikan darah, karena luka itu bukan sobekan biasa. Ruang telah memisahkan apa yang seharusnya menyatu.

Seluruh proyek membeku.

Bagus menelan ludah. Ia sudah melihat Spatial Orb. Ia sudah melihat Badai Petir. Tetapi satu gerakan yang membelah armor tanah Level 4 membuat punggungnya dingin.

Hendry menurunkan tangan.

"Tanah Keras mati," katanya. "Yang menyerah hidup. Yang lari mati."

Pernyataan itu memecahkan sisa keberanian musuh.

Beberapa orang langsung menjatuhkan senjata. Yang lain justru berlari.

Raja memilih yang berlari.

Garis hitam-biru melesat melewati tangga beton. Thunder Tail menghantam tengkuk seorang pria besar berkulit gelap yang mencoba kabur melalui sisi barat. Pria itu jatuh berguling, tongkat besinya terlepas.

Si Hitam.

Hendry berjalan mendekat.

Si Hitam mencoba merangkak. Begitu melihat Hendry, wajahnya berubah seperti orang melihat lubang kubur terbuka.

"Ampun! Gue cuma ikut perintah!"

Hendry berhenti di depannya. "Indah."

Si Hitam gemetar.

"Kau yang membunuhnya?"

Tidak ada jawaban.

Raja menggeram.

Si Hitam langsung mengangguk cepat. "Dia lari! Tanah suruh tangkap. Gue cuma pukul sekali. Gue nggak tahu dia bakal mati."

Mawar yang berdiri jauh di belakang menutup mata.

Hendry menatap Si Hitam tanpa ekspresi.

"Sekali cukup."

Tangan kanannya naik lagi. Garis ruang tipis muncul, lebih pendek, lebih dingin.

"Yang ini untuk Indah."

Void Blade turun.

Si Hitam tidak sempat berteriak.

Setelah itu, pertempuran berubah menjadi pembersihan.

Tanpa Tanah Keras dan Si Hitam, enam puluh orang itu tidak punya tulang punggung. Bagus menghancurkan kelompok yang masih melawan di lantai dasar. Melati membakar jalur senjata tanpa menyentuh tawanan. Awan menutup tangga dengan es. Fajar memerintahkan orang-orangnya mengikat yang menyerah dan memisahkan yang pernah disebut korban sebagai pelaku kekerasan.

Dalam tiga puluh menit, tidak ada satu pun anggota Tanah Keras yang lolos.

Dua puluh lebih mati karena melawan.

Sisanya berlutut dengan tangan diikat, wajah tertutup debu dan ketakutan.

Yang paling membuat mereka runtuh bukan hanya kematian Tanah Keras.

Mereka melihat pola yang tidak bisa dilawan. Siapa pun yang berkumpul lebih dari lima orang langsung dipotong jalurnya oleh es Awan. Siapa pun yang menyalakan keberanian dengan teriakan langsung disapu Bagus sebelum kalimat kedua keluar. Yang mencoba menusuk dari belakang justru masuk ke bidang gelap Sari dan memukul temannya sendiri. Ketika satu orang berusaha menjadikan tawanan sebagai perisai, Melati membakar tanah tepat di depan kakinya tanpa menyentuh sandera, membuatnya menjerit dan menjatuhkan pisau.

Ini bukan serangan liar.

Ini eksekusi yang punya formasi.

Fajar mencatat sambil memberi perintah, "Yang menyerah ke kiri! Yang pernah menjaga ruang tahanan ke kanan! Jangan campur!"

Mereka baru sadar bahwa bahkan setelah kalah, mereka masih sedang disortir.

Hendry berjalan melewati mereka satu per satu. Tidak ada yang berani mengangkat kepala.

Di ruang bawah proyek, mereka menemukan karung beras, obat curian, senjata tajam, beberapa Kristal Level 1 dan Level 2, serta ruangan sempit yang jelas dipakai untuk menahan orang. Di dindingnya ada bekas kuku.

Melati menendang pintu ruangan itu sampai lepas. "Bakar tempat ini setelah barang diambil."

"Nanti," kata Hendry. "Sebelum itu, semua orang di sekitar harus melihat."

Ia memerintahkan tubuh Tanah Keras digantung di bagian tertinggi rangka konstruksi, tepat di bawah besi tulangan yang menonjol ke langit. Bukan untuk kesenangan. Untuk pesan.

Orang yang membunuh di wilayah Hendry tidak mendapat kuburan.

Ia menjadi tanda peringatan.

Siapa pun yang lewat jalan itu besok akan tahu siapa yang membuat aturan baru di selatan.

Saat matahari mulai turun, asap tipis naik dari beberapa titik proyek. Tawanan dikumpulkan. Barang disita. Nama-nama pelaku dicatat Fajar untuk diputuskan kemudian.

Hendry berdiri di tengah reruntuhan, tangan kanannya masih terasa dingin setelah dua kali memakai Void Blade. Biayanya lebih berat daripada Spatial Orb, tetapi hasilnya jelas.

Di Jakarta selatan, mulai hari ini, armor batu, jumlah orang, dan dinding proyek tidak lagi berarti aman.

Tepuk tangan terdengar dari arah jalan.

Sekali.

Dua kali.

Lambat.

Semua orang langsung mengangkat senjata.

Di ujung proyek, seorang pria yang belum pernah Hendry lihat dalam kehidupan ini berdiri sambil tersenyum. Bajunya rapi untuk ukuran kiamat, rambutnya disisir ke belakang, dan di belakangnya ada barisan manusia yang jauh lebih banyak daripada kelompok Tanah Keras.

Sekitar dua ratus orang.

Pria itu mengangkat kedua tangan, masih tersenyum.

"Tenang. Kalau gue mau cari mati, gue sudah lari ke depan tadi."

Fajar berbisik, "Pak Hendry, jumlah mereka besar."

Hendry menatap pria itu.

Pria itu membungkuk sedikit, bukan rendah, tetapi cukup sopan untuk orang yang tahu dirinya sedang berdiri di tanah penuh mayat.

"Tidak salah rumor bilang Cluster Pondok Indah punya Komandan yang berbahaya." Ia tersenyum lebih lebar. "Nama gue Herman Tanuwijaya."

Angin melewati rangka proyek, menggoyangkan tubuh Tanah Keras yang tergantung di atas.

Herman meliriknya sekali, lalu kembali menatap Hendry.

"Gue... mau kerja sama."

1
umar aryo
novel yg bagus Thor, buat yg baca juga ikutan mikir... spt novel dokter Dewa... ini penulis bkn org biasa
umar aryo
makin kesini buat berpikir makin bingung, tp jujur ini novel yg bagus bgt
muhadsa
yang kristal level 6 saja sudah diserap dan aman saja kok,masa iya yang level 5 malah gak mampu../NosePick//NosePick/
muhadsa
anak buahnya dinaikin juga dong levelnya..
muhadsa
bunuh..gak ada tahanan perang..
muhadsa
namanya pada aneh aneh..ada suara,hujan,nasi..😄😄
muhadsa
anggotanya gak dinaikin juga levelnya..?
muhadsa
naik level juga cuma memperluas ruang dimensi,bukan untuk bertarung..
muhadsa
saya juga berpikiran gitu..kenapa namanya nasi..
muhadsa
terus kemampuan MC kita gak ada yang lain selain ruang dimensi ya..?
PonsParadiso
melati kok ga ada? kemana?
PonsParadiso
bagus thooor... tapi kok ga beli air siiih
PonsParadiso
air mana air.
Luthfi Afifzaidan
bagus apa santoso thor?
muhadsa: bagus santoso
total 1 replies
Hadi Hadi
lanjut 👍👍
Hadi Hadi
up 👍👍
Amiera Syaqilla
hi author🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!